“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”
Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Karpet Merah dan Hitungan Mundur
Sabtu malam, Grand Ballroom Hotel Kempinski Jakarta diselimuti kemegahan yang membutakan. Lampu-lampu chandelier kristal raksasa menggantung di langit-langit tinggi, memantulkan cahaya keemasan ke atas gaun-gaun haute couture dan setelan jas mahal para elite ibu kota. Alunan musik klasik dari orchestra mini mengalun lembut, bercampur dengan denting gelas sampanye dan tawa basa-basi kelas atas.
Malam ini adalah Charity Gala tahunan Artha Group, panggung kekuasaan tertinggi bagi Narendra Pradipta.
Di bawah sorot lampu kilat para fotografer media, Narendra melangkah mantap di atas karpet merah. Pria itu memancarkan karisma yang mutlak dengan tuksedo hitam berpotongan sempurna. Di lengan kirinya, Alika berjalan beriringan.
Alika terlihat luar biasa memukau malam itu. Ia mengenakan gaun malam beludru berwarna hitam pekat yang kontras dengan kulitnya yang putih porselen. Lehernya dihiasi kalung berlian rancangan desainer ternama, dan rambutnya ditata ke atas dalam sanggul tinggi yang rumit, menyembunyikan dengan sempurna fakta bahwa puluhan jarum jepit harus menusuk kulit kepalanya demi menahan hairpiece agar tidak bergeser dari area kerontokan.
Riasan wajahnya tebal namun sangat halus, mengunci ruam merah di pipinya yang sebenarnya mulai terasa berdenyut panas karena efek pil dari Raditya yang mulai memudar.
Setiap kali mereka berhenti untuk menyapa menteri atau rekan bisnis, Narendra akan melingkarkan tangannya di pinggang Alika, menarik wanita itu mendekat dengan gestur posesif yang sangat meyakinkan.
"Nyonya Alika terlihat luar biasa malam ini, Pak Narendra. Rumor tentang beliau yang sakit tampaknya hanya karangan media," puji seorang komisaris bank multinasional yang menyalami mereka.
Narendra tersenyum miring, matanya melirik Alika dengan tatapan penuh kemenangan. "Istri saya hanya butuh sedikit waktu untuk... menjauh dari gangguan luar. Sekarang, seperti yang Anda lihat, dia kembali ke tempat yang seharusnya. Di samping saya."
Alika memaksakan sebuah senyuman anggun, meski di dalam hati ia menghitung setiap detik yang berlalu. Jarum jam besar di dinding ballroom menunjukkan pukul 19.15.
Tinggal lima belas menit lagi.
Pandangan Alika menyapu ke arah pintu masuk ballroom. Di sana, berdiri Rasti dengan gaun hitam formal yang membaur dengan para tamu, namun matanya yang sedingin es tidak pernah lepas memandangi Alika. Wanita sipir itu benar-benar menjalankan perintah Narendra untuk menjadi bayangan Alika.
"Mas," bisik Alika pelan, mendekatkan wajahnya ke bahu Narendra agar terlihat manja di depan para tamu. "Aku perlu ke toilet sebentar untuk merapikan lipstick-ku sebelum sesi foto utama dengan jajaran direksi."
Narendra menunduk, menatap Alika lekat-lekat. Tangannya di pinggang Alika mencengkeram sedikit lebih kuat, sebuah peringatan instan. "Jangan lama-lama, Alika. Sesi foto dimulai tepat pukul 19.45. Dan ingat apa yang saya katakan, jangan membuat gerakan bodoh."
"Aku tahu, Mas. Aku hanya ke powder room," jawab Alika tenang.
Narendra melepaskan cengkeramannya, lalu memberi isyarat mata kecil ke arah sudut ruangan. Rasti yang menangkap kode itu langsung mengangguk kecil dan mulai berjalan memutar, bersiap mengikuti Alika dari jarak aman.
