"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.
"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"
"Kecuali apa, hm?"
Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.
✧✧✧
Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.
Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.
Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?
*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
♦♦
Perpustakaan Galaksi di malam hari menyajikan suasana yang berbeda, hangat dan nyaman, dengan aroma lilin wangi yang disulap menjadi penerangan.
Di satu sudut, terdapat perapian yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin merasakan kehangatan sambil membaca buku.
"Kamu dianter siapa? Tumben banget, biasanya naik bis," tanya Abel, yang merupakan salah satu rekan kerja Khaira di Perpustakaan Galaksi.
Khaira diam sejenak. Dia tidak langsung menjawab, karena dia bingung harus memberikan jawaban seperti apa.
Tidak mungkin dia berkata jujur, bahwa dia diantar oleh anak dari pemilik perpustakaan itu, yang sekarang sudah menjadi suaminya.
"Khaira, kenapa kamu malah bengong? Jangan sering bengong malem-malem, takut." Abel bergidik ngeri.
Dia sering membaca cerita horor, tetapi hal itu tidak membuatnya menjadi pemberani, malah membuatnya menjadi seorang penakut.
"Khaira. Sadar!" Abel
mengguncangkan sedikit tangan Khaira, karena Khaira masih diam saja.
Akhirnya guncangan itu berhasil membuat Khaira langsung mengerjapkan matanya. "Ah, maaf. Kakak baru mau pulang?" tanyanya, sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
"Iya. Jadwal kerja aku udah selesai," jawab Abel, sambil tersenyum sumringah.
"Yaudah, kalau gitu hati-hati pulangnya," pesan Khaira, tulus.
Abel langsung mengangguk cepat. "Iya. Kebetulan pacar aku udah nunggu di depan. Aku duluan, ya." Dia selalu bersemangat seperti
itu jika pacarnya yang menjemput.
"Semangat, Khaira. Pengunjung malam hari selalu ramai di banding siang hari," ucap Abel dengan suara pelan, sambil mengangkat kedua tangannya memberikan semangat.
Khaira langsung mengangguk, sambil tersenyum di balik cadar.
Setelah kepergian Abel, dia melanjutkan kembali langkahnya masuk ke dalam perpustakaan, karena sebelumnya Abel menghentikannya di depan pintu perpustakaan.
'Bener kata kak Abel, ini rame banget,' batin Khaira, dengan pandangannya yang melihat ke
sekeliling ruang perpustakaan.
Dia memang tidak suka berada dalam keramaian apalagi dikelilingi banyak orang. Namun, perpustakaan menjadi tempat pengecualian.
Dia senang melihat perpustakaan yang dipadati banyak orang. Orang-orang berdatangan dan melakukan kesibukan masing-masing tanpa gangguan dari orang lain.
Tidak ada suara orang mengobrol yang mengganggu kenyamanan, yang ada hanyalah instrumen musik yang diputar menambah kenyamanan dan ketenangan.
Inilah tempat impian dan tempat yang selalu dia rindukan.
'Masih ada waktu,' batinnya, sambil melirik sebuah jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Dia masih memiliki sedikit waktu sebelum jam kerjanya dimulai.
Sisa waktu itu, dia gunakan untuk mampir dulu ke sebuah cafe yang ada di perpustakaan itu.
"Lo baru datang, ya? Di luar pasti dingin banget. Mau minum dulu teh atau kopi?" tanya Ezar, selaku barista di cafe itu.
Mereka sudah saling kenal sejak awal Khaira bekerja di sana.
Namun, Ezar lebih dulu masuk sebelum Khaira. Jadi secara tidak langsung, Ezar adalah seniornya.
"Aku mau pesen teh seperti biasa," jawab Khaira, dengan cepat menundukkan kembali pandangannya.
Ezar langsung mengangkat tangannya, memberikan hormat. "Baik, laksanakan."
Khaira tersenyum tipis melihat tingkah Ezar yang selalu ceria setiap waktu. "Makasih, Zar."
Selagi menunggu pesanannya selesai, Khaira melirik pengunjung lain yang juga tengah menikmati secangkir kopi, teh, atau bahkan cokelat panas yang menjadi teman
mereka selama membaca buku.
"Mau sekalian sama kukisnya?" tawar Ezar.
Khaira menggeleng pelan. "Teh aja."
"Oke."
Khaira kembali mengamati suasana ramainya pengunjung di dalam cafe sekaligus di dalam perpustakaan itu.
Beberapa pengunjung itu juga sudah terbiasa menikmati minuman hangat yang dipesan dari kafe yang berlokasi di dalam perpustakaan.
Hal itu menambah suasana yang semakin akrab dan mengundang untuk larut dalam
dunia buku.
"Teh hangat sudah jadi."
Ezar menyerahkan teh hangat itu dengan menyimpannya di meja tempat tunggu.
"Makasih, Zar."
Khaira menunjukkan layar ponselnya sebagai bukti bahwa teh itu sudah dia bayar menggunakan pembayaran online. "Sudah dibayar, ya."
Ezar mengacungkan kedua ibu jarinya. "Sip."
