NovelToon NovelToon
Psikopat Itu Suamiku

Psikopat Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
​Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
​"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
​Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
​"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
​Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

​Di sebuah apartemen mewah yang tersembunyi di kawasan Jakarta Selatan, suasana sangat sunyi, hanya diterangi oleh temaram lampu meja yang menyoroti sosok pria di atas kursi roda. Pria itu adalah Rendi. Wajahnya yang dulu hangat kini tampak tirus, dengan sorot mata yang dipenuhi kebencian murni. Ia menatap layar ponsel di tangannya yang baru saja diputus secara kasar oleh Rangga.

​Rendi perlahan menurunkan tangannya. Ia terdiam sejenak, membiarkan keheningan ruangan itu meresap ke dalam kulitnya. Kemudian, perlahan tapi pasti, sebuah getaran muncul dari dadanya. Sebuah tawa yang dimulai dari desisan tipis, tumbuh menjadi tawa sinis yang menggema di seluruh ruangan pengap itu.

​"Tunggu ajalmu, Rangga..." bisik Rendi. Suaranya terdengar seperti gesekan pisau pada batu asah.

​Ia memutar kursi rodanya menuju jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota. Di matanya, lampu-lampu itu tampak seperti api yang siap membakar kerajaan yang telah dibangun oleh keluarga Dirgantara.

​"Sebentar lagi kamu akan hancur. Semua yang kamu cintai, semua yang kamu banggakan, akan runtuh berkeping-keping. Dirgantara Group akan menjadi milikku sepenuhnya.

Aku akan mengambil takhtamu, hartamu, dan... aku akan mengambil Alya darimu. Dia akan melihatmu sebagai monster yang sebenarnya, dan saat itu terjadi, aku akan menjadi penyelamat yang ia cari." ​Rendi tertawa puas, sebuah tawa kemenangan yang prematur namun penuh keyakinan.

Ia telah merencanakan ini sejak hari ia dibebaskan dari ruang bawah tanah itu. Ia telah mengumpulkan orang-orang yang menyimpan dendam pada Rangga, memanipulasi mereka, dan menjadikan Bima sebagai tumbal pertama untuk memancing sisi gelap Rangga keluar. Baginya, cacat di kakinya adalah pengingat abadi bahwa Rangga harus membayar dengan harga yang paling mahal: nyawanya sendiri.

​Sementara itu, di kediaman Dirgantara terasa begitu menyesakkan, seolah oksigen telah dihisap habis oleh ketegangan yang ada. Setelah mengunci pintu kamar Alya dari luar, Rangga tidak langsung pergi. Ia berdiri di koridor yang gelap, mendengarkan isak tangis istrinya dari balik pintu.

​Tangisan itu biasanya akan menyayat hatinya, membuat Rangga berlutut memohon ampun. Namun malam ini, tangisan itu justru terdengar seperti pengkhianatan di telinganya.

​Rangga melangkah menuju balkon besar di ujung lorong. Udara malam yang menusuk tulang tak sedikit pun dihiraukannya. Ia mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya, mengambil sebatang, dan menyalakannya. Api kecil dari pemantik menyinari wajahnya sesaat—wajah yang kini tidak lagi menunjukkan kemanusiaan.

​Rangga menghisap rokoknya dalam-dalam, membiarkan asap nikotin memenuhi paru-parunya sebelum mengembuskannya perlahan ke udara malam. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah gerbang mansion, seolah ia bisa melihat musuh-musuhnya sedang bersembunyi di balik kegelapan pohon-pohon besar di sana.

​Setiap hisapan rokok itu adalah cara Rangga untuk menahan ledakan amarah yang bisa menghancurkan apa saja.

​"Kau pikir kau bisa menang, Rendi?" gumam Rangga pelan. Suaranya tenggelam dalam desau angin.

​Ia mematikan puntung rokoknya di pagar balkon dengan tekanan yang kuat, seolah-olah ia sedang mematahkan leher musuhnya.

Rangga tahu bahwa kesembuhan yang ia tunjukkan selama ini hanyalah topeng yang rapuh. Dan malam ini, topeng itu telah hancur sepenuhnya. Ia tidak lagi peduli dengan janji-janjinya pada Alya tentang menjadi pria baik. Dunia tidak menginginkannya menjadi baik. Dunia ingin dia menjadi monster, maka dia akan memberikan apa yang dunia inginkan.

