Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."
Sinopsis Cerita:
Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Kembalinya Sang Bencana ke Benua Tengah
Perbatasan Antara Alam Iblis dan Alam Roh Sejati.
Langit di atas samudra yang memisahkan dimensi gelap dan dimensi terang tiba-tiba terbelah. Bukan oleh petir, melainkan oleh sebuah garis hitam vertikal yang memanjang dari awan hingga ke permukaan laut, seolah-olah kain realitas sedang dirobek paksa.
KRAAAAK!
Suara sobekan dimensi terdengar memekakkan telinga, menciptakan gelombang tsunami di lautan bawah.
Dari dalam celah dimensi yang berputar kacau itu, sebuah kapal perang tulang raksasa meluncur keluar. Kapal itu diselimuti oleh aura merah darah dan ungu yang bergejolak—sisa-sisa energi dari Alam Iblis.
Di haluan kapal, Ye Chen berdiri dengan tangan bersedekap. Jubah hitamnya yang baru (terbuat dari sutra laba-laba iblis) berkibar liar tertiup angin laut yang segar. Di punggungnya, Pedang Naga Langit mendengung rendah, seolah mencium aroma "rumah".
Di sampingnya, Lilith menggigil kedinginan. Meskipun dia kuat, perpindahan dimensi secara paksa menggunakan Kunci Jangkar membuat jiwa iblisnya mual karena perbedaan tekanan hukum alam.
"Kita... sampai?" tanya Lilith, menyipitkan mata melihat langit biru cerah yang menyakitkan baginya.
"Benua Tengah," jawab Ye Chen. Matanya yang memiliki pupil naga menatap tajam ke kejauhan.
Di sana, di tengah-tengah daratan raksasa itu, menjulang sebuah pilar putih yang menembus langit, jauh lebih tinggi dan lebih agung daripada Menara Babel tiruan di dunia bawah.
Menara Babel Sejati (The True Babel Tower).
Pusat dari Alam Roh Sejati. Titik penghubung ke Alam Dewa.
"Energinya..." Ye Chen menarik napas dalam-dalam.
Udara di Benua Tengah ini seratus kali lebih padat daripada di Benua Timur atau Utara. Di sini, seorang bayi yang baru lahir pun mungkin sudah memiliki fisik setara Pemadatan Qi.
"Pantas saja Tian Zun (Patriark Sekte Langit) begitu kuat dulu. Dia duduk di atas sumber energi ini," gumam Ye Chen. "Tapi sekarang, pemiliknya sudah berganti."
"Tuan, lihat ke bawah," Lilith menunjuk dengan kuku tajamnya.
Di bawah mereka, di lautan, terlihat armada kapal perang emas yang tak terhitung jumlahnya. Dan di langit, ribuan kereta perang terbang sedang berpatroli membentuk formasi jaring.
Mereka memblokade garis pantai Benua Tengah dengan rapat.
Bendera mereka bukan lagi Sekte Langit atau Kekaisaran Bintang Ungu. Bendera mereka bergambar Mata Emas di dalam Segitiga.
Aliansi Penjaga Langit (Sky Guardian Alliance).
Ini adalah koalisi dari sekte-sekte terkuat di Alam Roh Sejati yang mengambil alih kekuasaan setelah kematian Tian Zun.
"Mereka sudah menunggu," kata Ye Chen datar.
Suara sirine sihir meraung dari armada di bawah, memecah ketenangan laut.
"Peringatan! Kapal tak dikenal terdeteksi! Energi Iblis terdeteksi! Identifikasi diri atau dimusnahkan!"
Ye Chen tidak menjawab. Dia hanya mengangkat tangan kanannya.
Di jarinya, Cincin Awan Putih bersinar. Lima kunci di dalamnya beresonansi, menciptakan dengungan yang membuat kapal-kapal musuh bergetar.
"Aku tidak datang untuk melapor," kata Ye Chen.
Dia menghentakkan kakinya ke geladak kapal tulang.
"Mutiara Penelan Surga... Mode Meriam!"
Ye Chen menyalurkan sisa energi murni yang dia serap dari Mo Luo (Jenderal Iblis) ke dalam meriam utama kapal tulangnya yang terbuat dari tengkorak naga iblis.
"TEMBAK!"
BOOOOOM!
Sebuah bola energi hitam-merah raksasa ditembakkan dari mulut naga di haluan kapal. Bola itu melesat membelah langit, menghantam formasi blokade armada di depan.
BLARRRRRR!
Ledakan dahsyat terjadi. Sepuluh kapal perang emas hancur seketika menjadi serpihan kayu dan logam. Formasi pertahanan udara jebol, menciptakan lubang besar di barisan musuh.
