NovelToon NovelToon
KISAH CINTA DAN DUSTA DI JALAN

KISAH CINTA DAN DUSTA DI JALAN

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:252
Nilai: 5
Nama Author: Caesarius A Enda

- Hamid: Sopir travel, usia 38 tahun, sudah beristri dan punya dua anak, terlihat ramah dan sopan tapi pandai menyembunyikan sifat aslinya.

- Nova: Guru SD, usia 28 tahun, cantik, bertubuh mungil, sudah bersuami tapi rumah tangganya terasa hambar.

- Ain: Guru SMP, usia 30 tahun, wajah biasa saja, giginya agak tonggos, belum menikah, pendiam dan mudah percaya orang, sangat membutuhkan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: KEHIDUPAN BARU YANG PENUH BERKAH

Setelah hari pernikahan yang indah itu berlalu, Rian dan Lira memulai kehidupan rumah tangga mereka dengan penuh cinta dan kedamaian. Mereka memilih tinggal di rumah sederhana yang ada di lingkungan Rumah Harapan, tidak jauh dari Ain dan yang lainnya. Mereka ingin tetap dekat dengan keluarga, dan terus terlibat dalam semua kegiatan yayasan yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup mereka.

Setiap pagi, Rian berangkat bekerja ke rumah sakit dengan semangat baru. Kini ia bekerja dengan hati yang makin bahagia dan tenang, karena ada wanita yang ia cintai menunggu di rumah, ada keluarga yang menyayangi dan mendukungnya sepenuhnya. Pasien-pasiennya semakin menyukainya, karena selain pintar dan terampil, sikapnya makin lembut dan penuh ketulusan. Banyak orang bilang, wajah Rian kini bersinar dengan cahaya kebahagiaan yang membuat siapa saja yang melihatnya ikut merasa tenang.

Sementara itu, Lira mengabdikan seluruh waktunya untuk mengurus Rumah Harapan. Ia sangat telaten dan sabar, mampu mendengarkan keluh kesah setiap wanita dan anak-anak yang datang, memberikan semangat dan bimbingan yang tepat sasaran. Ia tidak pernah melupakan rasa sakit dan penyesalannya di masa lalu, hal itu justru membuatnya makin peka dan mengerti perasaan orang lain yang terluka. Banyak wanita yang dulunya putus asa dan hancur, berhasil bangkit kembali berkat bantuan dan nasihat Lira. Nama baiknya makin dikenal luas, dicintai dan dihormati semua orang.

Ain, Nova, dan Sari merasa sangat puas dan bahagia melihat kedua anak muda itu hidup rukun dan bahagia. Mereka sering berkumpul makan bersama, bercerita, dan tertawa riang, suasana rumah selalu penuh kehangatan dan kebahagiaan yang sulit ditemukan di tempat lain. Dimas juga makin sukses dengan usahanya, ia sering membantu menyediakan kebutuhan Rumah Harapan secara cuma-cuma, bahkan membuka lapangan kerja khusus bagi mereka yang sudah selesai bimbingan dan mau hidup mandiri.

Hidup mereka terasa begitu sempurna, seakan semua ujian dan bahaya sudah benar-benar berlalu. Tapi seperti biasa, takdir selalu punya cara sendiri untuk menguji seberapa kuat kebahagiaan yang mereka bangun, dan untuk menyempurnakan kisah mereka dengan kebenaran yang selama ini masih tersembunyi.

Suatu sore yang cerah, saat mereka semua sedang berkumpul santai di halaman rumah Ain, tiba-tiba ada seorang wanita tua datang berjalan perlahan ke arah mereka. Pakaiannya sederhana tapi rapi, wajahnya penuh kerutan usia namun terlihat lembut dan bijaksana. Ia berjalan dengan langkah perlahan, matanya menatap lekat-lekat wajah Rian seakan melihat sesuatu yang sangat berharga dan dirindukan selama puluhan tahun.

Semua orang terdiam dan menatapnya dengan penuh tanda tanya. Ain berdiri menyambutnya dengan ramah. “Selamat sore Ibu. Ada keperluan apa Ibu datang ke sini? Silakan duduk dan istirahat dulu.”

Wanita tua itu tidak duduk, matanya masih terpaku pada Rian, air mata perlahan mengalir di pipinya yang keriput. “Anakku… kamu… kamu benar-benar mirip sekali sama almarhum suamiku. Wajahmu, matamu, hidungmu… semuanya persis sama, tidak ada bedanya sedikit pun,” katanya dengan suara parau yang penuh haru.

Rian terkejut dan bingung. “Ibu siapa? Ibu kenal saya atau keluarga saya?”

Wanita tua itu mengangguk pelan, lalu menarik napas panjang seakan menyiapkan hati untuk membuka rahasia yang sudah ia simpan selama dua puluh enam tahun.

“Aku Fatimah… bibimu kandung dari pihak ayahmu yang asli. Aku adalah adik perempuan ibumu yang sudah meninggal dulu,” jawabnya membuat seluruh orang di sana kaget hebat, terutama Rian dan Ain.

“Apa maksud Ibu? Bukannya seluruh keluarga kandung saya sudah meninggal atau sudah ada di ibu kota?” tanya Rian dengan hati berdebar kencang, firasatnya mengatakan ada kebenaran lain yang jauh lebih besar dan lebih mengejutkan dari yang pernah ia dengar sebelumnya.

