NovelToon NovelToon
CIREMAI: THE LAST SURVIVAL

CIREMAI: THE LAST SURVIVAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Epik Petualangan
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.

Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Selasa, 21 Mei Pukul 23.47 WIB

IGD RSUD Cidugal, Kuningan

Rumah sakit daerah ini memang jarang ramai di tengah malam. Koridor IGD sempit, cat di sudut-sudut sudah mengelupas, dan lampu neon di atas pintu masuk sudah berkedip-kedip sejak tiga bulan laluanggaran perbaikan belum juga cair. Parkiran di luar setengah kosong. Hanya satu ambulans yang pintu belakangnya masih terbuka lebar.

Dr. Sakira sedang menyelesaikan laporan pasien terakhirnya anak dua belas tahun dengan tifoid ketika pintu IGD terbuka dengan kasar.

Bukan dorongan pelan seperti keluarga pasien biasa. Bukan pula dorongan cepat brankar darurat. Pintu itu terbuka seperti orang yang baru lari dari neraka.

Dua pria masuk. Yang lebih muda langsung mendekati perawat triage dengan napas tersengal. Seragam lapangannya masih penuh tanah di bagian lutut. Yang satunya lagi disangga tubuhnya, wajahnya pucat bukan karena biasa, lengan kanannya dibalut kain yang sudah berubah warna menjadi merah gelap di beberapa tempat.

Perawat triage, Dinda, hanya butuh dua detik untuk membaca situasi. Jarinya langsung menekan tombol panggil dokter jaga.

Sakira sudah berdiri sebelum suara bel selesai berdering.

Ia menerima pasien itu di Bed 3.

Pria paruh baya. Fisiknya dari luar masih terlihat cukup kuat. Ia masih sadar, masih bisa menjawab pertanyaan dasar, dan tekanan darahnya masih dalam batas yang bisa ditolerir. Luka di lengan kanannya bukan jenis yang langsung mengancam nyawa.

Tapi Sakira tidak langsung melihat ke lukanya.

Matanya tertuju pada kulit di sekitar luka, tepat di bagian yang tidak tertutup sempurna oleh balutan darurat.

Guratan putih kekuningan. Mengikuti alur pembuluh darah di bawah kulit.

Sakira membeku selama dua detik penuh.

Ini. Ini yang sama.

“Dokter?” suara Hendra pria yang tadi lari masuk membuat Sakira tersentak kembali.

“Kamu yang nemuin dia?” tanya Sakira sambil mulai memakai sarung tangan tebal dari laci bawah yang jarang sekali ia gunakan.

“Iya, Dok. Saya dari tim SAR. Kami masuk ke zona barat-laut Ciremai buat cari pendaki yang hilang. Pak Rudi ini… kena gigit.”

“Gigit?”

“Iya, Dok.”

“Dari pendaki yang hilang itu?”

Hendra mengangguk. Wajahnya lelah dan tegang. “Iya. Kondisi orangnya… nggak normal, Dok. Kulitnya aneh. Ada yang bergerak di bawahnya, kelihatan dari luar. Matanya hitam pekat. Dan cara dia gerak…” Hendra menggeleng pelan. “Kayak bukan dia yang ngatur. Kayak ada yang ngendaliin dari dalam.”

Sakira mendengarkan sambil membuka balutan dengan hati-hati. Satu lapis. Dua lapis.

Luka gigitannya dalam dan rapi. Terlalu rapi untuk seseorang yang katanya sudah empat hari hilang di hutan tanpa makan dan tidur yang cukup.

Tapi bukan lukanya yang membuat Sakira khawatir.

Guratan putih kekuningan itu sudah menyebar lebih jauh dari area luka. Jauh lebih cepat dibanding kasus pertama beberapa hari lalu.

Pak Rudi baru beberapa jam terkena.

Sementara pasien sebelumnya butuh berhari-hari sampai gejala seperti ini muncul.

“Dok…” suara Pak Rudi terdengar pelan, agak gemetar. Bukan karena kesakitan, tapi karena kebingungan. “Lengan saya kok aneh ya? Bukan sakit sih… tapi rasanya kayak bukan lengan saya sendiri.”

Sakira menatap matanya. Pupil masih normal. Respons cahaya masih baik. Bagian putih mata belum ada guratan gelap.

