NovelToon NovelToon
Sistem: Suplai Tak Terbatas

Sistem: Suplai Tak Terbatas

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.

Ia hanya ingin kaya.

Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.

Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 - Kilatan Elektromagnetik dan Tatapan Terpana

Otot bisep Yang Luo menggelembung ekstrem. Kemejanya yang sudah compang-camping meregang paksa. Pria bongsor itu mendengus kencang layaknya banteng pekerja.

Tongkat bajanya diselipkan ke celah pelat penyok. Menjadikannya tuas pengungkit darurat.

Logam mati saling bergesekan. Suara decit ngilu merusak gendang telinga.

"Sedikit lagi," gerutu Yang Luo dengan rahang mengeras rapat.

Satu dorongan paksa terakhir mematahkan engsel utama gerbang. Pelat baja seberat ratusan kilogram itu terpelanting ke dalam. Terdengar debuman tumpul yang menggetarkan fondasi lantai ubin.

Uap busuk menyembur keluar dari lorong gelap di baliknya.

Bukan uap spora lumut seperti sebelumnya. Ini murni bau campuran oli gosong dan daging membusuk tingkat akhir.

Sebuah raungan menggema dari dasar ruangan. Suaranya patah-patah. Sebagian vokal pita suara manusia, sebagian distorsi statis mesin rongsokan rusak.

Langkah kaki kelewat berat mengentak lantai. Muncul siluet masif menyibak bayangan.

'Mantan subjek eksperimen berbiaya mahal,' batin Wan Chen santai.

Matanya memindai teliti figur setinggi hampir tiga meter di depan mereka. Tubuhnya bengkak tak proporsional. Cangkang baja tebal ditanamkan permanen ke dalam daging dadanya yang mengelupas. Lengan kanannya sudah diamputasi, digantikan total oleh gada hidrolik raksasa yang terus berputar pelan.

Juggernaut Mutasi Siber. Model penjaga kuno.

Wan Chen menyentuh gagang pisau karbon di sakunya sesaat. Mengkalkulasi.

Mata pisaunya pasti patah ujungnya kalau dilempar ke pelat setebal itu. Mentah-mentah tanpa hasil. Tidak ada sudut penetrasi masuk yang masuk akal di area persendian mekanisnya. Benda cacat itu dibangun laksana tank berjalan.

"Mundur!" jerit Lin Yu Yan dari ujung belakang lorong. Suaranya melengking panik. "Tingkat ancamannya melewati batas merah! Senjata fisik biasa tidak akan tembus ke sana!"

Yang Luo sama sekali tidak menggubris peringatan bising itu. Atau mungkin urat takutnya sudah putus total.

Pria itu justru memajukan pijakan. Tertawa hambar dan lugas.

"Tepat di hadapanku, kawan besar," tantangnya riang sambil menepuk dada telanjang.

Juggernaut itu merespons murni dengan insting membunuh. Mengayunkan gada hidroliknya dari atas ke bawah. Udara terbelah paksa.

Hantaman itu telak mendarat di bahu kiri Yang Luo.

Tubuh pria perisai itu terpelanting lurus sejauh tiga meter. Menabrak keras dinding beton hingga retak seribu. Debu plaster berhamburan jatuh menutupi jarak pandang.

Wan Chen tidak memiringkan badannya sedikit pun. Tetap pasif di garis aman.

"Astaga, kau masih bernapas?" gumam Wan Chen, nyaris menguap.

Dari kepulan debu sisa benturan, figur Yang Luo merangkak bangun. Mengusap lehernya yang sedikit terkilir, lalu memutar persendiannya hingga terdengar bunyi gemeretak renyah. Posisinya kembali lurus.

"Hanya gatal sedikit!" balas Yang Luo antusias.

Sistem penyembuhannya berdenyut luar biasa. Lebam ungu pekat di kulit bahunya memudar dengan super cepat. Tanda bahwa Gift Undying Energy miliknya membakar batas nalar medis.

Ia melesat berlari kembali ke arah monster itu. Melayangkan pukulan mentah tepat mengarah perut berlapis baja Juggernaut.

Bunyi pantulan kusam bergema pendek.

Monster itu bahkan tidak tergeser mundur satu sentimeter pun. Tinju Yang Luo murni ditolak keras oleh permukaan logam. Cangkang itu terlampau solid untuk tingkat serangan nol koma sekian.

Gada hidrolik kembali menyapu liar setinggi pinggang. Yang Luo kembali tertabrak.

