NovelToon NovelToon
Tante Sasa

Tante Sasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Tante / Fantasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dutta Story_

Tentang Sasa yang jatuh cinta dengan Arif Wiguna,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-

Panggilan telepon pun langsung dimatikan oleh Arif, tatapannya begitu lekat ke telepon genggamnya.

Dalam hati, dia merasa tak yakin dengan apa yang dibicarakan oleh Felix melalui telepon genggamnya.

Dia memasukkan telepon genggamnya ke dalam saku. Dia duduk, sesekali menatap ke sekeliling, namun karena sama sekali tidak ada siapa-siapa,

Arif berdiri. Tanpa pamitan dengan Laras, dia pun langsung melangkah keluar dan menuju mobil.

Dengan mobil Ferrarinya, dia langsung pergi meninggalkan halaman rumah Laras.

Di dalam rumah, Bu Ani melangkah bersama Sasa menuju ruang tamu. Di sana, langkah Bu Ani terhenti, Sasa langsung berbicara,

"Mana Bi? Katanya ada pacar Laras?" tanya Sasa, tatapannya lekat pada Bu Ani.

"Tadi di sini," Bu Ani melangkah menuju meja. Dia menaruh minuman di atas meja itu, lalu melangkah menuju pintu.

Di depan pintu itu, Bu Ani menatap mobil di halaman rumah yang saat ini hanya tinggal satu, milik Sasa. Bu Ani membalikkan badannya.

Dia melangkah mendekat sambil berbicara, "udah pergi kayanya." ucapnya.

Laras, yang mengenakan pakaian rapi, melangkah dan terhenti di samping Mamanya. Laras lalu berbicara, "Ada apa, Ma?" tanyanya, lalu mengalihkan tatapannya ke kursi sofa. Dalam hatinya dia bertanya-tanya, "Kok Arif enggak ada? Dia ke mana?" gumamnya.

Sasa menatap Laras, lalu berbicara, "Kamu punya pacar, Laras?" tanya Sasa lekat-lekat.

"Iya, Ma, aku tadi pulang sama pacarku," ucap Laras gugup. Sebenarnya dia merasa takut untuk memperkenalkan pacarnya.

"Pantas saja, susah ditelepon sama Mama. Jadi sekarang kamu pacaran?" ucapnya.

"Enggak gitu, Mama. Hapeku ketinggalan di rumah teman, soalnya pagi-pagi berangkat sekolah buru-buru banget."

"Ya sudah, lain kali kalau Mama menelepon jangan susah dihubungi. Mama khawatir sama kamu." Ucapnya terhenti, tatapannya begitu lekat pada Laras, lalu kembali berbicara, "Apa jangan-jangan semalam kamu menginap di rumah pacarmu itu?" tanyanya.

"E-enggak, Ma, aku menginap di rumah Lisa. Aku juga punya hati, enhgak mungkin seperti itu. Lagipula aku pacaran enggak melakukan yang aneh-aneh," ucap Laras, lekat menatap Sasa.

"Yakin?" Sasa begitu lekat menatapnya.

"Iya, Mama," Laras menghela napas kasarnya, lalu mengalihkan tatapannya ke Bu Ani sambil kembali berbicara, "Bibi, dia ke mana?" tanya Laras.

"udah pergi kayaknya, Mbak. Lagipula mobilnya juga enggak ada di depan," jawab Bu Ani.

"Ish, malah pergi, tidak pamitan dulu," bisik Laras pelan, lalu melangkah untuk kembali ke kamarnya.

Sasa yang menatap kepergian Laras, lalu berbicara, "Bi, emang pacarnya seperti apa sih?" tanya Sasa.

"Kalau dilihat-lihat, wajahnya tampan, putih, tinggi, bawa mobil mewah warna biru. Kalau namanya enggak tahu. Kalau begitu Bibi ke belakang ya, Mbak?" ucap Bu Ani. Dia mengambil minuman di atas meja, lalu membawanya.

Sasa terdiam. Dia berpikir dan membayangkan pacar Laras. Bisiknya pelan, saat Bu Ani melewati Sasa, langkahnya terhenti, lalu berbicara, "Oh iya, Mbak Sasa, ada titipan buat Mbak," ucapnya.

"Dari siapa?" tanya Sasa, mengalihkan tatapannya ke Bu Ani.

"Dari Laras dan pacarnya. Mereka membawakan martabak dan jus."

"Buat Bibi saja, saya tidak nafsu."

"Tapi martabak kacang hijau dan jus kacang hijau."

"kalau gitu Tolong ambilkan ya, Bibi," Sasa sambil tersenyum menatap Bu Ani yang menganggukkan kepalanya. Sesaat kemudian senyumnya luntur, dalam hatinya dia berkata, "Tahu saja kesukaan Mama," gumamnya dalam hati.