​Rangga memutar tubuhnya, kembali masuk ke dalam rumah. Ia menuju ruang kerjanya lagi, namun kali ini ia tidak memanggil Pak Danu lewat telepon. Ia membuka sebuah brankas rahasia di balik lukisan potret keluarganya. Di dalamnya terdapat sebuah laptop hitam yang tidak terhubung dengan jaringan internet biasa.

​Ia mulai mengetik dengan cepat. Rangga sedang mengakses jaringan informan gelap yang selama ini ia gunakan untuk "membersihkan" masalah-masalah Dirgantara di masa lalu.

​"Lacak sinyal terakhir dari nomor ini," Rangga mengirimkan nomor Rendi yang tadi ia lihat di ponsel Alya. "Aku ingin koordinatnya dalam sepuluh menit. Dan kirimkan tim ke apartemen Bima, pastikan tidak ada satu pun bukti fisik yang tersisa yang bisa dikaitkan dengan namaku. Jika polisi bertanya, katakan itu adalah perampokan yang berakhir tragis."

​Rangga bersandar di kursinya, matanya kembali menatap layar. Ia menyadari bahwa Rendi tidak bekerja sendirian. Tawa Rendi di telepon tadi adalah tawa seseorang yang merasa didukung oleh kekuatan besar. Apakah ada direksi Dirgantara Group yang terlibat? Ataukah ini adalah rencana jangka panjang dari kompetitor lama ayahnya?

​Pikiran Rangga bercabang, namun pusatnya tetap satu: Alya.

​Ia merasa memiliki hak mutlak atas Alya. Baginya, jika Alya berbohong, itu karena Alya telah dipengaruhi. Dan cara terbaik untuk menghentikan pengaruh itu adalah dengan memutus hubungan Alya dengan dunia luar secara total.

​"Kau akan membenciku, Alya," bisik Rangga pada foto pernikahan mereka yang ada di atas meja. "Tapi kebencianmu lebih baik daripada kehilanganmu. Aku akan mengurungmu dalam pelukanku sampai tidak ada lagi ruang bagi orang lain untuk bernapas di sekitarmu."

...****************...

​Matahari mulai menyingsing, namun cahaya kuningnya tidak membawa kehangatan bagi penghuni mansion. Alya terbangun dalam kondisi mata yang bengkak dan tubuh yang lemas. Ia menyadari pintu kamarnya masih terkunci. Tidak ada sarapan yang diantarkan, tidak ada suara Rangga yang memanggilnya dengan lembut.

​Tiba-tiba, suara pintu terbuka. Klik.

​Rangga masuk membawa nampan berisi makanan. Wajahnya sangat rapi, rambutnya tersisir klimis, dan ia sudah mengenakan setelan jas bisnis yang mahal. Ia tampak seperti CEO sukses yang sempurna, seolah kejadian pembunuhan semalam dan kemarahan hebat tadi dini hari tidak pernah terjadi.

​"Makanlah, Alya," ujar Rangga sambil meletakkan nampan di atas tempat tidur.

​Alya menatap Rangga dengan tatapan kosong. "Sampai kapan kamu akan mengurungku, Rangga?"

​Rangga berhenti sejenak, ia menatap Alya dengan pandangan yang sulit dibaca. "Sampai aku merasa aman, Sayang. Sampai tikus-tikus di luar sana berhenti membisikkan racun ke telingamu."

​"Rendi hanya bertanya kabarku! Dia takut padamu, Rangga! Kita semua takut padamu!" teriak Alya dengan sisa tenaganya.

​Rangga mendekat, ia duduk di pinggir ranjang dan membelai pipi Alya dengan jari yang terasa sangat dingin. "Takut adalah bentuk penghormatan yang paling murni, Alya. Dan Rendi benar untuk merasa takut. Karena hari ini, aku akan mengakhiri permainannya."

​Rangga berdiri, merapikan jasnya, lalu berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh. "Oh, satu lagi. Jangan mencoba mencari ponsel atau internet. Semua akses sudah kumatikan. Nikmati waktumu di rumah yang nyaman ini, Istriku. Aku harus pergi menemui 'teman lama' kita."

​Rangga keluar dan kembali mengunci pintu. Di dalam mobilnya, Pak Danu sudah menunggu dengan laporan lengkap.

