NovelToon NovelToon
Selir Palsu Dari Abad - 21

Selir Palsu Dari Abad - 21

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah sejarah / Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.

Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.

Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Selir Bayangan yang Tidak Tahu Etika

Song An bangun pagi dengan perasaan aneh.

Bukan karena mimpi buruk. Bukan karena suara ribut. Tapi karena… perutnya bunyi.

“Lapar.” Ia membuka mata dan menatap langit-langit kamar. “Di kehidupan sebelumnya, jam segini aku masih di bus, ngantuk, stres, dan mikirin kerjaan.”

Ia duduk pelan. Rambut panjangnya jatuh berantakan. “Sekarang aku selir bayangan.”

Ia tertawa kecil sendiri. “Dunia memang suka bercanda.”

Pintu diketuk. "Tok tok."

“Masuk,” kata Song An.

Mei masuk sambil membawa baskom air dan handuk. “Selir sudah bangun?”

“Iya. Mei.” jawab Song An pelan

---

“Mei di istana ini, sarapan jam berapa?” tanya Song An

“Biasanya setelah matahari naik.” jawab Mei

“Oke.” ujar Song An

Mei meletakkan baskom. “Selir mau bersiap?”

Song An menoleh kearah Mei, “Bersiap untuk apa?”

“Untuk memberi salam pagi kepada selir lain.” jawab Song An

Song An berhenti menggosok wajahnya. “…harus?”

Mei mengangguk. “Biasanya begitu.”

Song An berpikir sebentar. “Kalau aku tidak datang?”

Mei ragu. “Itu… tidak sopan.”

“Konsekuensinya?” tanya Song An

“Bisa dianggap sombong.” jawab Mei

“Kalau datang?” tanya Song An lagi

“Harus banyak aturan.” jawab Mei

Song An menimbang dengan serius.“Aku pilih tidak sopan.”

Mei terkejut. “Selir!”

“Aku ini selir bayangan. Status rendah. Kalau aku terlalu rajin, nanti malah dicurigai.” jelas Song An

Mei terdiam. “Itu… masuk akal.”

“Lihat? Logika modern.” ujar Song An

Mei tidak tahu apa itu modern, tapi mengangguk saja.

---

Tak lama kemudian, sarapan datang. Nasi, lauk sederhana, sup hangat.

Song An menatap makanan itu dengan mata berbinar.

“Ini enak?” tanya Song An

“Enak,” jawab Mei.

Song An langsung makan. “Hmm. Jauh lebih enak dari mi instan.”

Mei bertanya pelan, “Mi instan itu apa?”

“Penyelamat hidup.” jawab Song An

Mei tidak bertanya lagi.

Sementara itu, di aula kekaisaran.

“Yang mulia yakin?” tanya Kasim pendamping kaisar

Kaisar Shen mengangguk pelan. “Aku memanggilnya siang nanti.”

“Selir bayangan, ah maaf... Maksud hamba selir Song An " ujar Kasim

“Iya.” jawab Kaisar Shen

“Untuk apa yang mulia?” tanya Kasim heran

Kaisar Shen menatap dokumen di tangannya. “Aku ingin tahu, apakah dia selalu seperti itu… atau hanya pura-pura.”

Di kamarnya, Song An sedang bersantai. Ia duduk selonjoran, tanpa sadar melanggar aturan duduk selir.

Mei mondar-mandir. “Selir… duduk seperti itu tidak pantas.”

“Kenapa?” tanya Song An

“Kaki Selir terlalu terbuka.” jawab Mei

Song An meluruskan sedikit. “Gini?”

“Masih tidak pantas.” keluh Mei

“Kalau begini?” tanya Song An

“Itu… lebih tidak pantas.” jawab Mei dengan nada putus asa

Song An menyerah. “Baik. Aku duduk biasa.”

Baru saja ia tenang, Mei berkata, “Selir… Yang Mulia memanggil.”

Song An menatapnya kosong. “Baru kemarin.”

“hamba tidak mengerti selir" ujar Mei

“Hari ini lagi?” tanya Song An

“Iya.” jawab Mei

Song An menjatuhkan diri ke sandaran kursi. “Aku bahkan belum bikin masalah hari ini.”

Mei tersenyum canggung. “Mungkin justru itu masalahnya.”

Aula kecil istana terasa lebih tenang siang itu.

Song An berdiri di tengah ruangan. Kaisar Shen duduk di kursi utamanya, sendirian.

