Rio terpaksa menyetujui menikah dengan Rayi demi warisan supaya tak jatuh pada Rayi yang merupakan cucu dari teman sejati Kakek Brata.
Mereka kuliah di satu kampus dengan jurusan berbeda. Rayi terpaksa menerima syarat dari Rio bahwa di kampus mereka pura-pura tak kenal.
Namun mulai timbul masalah saat Didit teman satu kampus Rayi naksir gadis itu, dan Lala mantan Didit yang ingin mencelakai Rayi, serta Aruna teman sekolah naksir Rio kembali disaat hati Rio mulai bimbang untuk melepaskan Rayi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosida0161, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Saling Tahu Wajah Pasangan Sah
Rio melangkah ke dalam kamar diikuti Rayi. Setelah beberapa langkah Rio berhenti. Rayi pun ikut menghentikan langkahnya. Dia tetap menjaga posisi di belakang Rio.
"Kita sudah menikah ..." ujar Rio tanpa menoleh dan tak tertarik pada wajah istrinya.
Rayi mendengar ucapan lelaki muda yang telah menjadi suaminya. Walau umurnya delapan belas tahun, tapi dia bisa membedakan suara perduli dan tak suka.
"Jangan banyak berharap pada pernikahan ini. Karena yang ingin pernikahan ini terjadi adalah kakekku dan kakek kamu." Tegas suara Rio, biar saja supaya dia tahu kalau aku tak berniat menikahinya, lagian suruh siapa masih bocil udah nikah-nikahan.
Rayi terkejut. Tapi masih diam tak bersuara.
"Jadi jangan banyak berharap dalam pernikahan ini!"
Rayi terdiam.
Beku.
Suara Rio dingin dan mengintimidasi.
Biar dia tahu jika aku tak bisa menganggapnya istri. Biar dia tahu dan mulai berpikir dewasa, mana ada orang menikah secara paksa begini.
"Nama kamu?"
"Rayi,"
"Kau sudah tahu namaku?"
"Ya," agak parau suara Rayi.
"Rayi ..."
"Ya ..."
"Kita seharusnya tak ada di kamar ini, dan pernikahan ini tidak cocok untuk kita," dingin suara Rio.
Rayi tercekat. Dia semakin yakin jika Rio tak menyukainya. Dan aku juga sebenarnya tak menginginkan pernikahan ini, batinnya mulai beraksi, dikiranya ini inginku apa?
"Kamu masih delapan belas tahun harusnya fokus pada kuliahmu jangan keburu nikah-nikahan." Lanjut Rio jadi nyinyir.
Rayi hanya diam walau perasaannya mulai tak nyaman dengan kalimat demi kalimat Rio yang diksinya terkesan menyalahkan.
"Rayi."
"Ya ..." sahut Rayi masih dengan suara pelan dan lembut seakan dirinya tak terpengaruh dengan diksi dari Rio.
"Kamu menguasai bahasa apa?"
Rayi terkejut. Maksudnya apa, nih?
"Kau dengar?"
"Ya,"
"Jadi kau paham bahasa Indonesia?"
"Jelas karena aku orang bumi pertiwi ini." Agak sedikit jengkel dari nada suara Rayi.
Rio mengerti jika perempuan belia du belakangnya mulai tak sabar. Memang itu yang diinginkannya. Dia ingin menyadarkan Rayi bahwa pernikahan mereka salah. Dia ingin membuat perlawanan pada pernikahannya ini dengan mengikut sertakan Rayi, sehingga nantinya bisa kompak berdiri di depan kakeknya bahwa pernikahan ini tak boleh dilanjut ke jenjang yang lebih serius. Tak perlu melapor ke KUA dan pokoknya tak usah ada tindak lanjutnya. Cukup hanya peristiwa hari ini.
"Oke," ujar Rio, "Jadi kamu paham kan semua yang aku katakan tadi, atau aku harus mengulang lagi?"
"Nggak perlu," geleng Rayi.
"Terima kasih kalau kamu paham,"
"Nggak usah terima kasih karena aku tak memberi kamu apa pun," seru Rayi tanpa sadar melawan.
"Syukur kalau kamu sadar," angguk Rio, "Aku mau ke Jepang kuharap selama satu bulan kamu bisa berpikir dan setelah kita bertemu satu bulan lagi sudah ada hasilnya dan titik temu, kurasa kamu sudah paham semuanya." Rio melepas rangkaian melati yang dikalungkan ke lehernya, dengan tanpa beban kalung melati pernikahannya itu di lempar ke meja begitu saja.
Rayi memandang kalung rangkaian melati yang kesannya dibuang bagai sampah oleh Rio.
Saat dia berpikir jika lelaki yang jadi suaminya itu memang telah menunjukkan muka aslinya bahwa dia tak suka dan benci bahkan pada pernikahan mereka, tiba-tiba Rio bergerak ke lemari.
Masih berdiri di tempatnya Rayi reflek memandang pada Rio yang membelakanginya sedang membuka lemari. Lalu tangannya mengambil baju dan celana salin.
Tanpa bersuara Rio berjalan menuju kamar mandi.
Rayi masih berdiri di tempatnya. Kepalanya penuh berisi kalimat ucapan Rio yang menolak pernikahan.
Di kamar mandi dengan tergesa Rio membuka setelan jas dengan celana panjang, sekaligus kemeja putih di tubuhnya. Kemudian mengenakan celana panjang warna coklat tua serta atasan kemeja warna coklat tua.
Mengaca sebentar di cermin, kemudian berjalan ke pintu dan memutar handlenya.
Rayi yang masih berdiri menghadap lurus ke pintu kamar mandi langsung berbalik begitu handle pintu bergerak, sehingga kini dia membelakangi Rio yang sudah berganti pakaian keluar dari kamar mandi.
