"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."
Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Aturan Main di Apartemen
BAB 3: Aturan Main di Apartemen
Mobil sedan mewah Adrian membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang hingga akhirnya berbelok masuk ke dalam basemen sebuah gedung penthouse eksklusif di kawasan Jakarta Pusat. Kiara hanya bisa meremas ujung roknya yang lembap dengan cemas. Sepanjang perjalanan, tidak ada obrolan di antara mereka. Keheningan itu justru digantikan oleh ketegangan seksual yang pekat, yang entah sejak kapan mulai merayap di antara keduanya.
Adrian mematikan mesin mobil, menoleh sekilas pada Kiara yang masih menunduk. "Turun," perintahnya pendek, terdengar dingin namun sarat akan titah yang tidak boleh didebat.
Kiara melangkah keluar dari mobil dengan tubuh yang mulai menggigil karena AC mobil dan pakaiannya yang masih basah. Adrian berjalan di depannya dengan langkah tegap, membawa Kiara menuju lift pribadi yang langsung mengarah ke unit penthouse miliknya di lantai paling atas.
Begitu pintu lift terbuka, Kiara sempat terpaku melihat kemewahan apartemen milik dosennya itu. Desainnya sangat maskulin dengan dominasi warna hitam, abu-abu gelap, dan marmer premium. Dinding kaca besar di ruang tengah langsung menyuguhkan pemandangan kerlip lampu kota Jakarta di bawah guyuran sisa hujan.
"Mulai malam ini, ini tempat tinggalmu," suara bariton Adrian memecah keheningan sembari pria itu melempar kunci mobilnya ke atas meja konsol.
Adrian membuka beberapa kancing teratas kemeja hitamnya, lalu melonggarkan dasinya dengan gerakan yang luar biasa seksi di mata Kiara. Pria itu berjalan mendekati Kiara, berdiri begitu dekat hingga Kiara bisa merasakan hawa panas yang menguar dari tubuh tegap sang profesor.
"Sekarang, mari kita bicarakan aturan main di dalam rumah ini, Kiara," ucap Adrian. Matanya yang tajam kembali turun, menatap kaus putih basah Kiara yang kini benar-benar mencetak bentuk dadanya dengan sangat jelas akibat hawa dingin apartemen.
Kiara yang sadar arah pandangan Adrian langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada, mencoba bersembunyi. "P-Pak Adrian... saya mau ganti baju dulu. Dingin..." cicitnya pelan.
Bukannya menjauh, Adrian justru terkekeh tengil. Dia melangkah maju satu kali lagi, mengikis jarak hingga dada bidangnya menyentuh lengan Kiara. Tangan besar Adrian yang hangat bergerak mencengkeram kedua pergelangan tangan Kiara, menariknya dengan lembut namun tegas agar tidak lagi menutupi dadanya.
"Aturan pertama," bisik Adrian, suaranya mendadak berubah menjadi serak dan sensual. "Di dalam apartemen ini, aku melarangmu memakai pakaian yang terlalu tertutup. Aku membeli tubuhmu seharga tiga ratus lima puluh juta, Kiara. Jadi, mataku adalah pemilik mutlak atas apa pun yang kamu kenakan di sini."
Jantung Kiara berdegup menggila. "Tapi Pak—"
"Panggil aku Adrian kalau kita sedang berdua, Sayang," potong Adrian dengan nada memerintah yang nakal.
Jemari panjang Adrian beralih menyentuh dagu Kiara, memaksa gadis itu untuk mendongak menatap mata elangnya yang kini berkilat dipenuhi kabut gairah. Adrian mengikis jarak wajah mereka. Napasnya yang hangat beraroma mint menerpa bibir Kiara yang gemetar.
Adrian membawa tangannya ke pinggang Kiara, menarik tali jubah tidur satin abu-abu yang sengaja dia ambil dari sofa, lalu memakaikannya ke tubuh Kiara dengan gerakan yang sangat pelan, seolah sedang membuka sebuah hadiah. Kulit telapak tangan Adrian sengaja menyapu permukaan kulit perut Kiara yang terbuka, mengirimkan gelombang sengatan listrik yang membuat Kiara memekik kecil dan mendesah tanpa sadar.
"Ahhh... Pak... m-maksudku, Adrian..."
"Suara yang bagus, Kiara. Aku suka mendengarmu mendesah menyebut namaku," goda Adrian dengan senyum tengil yang teramat tampan di sudut bibirnya.
Adrian menundukkan kepalanya, memiringkan wajahnya untuk mengecup leher jenjang Kiara yang basah. Dia memberikan hisapan dan gigitan kecil yang intens di sana, meninggalkan tanda kepemilikan kemerahan yang kontras di kulit mulus Kiara. Kiara meremas kemeja hitam Adrian dengan kuat, kedua lututnya mendadak terasa lemas seperti jeli akibat serangan sensual yang bertubi-tubi dari sang profesor.
"Aturan kedua," bisik Adrian tepat di ceruk leher Kiara, membuat tubuh gadis itu meremang hebat. "Setiap kali aku pulang dalam keadaan lelah, tugasmu adalah membuatku rileks. Dan malam ini, kamu sudah membuatku sangat tegang, Kiara."
Adrian menjauhkan wajahnya sedikit, menatap Kiara yang kini sudah setengah terpejam dengan napas yang memburu dan bibir yang memerah akibat gairah yang tersulut.
"Masuklah ke kamar mandi di sebelah sana. Bersihkan tubuhmu, lalu pakai lingerie yang sudah kusiapkan di atas tempat tidur. Aku tidak suka menunggu lama, Mahasiswaku," ucap Adrian sembari memberikan remasan nakal di bokong Kiara sebelum melepaskan dekapannya.
Kiara hanya bisa mengangguk pasrah dengan wajah yang memerah padam seperti kepiting rebus. Dengan langkah yang masih gemetar, ia berjalan menuju kamar utama, menyadari bahwa setelah malam ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi di bawah kendali penuh sang profesor yang super posesif ini.
Waaah, makin gerah dan intens banget kan, BESTie! Adrian benar-benar dominan dan tengil banget di bab ini.