"Musuh menyerang! Itu Asura! Dia kembali dari Alam Iblis!" teriak para penjaga panik. "Aktifkan Formasi Pembunuh!"
Ribuan serangan sihir meluncur ke arah kapal Ye Chen.
Ye Chen mencabut pedangnya.
"Lilith, kau kemudikan kapal. Tabrak saja semuanya. Aku akan membuka jalan."
"Baik, Tuan!" Lilith menyeringai, mengambil alih kemudi.
Ye Chen melompat dari kapal.
Dia terjun bebas menuju ribuan musuh yang menghadang.
Aura kultivasinya meledak tanpa ditahan lagi.
Ranah Pemutus Roh (Spirit Severing) Tingkat 3!
(Dia naik satu tingkat lagi setelah memurnikan sisa energi Mo Luo selama perjalanan lintas dimensi).
Tapi kekuatan tempur fisiknya... setara dengan Setengah Langkah Mahayana (Half-Step Mahayana) berkat tubuh fisik naganya yang sempurna.
"Siapa yang mau mati duluan?"
Ye Chen menebas.
Teknik Pedang Asura: Hujan Meteor Ungu!
Ribuan bilah energi pedang ungu jatuh dari langit, menghujani armada musuh seperti kiamat kecil.
DUAR! DUAR! DUAR!
Kapal-kapal meledak. Prajurit berjatuhan.
Perang pembuka di Benua Tengah dimulai dengan pembantaian sepihak. Ye Chen bukan lagi pemuda yang melarikan diri dari pengejaran. Dia adalah Bencana yang pulang kampung.
Puncak Menara Babel Sejati.
Di sebuah ruangan putih suci yang melayang di puncak menara, tiga orang tua sedang duduk melingkar di atas awan.
Mereka adalah Tiga Begawan (The Three Sages). Penguasa tertinggi Aliansi Penjaga Langit saat ini.
Begawan Pedang (Sword Sage) Tian Jian.
Begawan Sihir (Magic Sage) Fa Zun.
Begawan Tubuh (Body Sage) Tie Shen.
Ketiganya berada di Ranah Mahayana (Great Vehicle) Tingkat Awal. Puncak dari dunia kultivasi ini.
Mata Tian Jian terbuka. Cahaya pedang melintas di pupilnya.
"Dia datang," katanya tenang. "Getaran dari Lima Kunci itu... tidak salah lagi."
"Anak itu membunuh Tian Zun dan Mo Luo," kata Fa Zun, suaranya bergema seperti mantra. "Dia berbahaya. Jika dia membuka Gerbang Alam Dewa dengan paksa, keseimbangan dunia ini akan runtuh. Energi liar dari Alam Dewa akan menghancurkan kita semua yang belum siap untuk Ascension."
"Kalau begitu kita bunuh dia," kata Tie Shen, meretakkan buku jarinya yang sebesar batu bata. "Dagingnya pasti keras. Aku ingin mematahkan tulangnya."
Tian Jian berdiri. Dia memandang ke arah layar kristal yang menampilkan Ye Chen sedang menghancurkan armada perbatasan sendirian.
"Siapkan Formasi Hukuman Dewa di sekitar Menara. Kita tidak akan membiarkannya naik satu langkah pun."
"Biarkan dia datang ke kaki menara. Di sana... akan menjadi kuburannya."
Kembali ke medan perang.
Ye Chen mendarat di atas bangkai kapal musuh yang sedang tenggelam. Dia melihat ke arah menara putih yang menjulang di kejauhan.
"Mereka membiarkanku lewat?" gumam Ye Chen, menyadari bahwa armada musuh mulai mundur teratur, membentuk koridor menuju daratan.
"Mereka memancingmu ke darat, Tuan," teriak Lilith dari kapal tulang di atas. "Pasti ada jebakan besar di sekitar menara."
Ye Chen menyeringai. Dia membersihkan darah dari pedangnya dengan satu kibasan.
"Jebakan hanya bekerja pada tikus yang buta. Tapi aku..."
Ye Chen mengeluarkan Kunci Bintang (Kristal Biru) dari cincinnya.
Kunci itu bersinar, memproyeksikan peta struktur Menara Babel Sejati langsung ke otaknya.
"...Aku punya kunci rumahnya."
Ye Chen melompat kembali ke kapal tulang.
"Kecepatan penuh, Lilith. Kita akan menabrak pintu depan mereka."
Kapal tulang itu melesat, meninggalkan lautan api di belakangnya, menuju konfrontasi terakhir melawan Tiga Begawan di jantung dunia.
(Akhir Bab 10)