NovelToon NovelToon
Akbar Muhammad Alfattah

Akbar Muhammad Alfattah

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Tamat
Popularitas:918
Nilai: 5
Nama Author: camamutts_Sall29

Bayangin kalo kamu jadi Aku?

Aku punya sepupu di pesantren namanya Fattah!? dia itu populer banget di pondok guys! tapi anehnya Aku dan Fattah begitu terikat sampai banyak mata melihat ngiranya kita adalah pasangan Sah?

penasaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon camamutts_Sall29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kita Ketahuan Fattah!? {3}

Halo guys! ini dia lanjutannya🔥

...

Malam itu memang Hujan Deras sekali, Aku cukup tahu aja Nasi Goreng itu dibeliin oleh Fattah?

Pagi Ini ada acara Halal Bi halal karena Ulang tahun Fattah ke 18 thn maklumlah Fattah sekarang menyamai Usiaku hehe ^^

acara cukup sederhana dari bikin tumpeng nasi kuning dan snack ; ada Pastel, dadar gulung, kue apem dan 1 aqua gelas di dalam Box mini.

Semua masing masing Santriwan dan santriwati kebagian tenang aja. tapi kalo untuk Nasi kuning mungkin ga semua Santri ya karna tidak cukup.

"Mari kita berdoa bersama untuk ulang tahun Anak Abi, dan Riana juga semoga di limpahkan keberkahan dalam hidup, jadi anak berbakti sama orang tua, di panjangkan usianya dan selalu sabar menghadapi satu sama lain sebagai sepupunya Al fatihah!"

Serentak Santriwan maupun Santriwati berdoa dengan khusyu.

Hingga selesai.

Aku bagian membagikan Snack ke Santriwan dan Hamdan di suruh Abi Rehadi membagikan Snack untuk Santriwati.

"Ihhh yang bagiin Snack Kak Hamdan Masya allah siapkan jantung!!" jerit Ilma.

Anisa menoleh,"katanya Sama kak Fattah?"

Ilma menoleh,"gapapalah oleng dikit."

Diam diam Putri temanku melirik penuh tatapan tidak suka karna anak tsanawiyah ( kelas Smp) bisa bisanya kecentilan disaat yang tidak tepat.

Putri kabur dari antrian dan bergegas menemuiku.

"Ri? panggil Nathan Ri."

"Nape? ada apaan?" kataku berbisik pada adik kelas ( smp santriwan memangil Nathan).

"Anak smp suka ama Hamdan Ri, Ga suka gue liatnya,"

"Ahahaha cemburu ye?"

Putri memutar matanya.

"Wait! - Hamdan! sini dah," kataku.

Hamdan menoleh dari setelah memberikan 2 box.

Namun ada Fattah baru keluar tiba tiba abis ganti baju dari dalam rumahnya.

"Fattah?" panggilku.

Dia merespon dengan alisnya.

"Itu Hamdan tolong panggilin dong!"

Terlihat dia bingung tapi menurut ajalah begitulah instingnya.

"Di panggil noh sama sepupu Gua."

Hamdan mengangguk dan menyerahkan tugas Box pada Nathan yang baru saja datang.

"Nih bagiin dulu,"

kata Fattah melewati Nathan lalu mengikuti Hamdan sedikit terlambat.

"Akhirnya ada Job juga abis berak, kirain di panggil ngapain,"

"Kasian deh Ilma. emang enak." kata Anisa membanthin.

"Lah jadi Kak Nathan sih?" Ilma mengambek kesal.

...

"Kenapa Ri manggil Aku?"

"Bagiin Santriwan aja biarin yang itu biar Nathan aja,"

"Siap!" Hamdan bersemangat.

"Kenapa lu ga suruh aja Gua Ri?" Fattah seperti ingin di pioritaskan.

"Diem deh Fat!" omelku.

Fattah terdiam seketika.

Benar saja wajah Ilma berubah kisut dia tak suka jika Nathan yang bagikan Box snacknya.

"Riana? Fattah? bisa masuk sebentar? Abi manggil kalian," kata Bunda Syana.

Fattah melihatku bolot dikit.

jadi menarik pelan ujung kerudung segi empatku.

"Resek kamu Fatt!" sungutku.

"Bunda manggil ayo!" Fattah menarik lengan kananku dan terlihat Hamdan harus melihat adegan itu lagi membuatnya semakin cemburu.

"Udah kali Hamdan, Aku tau kamu suka Riana? kenapa ga sama Aku aja?"

"Maaf Aku ga bisa bahas hal ini." balasnya Sopan.

Putri ngerasa di abaikan dama Hamdan jadi seketika Putri langsung membencinya."sok Ganteng! udah paling benar Gua ama Nathan aja dah. biar laku! Nathan juga ganteng cuma minusnya aja dia bandel." bathinnya.

Tanpa menggubris Hamdan, Putri yang tadinya berharap ada tatapan kagum. hari ini berubah menatap Hamdan penuh sinis, dan kembali ke antrian.

***

"Ada apa Bund?"

Fattah duduk sila dengan rapih lalu Aku duduk duduk diantara 2 sujud di depan Bibi Syana, ibunya Fattah.

"Nih Nasi kuning kalian makan berdua ya. jangan makan di Asrama nanti banyak yang iri,"

saran Bunda Syana.

Ada 1 piring lumayan buat di habiskan bareng Fattah jadi terlihat laper Aku bersemangat dan mengangguk.

"Aku yang usulin Ri biar kamu makan juga?"

"Tau aja Aku liatin tauk tadi pas lagi berdoa sama sama,"

Aku tertawa lepas bersama Fattah.

"Telur dadarnya banyak huwa, ga suka tomat ih,"

kataku.

"Yaudah makan pelan pelan, Fattah jangan ributin yang ga ada paham?"

