Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Hari yang Berat
Mendung yang menggantung di langit Jakarta pagi ini seolah berpindah sepenuhnya ke wajah Alea. Ia datang ke toko dengan langkah yang tidak lagi ringan, seolah-olah setiap ubin yang ia pijak terbuat dari lumpur hisap yang menariknya ke bawah. Matanya sembab dan kemerahan hasil dari terjaga hingga jam tiga pagi karena kepalanya terus memutar ulang rekaman kejadian semalam di dalam mobil Aksa.
Setiap kali ia memejamkan mata, kalimat Aksa tentang memegang rantai makanan Hanif berdenging seperti suara lebah yang marah di telinganya. Alea merasa terjebak. Di satu sisi, ia takut pada Hanif, tapi di sisi lain, ia mulai merasa ngeri pada cara Aksa melindunginya.
Pagi itu, Alea mencoba menyapu lantai, tapi ujung sapunya hanya berputar di tempat yang sama selama sepuluh menit. Ia seolah kehilangan kompas di dunianya sendiri.
“Mbak? Mbak Alea?”
Alea tersentak hebat saat sebuah tepukan pelan mendarat di meja kasir. Seorang pelanggan laki-laki paruh baya berdiri di sana sambil menyodorkan sebuah buku sejarah tebal.
“Eh, iya...maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Alea terbata.
“Ini, Mbak. Mau beli ini. Berapa ya?”
Alea menatap label harga di sampul belakang buku. Angka 80.000 tertulis jelas, tapi di mata Alea, angka itu seolah menari dan kabur. “Seratus. Eh, maaf, maksud saya delapan puluh ribu, Pak.”
Pelanggan itu menyodorkan selembar uang seratus ribuan. Alea menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia membuka laci kasir, lalu tertegun lama. Ia hanya menatap tumpukan uang di dalam laci itu dengan pandangan kosong, seolah lupa bagaimana cara menghitung kembalian sederhana.
“Mbak? Kembaliannya?” tanya bapak itu, mulai merasa aneh.
“Oh, iya. Ini, Pak.” Alea menyodorkan tiga lembar uang sepuluh ribuan.
Bapak itu menerima uangnya, mengerutkan kening, lalu menghela napas. Ia meletakkan selembar uang sepuluh ribu kembali ke meja kasir. “Kebanyakan, Mbak. Harusnya dua puluh ribu, bukan tiga puluh. Mbak lagi sakit ya? Wajahnya pucat sekali.”
Alea merasakan wajahnya mendadak panas karena malu. “Astaga... maaf, Pak. Saya benar-benar nggak fokus. Maafkan saya.”
“Nggak apa-apa. Istirahat, Mbak,” ucap bapak itu ramah sebelum melangkah keluar toko.
Alea menyandarkan punggungnya ke rak di belakang kasir, memejamkan mata rapat-rapat. Namun, ketenangannya pecah saat pintu toko berdenting pelan. Aroma parfum maskulin yang familiar menyeruak masuk. Aksa.
Pria itu berjalan tegap menuju kursinya, namun langkahnya melambat saat melihat Alea. Ia meletakkan kopi hitamnya di meja, lalu berjalan mendekat ke arah kasir.
“Kamu pucat sekali, Alea,” ucap Aksa tanpa basa-basi.
“Kamu sakit?” imbuhnya
Alea tidak mendongak. Ia sibuk menata ulang tumpukan nota yang sebenarnya sudah rapi. “Aku nggak apa-apa. Cuma kurang tidur.”
“Kurang tidur atau karena kamu masih memikirkan pembicaraan kita semalam?” tanya Aksa dengan suara rendah yang menuntut jawaban.
Alea menghentikan gerakan tangannya. Ia akhirnya mendongak, menatap mata tajam di balik kacamata Aksa yang terlihat sangat tenang, terlalu tenang. “Apa itu nggak cukup buat bikin orang capek, Aksa? Mengetahui kalau orang yang aku anggap tempat pelarian, ternyata diam-diam lagi main hakim sendiri sama masa laluku?”
Aksa menarik napas panjang, ia menarik kursi kayu dan duduk tepat di depan Alea. “Aku nggak main hakim sendiri, Alea. Aku cuma menjalankan fungsiku sebagai seseorang yang memiliki kekuasaan untuk menjagamu. Apa ada yang salah dengan itu?”
“Caramu yang salah!” suara Alea sedikit meninggikan nadanya, membuat beberapa pelanggan di pojok ruangan menoleh. Alea segera merendahkan suaranya. “Kenapa kamu nggak bilang dari awal kalau kamu CEO di sana? Kenapa kamu biarkan aku cerita soal Hanif seolah-olah kamu itu cuma pendengar yang netral? Kamu membohongiku, Aksa.”
“Aku tidak membohongimu,” balas Aksa datar. “Aku hanya memilih waktu yang tepat untuk memberitahumu. Lagipula, apa bedanya? Aku tetap Aksa yang sama.”
