Hu Li’an merasa kepalanya seperti akan pecah. Cahaya putih yang menyilaukan dari lampu plafon membuatnya mengerutkan kening.
Lantai yang keras di bawah tubuhnya bukan tempat tidur hotel yang lembut seperti yang dia ingat sebelum pingsan di bak mandi. Udara berbau alkohol dan obat-obatan yang khas rumah sakit membuatnya semakin pusing.
Dia ingat Saat itu dia merasa tenggorokan kering dan tubuhnya tidak berdaya, air mulai memenuhi bak mandi.
"Harusnya aku tenggelam... tapi kenapa aku ada di sini?"
Tiba-tiba pintu ruang inap terbuka perlahan dari luar. Seorang pria tinggi dengan wajah tajam dan mata hitam yang dalam masuk bersama seorang dokter dan perawat.
Pria itu mengenakan jas hitam yang rapi, rambutnya tertata rapi, dan ekspresinya tampak terkejut." Kamu bangun!"
Dokter segera mengarahkan perawat untuk menyiapkan alat pemeriksaan.Pria itu berjalan mendekati ranjang dengan langkah yang mantap, lalu menekan ujung ranjang dengan lembut.
"Kamu bangun..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Terluka
Setelah selesai kuliah, Hu Lian memutuskan untuk tidak langsung pulang ke apartemen.
Dia berjalan menuju toko kue kecil yang terletak tidak jauh dari kampus untuk membeli beberapa cemilan ringan kesukaannya—khususnya kue coklat panggang dan kue keju yang selalu membuatnya merasa lebih baik.
Setelah memilih beberapa barang yang disukainya dan membayar dengan cepat, Hu Lian bergegas pergi meninggalkan toko. Jarak antara toko kue dan apartemennya memang cukup dekat, hanya sekitar 10 menit berjalan kaki saja.
Namun pikirannya yang sedang sibuk memikirkan berbagai hal—mulai dari tugas kuliah hingga kejadian dengan Bai Xuning beberapa waktu lalu—membuatnya tidak menyadari bahwa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang dengan diam-diam.
Pria itu tidak terlalu tinggi, mengenakan pakaian serba hitam dan topi bisbol yang menutupi sebagian wajahnya.
Dibalik bayangan topinya, terlihat mata yang sedikit memerah dengan ekspresi yang tidak bisa dianggap baik.
Seringai licik muncul di wajahnya saat dia melihat Hu Lian yang terus berjalan tanpa menyadari keberadaannya, kadang-kadang dia melihat gadis itu mengeluarkan senyum kecil saat melihat barang-barang yang ada di tasnya.
Pria itu mempercepat langkahnya sedikit, menjaga jarak agar tidak terdeteksi.
Tangannya yang berada di dalam saku jaketnya tampak sedikit menggenggam sesuatu dengan erat, sementara matanya tetap terpaku penuh pada sosok gadis kecil yang sedang berjalan di depannya...
"Hei!"
Suara keras dari belakang membuat Hu Lian terkejut dan langsung berbalik.
Tak terduga, kilat perak menyilaukan menghantam arahnya—untungnya refleksnya yang baik membuatnya bisa mengikis dengan cepat menggunakan lengannya.
Hu Lian mengendus kesakitan saat rasa perih mengores bagian bawah lengannya. Dia mundur untuk melihat dengan mata membelalak bahwa benda yang menyakitinya adalah pisau, dan darah mulai perlahan merembes dari sayatan di tangannya, mengotori seragam kampusnya yang putih.
Pria itu dengan wajah tertutup bayangan topi mulai tertawa terbahak-bahak, tangannya masih erat menggenggam pisau yang kini telah ternoda darah merah muda dari Hu Lian.
"Heh... akhirnya bisa kutangkap sendirian,"ucapnya dengan suara serak dan penuh dendam, melangkah lebih dekat ke arah Hu Lian yang mulai mundur perlahan.
"Siapa kamu! Aku tidak mengenalmu!"teriak Hu Lian mencoba untuk menjauh, namun kaki kirinya tergelincir di atas trotoar licin, membuatnya hampir jatuh.