Khaira langsung meraih segelas teh hangat itu, lengkap dengan piring kecil di bawahnya.
"Aku boleh bawa gelasnya?
Nanti aku kembalikan," ucapnya, meminta izin lebih dulu.
Ezar langsung menganggukkan kepalanya. "Tentu boleh. Biasanya juga lo kaya gitu," ucapnya, mengingat kebiasaan Khaira.
Khaira hanya tertawa pelan, tanpa terdengar oleh Ezar.
Setelah itu, dia pergi meninggalkan cafe itu, kemudian naik ke lantai dua perpustakaan, di mana dia bertugas di lantai itu.
Khaira menempati sebuah meja yang dekat sekali dengan jendela besar perpustakaan. Meja kerjanya memang terletak di sana.
Dia meletakkan gelas teh itu di samping komputernya, kemudian
Meletakkan tas sekolahnya di bawah meja kerja.
"Khaira, ada buku baru yang baru aja dikirim penerbit. Tolong kamu data, ya."
Kepala perpustakaan tiba-tiba menghampiri, dengan sebuah Ipad di tangannya.
Khaira langsung mengangguk. "Baik, Bu."
"Jumlah buku yang sekarang lumayan cukup banyak, jadi laporannya tidak perlu kamu serahkan malam ini," ucap kepala perpustakaan itu dengan ramah.
Khaira kembali mengangguk paham.
"Semangat!" ucapnya, memberi
semangat kepada Khaira.
"Makasih, Bu!" ucap Khaira, sambil tersenyum di balik cadar.
Setelah kepala perpustakaan itu meninggalkannya, dia mulai mendata buku-buku itu, sekaligus merapihkan buku-buku yang dia susun di jejeran rak buku.
"Permisi, Kak, kalau buku tentang Sosiologi ada di mana, ya?" tanya seorang pengunjung yang berada di lantai dua.
Khaira meletakkan lebih buku-buku yang hendak dia rapihkan di atas troli besar, kemudian dia melayani pengunjung itu dengan ramah.
"Mari saya tunjukkan, Kak.
Bukunya ada di sebelah sini."
Pengunjung itu mengikuti langkah Khaira sampai tiba ke rak yang memang dikhususkan untuk buku-buku sejenis itu.
"Makasih, Kak. Maaf sudah merepotkan," ucap pengunjung itu, yang kemungkinan berusia sama dengan Khaira.
"Sama-sama. Jika ada yang dibutuhkan lagi, jangan sungkan panggil saya," ucap Khaira.
Pengunjung itu merespon tidak kalah ramahnya dari Khaira. "Baik, Kak."
Khaira melanjutkan kembali aktivitasnya untuk mendata dan merapihkan buku-buku itu. Buku-
buku itu beraneka ragam, mulai dari novel fiksi, non-fiksi, hingga buku referensi.
Dia pun mulai menyusun buku-buku tersebut sesuai dengan kategori dan abjad penulisnya.
Sambil merapikan buku-buku itu, dia juga sesekali membaca sinopsis buku yang kemudian buku itu dia masukkan ke wishlist-nya untuk dia baca nanti.
Seiring dengan waktu yang terus berjalan, perpustakaan semakin ramai dikunjungi.
Pengunjung mulai berdatangan dengan berbagai tujuan, ada yang ingin mencari buku tentang sejarah, sastra, dan ilmu
pengetahuan.
Meskipun ramai, suasana tetap terjaga dengan pengunjung yang saling menghormati dan menjaga ketenangan.
Di bagian belakang perpustakaan, terdapat ruang yang diperuntukkan bagi mereka yang ingin mendengarkan musik klasik sambil membaca buku.
Dinding perpustakaan yang berwarna cokelat gelap dan jendela yang tinggi menciptakan suasana yang tenang dan menyenangkan.
Pengunjung terdiri dari berbagai latar belakang, ada yang datang untuk belajar, ada pula yang hanya ingin menikmati ketenangan
malam di perpustakaan.
Kelompok-kelompok kecil terlihat berkumpul di sudut ruangan, saling berbagi ide dan opini tentang buku yang sedang mereka baca.
Suasana di perpustakaan pada malam hari memang terasa begitu damai, seolah menawarkan tempat perlindungan dari kesibukan kota yang tak pernah tidur.
'Andaikan semua orang bisa merasakan nikmatnya berada di dalam perpustakaan,' batin Khaira, sambil menghembuskan napasnya dengan pelan.
"Mereka yang bisa merasakan kenikmatan ini adalah orang-orang
yang sangat beruntung," gumam Khaira, sambil mengamatinya pengunjung yang berada di lantai bawah.
Di antara rak-rak buku yang berjejer, pengunjung terlihat tertarik dengan beragam koleksi buku. Beberapa pengunjung duduk di kursi empuk dengan penerangan yang hangat, larut dalam cerita dan pengetahuan yang ditawarkan.
Di meja pembacaan, setiap orang terlihat khusyuk membaca sambil kadang-kadang menggoreskan pena di kertas, mencatat informasi penting yang ditemui dalam buku.
