Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Revisi Tanpa Caci Maki
Hari kelima di Bandung. suasana di ruang kerja sementara ini sudah bukan lagi kayak kantor, tapi lebih mirip zona gencatan senjata yang sangat mencurigakan.
Gue menarik napas panjang, merapikan bundel naskah revisi setebal tiga puluh halaman dengan perasaan was-was. Biasanya, momen menyerahkan naskah ke Genta adalah momen "persembahan tumbal". Gue bakal maju dengan kepala tertunduk, dan dalam sepuluh menit, naskah itu bakal balik ke meja gue dengan penampakan tragis, penuh coretan tinta merah darah, tanda silang raksasa, dan komentar pedas yang sanggup meruntuhkan harga diri gue sampai ke inti bumi.
"Ayo, Na. Fokus. Paling parah cuma disuruh tulis ulang dari kata pengantar," gumam gue menyemangati diri sendiri.
Gue bangkit, jalan deketin meja Genta. Pria itu tampak sibuk dengan tabletnya. Kacamatanya bertengger pas di pangkal hidung, ngasih kesan intelektual yang jujur saja itu menyebalkan karena dia terlalu tampan.
Plak.
Gue meletakkan naskah itu di meja Genta dengan sedikit tenaga ekstra biar kedengaran berani. "Revisi bab tiga sampai tujuh, Pak. Sudah saya sesuaikan sama standar efisiensi Bapak yang... matematis itu."
Genta mendongak sejenak, natap gue datar, lalu menarik naskah itu. "Duduk, Aruna. Jangan berdiri di situ kayak lagi nunggu vonis mati."
Gue tarik kursi di depan mejanya, duduk kaku. Gue perhatiin tangan Genta yang mulai membolak-balik kertas. Gue sudah siap mental. Gue sudah nyiapin sederet kalimat pembelaan kalau dia mulai mengkritik diksi gue yang dianggap terlalu "berbunga-bunga".
Satu menit... dua menit... keheningan ini kerasa lebih lama daripada antrean sembako gratis. Genta meraih pulpen dari saku kemejanya. Gue menahan napas. Oke, eksekusinya dimulai.
Tapi, ada yang aneh.
Genta nggak mengeluarkan pulpen tinta merah Pilot andalannya yang ujungnya setajam silet itu. Alih-alih, dia mengeluarkan pulpen tinta biru langit yang warnanya tampak... damai?
Tangan Genta bergerak pelan di atas kertas. Nggak ada coretan kasar. Nggak ada tanda tanya besar di pinggir margin yang biasanya berarti: "Apa kamu waras pas nulis ini?". Dia cuma melingkari beberapa kata, nulis catatan kecil dengan tulisan tangan rapi, terus membalik halaman dengan tenang.
Setelah sepuluh menit yang berasa kayak sepuluh jam. Genta menutup naskah itu dan menggesernya balik ke arah gue.
"Bagus," ucap Genta pendek. Sangat pendek.
Gue melongo. Gue nggak segera ambil naskah itu, malah natap Genta kayak dia baru saja ngaku kalau bumi itu datar. "Bagus? Cuma itu, Pak? Bapak nggak mau maki-maki saya?"
Genta menaikkan sebelah alisnya. "Memangnya saya harus maki-maki kamu tiap pagi supaya metabolisme tubuh kamu lancar?"
"Ya bukan gitu, Pak! Tapi aneh aja!" Gue nyambar naskah itu dan membukanya. Mata gue menyisir setiap halaman. Bener saja. Nggak ada tinta merah. Yang ada cuma catatan biru kayak: "Diksi ini menarik", "Transisi yang halus", atau yang paling bikin gue merinding, "Saya suka cara kamu menggambarkan emosi di sini".
Gue ngerasa ada yang hilang dari hidup gue. Rasanya kayak makan nasi goreng tanpa garam. Hambar.
"Kok nggak marah-marah, Pak? Mana tantangannya? Biasanya Bapak bilang kalau kalimat saya itu sampah estetika. Sekarang kok malah jadi menarik? Bapak beneran nggak lagi ngerjain saya, kan?" gue mencecar curiga.