“Yang Mulia,” kata Song An.

“Kau tidak memberi salam pagi,” kata Kaisar Shen langsung.

“Oh. Maaf.”

“Kenapa?”

“Capek.”

Jawaban itu membuat kasim di sisi ruangan terbatuk keras.

Kaisar Shen mengangkat tangan. “Keluar.”

Kasim itu langsung pergi.

“Kau selalu bicara seperti ini?” tanya Kaisar Shen.

“Iya.”

“Sejak kapan?”

“Sejak lahir. Versi baru.”

“Kau tidak takut?”

“Takut. Tapi kalau terlalu mikir, nanti aku pusing.”

Kaisar Shen menatapnya lama.

“Kau tahu etika istana?”

“Sedikit.”

“Kau sengaja melanggarnya?”

“Kadang.”

“Kenapa?”

Song An berpikir sebentar. “Karena kalau aku harus sempurna, aku tidak akan bertahan lama.”

“Bertahan dari apa?”

“Hidup.”

Jawaban itu membuat Kaisar Shen diam beberapa detik. “Kau selir bayangan,” katanya akhirnya. “Status rendah. Jika kau melakukan kesalahan besar, kau bisa dihukum berat.”

“Aku tahu.”

“Lalu?”

“Aku tidak berniat hidup lama di istana.”

Kaisar Shen mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

“Aku ingin hidup tenang. Kalau suatu hari aku dipulangkan atau dilupakan, aku tidak keberatan.”

Untuk pertama kalinya, Kaisar Shen terlihat tidak mengerti.

“Tidak ada selir yang berpikir seperti itu.”

“Karena aku bukan selir sungguhan.”

“Menurut siapa?”

“Menurut status.”

Kaisar Shen bersandar.

“Kau tidak ingin naik derajat?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Banyak kerjaan.”

Kaisar Shen hampir tertawa.

“Kalau aku menaikkan statusmu?”

Song An refleks menjawab, “Jangan.”

Ruangan hening.

“Jangan?” ulang Kaisar Shen.

“Iya. Saya mohon.”

“Alasan?”

“Takut.”

“Apa yang kau takuti?”

“Kalau hidupku terlalu berubah, aku harus belajar banyak hal. Aku sudah lelah belajar.”

Jawaban itu jujur. Terlalu jujur dan kaisar Shen mengangguk pelan.

“Kau boleh pergi.”

Song An langsung membungkuk. “Terima kasih.”

Begitu ia berbalik, Kaisar Shen berkata, “Song An.”

“Iya?”

“Kau sudah makan siang?”

“Belum.”

“Makan di dapur belakang.”

Song An berkedip. “Itu perintah?”

“Ya.”

“Oke.”

Ia keluar dengan wajah bingung.

Di dapur belakang, Song An menemukan suasana ramai. Para juru masak terkejut melihatnya.

“Selir Song?”

“Iya. Aku disuruh makan di sini.”

Semua saling pandang.

Akhirnya, seorang juru masak berkata, “Silakan duduk.”

Song An duduk dan melihat berbagai hidangan.

“Boleh pilih?”

“Boleh.”

“Banyak banget.”

Ia mengambil sedikit dari banyak menu.

“Selir tidak ambil banyak?”

“Nanti mubazir.”

Juru masak itu mengangguk kagum.

Saat Song An makan, dua pelayan berbisik.

“Itu dia?”

“Yang bicara santai ke Yang Mulia?”

“Iya.”

Song An mendengar, tapi pura-pura tidak.

Sore hari, Song An kembali ke kamar.

Mei langsung bertanya, “Selir bagaimana, apa aman?”

“Iya.”

“Dimarahi?”

“Tidak.”

“Dihukum?”

“Tidak.”

Mei tampak bingung. “Lalu?”

“Disuruh makan.”

Mei terdiam.

“Mei.”

“Iya?”

“Menurutmu, Kaisar Shen itu orang seperti apa?”

Mei berpikir. “Dingin. Tegas. Tidak suka bicara banyak.”

Song An mengangguk. “Berarti dia aneh.”

“Kenapa?”

“Karena dia mau mendengarkan aku.”

Mei tersenyum kecil.

Malamnya, Song An bersiap tidur. Ia baru saja merebahkan diri ketika pintu diketuk lagi.

Tok tok.

Song An menatap langit-langit. “Aku sudah pakai baju tidur.”

