Genre: Dark Romance • CEO • Nikah Paksa • Obsesi • Balas Dendam
Tag: possessive, toxic love, kontrak nikah, rahasia masa lalu, hamil kontrak
“Kamu bukan istriku,” katanya dingin.
“Kamu adalah milikku.”
Nayla terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arka Alveron — CEO muda yang dikenal dingin, kejam, dan tidak pernah gagal mendapatkan apa yang ia inginkan.
Awalnya, Nayla mengira kontrak itu hanya demi kepentingan bisnis.
Tiga bulan menjadi istri palsu.
Tiga bulan hidup di rumah mewah.
Tiga bulan berpura-pura mencintai pria yang tidak ia kenal.
Namun semuanya berubah saat Arka mulai menunjukkan sisi yang membuat Nayla ketakutan.
Ia mengontrol.
Ia posesif.
Ia memperlakukan Nayla bukan sebagai istri —
melainkan sebagai miliknya.
Dan saat Nayla mulai jatuh cinta, ia baru menyadari satu hal:
Kontrak itu bukan untuk membebaskannya.
Kontrak itu dibuat agar Nayla tidak bisa kabur.
Karena Arka tidak sedang mencari istri.
Ia sedang mengurung obsesinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jensoni Ardiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ATURAN DI DALAM SANGKAR EMAS
Nayla berdiri di tengah kamar yang terasa terlalu luas untuk perasaannya.
Langit-langit tinggi dengan lampu kristal yang berkilau itu seharusnya memberi kesan megah. Namun bagi Nayla, semuanya justru terasa menekan—seolah kemewahan itu bukan hadiah, melainkan dinding tak kasatmata yang mengurungnya.
Ia menatap cincin tipis di jari manisnya.
Logamnya dingin.
Terlalu dingin untuk disebut simbol pernikahan.
Arka berdiri di dekat jendela, memandang taman yang bermandikan cahaya lampu malam. Punggungnya lurus, bahunya tegas, seolah dunia ini benar-benar miliknya.
“Duduk,” ucapnya tanpa menoleh.
Nayla menuruti. Ia duduk di ujung tempat tidur, punggungnya kaku.
Arka berbalik perlahan. Tatapannya jatuh ke Nayla—tenang, dingin, dan penuh perhitungan.
“Aku akan menjelaskan aturannya,” katanya.
Nayla menelan ludah.
“Aturan?”
Arka mengangguk kecil.
“Karena kontrak itu hanya kerangka. Yang akan kamu jalani adalah aturanku.”
Ia melangkah mendekat, lalu berhenti tepat di depan Nayla.
“Aturan pertama,” ucapnya pelan,
“kamu tidak keluar rumah tanpa izinku.”
Nayla mengangkat kepala. “Tapi saya—”
“Aturan kedua,” potong Arka,
“kamu tidak menyembunyikan apa pun dariku.”
Ia menatap Nayla lebih dalam.
“Telepon. Pesan. Panggilan. Semua.”
Jantung Nayla berdegup lebih cepat.
“Aturan ketiga,” lanjut Arka,
“kamu tidak menolak panggilanku.”
“Panggilan?” Nayla bertanya.
“Ketika aku memanggilmu,” ucap Arka tenang,
“kamu datang.”
Ia menambahkan, “Kapan pun.”
Nayla terdiam.
Dadanya terasa semakin sempit.
“Dan aturan keempat,” Arka berkata, suaranya sedikit lebih rendah,
“kamu tidak mencoba kabur.”
Ia tersenyum tipis.
“Karena aku tidak suka permainan kejar-kejaran.”
Nayla merasakan bulu kuduknya meremang.
Ia menatap pria di hadapannya—pria yang secara hukum adalah suaminya, namun terasa lebih seperti penjaga penjara.
“Apa yang terjadi kalau saya melanggar?” tanya Nayla lirih.
Arka tidak langsung menjawab.
Ia hanya mengangkat tangan, lalu menyingkirkan sehelai rambut Nayla yang jatuh ke wajahnya.
Sentuhannya ringan, hampir lembut.
Namun suaranya dingin.
“Aku akan memastikan kamu tidak melakukannya lagi.”
Jawaban itu justru membuat Nayla lebih takut.
Malam semakin larut.
Seorang pelayan mengetuk pintu, membawa nampan berisi makan malam.
“Silakan, Nyonya,” ucapnya dengan sopan.
Nayla menoleh ke Arka, ragu.
Ia belum merasa pantas dipanggil dengan sebutan itu.
Arka mengangguk kecil.
“Makan.”
Nayla melangkah ke meja kecil di sudut kamar.
Makanannya tampak lezat—steak, sup hangat, dan segelas jus segar.
Namun perut Nayla terasa kaku.
Ia makan perlahan, setiap suapan terasa hambar meski rasanya sebenarnya enak.
Arka duduk di kursi seberang, memperhatikannya.
“Kamu harus makan lebih banyak,” katanya.
Nayla mengangguk kecil.
Ia menambahkan beberapa suap.
“Bagus,” ujar Arka singkat.
Satu kata itu membuat Nayla merasa… dinilai.
Seperti anak kecil yang baru belajar patuh.
Setelah makan, Nayla berdiri.
“Aku… boleh menelepon ibu?”