Sesaat Rio berdiri menatap Rayi yang berdiri membelakanginya masih mengenakan kebaya brokat warna krem serta kain panjang lurik hitam. Tak ketinggalan rambut disanggul.
Kemudian Rio melangkah dan berjalan melewati Rayi, tanpa menoleh dia mengambil dompet dari saku celana panjangnya, kemudian menarik sebuah kartu ATM dan diletakkan di atas meja.
"Walau pernikahan kita bukan mauku tapi aku lelaki bertanggung jawab. Ini nafkah untuk nafkah dan untuk beli apa yang yang kamu mau dan kamu butuhkan. Di kartu ini ada lima ratus juta. Pinnya triple 3 triple 9."
"Nggak usah ..." seru Rayi tak menginginkan uang dari Rio.
"Aku cucu kakek Brata dan calon pewaris, bahkan CEO, begitu aku lulus kuliah semua kekayaan keluargaku resmi jadi milikku. Tolong diingat keturunan Brata tak mempersoalkan masalah nominal uang." Suara Rio sangat mendominasi dan tak terbantahkan.
Rayi hanya menatap punggung Rio tanpa suara. Tapi jelas merasakan jika Rio telah menunjukkan kekuatan finansialnya.
"Sombong juga dia." Rayi bergumam dalam hati dengan wajah mengeras.
Rio melangkah ke pintu dan meraih handlenya, sebelum melangkah keluar kembali bersuara.
"Dan aku juga berharap kamu sepakat dengan aku untuk menyelesaikan pernikahan ini setelah aku pulang dari Jepang. Satu lagi rahasiakan pernikahan ini dari teman-temanmu," ujarnya lalu keluar kamar.
Fix sepasang pengantin ini tak saling mengetahui raut wajah masing-masing walau sudah menjadi suami istri.
Rayi nanar menatap pintu kamar yang ditutup Rio. "Siapa juga yang mau jadi istri lelaki sombong!"
Rayi menghempaskan pantatnya di sofa dan hanya memandang kartu ATM yang ditinggalkan Rio. Wajah cantiknya tampak menyimpan marah.
"Kenapa kakek kok mau-maunya besanan dengan kakek Brata yang punya cucu menjengkelkan seperti Rio." Sesal Rayi. Jauh banget dengan sikap kakek Brata yang ramah dan seperti ingin melindunginya.
"Rio bersikap begitu karena pada dasarnya tak cinta." Sebuah suara bergema dalam dirinya.
Rayi tercekat saat teringat sesuatu. "Jangan-jangan dia sudah punya pacar, hem itu pasti lelaki dua puluh tiga tahun. Kaya dan pewaris itu nilai tambahnya." gumam hatinya, maka Rayi mengerti kenapa sejak awal mereka masuk ke kamar sampai lelaki itu pergi melontarkan kalimat sarkas.
Pasti karena merasa dirinya menjadi pengganggu hubungan perpacaran mereka.
Hem boleh jadi begitu, pikir Rayi.
Mulanya dia tak menolak perjodohan itu karena sangat sayang dan menghargai kakek Satya. Walau tak mengenal Rio dan masih merasa umurnya terlalu dini untuk menjalani pernikahan, tapi dia mencoba berdamai dengan keadaan. Menikah diumur delapan belas tahun, dan kuliah sambil terus berkuliah.
Tapi baru beberapa menit menjadi seorang istri sudah mendapatkan sikap tak ramah dari suaminya. Bahkan diremehkan, diintimidasi serta lain-lain sikap Rio yang membuatnya tak nyaman.
Sebenarnya dia bisa saja pergi meninggalkan kediaman Rio Hadi Subrata. Tapi jika hal itu dilakukan pasti kakek Brata kecewa. Mengecewakan kakek Brata sama saja dengan menolak inginnya kakek Satya.
Tapi nggak juga aku kudu mengorbankan perasaanku. Lalu aku harus bagaimana?
Tangannya terulur mengambil ATM pemberian Rio.
"Aku cucu kakek Brata dan calon pewaris, bahkan calon CEO begitu aku lulus kuliah semua kekayaan keluargaku resmi jadi milikku. Tolong diingat keturunan Brata tak mempersoalkan masalah nominal uang." Terngiang suara Rio yang penuh percaya diri.
"Huh jangan karena kamu kaya bisa mengusikku seenakmu!" Bibir Rayi mengerucut emosi.
Rayi berdiri lalu melangkah ke meja rias dan duduk di depannya menatap wajahnya.
Teringat lagi ucapan Rio yang sangat mendominasi.
"Jangan banyak berharap pada pernikahan ini. Karena yang ingin pernikahan ini terjadi adalah kakekku dan kakek kamu."
"Huh aku tak berharap apa pun pada lelaki tak punya hati sepertimu Rio!" Sengit Rayi.
Dia seenaknya ngata-ngatai aku!
"Kamu masih delapan belas tahun harusnya fokus pada kuliahmu jangan keburu nikah-nikahan." Teringat lagi ucapan Rio yang nyinyir.
"Huh kalau bukan karena aku menepati janji kakekmu dan kakekku mana mungkin aku menikah diusia muda." Kesal Rayi merasa Rio menuduhnya terlalu ingin menikahi lelaki pewaris itu.
Pada akhirnya Rayi merasa dirinya justru jadi korban dari perjanjian dua lelaki yang bersahabat sejati antara kakeknya dan kakek Rio.
Rayi merasa sudah terjebak di dalam persoalan dua sahabat yang ingin besanan itu.
Apa nanti pulang saja ke rumahku?
"Kakek aku tak mau jadi istri cucu sahabat kakek. Dia mulutnya tajam. Dia sudah mengintimidasi Rayi, Kek ..."
suka banget alurnya