Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~17
Setelah selesai berbuka puasa Marni dan Firman segera meninggalkan restoran lalu menuju sebuah mall untuk berbelanja beberapa pakaian muslim untuk para remaja musholanya sebagai apresiasi karena selama ini telah membantunya mengurus mushola maupun menghidupkan tempat tersebut hingga selalu ramai.
Saat sedang memilih pakaian tiba-tiba Marni dikejutkan oleh kedatangan seorang wanita yang berpenampilan seksi bersama seorang pria yang lebih tua entah kekasihnya atau pria simpanannya.
"Marni?" panggilnya hingga Marni langsung mengangkat wajahnya.
"Susan?" gumamnya tak percaya ketika melihat rekan kerjanya di tempat karaoke ibukota tersebut, ia lupa jika wanita itu juga berasal dari kabupaten yang sama dengannya hanya saja tinggal di kotanya sedangkan ia tinggal di pelosok kampung.
"Bagaimana kabarmu Marni?" wanita berpakaian seksi itu pun langsung mencium pipi kiri dan kanannya, beruntung wanita itu memanggil nama aslinya karena ia memang lebih senang teman-temannya memanggilnya Marni diluar jam kerja tidak seperti Susan yang memiliki nama asli Suyanti tapi lebih menyukai dipanggil dengan nama punggungnya yaitu Susan.
"Ba-baik." sahut Marni sedikit canggung, khawatir temannya itu keceplosan bicara pekerjaannya di depan Firman.
"Aku sampai pangling loh penampilanmu syar'i sekali," tukas wanita itu hingga membuat Marni nampak salah tingkah dihadapan Firman karena kini pria itu nampak memperhatikan interaksi mereka dengan penuh tanya.
"Wah siapa itu Marni?" Susan pun melirik ke arah Firman, pria tampan yang bersama wanita itu.
"Dia ...."
"Saya calon suaminya," potong Firman tiba-tiba karena sejak tadi ia perhatikan pria dewasa yang bersama wanita itu terus memperhatikan Marni dan ia tidak suka itu.
"Jadi kamu mau menikah Marni? kalau begitu tidak kembali lagi ke ibukota dong padahal rencana selesai hari raya aku ingin kita berangkat bersama-sama." Susan nampak sedikit terkejut mendengarnya, meskipun wanita itu menjadi primadona di tempat karaoke mereka bekerja namun Marni sedikit pun tak pernah sombong bahkan sering mempromosikan dirinya kepada para pelanggannya untuk itu wanita itu tidak hanya disukai pelanggan tapi juga teman-temannya yang lain.
"Nanti ku hubungi lagi ya Susan." sahut Marni seraya memberikan kode melalui matanya jika ia tak enak dengan pria disampingnya itu.
"Oke-oke baiklah, kalau begitu silakan lanjutkan berbelanjanya kebetulan aku juga sudah selesai." sahut Susan kemudian segera berlalu pergi meninggalkan mereka.
Kini Marni pun benar-benar merasa canggung dihadapan Firman karena sejak tadi pria itu hanya diam memperhatikan mereka belum lagi dengan penampilan Susan yang begitu liar, entah siapa lagi pria tua itu padahal saat sebelum mereka pulang wanita itu dihajar oleh istri pelanggannya hingga babak belur namun belum kapok juga.
"Jadi dia teman kerjamu?" ucap Firman yang entah kenapa terdengar lebih dingin di telinga Marni, apa pria itu sedang marah padanya?
Marni hanya mengangguk kecil tanpa berani menatapnya. "Tapi aku tak pernah berpakaian seperti itu kok mas," ucapnya memberikan penjelasan.
"Lain kali pilih-pilihlah teman dalam bergaul karena jika kamu bergaul dengan empat wanita kurang benar suatu saat kamu akan menjadi yang kelima dan mas tidak mau itu terjadi padamu," nasehat pria itu kemudian.
"Maaf mas," Marni pun memberanikan diri menatap pria itu dan benar saja rahangnya nampak mengeras.
"Kamu baru tahu salah satu temanku mas bagaimana jika kamu tahu apa pekerjaanku?" gumamnya yang kini kembali menunduk.
Haruskah ia akhiri saja semuanya sebelum perasaan mereka terlanjur jauh bersemi karena jika waktu itu tiba pasti akan sangat sakit sekali.
