Dawai Asmara, seorang fresh graduate sekaligus guru Bahasa Inggris baru di SMA Bina Bangsa, sekolah menengah atas yang terkenal elite.
Perawakan Dawai yang imut membuatnya menjadi target sasaran permainan dari Rendra, siswa kelas dua belas, ketua dari geng the Fantastic Four, geng yang terdiri dari siswa-siswa paling keren di sekolah, yang merupakan putra dari dewan komite sekolah.
Suatu ketika, Rendra mengatakan "I love you, Miss," pada Dawai. Dawai yang sering menjadi sasaran keanehan sikap Rendra, tak menghiraukan pernyataan cinta Rendra.
Apakah Rendra hanya becanda mengatakan itu? Atau serius? Temukan jawabannya hanya di I Love You, Miss!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diserbu Berondong
"Sayangnya dia nggak ngajar kelas dua belas," kata Reno penuh sesal. Kini keempat sahabat itu sudah duduk di dalam ruang kelas usai acara penyambutan siswa baru.
"Secara logika, guru baru pasti ngajar kelas bawah," kata Ryan santai.
"Trus gimana lo mau pdkt, Ren?" tanya Reno pada Rendra.
"Nggak perlu dipikirin. Kalo ada kesempatan aja langsung beraksi," jawab Rendra.
"Yakin lo mau pake metode yang sama buat naklukin dia?" tanya Reno tak percaya.
"Selama ini cukup efektif buat cewek lain," jawab Rendra santai.
"She's different," sahut Ryan. Rendra melirik ke arah Ryan. Reno dan Rafa melongo. Selama ini Ryan tak begitu peduli dengan permainan Rendra. Entah kenapa sekarang dia ikut berkomentar.
"Eh, minggu-minggu ini dia pasti lebih banyak waktu. Kelas sepuluh kan masih MOS," kata Reno memecah hening yang tiba-tiba muncul.
"Dia kan ngajar kelas sebelas juga," kata Rafa mengingatkan.
"Naaah... Malah lebih gampang tuh. Kelas sebelas kan lebih deket," kata Reno bersemangat.
"Yang jelas, kalo target lo guru, lo nggak bisa leluasa pdkt di sekolah," kata Ryan dingin. Rendra menoleh ke arah Ryan.
"Just give you a suggestion. Nggak ada maksud lain," kata Ryan yang paham dengan ekspresi Rendra.
Ryan beranjak dari duduknya, berlalu meninggalkan kelas. Dari empat sahabat itu, Ryan memang yang paling dingin dan cuek dengan segala keusilan mereka. Namun, entah mengapa kali ini Ryan mau memberi saran dan komentar terkait dengan Dawai.
"Ryan agak aneh hari ini," kata Rafa.
"Biasanya dia nggak tertarik dengan hal-hal beginian," sahut Reno.
Rendra hanya terdiam menatap punggung Ryan yang sudah menghilang di balik pintu kelas. Rendra pun merasa Ryan hari itu agak berbeda.
Ryan berjalan santai menuju perpustakaan. Dia memang sering menghabiskan waktu disana jika ketiga sahabatnya sedang tak ada kerjaan. Ketika berada di dekat perpustakaan, Ryan menangkap sosok yang baru saja jadi bahan perbincangan sahabat-sahabatnya memasuki perpustakaan. Ryan tersenyum simpul lalu memasuki perpustakaan.
Kasak-kusuk terdengar lirih saat Ryan memasuki perpustakaan. Dawai yang merasa aneh dan tak nyaman menoleh ke belakang. Dawai sedikit terkejut ada seorang siswa cakep berdiri di belakangnya.
'Sejak kapan dia berada di belakang ku? Tinggi banget! Anak SMA jaman sekarang emang beda,' pikir Dawai.
Dawai kembali fokus mencari-cari buku di rak khusus mata pelajaran yang diampunya. Hari ini adalah hari pertamanya mengajar. Meski dia sudah mempersiapkan segalanya, Dawai masih merasa gugup dan membutuhkan banyak referensi.
"Miss Dawai?" tanya Ryan tiba-tiba, mengagetkan Dawai yang sedang fokus mencari-cari buku.
"Eh? Iya. Ada perlu dengan saya?" tanya Dawai agak sedikit gugup. Entah mengapa siswa di sampingnya itu mengeluarkan aura yang cukup memikat.
"Saya Ryan. Ryan Wardhana. Kelas dua belas IPA 1," kata Ryan memperkenalkan diri dengan suara lirih.
"Eh? Oh, ya. Salam kenal, Ryan," kata Dawai lalu berjalan perlahan mencari buku yang dia butuhkan.
Ryan tersenyum simpul. Seperti yang sudah dia duga, Dawai tidak seperti cewek lain. Setampan apapun dirinya, di mata Dawai, Ryan hanyalah bocah SMA. Bukan pria!