Genta melepas kacamatanya, memijat pangkal hidung dengan helaan napas yang terdengar...normal dan manusiawi. "Diksi kamu memang meningkat, Aruna. Kamu mulai belajar cara menyeimbangkan perasaan dan logika. Kenapa saya harus marah kalau hasilnya sudah sesuai standar?"
Genta kemudian menatap gue intens. Tatapan itu bukan lagi tatapan "Editor Kepala ke Asisten Bodoh", tapi tatapan yang mengingatkan gue sama cara Kaka's memuji gue di kolom komentar NovelToon semalam.
"Atau kamu rindu suara saya yang tinggi?" tanya Genta dengan nada menggoda yang tipis banget.
"Dih! Nggak ya! Saya cuma ngerasa... Bapak ini mencurigakan banget sejak di Bandung," balas gue sambil memeluk naskah erat. "Apa jangan-jangan Bapak lagi kena sindrom Stockholm? Terlalu sering nyiksa saya, akhirnya Bapak malah jadi kasihan?"
Genta tersenyum miring. Sangat tipis, tapi sukses bikin jantung gue melakukan senam lantai. "Mungkin saya cuma sadar, kalau cara lama nggak berhasil bikin kamu patuh, mungkin saya harus mencoba cara yang lebih... persuasif."
Gue mendengus keras, mencoba menyembunyikan wajah yang mendadak panas. "Persuasif apaan! Bilang saja Bapak lagi mager nyoret-nyoret!"
Gue segera bangkit dan balik ke meja dengan langkah terburu-buru. Gue buka HP, tangan gue masih sedikit gemetar.
Senja_Sastra: Kaka's! Si Monster bener-bener rusak! Dia nggak marah-marah pas gue kasih revisi naskah. Dia malah kasih catatan pakai tinta biru yang manis-manis gitu. Gue takut, Kaka's. Gue ngerasa dia lagi ngerencanain plot twist yang lebih horor buat gue. Menurut lo, dia kerasukan apa gimana sih?
Cuma butuh tiga detik buat HP Genta di meja seberang bergetar. Gue perhatiin dari sudut mata, Genta meraih HP itu santai sambil menyesap kopinya.
Tak lama, balasan masuk.
Kaka’s: Mungkin dia nggak kerasukan, Senja. Mungkin dia cuma mulai sadar kalau lo itu berharga. Bukan cuma sebagai asisten, tapi sebagai... pemberi warna di dunianya yang selama ini cuma hitam putih. Nikmatin saja tinta birunya. Biru itu warna tenang, kan? Sama kayak perasaan dia ke lo sekarang.
Gue hampir saja menjatuhkan HP ke lantai. Gue menoleh ke arah Genta, dan saat itu juga, Genta lagi natap gue balik sambil mengangkat cangkir kopinya sedikit, seolah lagi melakukan toast jarak jauh.
"Warna tenang, matamu!" maki gue dalam hati, meski bibir gue nggak bisa berhenti berkedut menahan senyum.
Tapi, kegembiraan itu nggak bertahan lama. Pas gue mau balas pesan Kaka's, sebuah notifikasi lain muncul. Pesan dari Pak Hermawan di grup kantor yang bikin jantung gue bener-bener berhenti berdetak.
Pak Hermawan: "Genta, Aruna. Saya baru dapat kabar dari Jakarta. Ada bocoran naskah kolaborasi rahasia kalian di forum penulis anonim. Seseorang menyebarkan potongan draf kalian dan menuduh Aksara Muda melakukan plagiarisme terhadap karya penulis populer NovelToon bernama 'Kaka's' dan 'Senja_Sastra'. Kita dalam masalah besar. Segera kembali ke hotel, kita rapat darurat sekarang!"
Gue membeku. Gue natap Genta yang wajahnya mendadak berubah jadi seputih kertas. Rahasia kami... identitas ganda kami... seolah baru saja diledakkan oleh bom waktu yang kami pasang sendiri.
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