Tiba-tiba sebuah tangan besar menyentuh dagunya dan menggerakkannya agar menghadap ke arah pria itu. "Mas hanya mengkhawatirkan mu karena bagaimana pun mas pernah bertahun-tahun tinggal di kota saat kuliah dan mas sangat tahu bagaimana kehidupan disini, tolong maafkan mas ya." ucap Firman seraya mengusap puncak kepala wanita itu dari balik hijab yang dikenakannya.
Marni pun mengangguk kecil. "Tuhan, pria ini begitu baik sampai kapan aku akan membohonginya?" gumamnya dalam hati saat kembali menatap wajah pria itu yang kembali hangat dan juga teduh.
"Ayo sekarang giliran kamu belanja!" ajak Firman kemudian.
"Aku mas? tidak usah mas pakaian ku masih banyak." tolak Marni, ia cukup tahu diri karena sebelumnya sudah pria itu bayari makan padahal ia ingin membayar makanannya sendiri tapi dilarangnya.
"Aku tahu tapi aku yang ingin membelikannya untukmu atau mau ku pilihkan?" tukas Firman seraya menariknya ke sebuah tempat pakaian khusus wanita, terlihat beberapa gamis maupun pakaian muslim remaja kekinian ada disana dan semuanya terlihat bagus-bagus.
"Bagaimana dengan yang ini?" Firman mengambil sebuah gamis kekinian berwarna putih lalu ditunjukkan kepada wanita itu.
Marni pun langsung menyukainya namun saat melihat harganya sekitar 700 ribuan wanita itu langsung menggeleng kecil. "Baju-baju disini mahal-mahal semua mas jadi sepertinya lain kali saja aku membelinya," tolaknya kemudian.
"Aku yang minta dan aku juga yang mau, ayo ambillah jika tidak ku anggap kamu tak menghargai pemberianku." ucap Firman dengan wajah serius menatapnya.
Melihat pria itu kembali mengeraskan rahangnya Marni pun terpaksa menerimanya bahwa tidak hanya satu tapi pria itu membelikannya tiga lembar gamis dan juga sepatu dengan harga yang lumayan mahal.
"Mas ini terlalu berlebihan," ucap wanita itu tak enak hati.
"Anggap saja ini pemberian dari calon suamimu Marni karena setelah kita menikah apapun yang aku punya juga akan menjadi milikmu," sahut pria itu lantas mengajaknya ke sebuah toko pakaian khusus pria dimana nampak mengambil beberapa pakaian muslim dan baju-baju remaja kekinian.
"Ini untuk Marwan dan juga Mahesa," ucap pria itu seraya menunjukkan pilihannya tersebut.
Marni pun tak kuasa untuk menolak karena takut pria itu akan marah lagi seperti sebelumnya lalu mereka pun segera berlalu ke kasir dengan pria itu menyerahkan sebuah kartu debet untuk membayar semua belanjaannya dengan total lebih dari sepuluh juta karena saking banyaknya yang dibeli tidak hanya untuknya dan adik-adiknya namun juga untuk para remaja masjid lainnya.
"Sini biar mas saja yang bawa," Firman langsung mengambil alih beberapa kantung belanjaan di tangan wanita itu.
"Ga apa-apa mas aku juga mau bantu," tukas Marni yang kini nampak membawa dua buah paper bag di kedua tangannya tersebut.
"Kenapa mas tidak membeli juga?" ucapnya ingin tahu karena sejak tadi pria itu sibuk memilih pakaian untuk orang lain.
"Pakaian ku sudah banyak lagipula kurang bagus menyimpan banyak pakaian jika tak dipakai karena lebih banyak mudharatnya," sahut pria itu dengan senyuman mengembang tipis saat menatapnya.
Marni nampak terharu dengan kebaikan pria itu, ia yang dibelanjakannya tapi pria tersebut tak hanya membayarnya tapi juga rela membawa semua belanjaan mereka.
Akankah setelah ini ada timbal balik yang harus ia berikan padanya?
Karena setahunya seorang pria takkan mengeluarkan sesuatu untuk seorang wanita tanpa ada balasannya yang didapat, begitu juga dengan pelanggannya dimana suka memberikannya tips besar namun dengan konsekuensi ia harus dilecehkan.
Ngereog mulu 🤦...
aku juga orang kampung Lo bang qinan .aku anak ke 11 dari 18 bersaudara..tapi ga terlalu susah walaupun bapakku seorang petani . sekaligus pegawai pemerintah . karena walaupun petani tapi lahan punya sendiri
Penggemarmu gentayangan di mana -mana 😣...
sabar Marni fokus ibadah jangan dengarkan omongan seyton" di sekitar mu