Kali ini pria itu tersungkur menindih serpihan gerbang roboh. Tapi ia merangkak bangun seketika. Kembali menerjang gila. Kembali memukul lempengan baja penyok. Kembali terlempar mundur tanpa arti.

Siklus idiot yang sangat melelahkan itu berulang tanpa jeda. Stagnan sempurna.

Bagi monster siber itu, Yang Luo hanyalah lalat ulet yang terus kembali setelah dihempas. Dan bagi Yang Luo, monster itu adalah tembok raksasa yang tidak memiliki titik tembus bagi serangan tangan kosong. Tumpul bertemu dengan super padat.

Lin Yu Yan menggigit bibir bawahnya pucat pasi.

"Kalian gila. Kita harus putar haluan. Dia tidak bisa melukai barang rongsokan itu sama sekali."

Wan Chen menghela napas panjang. Terlampau pasrah.

Melihat tontonan arena murahan ini perlahan menyiksanya. Jam berlalu tanpa ampun.

Ia mengangkat tangan kanan lurus ke depan dada.

Jari-jarinya menarik lengan mantel taktisnya perlahan ke atas siku. Terbuka.

Melilit di kulit lengan bawahnya, terpasang sebuah perangkat logam asimetris yang tebal. Alat itu berwarna abu-abu gelap, penuh dengan alur konduktor rumit dan celah kosong di jantung mesinnya.

Gelang Elektromagnetik.

Tangan kirinya menyelusup santai ke saku pinggang. Mengapit sebuah inti energi monster. Barang duplikasi sistemnya yang masih memancarkan pendar biru solid.

'Satu peluru demi menghemat puluhan menit berharga,' pikir Wan Chen datar. 'Investasi untung bersih.'

Ia menekankan inti biru itu langsung mengunci ke slot kosong gelangnya.

Dengung bernada tinggi langsung mendominasi lorong senyap itu. Aliran listrik merambat di lengan Wan Chen. Garis neon membelah kegelapan udara basemen. Bau menyengat seakan sesuatu baru saja terbakar di udara mencuat drastis.

"Yang Luo," panggil Wan Chen. Suara monotonnya memotong gema benturan berulang di depan sana. "Tiarap."

Mendengar komando hambar tersebut, insting dasar Yang Luo otomatis mengambil peran. Pria bongsor itu menjatuhkan tubuh ke lantai persis saat Juggernaut itu kembali mengayunkan gadanya tinggi-tinggi.

Lengan Wan Chen membidik presisi. Mengunci tepat di pusat inti berpelat monster raksasa itu.

Cahaya biru super padat menyilaukan mata dari pergelangan tangannya. Menelan sisa ruang pandang.

Sebuah letusan hening memecah udara mati.

Pancaran energi plasma elektromagnetik melesat menembus jarak. Tidak ada efek pemantulan. Tidak ada benturan logam melawan logam.

Sinar absolut itu menembus pelat tebal Juggernaut semudah jarum menembus kertas tisu basah. Menembus lapis daging mati. Menghanguskan komponen organ sintetik di dalamnya sekaligus menghancurkan pusat energi utama tanpa sisa.

Sisa ledakan meletup pelan di punggung monster itu. Meninggalkan jejak lubang hangus bulat lurus ke belakang. Tembus pandang sempurna.

Raksasa hibrida itu mematung aneh. Gada mekaniknya jatuh berdebam menghantam tanah. Tonase berat daging dan besi tersebut akhirnya menyerah gravitasi, ambruk tertelungkup menimbulkan suara patahan ubin keras.

Lelehan cairan pelumas dan nanah mengucur pelan dari lubang dadanya. Asap tipis mengepul mengisi suhu ruangan yang memanas.

Satu detik. Pertarungan usai sepenuhnya.

Tidak ada perayaan di basemen ini. Hanya deru pelan pendingin perangkat dari gelang Wan Chen yang mendingin mundur.

Yang Luo yang duduk mengangkang di antara debu puing menahan napas ekstrem. Mulut pria itu terbuka melongo. Matanya nyaris meluncur keluar dari sarangnya.

Keceriaan bebal yang biasa menempel di rahangnya terhapus telak.

Akal sehat hunter lapangan milik Yang Luo berteriak menolak pemandangan ini. Ia tahu instrumen gila macam apa itu. Senjata kelas militer dengan rasio konsumsi energi yang sangat brutal.