Fatimah menggeleng pelan, lalu mulai menceritakan semuanya dari awal dengan jelas dan rinci.

“Dua puluh enam tahun yang lalu, pasangan suami istri yang kamu kira orang tuamu asli itu… sebenarnya bukan orang tuamu yang sebenarnya. Mereka adalah sepupu jauh ibumu, yang tidak punya anak dan sangat kaya raya. Ibu kandungmu adalah adikku sendiri, namanya Salma. Beliau adalah wanita yang sangat baik, lembut, dan cantik. Beliau menikah dengan ayahmu, seorang guru yang sangat bijaksana dan mulia hatinya. Hidup kami sederhana tapi penuh kebahagiaan dan kedamaian.”

Air mata Fatimah mengalir deras, suaranya terputus-putus karena haru.

“Saat kamu baru berusia satu bulan, terjadi kecelakaan besar yang menimpa keluarga kami. Ayah dan ibumu kandung meninggal dunia seketika, aku juga terluka parah sampai tidak bisa berjalan normal lagi. Saat itu keluarga kaya di ibu kota mendengar berita itu, mereka tahu kamu adalah satu-satunya pewaris sah harta orang tuamu, jadi mereka diam-diam datang, mengambil kamu paksa, dan menyebarkan kabar bohong bahwa kamu juga meninggal dalam kecelakaan itu. Mereka tidak mau ada keluarga lain yang ikut mengambil bagian harta itu, jadi mereka menyembunyikan keberadaanmu dan memutus semua hubungan dengan kami.”

“Lalu… wanita bernama Martha yang datang menemui saya dulu?” potong Rian.

“Dia adalah orang kepercayaan keluarga kaya itu. Dulu mereka menyuruh dia datang menemui kamu cuma untuk mengambil hakmu dan menguasai semua harta itu sepenuhnya. Mereka bohongi kamu, mereka bohongi Ain, mereka bohongi semua orang. Pasangan yang kamu kira orang tuamu itu… sebenarnya orang asing yang mereka pura-pura jadikan keluarga untuk menutupi jejak kejahatan mereka,” jelas Fatimah.

Semua orang terdiam kaku, tidak menyangka bahwa kebenaran yang sebenarnya jauh lebih rumit dan lebih mengerikan dari yang mereka bayangkan.

“Lalu kenapa sampai sekarang Ibu baru datang? Kenapa Ibu tidak cari saya selama ini?” tanya Rian dengan mata penuh air mata dan rasa sakit.

“Aku tidak bisa nak… keluarga itu sangat berkuasa dan jahat, mereka mengancam akan membunuh aku dan seluruh kerabatku kalau aku berani cari kamu atau buka mulut. Aku hidup bersembunyi di desa terpencil, menderita dan merindukanmu setiap hari. Tapi sekarang… mereka semua sudah terkena hukuman Tuhan. Beberapa bulan yang lalu terjadi kebakaran besar yang menghancurkan rumah dan harta mereka, banyak anggota keluarga meninggal atau sakit parah, kekuasaan mereka hancur total. Sekarang tidak ada lagi yang bisa mengancam atau melarang aku datang menemuimu,” jawab Fatimah sambil memegang tangan Rian dengan gemetar penuh kasih sayang.

Lalu ia menoleh ke arah Ain, menatapnya dengan penuh rasa hormat dan terima kasih.

“Dan kamu Bu Ain… aku tidak bisa cukup berterima kasih sama kamu. Kamu adalah wanita paling mulia yang pernah aku kenal. Kamu yang tidak ada hubungan darah sama sekali, mau menerima, merawat, menyayangi, dan membesarkan anakku dengan sepenuh hati, memberikan semua cinta dan kebaikan yang lebih dari cukup. Sementara keluarga kandungnya yang berhubungan darah, cuma mau memanfaatkan dan mencelakainya. Kamu adalah ibunya yang sebenarnya, ibunya secara hati dan kasih sayang yang tidak ternilai harganya.”

Ain menangis sejadi-jadinya, rasa lega dan bahagia memenuhi seluruh hatinya. Selama ini ia selalu merasa bersalah dan takut kalau kebenaran terbuka, takut kehilangan Rian. Tapi sekarang ternyata kebenaran itu justru semakin mengukuhkan posisinya sebagai ibu yang sejati.

“Terima kasih Ibu Fatimah… terima kasih sudah mau mengerti dan menerima saya. Saya memang bukan ibunya kandung, tapi saya sayang dia lebih dari nyawa saya sendiri,” kata Ain sambil memeluk Rian erat-erat.

Rian juga menangis bahagia, ia merasa seakan beban berat yang menimpanya selama bertahun-tahun akhirnya terangkat sepenuhnya. Sekarang ia tahu kebenaran yang sebenarnya, tahu siapa keluarga kandungnya yang asli, tahu bahwa cinta dan kasih sayang Ain jauh lebih berharga dari sekadar hubungan darah.

“Ibu… mulai hari ini Ibu Fatimah adalah bibiku, keluarga kandung yang saya cari selama ini. Dan Ibu Ain tetap ibuku satu-satunya yang paling saya cintai dan hormati. Saya tidak akan pernah membedakan atau memilih salah satu, kalian berdua sama-sama berharga dan penting di hidup saya,” kata Rian tegas dan penuh keyakinan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!