Min Ara wanita yang di jodohkan dengan Jeon Jason, lelaki tampan yang mempunyai kharisma kuat yang merupakan seorang putra tunggal dari keluarga Jeon.
Sebagai syarat lelaki itu mendapatkan seluruh hak warisnya, Jason harus menikah dengan Ara.
Ara mengira kehidupannya akan bahagia dengan menjadi istri Jeon Jason, tetapi semua itu hanya ada dalam angannya saja. Jason yang berstatus suaminya itu, tidak lebih dari seorang iblis yang selalu menyakiti hatinya.
Ara tidak bisa mengelak perasaannya yang mulai terjebak di dalam lingkaran yang di buat Jason, tetapi itu semua adalah sebuah kesalahan besar baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12| Perasaan
Ara membuka kedua matanya, ia merasakan beban di perutnya. Pandangannya turun dan melihat ke arah perutnya, ia melihat sebuah tangan kekar memeluknya.
Ara tahu pemilik tangan itu, ia juga mendengar dengkuran kecil dari Jason. Ara menatap wajah sang suami yang masih terlelap, tangannya mulai terulur ke arah wajah Jason. Namun tangannya hanya melayang di udar, ia masih belum berani untuk menyentuhnya.
“Apakah kita tidak akan bersatu?” gumam Ara dengan suara lirihnya, ia menatap wajah Jason.
Ara memejamkan matanya dan menghembuskan napas dengan kasar, ia beranjak dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi.
Jason terbangun dari tidurnya saat mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, ia duduk dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
Jason meregangkan otot-ototnya dan menatap ke arah kamar mandi. Ia baru ingat kalau tidur di kamar Ara dan ia tidak menyesali. Ia bisa tidur dengan sangat nyeyak dan tubuhnya terasa begitu bugar dari biasanya.
“Bukan ponselku yang berbunyi!” gumam Jason saat mendengar sebuah nada dering asing.
Ia mencari sumber suara itu dan menemukan ponsel Ara yang tergeletak di meja rias, ia mengambil ponsel Ara dan melihat nama Marten tertera di layar ponsel Ara. Jason mengepalkan tangannya dan tidak mengangkat panggilan itu.
“Kenapa pagi-pagi begini dia menelepon Ara?” gumam Jason menatap ponsel Ara yang sudah kembali mati.
Jason kembali meletakan ponsel itu di tempatnya semula. Lalu, ia melangkah keluar dari kamar Ara sebelum wanita itu selesai mandi.
Ara baru keluar dari kamar mandi dan menatap seisi kamarnya, ternyata Jason sudah keluar. Ia menghela napas dan mulai melangkah ke arah lemari untuk mengambil baju kerjanya. Saat ia melangkah ke meja rias, ia melihat ponselnya menyala dan ada panggilan tak terjawab dua kali dari Marten.
“Kenapa pagi-pagi begini Marten meneleponku?” gumam Ara membuka kunci di ponselnya.
“Apa Marten menanyakan jaketnya? Astaga aku lupa mengabarinya,” Ara langsung menelepon balik Marten dan pada dering ke tiga panggilan itu langsung terhubung.
‘Halo, Marten,’ sapa Ara.
‘Hai, Ara,’ balas lelaki itu.
‘Maaf aku lupa mengabarimu kalau jaketmu masih denganku! Jaketmu belum ku cuci juga,’ ujar Ara dengan nada menyesal, di seberang sana Marten tertawa kencang mendengarnya.
‘Tidak apa, kau tidak perlu cemas begitu aku menghubungimu bukan menanyakan hal itu,’ balas Marten membuat Ara mengernyitkan dahinya.
‘Kau ingin menanyakan hal apa?’ tanya Ara.
‘Apakah aku bisa mengajakmu makan siang di luar?’ tanya balik Marten membuat Ara mengembangkan senyumannya.
‘Tentu!’ seru Ara menyetujuinya dan Marten menghela napas lega mendengarnya, ia sudah menyiapkan semuanya dan ternyata Ara mau di ajak makan di luar olehnya.