"Ahk...!"Dia menahan rasa sakit di lengannya dan mencoba untuk mengambil ponsel dari saku jaketnya, namun pria itu dengan cepat menginjak tangan kirinya. Hu Lian mengerang kesakitan.
"Jangan harap ada yang datang menyelamatkanmu sekarang!" teriak pria itu dengan senyum licik, mengangkat pisau lagi untuk menyerang...
Hu Lian memalingkan wajahnya,memejamkan matanya.
"Ahk!"
Hu Lian membuka matanya saat mendengar teriakkan pria gila tadi,lalu dia melihat pembunuh itu sudah jatuh di trotoar dengan pria tinggi yg membelakangi nya.
"Beraninya kamu menyakiti orang yang aku jaga," ucapnya dengan suara rendah namun penuh dengan ancaman.
"Aku tak ada urusan dengan mu!"teriak pembunuh itu dengan marah mulai melawan.
pria itu dengan cepat berkelahi dengan pembunuh itu ,dengan serangkaian pukulan dan tendangan yang akurat, membuat pembunuh itu menjerit kesakitan." Ahk sialan kakiku!"
Hu Lian segera memanfaatkan kesempatan itu untuk bangkit dan menjauhi tempat kejadian, menekan sayatan di lengannya dengan tangan lainnya agar darah tidak terus mengalir.
Suara keributan mulai terdengar—banyak orang yang melihat kekacauan ini segera berbondong-bondong datang dan beberapa di antaranya sudah mengambil ponsel untuk memanggil polisi.
Pria muda dengan kacamata emas berdiri untuk melihat pembunuh yg tak sadar diri dengan wajah babak belur.
Dia berbalik untuk melihat Hu Lian yang sedang berdiri di kejauhan dengan wajah pucat, kemudian kembali melihat pembunuh yang kini terbaring tak berdaya di tanah.
Dia mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya untuk membersihkan tangan kirinya, kemudian perlahan berjalan menghampiri Hu Lian.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya dengan suara yang jauh lebih lembut dibandingkan saat menghajar pembunuh itu, matanya yang tersembunyi di balik kacamata emas menunjukkan rasa khawatir.
Hu Lian melihat pria muda itu dengan tatapan penuh rasa syukur, mengucapkan terima kasih dengan suara yang sedikit lemah.
"Terima kasih banyak... kalau bukan kamu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku,"ucapnya sambil tetap menekan sayatan di lengannya—darah masih terus mengalir perlahan dan membuat tangannya terasa lemas.
Alis pria dengan kacamata emas segera mengerut melihat kondisi Hu Lian yang semakin memburuk.
"Kita tidak bisa tinggal di sini, harus segera pergi ke rumah sakit untuk merawat lukamu,"katanya dengan suara tegas namun penuh perhatian.
Dia melihat sekeliling dan melihat bahwa orang banyak sudah berkumpul, sementara suara sirene polisi mulai terdengar dari kejauhan.
Hu Lian melihat tangannya yang penuh darah, menyadari bahwa dia benar-benar tidak bisa pulang dengan keadaan seperti ini. Tanpa banyak berpikir lagi, dia mengangguk menyetujui.
"Baiklah... terima kasih sekali lagi," jawabnya dengan lembut.Pria itu langsung mengangkat tangannya untuk membantunya berjalan, namun segera menarik tangannya kembali saat melihat Hu Lian sedikit terkejut.
"Maaf, aku tidak berniat membuatmu tidak nyaman," ucapnya dengan sopan, kemudian menawarkan bahunya untuk disandarinya.".....Bolehkah aku membantumu jalan?."
Hu Lian mengangguk perlahan dan menyandarkan tubuhnya pada bahunya dengan hati-hati. Mereka berdua berjalan dengan langkah lambat menuju mobil putih mewah yang terparkir tidak jauh dari tempat kejadian.
Saat mereka akan masuk ke dalam mobil, sebuah mobil hitam datang dengan cepat dan berhenti tepat di samping mereka—pintu mobil terbuka dan Bai Xuning keluar dengan wajah yang penuh dengan kemarahan...
