Di Kota Chang’an zaman modern, hiduplah seorang pemuda bernama Mu Chen. Ia berusia 22 tahun, bertubuh tegap dan gagah, tapi dikenal sebagai kutu buku yang haus akan pengetahuan sejarah dan filsafat Tiongkok kuno. Suatu sore di pasar loak, ia menemukan sebuah batu giok berwarna hijau pucat yang diukir pola Yin-Yang. Tanpa sadar, ia membawanya pulang. sebuah perjalanan yang merubah hidupnya dari jaman modern ke jaman kuno hidupnya para dewa Dewi dan iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon premier MT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Membuat Pil
Beberapa hari setelah lomba latihan, kabar tentang pertandingan Mu Chen dan Feng Hao perlahan menyebar di seluruh sekte. Banyak orang penasaran, tapi Mu Chen sendiri tidak terlalu memikirkannya — ia justru sibuk menanam benih obat yang didapatnya di kebun belakang.
Suatu pagi, dua orang tetua datang berkunjung ke tempat tinggalnya: Tetua Chang yang bertanggung jawab atas kebun obat, dan Tetua Qingyun yang ahli dalam pembuatan pil obat.
"Mu Chen, kami ada tawaran untukmu," kata Tetua Chang sambil tersenyum.
"Tawaran apa?" tanya Mu Chen sambil mengelap tangannya yang berlumuran tanah.
"Kebun obat utama kami butuh seseorang yang bisa merawatnya dengan baik. Sejak kami lihat tanaman di kebunmu tumbuh sangat subur dan sehat, kami berharap kau bersedia membantu merawatnya. Sebagai gantinya, kau bisa mempelajari cara membuat pil obat dan menggunakan tanaman di sana untuk latihan," jelas Tetua Qingyun.
Mu Chen matanya langsung berbinar: "Benarkah? Boleh mengambil sebagian tanaman untuk kebun saya juga? Dan boleh belajar membuat pil?"
"Boleh saja, selama tidak berlebihan," jawab Tetua Chang.
"Baiklah! Saya mau!" jawabnya antusias.
________________________________________
Beberapa hari kemudian, Mu Chen mulai pergi ke ruang pembuatan pil. Ruangan itu luas, penuh dengan tungku api, wadah-wadah tanah liat, dan rak berisi buku tebal tentang pembuatan pil.
Tetua Qingyun memberikannya panduan dasar: "Pertama-tama, kau harus menguasai Api Penyuling. Ini adalah api yang terbentuk dari energi kultivasimu sendiri — harus stabil, suhunya bisa diatur, dan tidak boleh membakar bahan obatnya."
Ia menunjukkan contoh: ia menarik sedikit energinya, dan api berwarna merah menyala muncul di telapak tangannya, berubah-ubah besarnya sesuai keinginannya.
"Selanjutnya, persiapkan bahan, atur suhu secara bertahap, aduk dengan kecepatan tertentu... semua langkah ini harus diikuti dengan tepat, kalau tidak pilnya akan gagal," tambahnya.
Mu Chen mendengarkan, lalu membuka buku panduan yang diberikan. Setelah membaca beberapa halaman, wajahnya berkerut:
"Wah... terlalu rumit. Atur suhu tingkat 1, 2, 3... aduk searah jarum jam 99 kali, lalu berlawanan 66 kali... seperti memasak dengan aturan yang terlalu ketat," gumamnya pelan.
Tetua Qingyun mendengar dan tertawa: "Memang butuh kesabaran. Ini ilmu yang diwariskan ribuan tahun."
________________________________________
Begitu Tetua Qingyun pergi sebentar, Mu Chen mencoba membuat api seperti yang diajarkan. Ia menarik energinya — tapi bukannya api merah, yang muncul adalah nyala kecil berwarna perak keemasan yang terlihat lembut namun memancarkan panas yang stabil.
"Lho? Kenapa warnanya berbeda?" gumamnya.
Ia mencoba mengubahnya, tapi tidak bisa. "Ah sudahlah, apapun warnanya, yang penting bisa memanaskan saja kan?" pikirnya santai.
Di dalam benaknya, Kitab Jalan Bintang berkomentar:
"Ini bukan Api Penyuling biasa. Ini terbentuk dari energi murni Galaksi — suhunya stabil, tidak akan merusak sifat bahan, dan bisa menyesuaikan diri secara otomatis. Ini jauh lebih baik daripada api biasa, tapi tidak ada yang mencatatnya dalam buku karena tidak ada orang yang memiliki energi sepertimu."
Mu Chen hanya mengangguk: "Oh, begitu. Jadi gunakan saja ini."
________________________________________
Ia mulai mengambil bahan-bahan obat. Tapi bukannya memotong, menumbuk, dan menyusun sesuai urutan seperti yang diajarkan, ia malah melakukan hal yang membuat orang yang melihatnya akan pingsan:
• Ia memasukkan semua bahan mentah sekaligus ke dalam tungku — tanpa dipisahkan, tanpa diukur terlalu teliti, hanya diperkirakan saja
• Ia tidak mengatur suhu bertahap, hanya berkata: "Panas sedikit dulu... oke, lebih panas sedikit... sudah pas seperti air yang mau mendidih"
• Ia tidak mengaduk dengan pola tertentu, hanya menggerakkan tongkatnya seperti sedang mengaduk sup di rumah
• Bahkan sesekali ia menambahkan sedikit air murni dari kebunnya sendiri, katanya "Supaya tidak terlalu kering"
Beberapa murid yang lewat dan melihat dari luar hampir menjerit:
"Ya ampun! Dia memasukkan semuanya sekaligus! Cara itu pasti akan membuat bahan obatnya rusak total!"
"Aturannya dilanggar semuanya — urutan, suhu, takaran, semuanya sembarangan!"