‘Baiklah, nanti aku jemput kau sepuluh menit sebelum jam istirahat di mulai,’ ujar Marten.
‘Tidak perlu, biarkan aku datang ke sana. Kau berikan saja alamatnya di mana nanti aku akan ke sana,’ ujar Ara.
‘Tidak! Aku yang mengajakmu dan aku juga yang harus menjemputmu. Aku tidak terima penolakan! Sampai bertemu nanti siang Ara,’ Marten langsung memutuskan panggilannya dan Ara hanya menggelengkan kepalanya mengetahui sifat pemaksa dari lelaki itu.
...***...
Ara sudah siap dan ia keluar dari kamarnya, wanita itu menuju ke arah dapur untuk mengambil susu kotak sebagai peganti sarapan untuknya.
Sekarang ia tidak pernah memasakkan Jason lagi, karena Jason tidak akan memakannya, Ara tidak ingin kembali sakit melihat masakan yang sudah ia buat dengan susah payah itu, tidak di sentuh bahkan di lirik oleh sang suami.
Ara melihat Jason yang menuruni tangga, tatapannya tidak beralih dari lelaki itu yang terlihat sangat berwibawa dengan setelan jas kerjanya, tapi sayang Jason menggunakan sebuah anting di kedua telinganya.
“Nona Ara saya antar ya?” Michael menyambut Ara di depan pintu.
Ara ingin menolaknya, tapi ia tidak enak melihat wajah memelas Michael.
“Baiklah,” jawab Ara membuat Michael tersenyum kecil.
Michael membukakan pintu untuk Ara dan wanita itu masuk ke dalam mobil. Mobil Jason masih berada di dalam garasi, ia masih memanaskan mobilnya. Jason juga melihat Ara yang hendak diantar oleh Michael dari dalam mobilnya.
“Nanti nona ingin di jemput jam berapa?” tanya Michael yang sedang fokus mengemudi, Ara mengalihkan pandangannya yang semula ke jalanan kini menatap lelaki itu.
“Tidak perlu, aku sudah ada janji ingin mengunjungi temanku yang kebetulan juga bekerja di kantor,” jawab Ara.
“Baik nona,” balas Michael tidak ada lagi percakapan sampai Ara sampai di depan kantor.
“Tidak perlu membukakan pintu untukku, aku masih bisa melakukannya dan terima kasih sudah mengantarku sampai di kantor dengan selamat. Kau hati-hati mengemudinya,” ujar Ara sebelum keluar dari mobil, Michael tersenyum mendengarnya ia tidak tahu ternyata selain cantik dan lembut, hati Ara juga sangat baik kepada siapa pun saja.
Jason sangat beruntung bisa memiliki Ara yang mungkin banyak lelaki yang bermimpi mempunyai istri seperti Ara.
“Ara nanti jadi 'kan, kau menginap di apartemenku?” tanya Nara sambil mengandeng lengan Ara yang baru menempelkan kartu identitasnya untuk masuk ke dalam kantor.
“Tentu, aku sudah mengatakan kalau ada hal penting yang ingin aku ceritakan kepadamu,” balas Ara membuat Nara tersenyum.
“Wah sepertinya kita tidak akan tidur sampai pagi seperti waktu itu,” kekeh Nara membuat Ara juga ikut tertawa kecil.
Mereka melangkah menunggu lift dan tiba-tiba ada yang berdiri di sebelah mereka, mereka berdua sama-sama mendongak dan terkejut melihat CEO mereka juga mengantri di lift karyawan. Ia sedang memainkan ponselnya.
“Pagi tuan Jason,” sapa Ara dan Nara hampir bersamaan.
Jason melirik sekilas ke arah mereka dan menganggukkan kepalanya, ia kembali fokus dengan ponsel di genggamannya. Tak selang beberapa lama pintu lift terbuka, banyak karyawan yang berebut masuk untuk menghindari berdekatan dengan Jason.
