Di puncak kesendirian yang tak tertandingi, Kaelen, sang Monarch Primordial, telah menguasai semua hukum alam di alam semestanya. Namun, kemenangan terasa hampa. Justru pada detik ia menyentuh puncak, sebuah segel kuno terpecah dalam jiwanya, mengungkap ingatan yang terpendam: ia bukanlah manusia biasa, melainkan "Fragmen Jiwa Primordial" yang tercecer dari sebuah ledakan kosmik yang mengawali segala penciptaan.
Dicetak ulang melalui ribuan reinkarnasi di dunia yang tak terhitung jumlahnya, setiap kehidupan adalah sebuah ujian, sebuah pelajaran. Tujuannya bukan lagi sekadar menjadi yang terkuat di satu dunia, tetapi untuk menyatukan semua fragmen jiwanya yang tersebar di seantero Rimba Tak Berhingga — sebuah multiverse yang terdiri dari lapisan-lapisan realitas, mulai dari dunia rendah beraura tipis, dunia immortal yang megah, hingga dimensi ilahi yang penuh dengan hukum alam purba.
Namun, Kaelen bukan satu-satunya yang mencari. Para Pemburu Fragmen, entitas dari zaman sebelum waktu,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Guraaa~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Bayangan di Perpustakaan Kuno
Mata tua itu—berwarna abu-abu seperti abu dingin, namun memancarkan kilau cahaya bintang yang jauh—terbakar dalam ingatan Kaelen selama berhari-hari. Pertemuan sekilas itu telah mengubah segalanya. Marga Surya bukan lagi hanya sebuah panggung sementara yang penuh dengan karakter-karakter picik; ia menjadi sebuah labirin dengan lorong-lorong gelap yang mungkin menyimpan bahaya kuno. Pria tua itu, siapa pun dia, telah melihat. Tidak hanya tubuhnya, tetapi sesuatu yang lebih dalam. Apakah dia seorang Pemburu Fragmen yang menyamar? Atau sesuatu yang lain?
Kaelen menjadi lebih berhati-hati. Latihannya di perkebunan herbal menjadi lebih halus, lebih tersembunyi. Alih-alih mencoba mempercepat pertumbuhan satu daun, ia sekarang menyebarkan pengaruhnya secara merata di seluruh petak, memperkuat Hukum Kehidupan dan Pertumbuhan secara halus sehingga seluruh area Moonlit Clover tumbuh sedikit lebih subur, hasil panen meningkat hampir tidak terlihat. Itu adalah perubahan yang dapat dikaitkan dengan cuaca baik atau tanah yang subur, bukan campur tangan manusia.
Di malam hari, di gubuknya yang gelap, ia tidak lagi hanya membersihkan meridian. Ia mulai merangkai ulang tubuhnya dari tingkat yang paling mendasar. Dengan pemahaman tentang Hukum Biologi Seluler yang ia dapatkan dari kehidupan di dunia sains tinggi yang tak terhitung, ia secara halus membimbing regenerasi sel-selnya, memperkuat membran sel, mengoptimalkan produksi energi mitokondria. Hasilnya bukanlah tubuh yang langsung berotot, tetapi sebuah vessel yang efisien, tangguh, dan siap menampung kekuatan yang jauh lebih besar di masa depan. Dalam dua minggu, meski penampilannya masih kurus, berat badannya bertambah sepenuhnya dari otot padat dan kepadatan tulang yang meningkat. Lukanya sudah sembuh total tanpa meninggalkan bekas.
Namun, sumber dayanya terbatas. Tubuh ini membutuhkan nutrisi, dan jatah makanannya sebagai pekerja perkebunan sangatlah minim: bubur encer, sayuran rebus, dan sesekali potongan ikan asin. Untuk maju, ia memerlukan lebih banyak energi, dan untuk itu, ia memerlukan akses ke sumber daya yang lebih baik—atau pengetahuan tentang bagaimana mengekstrak energi dari sumber-sumber yang diabaikan dunia ini.
Itulah yang membawanya kembali ke Perpustakaan Silsilah Marga Surya.
Perpustakaan itu adalah sebuah menara batu berlantai tiga yang terletak di pusat kompleks marga, dijaga oleh dua anggota marga lapis pertama Qi Gathering yang lebih tertarik mengobrol daripada membaca. Koleksinya sebagian besar terdiri dari catatan silsilah, sejarah marga yang dibesar-besarkan, manual kultivasi dasar, dan beberapa jurnal perjalanan yang usang. Bagi kebanyakan anggota marga, tempat ini adalah kuburan bagi kata-kata berdebu, hanya dikunjungi oleh para tetua yang ingin menyelidiki garis keturunan atau oleh murid-murid yang putus asa mencari wawasan tentang terobosan.