Namun, Mu Chen tidak peduli. Ia hanya duduk santai di samping tungku, sesekali meniup api peraknya pelan sambil berkata:
"Kalau memasak saja terlalu dipaksakan aturannya, rasanya jadi tidak alami. Lebih baik biarkan api bekerja sesuai sifat bahannya saja — yang keras butuh panas lebih lama, yang lunak cukup sebentar. Api saya kan tahu mana yang harus dipanaskan lebih dulu," gumamnya polos.
Dan benar saja — api perak di dalam tungku bergerak sendiri, memanaskan setiap bagian bahan dengan intensitas yang berbeda, menyaring kotoran secara otomatis, dan mencampurkan esensi obatnya dengan sempurna.
________________________________________
Setelah beberapa jam, baunya mulai keluar — bukan bau gosong atau pahit seperti biasanya, melainkan aroma harum yang menenangkan, bahkan membuat orang yang menciumnya merasa tubuhnya menjadi ringan.
"Sudah matang sepertinya," kata Mu Chen sambil membuka tutup tungkunya.
Yang terlihat di dalamnya adalah puluhan pil obat berbentuk bulat sempurna, berwarna bening seperti kristal dengan kilauan halus.
Saat itu Tetua Qingyun kembali, dan matanya langsung terbelalak lebar:
"Apa ini?! Bagaimana caranya?!"
Ia segera mengambil satu pil dan memeriksanya dengan hati-hati. Melalui penglihatannya, ia bisa merasakan bahwa kemurnian esensi obatnya mencapai lebih dari 90% — sedangkan pil terbaik yang bisa dibuatnya sendiri hanya mencapai sekitar 70-75% kemurnian! Dan ini adalah pil tingkat dasar yang dibuat dengan cara yang seharusnya salah total!
"Ini mustahil... urutan pembuatan salah, takaran sembarangan, bahkan apinya pun bukan Api Penyuling yang tercatat dalam buku! Tapi hasilnya justru lebih baik dari pil buatan saya sendiri!" seru Tetua Qingyun dengan suara gemetar.
Murid-murid yang melihat juga ternganga tidak percaya.
Mu Chen menggaruk kepalanya kikuk: "Ah, begini saja hasilnya? Saya hanya membuatnya seperti saat saya memasak sayuran campur — semuanya dimasukkan, dimasak dengan api yang pas, jadi rasanya (eh maksudnya khasiatnya) keluar semuanya. Apakah ini dianggap bagus?"
________________________________________
Penjelasan tentang Api Sejati
Tetua Qingyun tidak menjawab pertanyaannya, malah bertanya dengan penasaran:
"Api apa yang kau gunakan? Warnanya berbeda, dan rasanya sangat lembut namun kuat!"
Mu Chen berpikir sejenak, lalu menjawab apa adanya:
"Ini api yang terbentuk dari energi saya sendiri. Tidak seperti yang ada di buku. Saya menyebutnya... Api Hangat saja. Karena rasanya seperti sinar matahari pagi — panas tapi tidak membakar, bisa menembus tapi tidak merusak."
Di dalam benaknya, Kitab Jalan Bintang menjelaskan lebih detail:
"Api ini sebenarnya disebut Api Asal Galaksi. Ia tidak terbentuk dengan memadatkan energi secara kasar seperti Api Penyuling biasa. Ia memanaskan dengan getaran halus, sehingga hanya memisahkan esensi obat dari kotorannya tanpa merusak sifat alaminya. Inilah perbedaan terbesarnya — buku-buku kuno hanya mencatat cara yang bisa dilakukan orang biasa, tapi tidak ada yang menyadari bahwa ada cara yang lebih alami dan sempurna."
Mu Chen hanya meringkasnya menjadi bahasa sederhana:
"Intinya, api saya ini tahu bagian mana yang harus dipanaskan, dan tidak akan membakar yang seharusnya disimpan. Seperti saat memanggang ikan — kalau apinya terlalu besar, luarnya gosong dalamnya masih mentah. Tapi api saya bisa membuatnya matang merata semuanya."
Tetua Qingyun terdiam lama, lalu akhirnya tertawa lebar:
"Benar-benar cara pandang yang tidak biasa! Selama ribuan tahun kita mematuhi aturan ketat, tapi ternyata ada jalan yang lebih sederhana dan lebih baik — asalkan seseorang memiliki dasar yang cukup kuat dan api yang sesuai!"
________________________________________
Sejak hari itu, Mu Chen sering menghabiskan waktunya di ruang pembuatan pil — dengan caranya sendiri yang tetap "aneh" menurut orang lain. Ia bahkan sering membuat variasi:
• Menambahkan sedikit daun wangi untuk membuat baunya lebih sedap
• Membuat pil dengan bentuk yang lucu-lucu seperti bunga atau buah
• Kadang membuat pil yang rasanya sedikit manis, katanya "supaya orang yang meminumnya tidak jijik"
Para tetua awalnya khawatir, tapi setelah melihat hasilnya selalu lebih baik dari pil biasa, mereka akhirnya hanya bisa menggeleng dan tersenyum.
"Lagi-lagi dia melakukan hal yang dianggap salah, tapi hasilnya justru melebihi semua yang ada," gumam Tetua Chang sambil memeriksa kebun obat yang semakin subur.
Dan Mu Chen sendiri? Ia merasa senang karena bisa membuat pil yang bermanfaat, sambil tetap memikirkan hal sederhana:
"Bagus juga. Nanti kalau saya sakit atau lelah, bisa minum sendiri. Dan bisa juga dibagikan ke teman-teman. Oh ya, api saya ini ternyata bagus juga untuk memasak — besok saya coba gunakan untuk menumis daging, pasti matang merata dan tidak gosong!"