Belum.

“Bapak akan baik-baik saja,” kata Sakira tenang, meski dadanya sudah berdegup tidak karuan. “Saya perlu ambil sampel darah dan sedikit jaringan di sekitar lukanya dulu. Cepat kok, nggak lama.”

Pak Rudi mengangguk lemah.

Sakira bekerja cepat. Jarum, tabung sampel, penandaan semua gerakan otomatis. Tapi tangannya kali ini sedikit gemetar. Otaknya sudah berlari jauh ke depan, menghubungkan titik-titik yang semakin jelas polanya.

Setelah selesai, ia menyerahkan sampel ke Dinda.

“Cito. Langsung ke lab mikrobiologi. Bilang ke analisnya pakai APD lengkap, jangan sentuh langsung. Dan tolong panggil Dr. Hendra dari bagian Tropik dan Infeksi. Bilang saya butuh dia malam ini juga.”

Begitu Dinda pergi, Sakira masuk ke ruang kecil di belakang pos perawat. Ruangan sempit, hanya muat meja dan komputer tua yang loading-nya lama.

Ia duduk. Membuka browser baru.

Kemudian mengetik kata-kata yang sudah beberapa hari mengganggu pikirannya:

Ophiocordyceps unilateralis. Human host. Accelerated progression. Transmission via bite.

Hasil pencarian sebagian besar artikel populer tentang semut zombie dan dokumenter lama. Tidak ada kasus klinis pada manusia.

Karena memang belum pernah ada.

Sakira menutup tab itu. Tangannya bergerak ke laci meja. Di bawah tumpukan buku catatan, ia mengambil sebuah kartu nama polos berwarna putih.

Hanya ada nomor telepon dan satu baris tulisan:

“Hubungi jika ada kasus yang tidak masuk kategori standar.”

Kartu itu diberikan empat hari lalu oleh seseorang dari instansi tertentu yang tidak mau menyebut namanya secara jelas.

Sudah tiga kali Sakira hampir menekan nomor itu. Tiga kali ia urungkan karena masih berharap ada penjelasan yang lebih masuk akal.

Malam ini, harapan itu sudah tidak bisa bertahan lagi.

Ia mengambil ponselnya. Mengetik nomor dari kartu tersebut. Ibu jarinya berhenti di atas tombol panggil selama beberapa detik.

Lalu ia menekannya.

Nada sambung terdengar.

Sekali. Dua kali.

Pada dering ketiga, seseorang mengangkat.

“Ya?”

Suara di seberang terdengar tenang, tapi waspada.

Sakira menarik napas dalam.

“Ini Dokter Sakira dari RSUD Cidugal. Ada kasus baru. Dan… ini lebih cepat dari sebelumnya.”

1
tariii
kasihan pak Ujang..
NR
wkwk, iya kak, aku itu ulang ternyata 17🤣
tariii
semoga semua cepet selesai, dan mereka bisa pulang bertemu keluarga masing2..
Fittri Yani
maaf tor bukan ny 17 org ya....
kok 13 orang sih... udh bolak balik Lo aku hitung...🙏🙏🙏🙏🤭🤭
tariii
alhamdulillah.. ayah Runa baik2 saja, semoga pun dg Pak Ujang..
tariii
semoga orang2 yg pernah bersama sampai di checkpoint berhasil dievakuasi semua..
tariii
ayo.. ayo.. waktunya sarapan.. 🤭
tariii
semoga semua usaha yg sudah dilakukan ga sia2..
tariii
bagussss...👍👍👍
tariii
siapa lagi itu yg mau ke lab..?
tariii
jadi, di pihak mana sebenarnya Arief?
tariii
bintang 5 untuk cerita sebagus ini.. 👍👍👍
tariii: iya, ka.. semangatttt...💪💪😍😍😍
total 2 replies
tariii
lanjut, kak.. 👍👍👍👍
tariii
tegang 😂😂😂
tariii
tegang dan penasaran...
tariii
penasaran bangetttt...
tariii
baguuuusss...👍👍👍
tariii
semoga makin banyak yg baca.. bagus banget ceritanya.. 😍😍😍😍
tariii
💪💪💪💪
tariii
kereeeennn...👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!