NovelToon NovelToon
JENIUS RENDAHAN

JENIUS RENDAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Slice of Life
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Fikri

Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 : Satu Titik di Antara Tiga Garis

Hari ke-15 di SMA Cendekia.

Dua minggu sudah cukup bagiku untuk menyimpulkan satu hal: Sekolah ini berisik. Bukan berisik karena suara, tapi berisik karena ambisi. Di setiap sudut, udaranya terasa tebal oleh ego siswa-siswa yang ingin membuktikan siapa yang paling pintar.

Aku menguap lebar, tidak peduli pada tatapan guru Geografi di depan kelas. Bu Laras, guru paruh baya dengan kacamata yang melorot di hidung, sedang menjelaskan tentang prinsip dasar kartografi dan pemetaan wilayah.

"Baiklah, anak-anak. Untuk materi mitigasi bencana dan pemetaan wilayah rawan banjir di Kalimantan Barat, Ibu tidak mau kalian bekerja sendiri," suara Bu Laras menggema. "Kita akan bentuk kelompok. Satu kelompok empat orang. Ibu yang tentukan, biar adil dan membaur."

Seisi kelas mendesah kecewa. Tentu saja, si pintar ingin sekelompok dengan si pintar. Si malas ingin menempel pada si rajin. Dan aku? Aku hanya berharap tidak mendapat kelompok yang ribet.

"Kelompok 1: Rafan, Budi, Siska, dan Kevin."

Aku melirik ke arah bangku Rafan. Dia tersenyum sopan pada teman-teman barunya. Kelompok elit. Isinya juara kelas semua. Rafan sempat menoleh padaku, memberikan tatapan jenaka yang seolah berkata, 'Semoga beruntung, Kawan.'

Sialan.

"Kelompok 7..." Bu Laras berhenti sejenak, membetulkan letak kacamatanya. "Zea, Rara, Dinda... dan Callen."

Hening sejenak.

Aku merasakan tiga pasang mata langsung menoleh ke arahku. Bukan tatapan kagum, melainkan tatapan menyelidik. Lebih tepatnya, tatapan: 'Yah, kok dapetnya si ranking 30?'

Dengan langkah berat, aku menyeret kursiku untuk bergabung dengan meja mereka yang sudah disatukan. Ini adalah mimpi buruk bagi introvert sepertiku. Satu laki-laki di antara tiga perempuan.

"Oke, guys, langsung aja ya," suara tegas itu memecah keheningan.

Itu Zea. Cewek berambut pendek dengan bando hitam. Dari desas-desus yang kudengar, dia adalah tipe perfeksionis yang nilainya tidak boleh ada cacat sedikit pun dan idola di sekolah ini meskipun masih anak baru karena penampilannya yang cantik. Tatapannya tajam, seolah sedang memindai kegunaanku di kelompok ini.

Di sebelahnya ada Rara, cewek berkuncir kuda yang terlihat ramah tapi cerewet. Dan Dinda, yang sedari tadi hanya menunduk memainkan ujung pulpennya.

"Kita harus bikin presentasi peta digital wilayah Pontianak Tenggara. Ini materi susah, jadi kita bagi tugas sekarang biar minggu depan kelar," Zea langsung mengambil alih komando. Dia mengeluarkan buku catatan dan mulai menulis dengan agresif.

"Aku sama Rara bakal cari data curah hujan dan topografi. Dinda, kamu cari data demografi penduduk," perintah Zea cepat.

Lalu matanya beralih padaku. Dia berhenti menulis. Ada jeda canggung yang cukup lama.

"Ehm... Callen, kan?" tanya Zea, nadanya sedikit ragu.

Aku hanya mengangguk pelan. Wajahku datar, tak berminat.

Zea bertukar pandang dengan Rara. Aku tahu apa yang mereka pikirkan. Anak ini pendiam, ranking bawah, mukanya doang ganteng tapi kelihatannya nggak bisa diandelin.

"Kamu... ngerti kan materinya? Kita harus overlay peta rupa bumi sama data banjir," tanya Zea lagi, kali ini nadanya seperti berbicara pada anak TK. "Paham konsep layering peta?"

Rara menyikut lengan Zea pelan, mungkin merasa Zea terlalu ketus. "Maksud Zea, kamu bisa bantu cari gambar-gambar pendukung aja nggak, Len? Biar nggak pusing."

Mereka meremehkanku. Tentu saja.

Di kepalaku, aku sebenarnya sudah memetakan seluruh kontur tanah Pontianak Tenggara. Aku tahu di mana titik depresinya, aku tahu drainase mana yang mampet karena sedimentasi lumpur Sungai Kapuas, dan aku bahkan bisa membuat simulasi 3D sederhana di laptop kalau aku mau. Konsep layering? Itu mainan anak SD bagiku.

Tapi menjelaskan semua itu butuh energi. Dan butuh bicara panjang lebar.

Jadi, aku menatap mata Zea, lalu beralih ke Rara.

Aku mengangguk sekali. Singkat. Padat.

"Oke..." Zea menghela napas, terdengar tidak puas tapi pasrah. "Yaudah, kamu cari gambar peta dasar aja ya. Jangan sampai salah ambil gambar, lho. Awas kalau ambil peta tahun 2010."

Aku mengangguk lagi.

"Kamu ngomong dikit napa sih? Sariawan?" celetuk Rara, setengah bercanda setengah kesal.

"Paham," jawabku singkat. Satu kata.

Zea memutar bola matanya, lalu kembali sibuk berdiskusi dengan Rara tentang kontur tanah. Mereka berdebat tentang skala peta yang harus dipakai.

"Skalanya 1:25.000 aja biar detail," kata Zea. "Tapi kertasnya nggak muat nanti kalau diprint," bantah Rara.

Aku menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit kelas.

Salah, batinku. Kalau mau memetakan banjir di area perumahan padat, skala 1:5.000 lebih efektif untuk data mikro, nanti tinggal di-inset ke peta utama.

Tanganku merogoh saku, memainkan tutup pulpen. Aku tidak akan mengoreksi mereka sekarang. Biarkan saja mereka bekerja keras dengan cara yang rumit. Nanti, saat mereka buntu di H-1, mungkin—cuma mungkin—aku akan memperbaiki peta itu diam-diam saat mereka tidak melihat.

Dari sudut mata, aku melihat Rafan di seberang ruangan sedang tertawa lebar bersama kelompoknya. Hidupnya terlihat begitu mudah dan bersinar.

Sementara di sini, aku terjebak bersama tiga singa betina yang menganggapku kancil pincang.

"Callen! Dengerin nggak sih?" tegur Zea galak.

Aku tersentak pelan, lalu menatapnya dan mengacungkan jempol.

Hari ke-15. Dan hidupku semakin menarik saja

1
Zumrotul Mukaromah
semangatt update kakk🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!