Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.
Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.
Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.
Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 3
Kerajaan Liungyi berdiri kokoh sebagai salah satu dari dua pilar kekuatan yang masih tersisa di Belahan Barat. Dunia ini secara tradisional terbagi menjadi dua belahan utama, yaitu Barat dan Timur. Meskipun orang-orang lebih sering menyebutnya sebagai Belahan, namun pada kenyataannya, luas satu Belahan tersebut setara dengan satu benua yang tak berujung.
Pembagian geografis ini bukanlah hal baru, melainkan sebuah acuan kuno yang telah digunakan selama ribuan tahun untuk memetakan peta kekuasaan dan dominasi dunia.
Dahulu, daratan ini adalah rumah bagi ribuan panji kerajaan, mulai dari kadipaten kecil hingga kekaisaran yang megah. Namun, sejarah adalah guru yang kejam. Seiring berjalannya waktu, satu demi satu kejayaan itu runtuh dan terkubur debu.
Ada yang hancur dalam kobaran api perang perebutan wilayah, ada yang musnah ditelan pengkhianatan saudara dalam perebutan takhta, dan banyak pula yang layu perlahan karena kebobrokan birokrasi serta ketidakmampuan penguasa dalam meredam gejolak internal.
Di tengah reruntuhan sejarah itu, Kerajaan Liungyi berhasil bertahan. Meskipun di masa lalu kerajaan ini pernah berada di ambang kehancuran akibat konflik berdarah antara sang Putra Mahkota dengan pamannya yang ambisius, takdir berkata lain.
Dengan keteguhan hati dan strategi yang matang, Putra Mahkota berhasil merebut kembali tahta yang menjadi haknya, mengusir bayang-bayang pengkhianatan dari istana emasnya.
Sepuluh tahun telah berlalu sejak masa pergolakan itu. Dengan dukungan penuh dari Ibu Permaisuri yang bijaksana dan para pendukungnya, sang Putra Mahkota mulai memegang kemudi pemerintahan. Dua tahun yang lalu, Yan Liao secara resmi dinobatkan menjadi Raja. Penobatan itu bukan sekadar upacara formal, melainkan sebuah proklamasi dimulainya era baru bagi seluruh rakyat Liungyi.
Namun, kedamaian di bawah kepemimpinan Raja Yan Liao hanyalah lapisan tipis di atas permukaan yang bergejolak. Ancaman selalu mengintai, baik dari musuh luar yang iri akan kemakmuran Liungyi, maupun dari dalam kegelapan kota. Kekacauan masih sering meletus di daerah perbatasan, dan dunia persilatan semakin sulit untuk dikendalikan.
Para pendekar dari berbagai aliran, baik yang menempuh jalan lurus maupun sesat, sering kali bertindak sesuka hati. Mereka saling menyerang dan menindas, meninggalkan jejak kehancuran yang harus ditanggung oleh rakyat jelata yang tidak memiliki kemampuan bela diri.
Di jantung ibukota yang sibuk, Kota Yibei, terdapat sebuah kediaman besar yang berdiri dengan anggun di tengah pemukiman padat. Rumah itu tidak memiliki kemewahan yang berlebihan seperti istana, namun dindingnya yang kokoh dan arsitekturnya yang tertata rapi memancarkan aura wibawa yang kuat. Siapa pun yang melintas di depannya akan merasakan tekanan halus yang membuat mereka segan untuk bertindak sembarangan di sekitar sana.
Di halaman belakang yang luas, seorang anak laki-laki berusia sebelas tahun tampak sedang berlatih dengan tekun. Meskipun postur tubuhnya masih kecil, sorot matanya menunjukkan kedewasaan yang melampaui usianya. Ia memegang busur dengan stabil, membidikkan anak panah ke arah boneka jerami yang berdiri tegak beberapa puluh langkah di depannya.
Anak itu adalah Cao Qiang, putra kedua dari Jenderal Perang Kerajaan Liungyi yang termasyhur, Cao Xiang.
Jenderal Cao Xiang hanya memiliki dua orang anak yang sangat ia sayangi. Selain Cao Qiang, ada seorang putri sulung bernama Cao Zian Yi. Gadis itu kini berusia tujuh belas tahun dan hanya tinggal menghitung hari sebelum ia menginjak usia delapan belas tahun. Di lingkungan keluarga, ia lebih sering dipanggil dengan nama kesayangan, Cao Yi.