Bai Xuning baru saja mampir ke apartemen Hu Lian namun tidak menemukan dia di sana. Dia berniat membeli beberapa makanan kesukaannya sebelum gadis itu pulang.
Namun perjalanannya tiba-tiba terhenti saat melihat sosok Hu Lian berdampingan dengan seorang pria muda yang tidak dikenalnya—mereka tampak cukup dekat membuatnya langsung diliputi amarah.
Tanpa berpikir panjang, dia turun dari mobil dengan langkah cepat, siap untuk menghadapi pria itu. Namun ketika matanya menyadari ada noda darah merah yang jelas terlihat di lengan dan baju putih Hu Lian, wajahnya langsung memucat seketika.
"...Sayang, ada apa denganmu?!" teriaknya dengan suara yang menggema, meninggalkan rasa marahnya terbang begitu saja dan digantikan oleh kegalauan yang mendalam.
"Kenapa kamu selalu terluka...."Dia segera menghampiri untuk memegang tangan gadis itu dengan lembut.
Hu Lian melihatnya dengan wajah lelah, dia memang ingin menegur sikapnya yang selalu salah paham, namun tubuhnya terlalu lemah untuk berdebat lagi.
Dia hanya bisa menggeleng perlahan dan menjawab dengan suara pelan, " kita harus pergi ke rumah sakit."
Sementara itu, alis pria berkacamata emas sedikit mengerut. Dia melihat Bai Xuning dengan tatapan penuh rasa ingin tahu, kemudian mengangkat alisnya pelan.
Siapa pria ini? pikirnya, merasakan aura yang kuat dan penuh kekhawatiran dari lelaki yang tampak sangat dekat dengan Hu Lian.
Tanpa berkata apa-apa, pria itu mengambil langkah maju dan memberikan penjelasan singkat. "........Kami baru saja terkena serangan dari seorang pria dengan pisau. Aku sudah membantunya dan akan mengantarkannya ke rumah sakit."
Bai Xuning langsung menggendong Hu Lian dengan hati-hati, tidak peduli lagi dengan keberadaan pria lain itu.
"Aku akan mengantarkannya sendiri," ucapnya dengan suara dingin namun jelas, sebelum bergegas membawa Hu Lian masuk ke dalam mobilnya...
Ling Zhi melihat pria tinggi itu dengan hati-hati membawa Hu Lian masuk ke mobilnya, rasanya sedikit kesal karena tidak bisa mengantar gadis itu sendiri.
Namun keselamatan Hu Lian jelas lebih penting daripada perasaannya, jadi dia hanya bisa menghela nafas dan kembali ke mobil putihnya, berencana untuk mengikuti mereka dari kejauhan sampai ke rumah sakit.
Di dalam mobil hitam, Bai Xuning mengemudi dengan hati-hati namun tetap cepat, mata sesekali melirik ke arah Hu Lian yang sedang duduk di kursi depan.
Dia tidak bisa berhenti bertanya dengan suara penuh khawatir. "Apa lukamu semakin sakit? Apakah kamu merasa pusing atau ingin muntah?"
Hu Lian yang sudah memejamkan mata untuk mencoba menenangkan diri hanya bisa mengerutkan dahinya mendengar ocehan pria itu yang terus-menerus.
Akhirnya dia membuka mata dengan sedikit kesal dan berkata, "...Diam lah,kamu membuat kepalaku jadi semakin pusing..."
Bai Xuning langsung terdiam dan menurunkan suara, namun tetap memeriksa kondisi Hu Lian melalui cermin belakang mobil.
Dia menurunkan kecepatan sedikit agar perjalanan tidak terlalu bergoyang, kemudian dengan hati-hati menekan tombol untuk membuka musik dengan volume rendah agar tidak mengganggunya.
"Maaf.. aku hanya khawatir...," bisiknya dengan suara pelan, sambil tetap fokus mengemudi menuju rumah sakit terdekat.
Hu Lian hanya mengangguk perlahan dan kembali memejamkan mata, rasa sakit di lengannya mulai membuatnya merasa mengantuk...