​"Tuan, koordinat sudah ditemukan. Rendi berada di sebuah apartemen milik salah satu pemegang saham minoritas kita, Bapak Surya. Tampaknya mereka sedang merencanakan kudeta di rapat pemegang saham besok pagi," lapor Pak Danu.

​Rangga tersenyum tipis. "Surya... aku seharusnya sudah melenyapkannya sejak lama. Siapkan mobil. Kita tidak akan menunggu sampai besok. Kita akan memberikan kejutan kecil untuk mereka pagi ini."

​Di apartemennya, Rendi sedang bersiap-siap. Ia baru saja selesai melakukan panggilan video dengan beberapa investor yang telah ia pengaruhi. "Besok adalah hari kejatuhan Rangga. Pastikan kalian memberikan suara untuk mosi tidak percaya," ucap Rendi dengan nada memerintah.

​Ia merasa di atas angin. Ia merasa kekuatannya telah pulih. Namun, tiba-tiba, alarm keamanan apartemennya berbunyi.

​BIP! BIP! BIP!

​Rendi menatap layar monitor di depannya. Matanya membelalak. Di depan pintunya, Rangga berdiri sendirian. Tanpa pengawal, tanpa senjata yang terlihat. Rangga hanya berdiri di sana, menatap langsung ke kamera CCTV dengan tatapan yang seolah menembus jiwa Rendi.

​Rangga mengangkat tangannya, membentuk simbol pistol dengan jarinya, lalu pura-pura menembak ke arah kamera.

​DUARR!

​Pintu apartemen Rendi diledakkan dari luar. Asap memenuhi ruangan. Rangga melangkah masuk melewati puing-puing pintu dengan tenang.

​Rendi mencoba memutar kursi rodanya, mencari senjata di laci mejanya, namun Rangga lebih cepat. Rangga menendang kursi roda itu hingga Rendi terjatuh ke lantai.

​"Hai, Rendi. Sudah lama tidak bertemu secara langsung," ujar Rangga sambil menginjak tangan Rendi yang mencoba meraih ponselnya.

​Rendi mengerang kesakitan. "Kau... kau tidak bisa membunuhku di sini! Orang-orangku tahu aku bersamamu!"

​Rangga berjongkok, wajahnya sejajar dengan Rendi. "Orang-orangmu? Maksudmu Surya? Dia baru saja meneleponku lima menit yang lalu, memohon ampun dan menyerahkan semua sahamnya padaku sebagai ganti nyawanya. Kau sendirian, Rendi. Selalu sendirian."

​Rangga mengeluarkan sebatang rokok lagi, menyalakannya di depan wajah Rendi yang ketakutan. "Kau menggunakan Alya sebagai alatmu. Itu adalah kesalahan terakhirmu."

​Rangga menghisap rokoknya, lalu dengan sengaja menjatuhkan abu rokok yang panas ke mata Rendi. Rendi berteriak histeris.

​"Aku tidak akan membunuhmu secepat Bima," bisik Rangga. "Aku akan membawamu kembali ke tempat favoritmu. Ruang bawah tanah itu merindukanmu, Rendi. Dan kali ini, Alya tidak akan pernah tahu kamu masih ada di sana."

​Tawa Rangga meledak di ruangan itu, sebuah tawa yang jauh lebih gelap dan lebih menang daripada tawa Rendi sebelumnya. Sang predator telah kembali ke takhtanya, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan hukum sekalipun, mengambil apa yang ia anggap miliknya.

Bersambung.....

1
🖤Qurr@🖤
Luar biasa! Aku suka novel ini!

- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/
Naelong: terimakasi sudah mampir😍
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
Ih, ayah apa seperti kamu, Baskara? Mending kamu aja deh yang mati.
🖤Qurr@🖤
Mas Rangga red flag deh..
Hazelisnut
seru banget ceritanya semalaman aku baca gak berhenti😭🫶🏻
Hazelisnut: sama² kakaknya😘
total 2 replies
Hazelisnut
chapter 2 di mana mau baca😭aku udah gak sabar mau baca selanjutnya
Naelong: insyaallah hari saya up lagi
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
What the heck..?
🖤Qurr@🖤
/Sob/waduh...
🖤Qurr@🖤
🤣seram banget sih
Naelong: nggak seram ko😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!