Arka menatapnya sejenak.
“Kamu bisa.”
Nayla menghela napas lega.
“Terima kasih.”
Ia meraih ponselnya.
Namun saat ia hendak membuka kontak, Arka berkata,
“Pakai ponsel yang ini.”
Ia meletakkan sebuah ponsel baru di atas meja.
“Yang itu untuk komunikasi di rumah,” lanjutnya.
“Yang ini untuk dunia luar.”
Nayla menatap ponsel itu.
“Kenapa harus dibedakan?”
“Supaya aku tahu,” jawab Arka tenang,
“kamu berbicara dengan siapa.”
Nayla ragu, namun akhirnya mengambil ponsel baru itu.
Ia menelpon ibunya.
“Bu,” suaranya sedikit bergetar,
“Nayla sudah sampai.”
Suara Bu Ratna terdengar lemah namun lega.
“Kamu baik-baik saja?”
Nayla melirik Arka sekilas.
“Iya, Bu. Di sini… baik.”
“Jaga diri ya, Nak.”
Nayla tersenyum kecil.
“Iya, Bu.”
Setelah menutup telepon, Nayla menurunkan ponselnya perlahan.
Ia merasa… diawasi.
Arka berdiri dari kursinya.
“Sekarang,” katanya,
“kamu istirahat.”
Nayla mengangguk.
Ia berjalan ke sisi tempat tidur, lalu duduk.
Tangannya meremas sprei.
“Arka…” panggilnya pelan.
Arka berhenti.
“Ada apa?”
“Apakah… Anda pernah benar-benar mencintai seseorang?”
Arka terdiam beberapa detik.
Tatapan matanya berubah sedikit—bukan lebih lembut, melainkan lebih gelap.
“Cinta,” katanya pelan,
“adalah bentuk kepemilikan yang paling jujur.”
Nayla menatapnya bingung.
“Kalau begitu… apakah Anda mencintai saya?”
Arka mendekat.
Ia berdiri di depan Nayla, lalu menunduk sedikit.
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi,” jawabnya.
“Itu jawabanku.”
Lampu kamar diredupkan.
Nayla berbaring, memunggungi Arka, menatap tirai gelap di jendela.
Dadanya terasa berat.
Ia memeluk bantal, mencoba menenangkan napasnya.
Di dalam pikirannya, hanya satu kalimat yang terus terngiang:
Ini bukan rumah.
Ini sangkar emas.
Dan Arka…
Adalah pemiliknya.
Selimut putih menutupi tubuhnya hingga ke dada, tapi tidak mampu meredam rasa dingin yang merayap di tulang punggungnya. Ia memunggungi Arka, menatap tirai gelap yang menggantung tinggi di depan jendela.
Napasnya tidak beraturan.
Ia bisa merasakan keberadaan Arka di belakangnya.
Tidak menyentuh.
Tidak berbicara.
Tapi cukup dekat untuk membuat jantung Nayla berdegup terlalu keras.
Sunyi di kamar itu terasa berat.
“Aku tidak akan menyentuhmu malam ini,” ucap Arka akhirnya, pelan namun jelas.
“Tapi kamu tetap tidur di sini.”
Nayla menelan ludah.
“Kenapa?”
“Supaya tubuhmu terbiasa,” jawabnya datar.
“Dan pikiranmu.”
Nayla memejamkan mata.
Beberapa detik berlalu.
Ia mengira Arka sudah tertidur—sampai ia merasakan kasur sedikit bergerak.
Arka berbaring menghadap ke arahnya.
Jarak mereka sangat dekat.
Terlalu dekat untuk dua orang yang baru saling mengenal.
Nayla bisa merasakan hembusan napas Arka menyentuh rambutnya.
“Arka…” bisiknya, hampir tak terdengar.
“Kalau aku minta pulang sebentar… besok… boleh?”
Arka tidak langsung menjawab.
Tangannya terangkat, namun berhenti di udara, seolah ia menahan diri untuk tidak menyentuh Nayla.
“Kamu bisa pulang,” katanya pelan.
“Kalau aku ikut.”
Nayla membuka mata.
“Kenapa harus ikut?”
“Karena aku tidak mengizinkanmu berada di luar pengawasanku.”
Nada suaranya tetap tenang, tapi maknanya membuat dada Nayla terasa sesak.
Ia memutar tubuh sedikit, menatap Arka.
Wajah pria itu terlihat lebih lembut dalam cahaya lampu malam yang temaram—namun matanya tetap gelap.
“Aku bukan tahanan,” bisik Nayla.
Arka menatapnya lama.
“Kamu istriku,” jawabnya.
“Dan itu jauh lebih mengikat.”
Ia mengangkat tangannya perlahan, menyentuh sisi selimut Nayla—bukan kulitnya.
Namun Nayla tetap menahan napas.
“Kamu aman di sini,” lanjut Arka.
“Dan aku tidak pernah melepaskan apa yang sudah jadi milikku.”
Nayla memejamkan mata lagi.
Dadanya naik turun.
Ia tidak tahu kapan akhirnya ia tertidur.
Yang ia tahu…
ketika matanya tertutup, ia tidak lagi berada di rumah.
Ia berada di dalam dunia milik Arka.
Dan dunia itu…
tidak memiliki pintu keluar yang jelas.