"Miss Dawai sedang nyari buku apa?" tanya Ryan yang perlahan mengikuti Dawai dari belakang.
"Mmm... Oh, ya. Kamu kan kelas dua belas. Tahun lalu pelajaran bahasa Inggris seru nggak?" tanya Dawai sambil terus mencari buku.
"Not really," jawab Ryan singkat. Dawai menghentikan langkahnya lalu menghadap ke arah Ryan.
"Why?" tanya Dawai sambil mengerutkan alis. Ryan tersenyum lalu berjalan mendekati Dawai.
"Karena gurunya bukan Miss Dawai," bisik Ryan di telinga Dawai. Seketika mata Dawai terbelalak.
'Bener-bener! Anak SMA jaman now,' batin Dawai geram.
"Trus, siapa gurunya?" tanya Dawai sambil kembali membalikkan badan menghadap rak buku, mencari buku referensi yang dia butuhkan dengan cepat.
Ryan tersenyum, bersandar pada rak buku sambil mengamati guru imut yang membuat Rendra seketika ingin menaklukkannya.
"Udah pensiun, Miss. Makanya Miss diterima disini," jawab Ryan asal. Dawai manggut-manggut sambil tetap fokus mencari buku.
"Miss Dawai baru lulus?" tanya Ryan sambil kembali mengekor Dawai yang fokus mencari buku.
"He'em... Maret kemarin wisuda," jawab Dawai tanpa mengalihkan pandangannya.
"Dari universitas mana?"
"Universitas negeri di kota kita,"
"Susah masuknya?"
"Lumayan sih,"
"Mmm..."
"Yak, akhirnya," gumam Dawai sambil mengambil satu buku dari rak.
"Duluan ya," pamit Dawai sambil tersenyum ke arah Ryan. Ryan tersenyum sambil mengangguk. Dilihatnya Dawai berjalan menuju meja petugas perpustakaan. Setelah menunggu sejenak, Dawai berlalu tanpa sedikit pun menoleh ke arah Ryan.
Ryan tersenyum simpul. Ryan tahu bahwa Rendra akan kewalahan menghadapi Dawai jika menggunakan metode yang biasa dia pakai untuk menaklukkan cewek.
'Sepertinya akan benar-benar seru,' pikir Ryan.
Kalau cewek lain di posisi Dawai tadi, pasti sudah langsung fokus ngobrol dengan Ryan. Tapi, Dawai tidak. Menurut Ryan, setampan apapun cowok yang mendekati Dawai, jika masih seusianya, akan benar-benar tak dianggap.
Ryan kembali tersenyum mendapati apa yang dia pikirkan. Mengetahui Rendra akan kewalahan dengan Dawai membuatnya sedikit bersemangat melihat bagaimana Rendra akan menaklukkan Dawai.
Di sisi lain, di koridor ruang kelas, jantung Dawai yang bergemuruh hebat belum juga reda. Dawai tak memungkiri dirinya cukup terguncang dengan serangan dari Ryan, murid kelas dua belas.
"Sudah pasti dia ngerjain aku," gumam Dawai.
Meski jantungnya berdebar hebat, otak Dawai masih berpikir waras, bahwasanya anak SMA tetaplah anak SMA, bukan pria dewasa seusianya.
"Sudah pasti jahil. Iseng. Mentang-mentang cakep," lagi-lagi Dawai bergumam sendiri.
"Bruk!"
"Duh," suara cowok mengaduh.
"Maaf," ucap Dawai sambil mengambil bukunya yang terjatuh.
"A nice coincidence," ucap cowok yang tertabrak Dawai. Dawai menengadah, kedua alisnya berkerut ketika melihat Rendra berdiri di hadapannya.
'Kebetulan? Emang dia siapa? Aku kenal?' pikir Dawai.
"Ehem... Maaf ya. Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Dawai pada Rendra mencoba biasa saja meski kepalanya penuh dengan pertanyaan.
"I'm okay. Miss Dawai?" tanya Rendra sambil mengangkat satu sisi bibirnya. Dawai mengerutkan kedua alisnya melihat ekspresi Rendra.
'What on earth this boy!' umpat Dawai dalam hati.
"Well, karena kamu nggak apa-apa, saya duluan ya. Mau ngajar. Sekali lagi maaf," kata Dawai lalu berlalu meninggalkan Rendra yang bengong.
Sedetik kemudian Rendra tersenyum mendapati dirinya tak dihiraukan oleh targetnya. Baru kali ini ada cewek yang tak silau dengannya.
Rendra melihat Dawai yang berjalan dengan cepat. Rambut sebahu Dawai yang naik turun mengikuti irama langkah kakinya membuat Dawai terlihat imut meski dilihat dari belakang.
'Apa gue kurang ganteng?'
***
semngaatt ya thorrr