Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kak Rini Pergi Merantau Ke Luar Negeri
Kelulusan Kak Rini bukanlah akhir dari cerita kami—melainkan awal dari perubahan yang tak pernah benar-benar kami duga.
Tak lama setelah pesta kelulusan yang sederhana itu, kabar besar datang menghampiri keluarga kami. Kak Rini mendapat kesempatan merantau ke luar negeri. Entah dari siapa awalnya tawaran itu datang, yang jelas ayah adalah orang yang paling bangga. Wajahnya berseri setiap kali menyebut nama Rini, seolah seluruh keberhasilan hidupnya terwakili dalam satu nama itu. Ia bercerita ke tetangga, ke saudara jauh, bahkan kepada orang-orang yang nyaris tak kami kenal.
“Anak saya kerja di luar negeri,” katanya dengan dada membusung, penuh kebanggaan yang tak pernah kulihat sebelumnya.
Hari keberangkatan Kak Rini menjadi hari dengan perasaan yang bercampur aduk. Ibu menyiapkan bekal dengan tangan gemetar, berulang kali memastikan semuanya cukup. Matanya sembab, namun bibirnya tak henti mengucap doa. Aku hanya berdiri di sudut rumah, menyaksikan semuanya dalam diam—seperti biasa. Pada saat itu umurku masih 6 tahun. Tak ada pelukan panjang dariku, tak ada air mata yang jatuh di depan mereka. Aku belajar sejak kecil bahwa perasaan sering kali lebih aman disimpan sendiri.
Sejak kepergian Kak Rini, rumah kami tak pernah benar-benar sama.
Bulan pertama, surat dan kabar datang rutin. Lalu berubah menjadi panggilan singkat yang tergesa. Setelah itu, hanya uang yang datang—tanpa cerita, tanpa rindu, tanpa kabar tentang bagaimana hidup Kak Rini di negeri orang. Uang itu selalu ditujukan pada satu nama: ayah.
Setiap kali kiriman itu tiba, ayah berubah. Ia menjadi lebih sering keluar rumah, lebih sering tertawa di luar, namun semakin jarang duduk bersama kami di dalam rumah. Ibu menerima uang itu dengan tangan yang tak pernah sepenuhnya ikhlas—bukan karena tamak, melainkan karena ada sesuatu yang terasa janggal.
Tak satu pun dari uang itu diserahkan langsung kepada ibu. Ayah mengatur semuanya sendiri. Ibu hanya diberi secukupnya, sekadar agar dapur tetap berasap dan anak-anak tak kelaparan.
Pelan-pelan, sikap ayah berubah semakin jelas.
Nada suaranya kepada ibu meninggi. Kesabarannya menipis. Ia tak lagi meminta pendapat ibu, tak lagi menatapnya dengan mata yang dulu penuh penghargaan. Ibu yang dahulu menjadi tempat bersandar kini lebih sering menunduk, menyimpan lelah dan kecewa di balik diamnya.
Kami, anak-anaknya, ikut merasakan perubahan itu. Kami bukan lagi alasan ayah pulang lebih cepat. Bukan lagi tujuan senyumnya. Rumah hanya menjadi tempat singgah, bukan tempat berlabuh.
Aku melihat ibu semakin sering diam. Doanya semakin panjang, namun air matanya semakin sering jatuh tanpa suara. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan, banyak hal yang ingin kubela. Namun seperti biasa, aku memilih diam—diam yang kupelajari sejak kecil.
Saat itu aku mulai menyadari, jarak bukan hanya memisahkan manusia secara fisik. Jarak juga bisa memisahkan hati.
Sejak Kak Rini pergi jauh, ayah pun perlahan menjauh. Bukan dengan langkah, melainkan dengan sikap.
Di rumah itu, aku kembali merasa menjadi anak ke-7: hadir, tetapi tak pernah benar-benar diperhitungkan.
Aku belum tahu saat itu bahwa perubahan ini hanyalah permulaan. Di depan, ada luka yang jauh lebih dalam—luka yang akan menguji kesabaran ibu, dan memaksaku tumbuh lebih cepat dari seharusnya.