Bagi Jenderal Cao, kedua anaknya adalah harta yang paling berharga di dunia ini. Sejak istrinya meninggal bertahun-tahun yang lalu, ia memilih untuk tetap sendiri dan tidak pernah berniat mencari pengganti. Seluruh hidup dan cintanya ia curahkan untuk mengabdi pada kerajaan serta membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri.
Bakat sang jenderal tampaknya mengalir deras dalam darah Cao Qiang. Anak itu tidak hanya menonjol dalam urusan literasi dan strategi, tetapi juga menunjukkan kejeniusan dalam seni bela diri. Ia memiliki ketertarikan yang luar biasa pada berbagai senjata, terutama pedang dan panah. Ketekunannya dalam berlatih di bawah terik matahari sering kali membuat para pelayan merasa kagum sekaligus iba.
Pada saat itu, Cao Qiang sedang mengatur nafasnya sesuai dengan ajaran dasar bela diri. Ia menarik tali busur dengan mantap, merasakan aliran energi yang stabil di lengannya, lalu melepaskan anak panah tersebut. Suara desingan angin terdengar tajam saat anak panah itu melesat lurus dan menancap tepat di bagian tengah sasaran.
“Tuan Muda, Jenderal telah kembali ke kediaman!”
Seruan seorang pelayan dari kejauhan seketika membuyarkan fokus Cao Qiang. Begitu mendengar kata "Jenderal", wajah serius anak itu langsung berubah menjadi ceria. Matanya berbinar dengan kegembiraan yang tulus.
“Ayah pulang? Benarkah? Aku harus segera menyambutnya!”
Tanpa menunggu instruksi lebih lanjut, Cao Qiang segera meletakkan busur dan sisa anak panahnya di rak kayu, lalu berlari sekencang mungkin menuju pintu gerbang depan.
“Tuan Muda! Tunggu sebentar! Latihan hari ini belum selesai!” teriak guru pembimbingnya. Namun, seruan itu tidak diindahkan. Cao Qiang sudah melesat jauh, meninggalkan kepulan debu tipis di halaman latihan.
“Paman He, biarkanlah dia pergi.”
Sebuah suara lembut yang menyejukkan hati terdengar dari sisi beranda halaman. Seorang gadis cantik dengan pakaian bangsawan yang anggun berdiri di sana. Senyum tipis menghiasi wajahnya yang simetris sempurna. Gadis itu adalah Cao Zian Yi.
“Ang’er sudah sangat merindukan Ayah. Sudah genap satu bulan Ayah menjalankan tugas di perbatasan dan tidak pulang ke rumah,” lanjut Cao Yi dengan nada suara yang tenang dan penuh pengertian.
He Jian, sang guru pembimbing yang merupakan seorang pendekar veteran, hanya bisa menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya pelan. Namun, ia tidak bisa menyembunyikan rasa hormatnya saat menatap Nona Muda keluarga Cao itu.
“Sesuai keinginan Anda, Nona Muda,” jawab He Jian dengan sopan.
Di Kota Yibei, Cao Yi bukanlah sosok yang asing. Ia dikenal luas sebagai Dewi Liungyi karena kecantikannya yang luar biasa.
Kulitnya putih bersih seperti batu giok terbaik, rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai indah, dan setiap langkahnya memancarkan keanggunan yang alami. Ia adalah simbol kelembutan dan kesempurnaan bagi banyak orang di ibukota.
Sementara itu di halaman depan, Cao Qiang telah sampai tepat saat seorang pria bertubuh tegap turun dari kuda perangnya. Pria itu mengenakan zirah perunggu yang penuh dengan debu perjalanan, menunjukkan betapa jauh dan berat jalan yang telah ia tempuh.
“Ayah!”
Jenderal Cao Xiang langsung menoleh. Rasa lelah yang menggantung di bahunya seolah menguap begitu saja saat melihat putra bungsunya berlari menghampiri. Ia tertawa lebar, sebuah tawa yang penuh dengan kehangatan seorang ayah.
“Ang’er! Sepertinya selama ayah pergi, kamu tumbuh begitu cepat hingga hampir menyaingi ketampanan ayahmu ini,” ucap Cao Xiang sambil mengangkat tubuh putranya dan memeluknya erat.