Bagi Kaelen, itu adalah permata yang berpotensi.
Sebagai pekerja rendahan, ia tidak memiliki izin masuk. Tapi sebagai seorang entitas yang memahami Hukum Peluruhan dan Keausan, ia melihat celah. Dinding batu menara itu tua, dan formasi pelindungnya—sama seperti yang di tembok—penuh dengan kelemahan. Ada sebuah jendela kecil di lantai dasar, dekat bagian belakang, yang bingkainya telah melengkung karena kelembaban, meninggalkan celah selebar dua jari antara kayu dan batu. Itu bukan jalan masuk fisik, tapi cukup untuk kesadarannya yang halus.
Selama tiga malam berturut-turut, Kaelen duduk bersila di luar, bersembunyi di balik semak-semak yang rimbun, seolah-olah sedang bermeditasi (sebuah pemandangan yang diabaikan oleh semua orang). Ia mengulurkan kesadarannya melalui celah itu, seperti seutas benang halus yang tak terlihat, memindai rak-rak buku di dalam.
Kebanyakan adalah sampah. Catatan pajak. Daftar pernikahan. Tapi di rak pojokan, di balik tumpukan manual tentang "Seni Bertani dengan Qi", ia merasakan sesuatu yang lebih tua. Sebuah buku dengan sampul kulit yang sudah retak, terikat dengan tali usus binatang yang sudah rapuh. Judulnya hampir terkikis: "Catatan Perjalanan ke Langit Utara".
Dengan konsentrasi penuh, Kaelen "membuka" buku itu dengan kesadarannya. Halaman demi halaman, ia memindai isinya. Ini adalah jurnal seorang leluhur marga berusia tiga ratus tahun yang lalu, seorang petualang bernama Joran Surya yang mencapai Lapis Keenam Qi Gathering—level yang dianggap legendaris di marga ini. Joran telah melakukan perjalanan jauh ke utara, melampaui wilayah yang diketahui, mencari obat untuk sebuah kutukan marga. Mayoritas tulisannya adalah tentang pertempuran dengan binatang buas dan pergulatan dengan elemen. Tapi di bagian akhir, ada sesuatu yang menarik.
"...dan di sana, di puncak Gunung Naga Tidur yang tertutup salju abadi, aku melihatnya. Sebuah celah di langit, seperti luka berwarna ungu dan emas yang berdeny-deny. Dari dalamnya, terdengar gemuruh yang bukan berasal dari dunia ini, dan bau ozon serta batu yang hancur. Para tetua suku pengembara gunung menyebutnya 'Pintu Langit yang Terkoyak', yang terbuka setiap seratus tahun untuk menelan yang berani dan memuntahkan yang terpilih. Mereka mengatakan itu adalah jalan ke dunia lain, di mana bulan berwarna hijau dan sungai mengalir dengan cairan perak. Sebuah batu aneh jatuh dari celah itu, sebesar kepalaku, memancarkan kehangatan dan bisikan aneh. Aku membawanya pulang sebagai bukti, tapi bisikan itu... bisikan itu menggerogoti pikiranku. Aku harus menguburnya, bersama dengan rahasia ini..."
Jantung Kaelen berdebar kencang. Sebuah celah di langit. Dunia lain. Sebuah batu aneh yang memancarkan kehangatan dan bisikan. Itu sangat cocok dengan deskripsi sebuah fragmen jiwanya yang terwujud secara fisik! Dan "Pintu Langit yang Terkoyak" itu pasti adalah Portal Celestial yang disebutkan dalam legenda.
Tapi di mana batu itu sekarang? Joran tidak menuliskannya. Apakah itu masih terkubur di suatu tempat di wilayah marga? Atau telah hilang?
Saat ia tenggelam dalam pikirannya, ia hampir tidak menyadari kehadiran yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada desiran pakaian. Hanya sebuah sensasi ruang yang melengkung dan diam.
"Dengan cara apa kamu membaca, anak muda, tanpa membuka buku?"
Suara itu kering dan berdebu, seperti daun kering yang saling bergesekan.