Sekarang tinggal Ara dan Jason yang masuk terakhir. Ara berdiri tepat di sebelah Jason dan bahu mereka saling bersentuhan, lantai tempatnya bekerja berada di lantai lima belas dan ruangan Jungkook berada di lantai delapan belas. Sedangkan Nara berada di lantai sepuluh, jadi Ara akan berpisah dengan Nara.
Satu-persatu dari yang ada di dalam lift keluar dan kini tiba waktunya Nara keluar setelah lampu di lift menunjukkan angka sepuluh. Nara berpamitan kepada Ara dengan berbisik, Ara mundur ke belakang dan baru menyadari kalau tidak ada orang lagi di dalam lift kecuali dirinya dan Jason.
Ara menatap punggung lebar Jason yang berdiri di depannya itu. Lift terasa begitu lama dan Ara baru menyadari kalau lift ini tidak bergerak. Masih berada di lantai sepuluh, Ara memencet tombol lima belas namun tidak bisa, ia ingin menekan tombol alarm, tapi tangannya langsung di tahan oleh Jason.
“Kenapa?” bingung Ara menatap Jason yang mulai menyudutkannya.
Ara menahan dada Jason dan mencoba mendorong lelaki itu. Tetapi, ia kalah cepat dengan Jason sudah menciumnya dam menahan pergerakannya. Ara hanya terdiam tidak membalas ciuman dari sang suami.
“Kau boleh keluar!” titah Jason membuat Ara melihat ke belakang sang suami, ternyata ia sudah sampai di lantai lima belas.
Dengan cepat Ara langsung bergegas keluar dari lift dan Jason tersenyum melihatnya, ia sangat menyukai rasa bibir Ara yang begitu candu baginya.
...***...
“Maaf sudah membuatmu menunggu lama,” ucap Ara ketika ia sampai di depan pintu keluar, di sana sudah ada Marten yang menunggunya.
Marten yang sedang memainkan ponselnya mendongak dan tersenyum ke arah Ara yang menatapnya tidak enak.
“Tidak apa, hanya aku saja yang terlalu cepat datang,” balas lelaki itu sambil mengusap puncak kepala Ara.
“Ayo!” Marten menarik tangan Ara menuju ke mobilnya, ia membukakan pintu untuk Ara. Setelah itu, ia mengitari mobilnya dan mulai meninggalkan kantor.
“Aku akan mengajakmu ke restoran paling enak yang pernah aku datangi, aku yakin kau akan menyukainya,” ujar Marten yang sedang mengemudi.
“Aku pasti menyukainya,” jawab antusias Ara membuat Marten merasa gemas untuk menarik pipi wanita itu.
“Sakit!” pekik Ara membuat Marten menatapnya tidak enak.
“Maafkan aku yang sudah menyakitimu,” sesal Marten dengan wajah bersalahnya.
“Eh—aku hanya bercanda tadi, ini tidak sakit sama sekali. Maaf sudah membuatmu merasa bersalah seperti ini,” jelas Ara membuat Marten menghela napas lega.
“Aku pikir sudah menyakitimu,” kata Marten dan Ara hanya tertawa kecil.
...***...
“Kau mau apa?” tanya Marten mereka sudah sampai dan duduk di meja yang sudah di pesan oleh lelaki itu.
“Samakan sepertimu saja,” jawab Ara yang di balas anggukan oleh Marten.
Setelah menyebutkan pesanannya, mereka mulai mengobrol ringan sampai tatapan Ara terkunci dengan seseorang yang baru memasuki restoran.
Marten mengalihkan padangannya menatap objek yang di lihat Ara, ternyata Ara melihat Jason bersama Heori pantas saja wajah Ara terlihat murung begitu.
“Kau mencintai Jason?” pertanyaan Marten membuat Ara tanpa sadar menganggukan kepalanya.
“Sebesar apa?” tanyanya lagi dan kini Ara tidak bisa berbohong lagi.
“Aku mencintainya, aku tidak tahu perasaan itu dimulai dari kapan. Meskipun aku tahu, dia tidak akan pernah menganggapku sebagai istrinya, tapi aku sangat yakin dia akan paham dengan kehadiranku di hidupnya,” jujur Ara.
Bersambung...