Apa jadinya jika yang menjadi sekretaris di perusahaan adalah istri sendiri? jangankan bisa menggoda karyawan wanitanya bahkan untuk sekedar lirik sana-sini pun tidak akan bisa dilakukan.
Sementara itu, dibalik sikap ceria sang istri ternyata dia harus bertahan menghadapi keluarga suami yang sering menyindirnya karena belum dikaruniai anak. Akankah rumah tangga mereka bisa kuat ataukah harus hancur hanya gara-gara sang istri belum juga dikaruniai keturunan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3 Hinaan Mertua Dan Ipar
Sore itu Rio dan Ashika pun pulang ke rumah, seperti biasa Ashika akan disambut dengan sindiran Mama mertuanya dan juga adik iparnya.
"Sayang, aku mandi duluan ya," seru Rio.
"Baiklah, aku mau menyimpan bahan makanan ini dulu di dapur," sahut Ashika.
Rio dan Ashika memang masih tinggal dengan orang tuanya, Rio sudah mau membeli rumah tapi Anton melarangnya. Menurut Anton, rumahnya itu sangatlah besar kalau Rio pindah rumah itu akan terasa sepi jadi Rio pun memilih untuk tetap diam di sana.
Nirmala dan Melisa datang menghampiri Ashika yang saat ini sedang memasukkan bahan makanan ke dalam lemari es. "Dasar anak seorang pelacur, penampilanmu selalu saja seperti itu, kamu seharusnya jaga penampilanmu, kamu itu istrinya Kak Rio jangan buat malu Kak Rio dan keluarga ini," sindir Melisa.
Ashika tidak mendengarkan ocehan Melisa, dia terus saja memasukkan bahan makanan yang barusan dia beli bersama Rio. Nirmala kesal, dia menarik lengan Ashika dengan kasar. "Kamu dengar tidak apa yang dikatakan Melisa?" bentak Mama Nirmala.
Ashika menghempaskan tangan Mama mertuanya itu. "Penampilan aku memang seperti ini, kalian mau suka ataupun tidak suka aku tidak peduli. Lagi pula, semua orang hanya tahu kalau aku ini sekretarisnya Mas Rio bukan istrinya jadi kalian jangan takut, karena aku tidak akan membuat malu keluarga ini," sahut Ashika dengan senyuman sinisnya.
Ashika pun membalikan tubuhnya hendak pergi dari dapur itu.
"Memang benar ya, buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Seperti kamu, ibu kamu seorang pelacur jadi pantas saja kalau penampilan anaknya seperti ini, bukankah membuat pria diluar sana tergoda adalah sebuah kesenangan untukmu," sindir Melisa kembali.
Ashika tampak mengepalkan tangannya, dia kembali membalikkan tubuhnya dan menatap tajam ke arah Melisa. "Mamaku memang seorang pelacur, tapi kalian tidak berhak untuk menghina Mamaku. Lagi pula, sekarang Mamaku sudah menikah dan berhenti menjadi wanita malam jadi kamu stop menyebut Mamaku pelacur!" bentak Ashika.
Melisa dan Nirmala tercengang dengan bentakan Ashika, sedangkan Ashika memilih untuk segera pergi dari sana dan segera masuk ke dalam kamarnya. Ashika memang selalu mendapatkan hinaan dari mertua dan adik iparnya, tapi Ashika bukanlah wanita lemah yang hanya bisa menangis tanpa berbuat apa-apa. Ashika adalah wanita yang kuat, dan tidak mudah di jajah.
Ashika selalu membalas dan melawan apa pun yang dilakukan mertua dan adik iparnya, sehingga membuat Nirmala dan Melisa semakin membenci Ashika. Ashika masuk ke dalam kamarnya dengan wajah yang cemberut membuat Rio yang baru saja keluar dari kamar mandi mengerutkan keningnya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Rio dengan memeluknya dari belakang.
"Lepaskan Mas."
"Kenapa cemberut, apa kegiatan panas kita tadi siang masih kurang?" goda Rio dengan menciumi tengkuk leher Ashika.
"Jangan bercanda deh Mas, aku lagi gak mood," kesal Ashika.
Ashika melepaskan pelukan Rio. "Mama dan adik kamu selalu saja mengusik hidupku, memangnya mereka tidak ada kerjaan lain apa selain menghinaku," kesal Ashika.
Ashika duduk di ujung ranjang dengan wajah yang cemberut, Rio pun menghampiri Ashika dan duduk di samping istrinya itu.
"Sudah jangan di dengarkan kata-kata mereka, anggap saja angin lalu."
"Tapi mereka selalu saja menghina Mamaku. Oke, Mamaku memang seorang pelacur tapi itu dulu sekarang dia sudah menikah lagi dan mempunyai suami," sahut Ashika dengan masih cemberut.