Kaelen nyaris melompat, tetapi ia mengendalikan dirinya dengan sempurna. Dengan tenang, ia menarik kembali kesadarannya dan membuka mata fisiknya. Di sana, berdiri di sampingnya dengan postur bungkuk, adalah pria tua berjubah abu-abu dari perpustakaan. Di siang hari, ia tampak bahkan lebih tidak mencolok—kulitnya keriput seperti kulit kayu, mata setengah tertutup. Tapi Kaelen bisa merasakannya: lautan energi yang tenang dan dalam yang tersembunyi di dalam tubuh yang tampak rapuh itu. Ini bukan kultivator Qi Gathering. Ini setidaknya seorang Foundation Establishment, mungkin bahkan lebih tinggi. Di dunia rendah seperti Xuan Liang, itu adalah kekuatan yang luar biasa.
Kaelen dengan cepat berdiri dan membungkuk rendah, menampilkan rasa hormat dan sedikit ketakutan yang sesuai dengan statusnya. "Tua-tua yang terhormat, maafkan saya. Saya... saya hanya penasaran dengan isi perpustakaan. Saya tidak bisa masuk, jadi saya mencoba... merasakannya dari sini." Itu adalah setengah kebenaran yang terdengar konyol.
Pria tua itu mengeluarkan suara mendengkur yang mungkin adalah tawa. "Merasakannya? Pemahamanmu tentang 'merasa' cukup unik, Nak. Kebanyakan orang merasakan dengan tangan atau mata. Kamu melakukannya dengan jiwa." Matanya yang setengah terbuka itu terbuka sepenuhnya, dan sekali lagi Kaelen disergap oleh kedalaman dan usia di dalamnya. "Kamu adalah anak dari garis keturunan yang terdegradasi, Kaelen. Yang seharusnya hampir tidak memiliki bakat. Tapi aura jiwamu... tidak sesuai dengan tubuhmu. Seperti ada retakan, dan dari retakan itu memancar cahaya lama."
Setiap kata seperti palu godam. Kaelen menjaga ekspresinya tetap polos, berpura-pura bingung. "Saya... saya tidak mengerti, Tua-tua. Mungkin Tua-tua salah lihat. Saya hanya Kaelen, pekerja perkebunan."
"Jangan merendahkan penglihatanku, Nak," kata pria tua itu, suaranya tiba-tiba tajam seperti belati. "Aku telah menjaga tempat berdebu ini selama seratus lima puluh tahun. Aku telah melihat orang-orang seperti kamu datang dan pergi. Yang bangkit dari abu, yang menyembunyikan taringnya. Tapi kamu... kamu berbeda. Kamu tidak hanya menyembunyikan kekuatanmu. Kamu menyembunyikan dirimu yang sebenarnya."
Dia berhenti, mengamati reaksi Kaelen. Kaelen tetap diam, pikirannya berputar cepat. Apakah ini saatnya untuk konfrontasi? Tapi dia terlalu lemah. Melawan entitas seperti ini sekarang adalah bunuh diri.
Pria tua itu tiba-tiba mengendur, dan ketegangan di udara menghilang. "Tenang. Aku bukan musuhmu. Setidaknya, belum. Namaku adalah Lio. Aku adalah Penjaga Catatan untuk marga ini, meski mereka telah melupakan gelarku dan hanya menganggapku sebagai penjaga pintu yang pikun." Dia mendekat, baunya seperti kertas tua dan debu. "Aku merasakan gelombang halus dari kamu beberapa minggu yang lalu, saat ujian. Sebuah getaran pada Hukum Dasar. Seperti seseorang yang menyentuh senar terdalam dari dunia ini. Itu menarik perhatianku. Dan sekarang, kamu di sini, mencoba mencuri pengetahuan dengan cara yang seharusnya mustahil bagi kultivator level Qi Gathering."
Lio menatapnya. "Jadi, katakan padaku, Kaelen yang sebenarnya. Atau siapapun kamu. Apa tujuanmu di sini? Di Marga Surya yang menyedihkan ini?"
Ini adalah titik kritis. Kaelen bisa berbohong, tapi Lio mungkin akan melihatnya. Dia bisa menyerang, tapi itu sia-sia. Atau, dia bisa menawarkan sebagian kebenaran—sebuah narasi yang dapat diterima.
Dia mengambil napas dalam-dalam, dan ketika dia berbicara, dia mengubah sedikit sikapnya. Rasa takut palsu itu menghilang, digantikan oleh ketenangan yang waspada. "Saya sedang mencari pengetahuan, Tua Lio. Pengetahuan tentang dunia di luar yang kita ketahui. Tentang celah di langit, tentang dunia lain." Dia mengamati reaksi pria tua itu.
