NovelToon NovelToon
KEKASIH GELAP WALI KOTA

KEKASIH GELAP WALI KOTA

Status: sedang berlangsung
Genre:POV Pelakor / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Cinta Terlarang / Konflik etika / Balas Dendam
Popularitas:284
Nilai: 5
Nama Author: Wen Cassia

Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.

Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.

Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 | DI ANTARA KILAT KAMERA

Angin sore berembus dingin merayau kulit Summer yang masih lembap selepas berendam, aroma mawar menelusup menyegarkan ketika ia membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Hamparan langit jingga dengan bola matahari yang sudah tergelincir, bersiap tidur, menjadi pemandangan yang menentramkan kecamuk dalam benak Summer.

Tiga tahun hanya berteman tembok-tembok kusam, dingin, dan mengimpit kewarasan, rasa-rasanya pemandangan seperti ini patut digolongkan sebagai kemewahan. Perspektifnya akan sesuatu dibangun ulang, dengan cara yang lebih dewasa.

Suara keributan yang mendadak muncul di luar ruangan membuat Summer mengalihkan pandangan, memutar badan ke arah pintu kamar. Belum genap tiga detik, pintu itu berderak nyaring setelah ditendang seseorang di luar sana.

Julian muncul dengan ekspresi berang dan napas tersengal di ambang pintu. Telunjuknya terangkat untuk menuding Summer dengan mata menyorot tajam. “Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah sudah kubilang eksistensimu hanya mencoreng nama keluarga?”

Summer terang-terangan menghela napas panjang. “Memangnya apa yang Papa harapkan pada perempuan yang baru keluar dari penjara? Aku mana punya uang untuk menyewa hotel,” jawabnya dengan nada tenang.

Julian semakin mendelik. “Apa yang dikatakan bocah ini? Pergi dari sini sekarang juga!”

Saat Julian berada di selubung kemarahan inilah, Summer melirik Lauren yang berada di samping suaminya. Wanita itu langsung terkesiap, otot di balik wajahnya mengetat.

Lauren langsung meraih lengan Julian, mendongak menatapnya. “Jangan bersikap kekanakan begini, Julian. Summer putri kita, sudah sewajarnya dia kembali ke rumahnya.”

“Aku tidak ingin mendengar omong kosong!” Julian menyentakkan tangan Lauren dari lengannya, wajahnya mulai merah padam.

“Sudah kubilang berhenti bersikap kekanakan!” Lauren balas membentak, suaranya melengking tajam hingga Julian tercenung menatapnya. “Kau yang bilang sendiri jika martabat keluarga adalah segalanya. Berita kebebasan putrimu akan menjalar secepat kau bernapas. Mengusirnya untuk menjalani hidup di tempat serampangan hanya ada menciptakan masalah baru, sekali lagi mencemari namamu sebagai ayah yang tidak becus. Almaja akan menjadi bahan tertawaan, badut konyol.”

Berhasil. Raut Julian melunak, menyisakan deru napasnya yang masih berat, matanya sibuk mengukur konsekuensi. Dalam gerakan lambat, ia mengarahkan pandangannya pada Summer yang bersandar pada daun jendela.

Lengang mengalun di ruangan bercat gading itu, dinding memantulkan hawa yang menggeranyam ganjil. Sekilas, ada geletar lembut di balik tatapan redup Julian, Summer bisa melihat keangkuhan papanya memudar dengan cara paling samar. Ketika ia perhatikan betul-betul wajah yang pernah ia jadikan pahlawan paling tampan itu, Summer baru menyadari jika gurat-gurat lelah menghiasi area kening, mata, dan pipi. Jauh lebih jelas dari terakhir Summer melihatnya. Papanya seolah menanggung beban yang lebih berat dari gunung, bekerja lebih keras dari siapa pun.

Detik di mana Summer ingin mengucapkan sepatah kata untuk memanggil papanya, Julian lebih dulu memutus tatapan mereka sembari mendengus. Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia berbalik, berderap cepat keluar dari kamar. Summer hanya bisa menyaksikan punggungnya yang tidak sekokoh dulu itu, menghilang di balik dinding.

Perasaan emosional yang tak pernah Summer harapkan, menyelinap begitu saja di dadanya. Kalau boleh jujur, ia ingin menempelkan pipinya di punggung itu, memeluknya … seperti saat Julian menggendongnya sembari menghitung bintang. Dulu … dulu sekali.

...****...

Topi bisbol, kaus dan celana longgar, serta convers putih menjadi pilihan yang Summer pakai hari ini. Setelah menempatkan tas selempang secara menyilang di bahunya, ia langkah keluar kamar. Genap dua minggu ia bebas, kesempatan yang terasa sempurna itu baru datang sekarang.

Summer melewati ruang tamu luas, menemukan Lauren yang meliriknya sekilas, lantas kembali memusatkan atensi pada majalah mode yang dibacanya. Summer juga tidak merasa perlu meminta izin darinya, sehingga ia hanya melenggang santai dari sana.

Di teras, Summer berpapasan dengan Kian, kakak tirinya, yang baru turun dari sedan putihnya. Kian menghentikan langkah, mengamati penampilan Summer sekilas, sebelum mengerang rendah.

“Mau ke mana kau? Berhenti berkeliaran dan membuat repot semua orang.”