Rio yang melihat istrinya cemberut, bukannya kesal malah merasa gemas. Dengan cepat, Rio menggigit bibir Ashika yang sedang cemberut itu membuat Ashika memukul Rio dengan sangat keras.
"Menyebalkan, malah bercanda," kesal Ashika.
"Habisnya gemas sih, lihat bibir kamu yang seksi itu bawaannya ingin nyosor saja," sahut Rio dengan cekikannya.
Ashika segera menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. "Sayang, mau aku temenin gak mandinya?" teriak Rio.
"Tidak."
Rio terkekeh melihat tingkah laku istrinya itu, Rio tidak pernah ikut campur urusan istri dan juga Mamanya karena Rio yakin kalau Ashika bisa mengatasinya. Ashika adalah wanita yang keras dan pemberani, Rio pun tahu kalau Ashika punya batasannya sendiri. Rio yakin kalau Ashika tidak akan memulai suatu masalah kalau Mama dan adiknya tidak memulai permasalahan.
***
Malam pun tiba...
Saat ini keluarga Barata sedang makan malam, seperti biasa Nirmala dan Melisa selalu saja menyindir Ashika tapi Ashika tidak memperdulikannya dia fokus saja makan.
"Ashika, apa kamu masih belum ada tanda-tanda hamil? padahal kamu dan Rio sudah menikah satu tahun yang lalu, jangan-jangan kamu mandul lagi," sindir Mama Nirmala.
Ashika menghentikan makannya, hatinya sangat sakit kalau sudah mengungkit-ngungkit masalah anak.
"Mama, jangan bicara seperti itu? Rio dan Ashika sudah memeriksakan kesehatan kita ke dokter dan kita berdua sama-sama sehat tidak ada yang mandul!" sentak Rio.
"Mungkin dia kebanyakan minum obat, maklumlah dia 'kan pernah tinggal di kawasan prostitusi. Kita tidak tahu, kehidupan dia seperti apa dulunya," sindir Melisa.
Ashika bangkit dari duduknya dan langsung pergi naik menuju kamarnya.
"Kalian memang keterlaluan!" sentak Rio.
Rio pun menghentikan makannya dan pergi menyusul Ashika.
"Kenapa kalian selalu memulainya sih? dasar tidak tahu tata Krama, sedang makan masih saja sibuk julidin orang," kesal Papa Anton.
"Apaan sih Papa, kenapa Papa selalu belain wanita itu? jangan-jangan Papa juga tertarik dengan Ashika?" kesal Mama Nirmala.
Bruakkk...
Anton memukul meja makan dengan kerasnya membuat Nirmala dan Melisa tersentak kaget. "Jangan sembarangan kalau ngomong, gini-gini juga Papa masih punya iman, Papa tidak mungkin tergoda oleh Ashika karena Ashika sudah seperti anak kandung Papa sendiri sama seperti Melisa!" bentak Papa Anton.
Anton pun langsung pergi, sungguh istri dan anaknya sudah sangat keterlaluan. Sementara itu, Ashika menangis dengan memeluk bantal. Pintu kamarnya terbuka, Rio perlahan menghampiri istrinya dan duduk di samping Ashika.
"Sayang."
"Kenapa Mama kamu selalu saja membuat masalah, aku juga mau punya anak tapi belum dipercaya saja sama Allah," lirih Ashika dengan sesenggukan.
Rio menarik tubuh Ashika ke dalam pelukannya. "Maafkan Mama aku, sayang. Dia memang keterlaluan, tapi aku harap kamu bisa memakluminya jangan sampai kamu pergi meninggalkan aku karena aku tidak akan bisa hidup tanpamu, aku sangat mencintaimu."
"Memang kamu dan Papa yang jadi alasan aku masih tetap bertahan di rumah ini," sahut Ashika.
"Bagaimana kalau kita beli rumah saja? biar kamu bisa tenang dan nyaman," seru Rio.
"Tapi bagaimana dengan Papa? selama ini Papa melarang kita untuk pindah."
"Nanti kita bicarakan sama Papa, semoga saja Papa mengerti dan mengizinkan kita pindah rumah," seru Rio kembali.
Ashika menganggukkan kepalanya, Rio semakin mengeratkan pelukannya sungguh dia merasa bersalah kepada istrinya itu. Selama ini Rio sudah terlalu menurut kepada Mamanya tanpa memikirkan perasaan istrinya. Dia berjanji akan membahagiakan Ashika bagaimana pun caranya.
.lili kyk nya kecintaan sm boy deh..
.ayo lili sadar lah . tunjukan km kuat.. jg nangisan