Lio mengedipkan mata, lalu perlahan mengangguk. "Jadi kamu membaca jurnal Joran. Tidak banyak yang mengingatnya. Seorang pemimpi yang bodoh, akhirnya menjadi gila karena bisikan batu itu." Dia berbalik dan berjalan perlahan ke arah pintu depan perpustakaan. "Ikuti aku. Jika kamu ingin tahu, lebih baik melihatnya daripada mencurinya dari balik jendela."
Dengan jantung berdebar, Kaelen mengikuti. Dua penjaga di pintu hanya mengangguk hormat kepada Lio dan mengabaikan Kaelen sepenuhnya, mengira dia mungkin adalah pesuruh tua itu.
Di dalam, perpustakaan itu sunyi dan berdebu, dipotong oleh sinar matahari dari jendela tinggi. Lio memimpinnya melewati rak-rak buku utama, menuju sebuah tangga sempit yang menuju ke bawah. Ruang bawah tanah. Ruangan kecil dengan satu meja dan sebuah kotak besi tua yang diukir dengan simbol-simbol yang sudah pudar.
"Joran tidak sepenuhnya gila," kata Lio sambil membuka kotak itu dengan sebuah kunci yang dia keluarkan dari jubahnya. "Dia memang membawa sesuatu kembali. Tapi itu bukan obat untuk kutukan marga. Itu adalah kunci untuk sesuatu yang lebih besar." Dari dalam kotak, dia mengeluarkan sebuah benda yang dibungkus kain beludru hitam. Dia meletakkannya di atas meja dan membuka bungkusannya.
Di sana, terbaring sebuah batu. Ukurannya sebesar kepalan tangan, berwarna abu-abu gelam dengan semburat ungu dan emas yang berputar lembut di dalamnya, seperti awan miniatur yang terjebak. Batu itu memancarkan kehangatan yang samar dan... sebuah getaran. Getaran yang langsung beresonansi dengan sesuatu di dalam diri Kaelen. Sebuah tarikan yang dalam, sebuah kerinduan yang hampir menyakitkan. Itu adalah bagian dari dirinya! Sebuah fragmen jiwanya yang telah mengambil bentuk fisik ini.
Tapi ada sesuatu yang salah. Getarannya lemah, teredam. Dan di permukaan batu itu, terdapat retakan-retakan halus berwarna hitam, seperti jejak pembusukan.
"Inilah Batu Langit yang dibawa Joran," kata Lio. "Selama seratus tahun, ia memancarkan energi aneh yang membantu beberapa anggota marga mencapai terobosan. Tapi selama lima puluh tahun terakhir, ia semakin redup. Retakan ini muncul, dan energinya berubah menjadi tidak stabil. Para tetua berpikir ia telah kehabisan tenaga. Tapi aku... aku merasa ia sekarat. Seperti sesuatu yang hidup di dalamnya perlahan-lahan padam."
Kaelen mengulurkan tangannya hampir tanpa sadar. "Bolehkah saya...?"
Lio mengangguk, matanya tajam mengamati.
Saat jari-jari Kaelen menyentuh batu itu, sebuah sengatan listrik yang hangat menyambar dirinya. Aliran ingatan yang terfragmentasi dan emosi yang tidak jelas membanjiri pikirannya: rasa hampa yang tak terbatas, teriakan yang teredam dari ledakan primordial, kerinduan yang mendalam untuk pulang. Dan satu pesan yang jelas, seperti jeritan terakhir: "Tolong... satukan kami... sebelum Gelap mengkonsumsi kami..."
Dan kemudian, dia merasakannya—sebuah kehadiran asing yang menggerogoti batu itu dari dalam. Sesuatu yang dingin, lapar, dan jahat. Bukan bagian dari dirinya. Itu adalah parasit, memakan sisa-sisa kekuatan fragmen jiwa yang terperangkap ini. Para Pemburu? Atau sesuatu yang lain?
Dia menarik tangannya, wajahnya pucat. "Ada sesuatu yang salah dengan batu ini. Sesuatu yang... memakannya dari dalam."
Lio menyipitkan mata. "Jadi kamu bisa merasakannya juga. Aku menduga begitu. Aku telah mempelajarinya selama beberapa dekade. Energi parasit itu tidak berasal dari dunia kita. Ia berasal dari luar, mungkin dari celah yang sama di mana batu ini berasal. Itulah mengapa aku tertarik padamu, Kaelen. Karena energi jiwamu, meskipun samar, terasa... serupa dengan batu ini. Tapi murni. Tidak terinfeksi."