Summer menoleh saat nada serupa omelan itu tertangkap telinganya. “Kenapa? Kau mau ikut?”

Bisa Summer lihat saat ini Kian mendesis, jemarinya bergerak mengepal. “Apa susahnya berdiam diri di dalam rumah? Perlu kuingatkan bahwa masalah yang kau timbulkan dengan seenaknya, sudah merusak nama baik keluarga dan perusahaan?”

“Hei, maksudmu aku seharusnya membiarkan diriku dilecehkan daripada membunuh laki-laki itu dan mempermalukan keluarga?” Kerutan samar muncul pada area di antara alis Summer, mempertanyakan tentang ucapan Kian sebelumnya.

“Kenapa? Bukankah kau sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu? Kau, kan, mainan Denver—”

“Tutup mulutmu, Berengsek!” Summer menyergah cepat, ketenangan sempurna lenyap di wajahnya.

“Kian!” Lauren muncul di ambang pintu, terlihat kalut. “Jaga bicaramu.”

Meskipun sudah mengendus ada yang tidak beres dari sikap mamanya yang mendadak memperlakukan Summer layaknya tuan putri, Kian tetap terkejut. Ia menatap Lauren seolah mengatakan, “Apa Mama sudah kehilangan akal?” sambil mengeratkan kepalan tangannya.

Menarik napas sekali, membuat tempo napasnya menjadi teratur, Summer menyeringai tipis. “Ajari putramu dengan benar, Tante Lauren. Sekali dia mengatakan omong kosong lagi, aku benar-benar tidak akan tinggal diam.”

Dibantu dengan senang hati oleh Remy, Summer berhasil mendapatkan taksi, langsung masuk ke kursi belakang setelah melambaikan tangan. Tangannya bergerak menekan pelipis saat taksi bergabung ke jalan besar setelah keluar dari kompleks perumahan. Kian cukup membuat suasana hatinya menjadi buruk dengan perkataan sialannya.

Perasaan Summer baru sedikit lebih baik setelah taksi merapat di depan pintu masuk sebuah hotel kenamaan. Ia bergegas masuk. Di sepanjang lorong menuju banquet hall, para gadis mengerumun berkelompok sembari membawa pernak-pernik yang seragam, wajah mereka berseri-seri. Sampai di depan pintu masuk, dia menyerahkan tiket kepada seorang penjaga, lantas petugas keamanan bergegas membukakan pintu untuknya.

Kilat kamera yang menyeruak, riuh rendah orang-orang di sana, dan lima orang berpakaian hitam-hitam yang menjadi pusat atensi, segera menyambut Summer. Namun, sejak menginjakkan kaki di rungan super luas itu, mata Summer hanya tertuju pada satu titik. Pada seseorang yang mendapat atensi paling banyak, terlihat paling bercahaya dan mendominasi. Pada Denver Adair yang pernah menjanjikan masa depan padanya.

Summer mengangkat tangan ketika seorang petugas hendak membimbingnya menuju deretan kursi terbatas untuk penggemar. Sedikit canggung, petugas itu akhirnya menjauh.

“Tentu saja saya bekerja sangat keras di proyek film ini, mengingat untuk pertama kalinya saya menjadi pemeran utama. Saya sangat antuasias sekaligus berdebar senang dan khawatir, hingga kesulitan tidur selama beberapa hari. Meskipun masih banyak yang harus dibenahi dari akting saya, saya merasa telah mengerahkan yang terbaik sehingga saya berharap penonton bisa menikmatinya.”

Suara ini …. Summer memejamkan matanya. Sudah lama sekali ia tidak mendengarnya. Jenis suara hangat dan menyenangkan, seperti saat si pemilik suara mengejarnya dengan penuh semangat. Saat itu, tidak pernah Summer duga suara ini akan menjelma menjadi begitu dingin, tergerus oleh waktu dan perasaan yang telah sepenuhnya berubah.

“Silakan ke sebelah sini.”

Ketika kembali membuka mata, Summer melihat seorang petugas membimbing Denver menuju tempat untuk melakukan foto secara individu di depan poster film yang dipasang besar-besar. Kilat kamera semakin beringas menyilaukan mata. Denver mengangkat tangannya sembari tersenyum menawan, seolah kilatan itu sama sekali bukan masalah baginya.

Bertepatan dengan Denver yang mengubah posisinya menjadi sedikit menyamping, sudut matanya menangkap sosok familiar di depan pintu masuk. Pandangan mereka bertemu, objek-objek di sekitar mereka seolah mengabur, riuh menghilang. Dalam sekejap, senyum Denver sempurna luruh, gerakan tangannya terhenti.

Summer melipat tangannya di dada, tersenyum manis ke arah Denver seolah tidak menyadari perubahan gesturnya yang kentara. Dua detik, bibir Summer bergerak-gerak menggumamkan dua kata yang membuat sekujur tubuh Denver menegang dan oksigen direnggut dari paru-parunya.

“Aku merindukanmu ….”

...****...

1
Amaya Fania
jujur paling suka kalo kian muncul. ketawa mulu kalo lagi berantem sama summer, saling ejek, tapi diem diem sayang adek
Amaya Fania
penasaran lanjutannya, ayo lanjut kak
aspidiske ☆: okaii 😳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!