Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
Malam itu, setelah ketegangan di kafe mereda dan Andreas Sunny sudah terlelap di kamar bayinya yang baru, Paroline duduk di balkon kamar utama Mansion Desmon. Angin malam Los Angeles membelai kulitnya, namun pikirannya melayang jauh ke masa sepuluh tahun yang lalu. Masa di mana seragam sekolah dan koridor SMA adalah saksi bisu dari sebuah obsesi gelap yang kini kembali menghantui hidupnya.
Fharell melangkah keluar, membawa dua cangkir cokelat panas. Ia meletakkan satu di depan istrinya dan memeluk bahu Paroline dari belakang. "Kau melamunkan si brengsek itu lagi?" tanya Fharell, suaranya berat dan penuh proteksi.
Paroline menghela napas panjang. "Rell... ada bagian dari masa lalu yang tidak pernah kukatakan pada siapapun. Bahkan pada Sania dulu."
Fharell terdiam, ia memutar kursi Paroline agar menghadapnya. "Katakan padaku, Sayang. Jangan simpan sendirian."
"Danesha Smith tidak pernah mencintai Sania," ujar Paroline dengan suara bergetar. "Target utamanya sejak awal adalah aku."
Fharell mengerutkan kening. Ia tahu Danesha adalah rival bisnisnya, tapi ia tidak tahu jika sejarah mereka sedalam itu.
Paroline menceritakan bagaimana di masa SMA dulu, Danesha adalah pemuda kaya yang sombong namun selalu bertekuk lutut di hadapan Paroline. Meskipun Paro dikenal sebagai gadis klub yang seksi, bebas, dan liar, Danesha justru semakin terobsesi. Ia berkali-kali menyatakan cinta, mengirim bunga setiap pagi, hingga membelikan barang-barang mewah, namun Paroline selalu menolaknya dengan dingin. Bagi Paro, Danesha adalah pria narsis yang hanya ingin memiliki trofi tercantik di sekolah.
"Puncaknya adalah saat pesta ulang tahun salah satu teman kita," Paroline memejamkan mata, mengingat kejadian memuakkan itu. "Danesa menarikku ke gudang musik. Dia mabuk, tapi lebih dari itu, dia gila. Dia mencoba menciumku paksa, meraba tubuhku seolah aku adalah miliknya. Aku menamparnya begitu keras hingga sudut bibirnya berdarah. Aku bilang padanya... 'Kau menjijikkan, Danesha. Kau sampah yang tidak akan pernah kusentuh'.
Fharell mengepalkan tangannya, matanya berkilat marah mendengar istrinya pernah diperlakukan seperti itu.
"Hanya beberapa minggu setelah tamparan itu, Sania datang padaku dengan wajah merona. Dia bilang dia tidur dengan Danesha. Aku syok, Rell. Aku memperingatkannya, aku bilang Danesha hanya menjadikannya pelampiasan karena dia gagal mendapatkan ku. Tapi Sania yang polos tidak mendengar. Dia pikir dia telah menemukan pangerannya. Padahal, Danesha hanya ingin menghancurkan apa yang dekat denganku sebagai bentuk balas dendam."
Paroline melanjutkan ceritanya dengan nada yang lebih rendah. "Rumor tentang aku yang tidur dengan banyak pria random... Danesha-lah yang menyebarkannya. Tapi lucunya, semakin dia menyebar fitnah, dia semakin terobsesi. Dia pernah menemuiku di parkiran klub malam suatu hari, saat aku sedang mabuk."
"Apa yang dia lakukan?" tanya Fharell tajam.
"Dia merendahkan harga dirinya sedalam mungkin. Dia berlutut di depanku, di aspal yang kotor. Dia memohon, Rell. Dia bilang... 'Paro, kumohon biarkan aku tidur denganmu satu malam saja. Setelah itu, aku janji rasa memiliki ini akan hilang. Aku hanya ingin tahu rasanya menyentuhmu agar aku bisa berhenti membencimu'."
Paroline tertawa pahit. "Kau tahu apa yang kukatakan padanya saat itu? Aku menatapnya dari atas ke bawah dan tertawa di depan wajahnya. Aku bilang, 'Danesa, meskipun kau pria terakhir di bumi, aku tidak akan pernah tidur denganmu. Kenapa? Karena aku tahu pria pecundang sepertimu tidak akan pernah bisa memuaskan ku. Kau terlalu lemah untuk wanita sepertiku'."
Kalimat itu, yang diucapkan Paroline bertahun-tahun lalu, ternyata menjadi luka abadi bagi ego Danesha Smith. Itulah alasan mengapa Danesha begitu benci melihat Paroline bersanding dengan Fharell, seorang pria yang jauh lebih muda, namun berhasil mendapatkan apa yang Danesha mohonkan sambil berlutut selama bertahun-tahun.
Fharell mendengarkan setiap kata dengan saksama. Ia kini mengerti mengapa Danesha begitu bersemangat menghina pernikahan mereka di kafe tadi. Danesha tidak hanya membenci Fharell sebagai rival bisnis, tapi dia terbakar cemburu melihat ratu yang pernah menginjak-injak harga dirinya kini bahagia di pelukan pria lain.
"Jadi, Sunny adalah hasil dari kebencian dan pelampiasannya padamu," gumam Fharell.
Fharell berdiri, menatap ke arah luar balkon dengan pandangan yang sangat dingin. "Sayang, sekarang aku mengerti kenapa kau begitu protektif pada Sunny. Kau tidak hanya melindungi anak sahabatmu, tapi kau melindungi korban dari obsesi gila pria itu."
Fharell berbalik, ia berlutut di depan Paroline, bukan untuk memohon seperti yang dilakukan Danesha, tapi untuk bersumpah.
"Danesa Smith akan membayar setiap tetes air mata Sania, dan setiap hinaan yang dia berikan padamu," ujar Fharell dengan nada yang sangat tenang namun mematikan. "Dia merasa hebat karena dia ayah biologis Sunny? Dia akan merasa hancur saat tahu bahwa putranya sendiri memanggilku Papa dengan penuh cinta, sementara ayahnya yang sebenarnya hanyalah sampah di mataku."
Fharell mencium tangan Paroline. "Jangan pernah takut lagi. Jika dulu kau menghinanya karena dia tidak bisa memuaskan mu, biarkan sekarang aku membuktikan padanya bahwa suamimu ini bukan hanya bisa memuaskan mu, tapi juga bisa menghancurkan kerajaan Smith-nya."
Paroline tersenyum, ia menarik Fharell untuk berdiri dan memeluknya erat. "Terima kasih, Rell. Ternyata keputusanku menikahi mu adalah hal paling benar yang pernah kulakukan."
"Tentu saja," goda Fharell kembali ke sifat aslinya. "Lagipula, aku jauh lebih tampan dan lebih bertenaga daripada pria tua obsesif itu, kan?"
Malam itu, rahasia masa lalu telah terungkap sepenuhnya. Fharell kini memiliki senjata baru. Ia tidak akan membiarkan Danesha mendekat. Ia akan membiarkan Danesha terus membenci, terus merasa penasaran, hingga saat waktunya tiba, Fharell akan membuka kebenaran itu tepat di depan wajah Danesha, saat pria itu sudah tidak memiliki apa-apa lagi selain penyesalan karena telah menyia-nyiakan darah dagingnya demi sebuah obsesi yang salah alamat.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