“Itu karena aku adalah anak Ayah!” jawab Cao Qiang dengan penuh kebanggaan. “Aku berjanji akan terus berlatih keras agar kelak bisa menjadi Jenderal yang sehebat Ayah. Aku akan melindungi kerajaan, melindungi Ayah, dan tentu saja melindungi Kakak.”
“Hahaha, benar-benar perkataan yang gagah. Kamu memang darah dagingku,” Cao Xiang mencubit hidung putranya dengan gemas sebelum menurunkannya kembali ke tanah. “Bagaimana dengan kakakmu? Apakah dia ada di dalam?”
“Tentu saja, Yi Jiejie sudah menunggu Ayah sedari tadi,” jawab Cao Qiang sambil menarik tangan ayahnya untuk segera masuk.
Mereka berjalan menuju ruang utama rumah tersebut. Di ambang pintu, Cao Yi sudah berdiri menanti dengan senyum hangat yang mampu meluluhkan suasana kaku akibat atmosfer militer yang dibawa oleh ayahnya.
“Ayah, selamat datang kembali,” sapa Cao Yi dengan suara lembut.
“Yi’er, senang melihatmu sehat,” balas Cao Xiang. Ia menatap putrinya dengan tatapan penuh kasih sayang, namun ada sedikit kilatan lain di matanya yang sulit diartikan. “Bisakah kamu siapkan air hangat? Ayah ingin membersihkan debu perjalanan ini.”
Tanpa banyak bicara, Cao Yi segera menjalankan permintaan ayahnya. Ia bergerak dengan cekatan, menyiapkan baskom perak berisi air hangat dan handuk bersih. Ia membantu ayahnya membersihkan wajah dan tangan dengan penuh perhatian, seperti yang selalu ia lakukan setiap kali ayahnya pulang dari medan perang.
Setelah suasana menjadi lebih santai dan Cao Qiang dibawa kembali oleh He Jian untuk menyelesaikan beberapa teori dasar bela diri, ruang utama itu menjadi sunyi. Hanya tersisa Cao Xiang dan putri sulungnya.
Cao Xiang duduk di kursi kayu yang besar, menatap Cao Yi yang sedang menuangkan teh untuknya. Suasana hangat tadi tiba-tiba berubah menjadi sedikit lebih berat.
“Yi’er, ada sesuatu yang ingin ayah tanyakan padamu,” ujar Cao Xiang dengan nada suara yang rendah dan serius.
Cao Yi meletakkan cangkir teh di depan ayahnya, lalu berdiri dengan sikap hormat. “Apa yang ingin Ayah tanyakan?”
“Tiga hari yang lalu, Desa Xiamzi di pinggiran wilayah barat diserang oleh kelompok Perampok Tengkorak yang kejam. Kabar yang sampai ke telinga ayah cukup mengejutkan. Seluruh anggota kelompok itu tewas mengenaskan. Dua pemimpin mereka, termasuk sang Pendekar Kapak Tengkorak yang ditakuti, ditemukan dengan kondisi tubuh yang mengering seperti telah diserap seluruh energinya oleh api yang sangat panas. Apakah kamu memiliki sesuatu yang ingin diceritakan kepada ayah tentang kejadian itu?”
Cao Yi terdiam sejenak. Namun, wajahnya tidak menunjukkan ketakutan maupun kekhawatiran. Ia hanya memberikan senyum tipis yang sama, senyum yang bagi orang asing tampak begitu polos dan menenangkan.
Namun, Cao Xiang tahu lebih baik. Di balik kelembutan putrinya yang dikenal sebagai Dewi Liungyi, tersembunyi kekuatan besar yang sanggup mengguncang dunia. Ia tahu bahwa dalam situasi tertentu, kelembutan itu akan memudar, digantikan oleh aura dingin yang mematikan.
Saat sisi gelap itu bangkit, mata hitam yang indah itu akan berpendar merah darah sepekat api neraka. Di saat itulah, Dewi Liungyi akan menghilang, dan yang tersisa hanyalah sosok yang ditakuti oleh para pendosa di dunia persilatan, sang Dewi Kematian yang membawa penghakiman bagi siapa saja yang berani mengusik kedamaian yang ia jaga.