Harga pasar sebuah tembakan benda semacam itu menyamai jatah perbekalan logistik kelompok survival elit dalam setengah tahun penuh. Gila. Sangat gila.

Dan melihat seorang petarung tunggal membuang aset luar biasa itu demi membersihkan palang pintu lorong. Pikiran waras Yang Luo tidak mampu menoleransi skala kesenjangan tersebut.

"Hei..." Suara Yang Luo serak parah. Telunjuknya gemetar menunjuk Wan Chen. "Berapa banyak kredit yang baru saja kau bakar demi hal sepele ini?"

Wan Chen sekadar mengibaskan kerah mantelnya bebas debu. Wajahnya tidak memancarkan penyesalan secuil pun.

Sesi debat nilai moneter ini terlalu rendah untuk jadwal pribadinya. Mengurusi serangan panik rekan miskinnya bukanlah tanggung jawab yang disepakati dari awal rekrutmen.

Ia memiringkan badannya melangkah pergi. Meninggalkan Yang Luo yang masih mematung menelan udara. Pria berkemeja itu melompati sisa bangkai besi monster itu begitu saja.

Sol sepatunya menyeberangi garis ambang pintu tebal. Masuk utuh ke area brankas peninggalan.

Udara di area belakang monster ini sangat ganjil. Tidak ada bau busuk.

Lantainya putih bersih dilapisi epoksi solid. Suhu sistem dijaga hermetis berlapis, dipertahankan stabil oleh deretan lampu antiseptik yang berdengung redup mandiri di plafon.

Di tengah kesunyian ruang isolasi ini, deretan lemari kaca anti debu berjajar angkuh.

Retina gelap Wan Chen memindai baris demi baris rak. Belasan kotak logam dan panel instrumen mengkilap terpajang mati. Penjepit bedah mikroskopis. Alat pengerat presisi titanium. Scalpel laser padat. Perangkat perbaikan pembuluh tanpa jahit.

Koleksi lengkap Perlengkapan Bedah Pra-Kiamat berbahan anti-korosi level tinggi.

Tidak ada setitik pun noda karat yang menempel di seluruh perkakas tersebut. Kualitas keping absolut dari dunia lama yang tertidur di neraka spora ini.

'Penukaran nilai yang sangat efisien,' monolog Wan Chen membenarkan keputusannya.

Telapak kanannya terbuka lebar ke arah dinding kaca pembatas lemari. Udara di pergelangan tangannya seketika berputar patah-patah.

Ruang penyimpan dimensional meliuk membuka. Menyedot kuat selayaknya rongga kosong yang kelaparan. Dalam satu kali pandangan sapu bersih, belasan kontainer medis beserta logam di dalamnya terangkut lenyap ditelan udara hampa di sisi kaki Wan Chen. Bersih tanpa tumpahan barang serpih secuil pun.

Wan Chen tersenyum tipis. Rasa bosannya sedikit terkikis habis oleh perhitungan angka dalam benak.

Peralatan mewah ini barulah serpihan kecil dari deposit nyata basemen ini. Sekadar pemanis.

Pandangannya kini lurus terfokus pada akses kecil tersembunyi di sudut gelap tembok utara sana. Sebuah pintu berlapis krom yang segel mekanisnya sudah meleleh, terbuka sedikit membentuk celah ke tingkat paling dasar instalasi.

Di balik sana titik buruannya terpendam utuh. Tabung Serum Peningkatan Sel. Target absolut penjelajahannya hari ini.

Langkah sepatunya mulai mengarungi turun ruang hampa celah sempit itu, membiarkan lapisan gelap ruangan menjemput siluet utuhnya.

1
Yui
Karya ini sangat luar biasa, setelah baca novel ini aku jadi sedikit mengingat kenanganku yang telah lama menghilang, terimakasih Author 🔥🔥🔥🔥🔥
Ironside: /Toasted/
total 1 replies
Ironside
Ada error /Sweat/, biarlah, nanti di fix Editor
Gege
dan Wang Chen pun jualan obat...🤣😄
HiaTus
/Rose/
Wakana
wow sangat menarik & unik 👀
Ironside: Terima kasih telah membaca, semoga betah /Smile/
total 1 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir
ada insectnya gak kak?
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir: yah, kecewa kak.
total 2 replies
The Ironheart
darkfantasy ini kak☺️
Ironside: /Slight/
total 1 replies
Ironside
Pliss... Like, Subscribe dan Upvote jika kalian menyukai karya ini /Determined/.
Ironside: Mr. Willheim /Scare/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!