Alika membalikkan badan, berjalan dengan langkah anggun yang dipaksakan menembus kerumunan tamu. Setiap langkahnya adalah perjuangan melawan rasa ngilu yang mulai merayap kembali di pergelangan kakinya. Obat selundupan di dalam stoples krim itu sudah habis pagi ini, dan tubuhnya sudah mulai menagih dosis baru.
Ia keluar dari ballroom utama, melewati koridor yang agak lengang, lalu menaiki tangga manual menuju lantai dua—area di mana Powder Room VIP berada. Tempat itu biasanya lebih sepi karena hanya diperuntukkan bagi tamu undangan VVIP.
Dari pantulan dinding kaca koridor, Alika bisa melihat Rasti berjalan sekitar sepuluh meter di belakangnya. Jantung Alika berdegup kencang. Ia tidak punya banyak waktu. Ia harus memikirkan cara untuk mengunci Rasti di luar, atau setidaknya mengulur waktu agar Raditya bisa mengambil sampel darahnya tanpa interupsi.
Tepat pukul 19.28, Alika mendorong pintu kayu jati tebal bertuliskan VIP Powder Room.
Ruangan di dalamnya sangat mewah, dilapisi marmer putih dengan jejeran cermin besar berbingkai emas dan beberapa sofa beludru untuk beristirahat. Beruntung, ruangan itu kosong.
Alika melangkah masuk, memutar tubuhnya, dan berdiri tepat di balik pintu. Napasnya memburu. Tangannya yang gemetar terkunci pada gagang pintu. Begitu ia melihat bayangan sepatu Rasti berhenti di depan pintu kaca buram toilet, Alika menarik napas dalam-dalam.
Ia tidak bisa mengunci pintu utama ini karena itu akan memicu kecurigaan besar dan Rasti pasti akan memanggil pihak keamanan hotel. Alika harus menggunakan taktik lain.
Pintu terbuka. Rasti melangkah masuk dengan wajah datarnya.
"Nyonya Alika, Tuan Narendra meminta saya memastikan Anda—"
"Rasti," potong Alika dengan suara yang tiba-tiba meninggi, diatur dengan nada panik dan jijik yang luar biasa. Ia menunjuk ke arah gaun beludru hitamnya bagian belakang. "Rasti, cepat bantu aku! Resleting gaunku tersangkut kain bagian dalam, dan... oh Tuhan, ada noda anggur di bagian bawah gaunku! Seseorang menyenggolku di ballroom tadi!"
Rasti tertegun sejenak. Tugasnya adalah mengawasi Alika, namun memastikan penampilan fisik sang nyonya tetap sempurna di depan publik juga merupakan bagian dari perintah mutlak Narendra. Jika Alika keluar dengan gaun rusak atau ternoda, Narendra akan murka.
"Di sebelah mana, Nyonya?" Rasti melangkah mendekat, perhatiannya langsung teralih sepenuhnya pada gaun Alika.
"Di bagian belakang, dekat pinggang. Tolong periksa resletingnya dulu, ini terasa sangat sesak dan menyakitkan," dusta Alika, membalikkan badannya membelakangi Rasti.
Saat Rasti membungkuk dan fokus mengutak-atik resleting gaun beludru itu, mata Alika langsung tertuju pada cermin besar di depannya. Pintu salah satu bilik toilet terdalam di ruangan itu perlahan bergerak terbuka.
Dari balik bayangan bilik, seorang pria dengan setelan jas hitam formal—tanpa jas putih dokternya—melangkah keluar dengan sangat senyap. Tangannya menenteng sebuah tas kulit hitam kecil.
Itu Raditya.
Jantung Alika serasa berhenti berdetak. Raditya menatap Alika melalui pantulan cermin, memberikan isyarat mata agar Alika tetap tenang dan terus mengalihkan perhatian Rasti. Hitungan mundur sepuluh menit paling berbahaya dalam hidup Alika baru saja dimulai.