“Beda, Aksa! Sangat beda!” Alea tertawa getir, air matanya mulai menggenang. “Aksa yang aku kenal adalah pria yang menghargai ketenangan. Tapi Aksa yang CEO ini adalah pria yang hobi mengontrol hidup orang lain. Kamu bilang kamu memegang nasib Hanif. Kamu bisa menghancurkannya kapan saja. Itu menakutkan buat aku.”
“Menakutkan? Aku melakukannya untukmu!”
“Tapi aku nggak pernah minta kamu jadi monster buat ngelawan monster lain, Aksa! Sekarang aku jadi berpikir, kalau suatu saat aku berbuat salah atau bikin kamu kecewa, apa kamu bakal melakukan hal yang sama ke aku? Apa aku juga bakal masuk ke dalam rencana audit kamu?”
Rahang Aksa mengeras. ”Tuduhanmu mulai tidak masuk akal, Alea.”
“Mungkin buatmu nggak masuk akal, tapi buat aku yang pernah dihancurkan oleh kontrol orang lain, ini nyata!”
Alea menghapus air matanya dengan kasar. “Aku tadi salah kasih kembalian bukan karena aku bodoh, tapi karena kepalaku berisik. Aku takut sama kamu, Aksa. Kamu terlalu besar buat duniaku yang kecil ini.”
Aksa terdiam. Keheningan yang menyesakkan menyelimuti mereka berdua. Pria itu menatap tangan Alea yang terus meremas ujung bajunya, tanda kegelisahan yang sangat dalam.
“Jadi, sekarang kamu mau aku gimana?” tanya Aksa, suaranya kini terdengar lebih dingin namun ada nada luka di sana. “Mau aku biarkan Hanif mengincarmu lagi? Mau aku lepaskan pengawasanku supaya kamu merasa bebas meskipun nyawamu terancam?”
Alea menggeleng pelan, kepalanya terasa berdenyut. “Aku nggak tahu. aku cuma ingin kamu jujur sejak awal. aku nggak ingin merasa kayak pion yang dijagain sama rajanya cuma supaya rajanya nggak kehilangan mainannya.”
“Kamu bukan mainan buatku, Alea. Jangan pernah berpikir begitu.”
“Tapi perlakuanmu bilang begitu, Aksa.”
Sore itu, suasana toko menjadi sangat mencekam. Tidak ada lagi percakapan ringan tentang buku puisi atau kopi. Alea lebih banyak diam, menghindari kontak mata dengan Aksa. Ia seringkali tertangkap basah sedang melamun menatap rak buku selama belasan menit tanpa melakukan apa-apa. Langkahnya gontai, bahunya merosot seolah kakinya terbuat dari timah.
Aksa memperhatikan semuanya dari sudut ruangan. Ia melihat Alea yang beberapa kali salah menghitung stok buku di buku besar, mencoretnya dengan kasar, lalu menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya. Kelelahan batin Alea mulai merembes keluar, melumpuhkan fungsi logikanya.
“Alea, makanlah sedikit. Kamu bahkan belum menyentuh rotimu,” ucap Aksa pelan saat melihat bungkusan roti di meja kasir masih utuh.
“Aku nggak lapar,” jawab Alea pendek.
“Kamu akan sakit kalau begini terus.”
“Bukannya itu bagus buat rencana kamu? Kalau aku sakit, aku makin gampang dikontrol, kan?” sindir Alea tanpa menoleh.
Aksa mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia merasa setiap kalimatnya sekarang hanya menjadi bumerang yang melukai dirinya sendiri. Ia ingin sekali memeluk Alea, menjelaskan bahwa dunia bisnis itu kejam dan dia hanya ingin menjadi benteng bagi Alea, namun ia sadar bahwa tembok di antara mereka kini sudah terlalu tinggi.
Saat jam operasional berakhir, Alea membereskan tasnya dengan gerakan lambat. Ia bahkan lupa mematikan lampu gudang belakang dan membiarkan kipas angin tetap berputar.
“Biar aku yang kunci tokonya,” ucap Aksa sambil berdiri, mengambil alih kunci dari tangan Alea yang terasa sedingin es.
Alea tidak membantah. Ia hanya mengangguk lemas, membiarkan Aksa menutup semuanya. Ia merasa energinya sudah habis tersedot oleh pikirannya sendiri.
Saat mereka berjalan menuju mobil di bawah langit yang mulai meneteskan gerimis, Alea terlihat seperti raga tanpa jiwa. Ia berjalan pelan, kepalanya tertunduk, menyerah pada keadaan yang menurutnya tidak lagi bisa ia kendalikan. Hari ini benar-benar terasa lebih berat, dan bagi Alea, Aksa yang berada di sampingnya bukan lagi pelindung, melainkan sebuah teka-teki gelap yang mungkin tidak akan pernah sanggup ia pecahkan.