Sasa lalu melangkah dan duduk di kursi sofa ruang tamu itu, sambil menunggu martabak dan jus yang diambilkan oleh Bu Ani.

Sedangkan Laras berada di dalam kamarnya, dia sedang duduk di atas ranjang, tangannya memegang sebuah telepon genggam.

Lewat telepon genggam itu, dia mengirim pesan ke Arif.

~Laras: Sayang, kok kamu malah pergi sih?

Sesaat dia merasa heran dengan apa yang dilakukan Arif, tapi Arif sama sekali tidak membaca dan membalas pesan itu.

***

Sementara itu, Arif sedang mengemudikan kendaraannya dengan cepat menuju lokasi rumah sakit yang dikirim oleh Felix.

Saat sampai di rumah sakit, Arif membelokkan kendaraannya ke parkiran depan rumah sakit.

Dia pun turun dari kendaraannya. Setelah menutup pintu mobilnya, tatapan Arif mengarah pada rumah sakit.

Dia pun melangkah untuk masuk ke rumah sakit itu. Saat akan masuk ke pintu depan rumah sakit,

Arif terhenti, saat Felix berhenti di depannya, lalu dia pun berbicara, "Enggak ada kesempatan, Rif. Sahabat kita dua-duanya sudah enggak ada lagi," ucapnya pelan, begitu lekat menatap Arif.

"Kronologinya gimana sih?" tanya Arif.

"Gue ga bisa cerita sekarang. Kita fokus dulu untuk mengantarkan mereka sampai rumah. Keluarga mereka sudah menunggu."

"Baiklah."

"Lo mau mengantarkan Abdul atau Ryuken? Kita wakili satu dari mereka."

"Gue mengantarkan Ryuken."

"Oke, berarti gue sama Abdul."

Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah sakit itu untuk memproses agar bisa dibawa pulang ke rumah masing-masing.

Tak butuh lama, setelah mereka berkonsultasi dengan petugas lobi, Abdul dan Ryuken pun mulai dibawa dan dimasukkan ke dalam mobil ambulans.

Arif yang berdiri di depan mobil ambulans yang membawa Ryuken, dia langsung pergi menuju mobilnya untuk membimbing jalan menuju rumah Ryuken.

Dari depan, Arif melajukan kendaraannya. Di belakang, ambulans menyalakan sirene mengikuti mobil Arif.

Waw, wiw, wow.

Sepanjang perjalanan, Arif terus mengemudikan kendaraannya. Dalam pikirannya, dia merasa kesal dengan apa yang dia dapatkan. Dalam benaknya dia terus mencari solusi, bahkan dendam pun hadir.

Sampai di depan rumah Ryuken, Arif memberhentikan kendaraannya, sedangkan mobil ambulans terhenti tepat di depan rumahnya.

Di rumah Ryuken sudah banyak sekali orang-orang, sedangkan keluarga dengan isak tangis langsung menuju ke mobil ambulans untuk membantu membawa Ryuken ke dalam rumah.

Arif yang baru saja turun dari mobilnya, dia merasa sedih melihat keluarga Ryuken. Arif menarik napas dalam-dalam.

Dia begitu kehilangan sahabat dekatnya. Karena banyak sekali warga, Arif hanya bisa mengantar sampai rumah saja.

Beberapa saat terdiam, lalu Arif melangkah dan kembali masuk ke dalam mobilnya. Di dalam mobil, Arif sempat terdiam dan berpikir.

Sebelum dia melajukan kendaraannya, dia mengambil hapenya. Saat hapenya dinyalakan, dia mendapat notifikasi yang sudah lama dari Laras.

Dia pun membuka pesan dan membacanya dalam hati, lalu dia membalasnya.

~Arif: Maaf, sayang, ada masalah serius.

Selesai Arif mengirim pesan ke Laras, tak lama Laras membalas pesannya.

~Laras: Masalah apa sih?

~Arif: Nanti aku ceritakan. Aku mau bertemu dengan Felix dulu.

~Laras: Cewek?

~Arif: Cowok, sayang. Dia kelas 11C.

~Laras: Awas saja kalau kamu bohong.

~Arif: Enggak kok, sayang. Aku enhgak bohong. Ya sudah, kalau begitu aku jalan dulu ya.

~Laras: Iya, sayang, hati-hati di jalan.

Arif yang melihat pesan dari Laras, dia tersenyum. Dia pun mematikan telepon genggamnya, lalu menyalakan mesin dan berlalu pergi.

1
sitanggang
sahabatnya me inggal malah pergi kencan dan hak ada mellow2nya, ini jalan ceritanya kok jelek bgt yaa🤣🤣🤣👎👎
DuttaStory_: Banyak ke Potong, 😭😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!