"Kamu sedang apa?" tanya Kepala perpustakaan, yang tiba-
tiba menghampiri Khaira yang sedang menumpukkan kedua genggaman tangan ke pagar kayu berlapis kaca yang ada di lantai dua.
"Melihat orang-orang yang bisa membaca buku dengan tenang adalah salah satu kebahagiaan," jawab Khaira, yang sedang larut dalam lamunan.
Dia tidak sadar siapa yang baru saja melontarkan pertanyaan.
"Sampai kapan terus berdiri di sini?"
Khaira langsung menoleh ke sumber suara.
"Ibu kepala?" Kedua mata Khaira sedikit memencing karena rasa terkejutnya.
Kepala perpustakaan langsung tersenyum, melihat ekspresi Khaira yang ternyata sampai terkejut melihatnya.
"Buku-bukunya sudah didata?" tanyanya, pada Khaira.
"Sudah, Bu. Sudah saya data dan saya rapihkan semuanya," jawab Khaira.
"Semuaanya?" tanya kepala perpustakaan, seolah tidak percaya jika Khaira benar-benar menyelesaikan semuanya dalam waktu secepat itu.
Sementara Khaira meresponnya hanya dengan sebuah anggukkan saja.
"Nanti segera kirimkan
laporannya, ya. Supaya kita bisa ajukan ke penerbit jika terdapat beberapa buku yang rusak atau tidak sesuai dengan standar perpustakaan ini." Kepala perpustakaan mengingatkan.
"Baik, Bu. Akan saya kirimkan secepatnya," jawab Khaira lagi.
Kepala perpustakaan langsung tersenyum bangga. Dia selalu dibuat senang oleh hasil kerja Khaira, begitu juga dengan hasil kerja yang lainnya.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi," ucap ibu kepala.
"Siap-siap juga untuk pulang, lima belas menit lagi perpustakaan akan di tutup," sambungnya kembali, sebelum benar-benar
meninggalkan Khaira.
Khaira mengangguk untuk
yang terakhir kali. "Baik, Bu."
Tidak membutuhkan waktu
lama bagi Khaira untuk mengirim
laporan itu. Hingga saat ini,
pekerjaan sudah benar-benar
selesai.
Namun, karena masih
memiliki sedikit waktu, dia
memutuskan untuk tidak langsung
pulang, tetapi memilih untuk
membaca buku yang belum selesai
dia baca sebelumnya.
Dia membaca buku puisi karya
penyair wanita terkenal yang
merupakan kesukaan almarhumah
ibunya.
'Kalau ibu masih ada di sini.
Kita pasti baca puisi ini sama-sama,'
batinnya, berusaha keras menahan
rindu pada ibunya.
Selama sebulan ini, dia terus
mencoba mengikhlaskan kepergian
ibunya, walaupun hal itu sangat
sulit untuknya, tetapi dia akan terus
mencoba hingga ikhlas seutuhnya.
'Khaira rindu ibu,' batinnya
kembali, seiring dengan bait-bait
puisi yang dia baca.
Dia teringat betapa dulu ibunya
sering membacakannya bait-bait
puisi indah.
Air matanya tak bisa lagi
terbendung seiring dia mengenang
sosok ibunya yang sangat dia
rindukan.
Hingga tanpa dia sadari, air
mata itu berhasil lolos dan jatuh
membasahi halaman buku yang
sedang dia baca.
Inilah salah satu alasannya
menjadikan perpustakaan sebagai
tempat ternyaman, karena dia bisa
mencurahkan seluruh isi hati dan
pikirannya, tanpa seorang pun
mengetahuinya.
Namun, semua itu tidak
berlaku lagi sekarang. Karena
kesedihan itu tidak lagi dia rasakan
sendiri, tetapi ada orang lain yang
kini mengatahui.
Tanpa dia sadari, sepasang
mata hitam dan tajam sedang
mengamatinya dari kejauhan.
Pemilik mata tajam itu adalah
suaminya sendiri, yang tidak lain
adalah Galvin Shaka Athariz.
Setelah sebelumnya
membiarkan Khaira dengan tenang
menumpahkan air mata, kini dia
memutuskan untuk menghampiri
sosok pemilik air mata itu.
Jendela perpustakaan yang
sengaja dibuka, membuat angin
malam menyentuh Khaira
seenaknya. Hal itu membuat Galvin
tidak rela.
Khaira yang sedang tenggelam
dalam lamunan, tiba-tiba
dikejutkan oleh sebuah jaket yang
dipasangkan padanya.
"Galvin," lirih Khaira,
bersamaan dengan dirinya yang
menoleh ke arah belakang.
Galvin menarik kursi yang ada
di sana kemudian duduk tepat di
samping Khaira, dengan sikut
tangannya yang dia jadikan
tumpuan di atas meja, dan jari-jari
tangannya yang bertaut menjadi
satu.
Dia tidak berbicara, hanya
memandang kedua bola mata indah
Khaira, yang sudah terisi kembali
oleh genangan air mata dia pelupuk
mata teduhnya.