Mei membuka pintu sedikit. “Selir… Yang Mulia.”

Song An duduk tegak. “Sekarang?”

Kaisar Shen masuk dengan langkah tenang.

Mei langsung menunduk dalam-dalam dan keluar.

Song An berdiri canggung. “Yang Mulia?”

“Kau tidak memberi salam.”

“Oh. Maaf.”

Ia membungkuk asal.

Kaisar Shen menatap kamar sederhana itu.

“Kau nyaman di sini?”

“Lumayan.”

“Kau tidak ingin pindah ke tempat lebih baik?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Kalau terlalu besar, aku takut tersesat.”

Kaisar Shen duduk di kursi.

“Aku tidak pernah datang ke kamar selir bayangan.”

“Sekarang sudah.”

“Ya.”

Hening sebentar.

“Kau sedang apa sebelum aku datang?” tanya Kaisar Shen.

“Mau tidur.”

“Cepat sekali.”

“Aku bangun pagi.”

“Selir lain biasanya berdandan sampai malam.”

“Aku tidak.”

“Kau tidak peduli penampilan?”

“Peduli. Tapi malas.”

Kaisar Shen menatapnya lama.

“Kau benar-benar aneh.”

“Aku sering dengar itu.”

“Kau tidak takut aku datang malam-malam?”

“Takut.”

“Lalu kenapa wajahmu biasa saja?”

“Karena aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa.”

Kaisar Shen tertawa kecil.

“Kau membuatku bingung.”

“Maaf.”

“Tidak perlu.”

Ia berdiri.

“Song An.”

“Iya.”

“Besok ikut aku jalan pagi di taman.”

Song An refleks menjawab, “Boleh nolak?”

“Tidak.”

“Oke.”

Kaisar Shen keluar.

Song An duduk di ranjang, memegang kepalanya.

“Aku benar-benar cuma mau hidup tenang.”

Mei masuk pelan.

“Selir… Yang Mulia pergi.”

“Iya.”

“Selir… apakah Selir sadar?”

“Sadar apa?”

“Yang Mulia tidak pernah mengajak siapa pun jalan pagi.”

Song An menatap Mei lama.

“…capek.”

Ia rebahan.

“Mei.”

“Iya?”

“Kalau aku jatuh cinta di istana ini, tolong bangunin aku.”

Mei tersenyum kecil.

“Tapi… Selir sepertinya sudah setengah jalan.”

Song An menutup mata.

“Tidak. Aku cuma lapar dan ngantuk.”

Di luar, bulan menggantung tenang.

Dan untuk pertama kalinya, Kaisar Shen menunggu pagi dengan sedikit rasa penasaran tentang selir bayangan yang tidak tahu etika, tidak punya ambisi, dan selalu bicara jujur.

Bersambung

1
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Tiara Bella
bagus ceritanya berasa lg nnton dracin....
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Wulan Sari
lanjut
Wulan Sari
biyasa di dalam pasti ada intrik kekuasaan semoga kaisar Shen dan selir 2 bisa mengatasinya semangat 💪 salam
Wulan Sari
setelah baca cerita ini tentang Kekaisaran semakin menarik biyasa intrik kekuasaan semoga nanti selir yang mengungkap menjadi permaisuri dan akhir bisa bahagia Dan happy end semangat 💪 Thor salam sukses selalu ya cip 👍❤️🙂 trimakasih 🙏
Cindy
lanjut kak
@de_@c!h
kaisar Shen belum punya permaisuri Thor?...
Cindy
lanjut kak
Cindy
lanjut
Cindy
lanjut kak
miss blue 💙💙💙
selir nya banyak yg mau bebas, kaisar mulai tau, kenapa gak di kumpulin aja, di berikan pikihan yg mau bebas bisa bebas yg bertahan ya silahkan, tp yg pasti song an pasti bakalan di paksa. menetap walau mau bebas 🤣🤣
Eka Haslinda
sepertinya selir bayangan cocok menjadi calon permaisuri masa depan
Cindy
lanjut kak
Ma Em
Song an berhasil membuka topeng Selir Chen pasti kaisar Shen bertambah kagum sama Song an .
Ma Em
Semoga Song an , selir Li dan selir Zhang bisa mengungkap rahasia apa yg akan dilakukan oleh selir Chen dimalam pesta perayaan istana .
Cindy
lanjut
Cindy
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!