"Paham Bunda,"

Kemudian Bunda syana pergi dan Abi rehadi datang Abis sholat wudhu. ( Kiai itu menjaga wudhunya).

"Makanlah Nakk pelan pelan," ucap Abi.

Aku dan Fattah saling pandang.

"Sosis Aku Fattah."

"Kamu tomat aja ya,"

Aku menggeleng geleng,"Abii fattah ga mau ngalah,"

"Kan tua an kamu Ri yang lahir duluan?" ledeknya.

"Maksudnya ngalah sama cewek! gitu aja ga paham?"

"Kalian tuh ya, di pisah saling cari di satuin berantem maunya apa sih? kalo Abi nikahkan kalian, bisa bisa anak kalian terlantar denger debat tiap hari?"

Aku terkejut.

"Riana kaget bi." Fattah menimpali.

"Emang ga boleh Bi, Riana sama Fattah aja?"

Fattah menoleh menatapku heran.

"Sayang dong, masa dari banyaknya laki laki maunya sama sepupu sendiri?"

"Kenapa Aku harus sepupuan sama Riana sih Abi?" Fattah memasang raut pasrah.

"Jangan menyalahi takdir! dosa Fattah."

"Fattah ga bisa Riana jadi milik pria lain Abi, Apalagi Riana emang cantik. Fattah juga udah tau rambut Riana Panjang?“

"Fattah dengerin Abi, Riana tau kamu sayang sama dia kamu pun sebaliknya Ri sayang juga sama Fattah kan? jangan sampai Ego kalian menang melawan garis takdir."

"Astagfirullah ... Aku tau sepupu bisa menikah. tapi Kalo Fat-fattah ga terima Pernikahan Riana nanti terus retak gimana Abi??"

Abi rehadi tertawa terpingkal pingkal.

"Fattah kamu bercanda kan nak?"

Fattah terdiam saat ucapan Abi tertuju padanya dan merespon anggukan tapi-- anggukan seperti terpaksa karena anggukannya pelan sekali dan tipis gitu.

Aku mulai denial karena Fattah kali ini berbeda, Aku segeran menatapnya.

Fattah juga menatapku balik.

"Kalian harus menjaga batasan nakk kalian berdua 1 darah dari nenek yang sama jadi ingat pesan Abi."

Fattah dan Aku menyetujuinya dengan mengangguk.

Ceramah dari Abi rehadi selesai kita melanjutkan makan nasi kuningnya dan tak terasa 15 menit berlalu.

"Ri ikut Aku yu bentar?"

Aku diam tapi Fattah menyuruhku ikutin langkahnya.

***

#Di taman kecil rumah fattah.

"Mau ngapain disini Fat?"

Fattah menatapku lama dia mengabaikan perkataanku.

"Ri? hamdan suka sama kamu, kamu ga peka apa gimana?"

"Hah? jangan bercanda deh Fatt?"

aku masih bertanya tanya.

Fattah mendorong bahuku pelan hingga mentok ke dinding.

"Ri? aku---?"

Fattah menoleh ke kiri ke kanan.

“Fatt mau ngapain ih?"

Aku masih terlihat polos dan tidak tau maksud dari Fattah itu apa.

"Mau ciuman ga Ri?"

"Hah? cium-- gimana? bibir? otak Aku ke situ Fat!" tukasku dengan jantung berdebar.

"Iya otak kamu udah bener kok.Ayo Ri biar ga penasaran?"

Aku juga berniat ingin karna perasaan ke Fattah udah lama banget soalnya.

Fattah mulai mendekati bibirnya dan sudah mendekati ujung hidungku.

Ku rasa aman di Taman Aku menyerahkan diri untuk Fattah menciumku.

Rasa sentuhan bibir itu hangat, Fattah terus mengecapkan lidah dan mencium dengan kecepatan yang aku saja tidak mengerti, dan karena mulai memanas ternyata kita sudah terbawa oleh hasutan SETAN.

Fattah terus menyesap bibirku dan Aku juga membalas lumatannya sehingga suara ASTAGFIRULLAH terdengar pelan dari belakang Fattah.

"Maaf Bunda," kataku terbelalak kaget Bunda Syana melihatnya. Aku menunduk dan menelan ludah yang sudah mengumpul di rongga mulutku Ya itu ludah Fattah sendiri.

"Aku yang mulai Bunda,"

"Ri yang ikut kemauannya Fattah Bunda." Aku menangis.

Fattah menoleh,"Ri ga marah kan?"

lelaki itu mengakui perbuatanya.

"Engga Fattah Aku takut Abi hukum kita,"

Bunda Syana cukup terkejut aksi panas itu lama ternyata.

"Fattah apaa yang ada di otakmu sampai kamu menodai Riana?"

"Bun Aku izin ke kamarku."

Aku panik, dan menyalami Bunda lalu berlari keluar dan mencari asrama.

"Katanya menjaga? tapi kamu merusak rencanamu sendiri?"

"Maafin Fattah Bunda, Fattah ingin memiliki Riana pertama kali dengan melakukan itu ---sebelum Riana jadi milik pria lain,"

Bunda Syana memeluk Fattah dan mengencangkan pelukannya.

"Maafin Aku Riana!" Fattah tenggelam di balik pelukan Ibunya sambil menangis hebat.

Lelaki itu menyesal dan bingung namun Ibunya bisa memahami Fattah sedangkan Aku masih berlari dan tak tau harus apa dan ngomong apa?

TBC.

Aga melenceng ya tapi yaudah simak ajaa !

mksh dah mampir Gomawo

jgn bawa SERIUS!🥰🙏

1
LEECHAGYN
sama2🤭
Dania
kayak dah nikah tapi yg tau cuma sebelah pihak aja ,cuma perasaan ku aja yak .
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!