Kaelen menatap pria tua itu. Apakah ini jebakan? Apakah Lio ingin menggunakan dia untuk menyembuhkan batu itu, atau lebih buruk lagi, mengekstrak esensinya? Tapi ada ketulusan dalam kata-kata tua itu, dan rasa ingin tahu seorang sarjana yang telah lama terisolasi.
"Apa yang Tua Lio inginkan dari saya?" tanya Kaelen langsung.
"Aku ingin kamu membantu menyelamatkan batu ini," kata Lio. "Aku percaya ini adalah artefak dari dunia yang lebih tinggi, dan pengetahuannya bisa membuka jalan bagi marga ini untuk bangkit. Tapi jika parasit ini terus berkembang, tidak hanya batu yang akan hancur, tapi mungkin juga melepaskan sesuatu yang berbahaya ke dunia kita. Sebagai imbalannya, aku akan memberimu dua hal: Pertama, perlindungan. Aku akan memastikan para tetua dan musuh-musuhmu di marga membiarkanmu. Kedua, akses ke koleksi buku sebenarnya milikku—buku-buku yang tidak tersedia untuk umum, termasuk peta dan catatan tentang fenomena antardunia seperti Portal Celestial."
Tawaran itu menggiurkan. Akses ke pengetahuan, perlindungan, dan kesempatan untuk memulihkan fragmen jiwanya. Tapi risikonya besar. Jika dia terbuka, dia menjadi rentan.
"Bagaimana saya bisa mempercayaimu?" tanya Kaelen.
Lio tersenyum, senyum tipis yang penuh makna. "Kamu tidak perlu. Tapi pertimbangkan ini: Jika aku berniat mencelakaimu, aku sudah bisa melakukannya. Aku sudah mengamati kamu. Aku tahu kamu berlatih dengan cara yang aneh, memahami hukum dasar. Aku juga tahu sepupumu Arlan semakin penasaran dan mungkin akan mengambil tindakan terhadapmu sendiri karena rasa bersalah dan ketakutannya. Kamu membutuhkan sekutu, Nak. Bahkan sekutu yang berbahaya seperti aku."
Kaelen terdiam sejenak. Dia melihat ke batu yang sekarat itu, merasakan panggilan darahnya yang mendesak. Dia melihat ke mata Lio yang penuh dengan pengalaman dan ambiguitas. Dan dia melihat ke masa depannya di marga ini, sebuah jalan yang penuh dengan rintangan.
Akhirnya, dia mengangguk. "Saya akan mencoba. Tapi saya memerlukan waktu. Dan saya memerlukan beberapa bahan—tanaman tertentu dari perkebunan, beberapa mineral dasar. Untuk membuat... sebuah formasi pembersihan." Dia tidak akan memberitahukan bahwa dia berniat menyerap fragmen itu sendiri; dia hanya akan "menyembuhkannya" terlebih dahulu.
Lio mengangguk, puas. "Kamu akan mendapatkannya. Datanglah ke sini setiap malam ketiga saat bulan terbit. Aku akan memberimu apa yang kamu butuhkan dan akses ke ruang baca pribadiku di lantai tiga. Tapi ingat"—suaranya menjadi keras—"rahasia. Tidak ada yang boleh tahu, terutama para tetua. Mereka akan melihat batu ini hanya sebagai sumber daya untuk dieksploitasi, dan kamu sebagai alat. Mereka tidak akan mengerti bahayanya."
Kesepakatan itu terjalin.
Selama beberapa minggu berikutnya, kehidupan Kaelen terbagi menjadi tiga bagian: pekerja siang hari di perkebunan herbal, di mana dia sekarang dengan hati-hati mengekstrak sari pati tanaman yang lebih kuat untuk konsumsinya sendiri; latihan malam hari di gubuknya, di mana dia semakin mendalami pemahamannya tentang Hukum Energi dan Ruang; dan kunjungan rahasia ke perpustakaan setiap tiga malam sekali.
Di ruang baca Lio yang berantakan di lantai tiga, Kaelen menemukan harta karun. Buku-buku tentang teori formasi kuno, jurnal para petualang yang mengunjungi reruntuhan antarbenda, risalah tentang sifat jiwa dan reinkarnasi—pengetahuan yang langka bahkan di dunia immortal. Di sinilah dia mempelajari lebih banyak tentang "Portal Celestial": itu adalah fenomena alam langka di dunia rendah, sebuah titik lemah dalam membran realitas yang menghubungkan ke dunia paralel atau lapisan eksistensi yang berbeda. Mereka tidak stabil dan hanya terbuka pada siklus tertentu, sering dipicu oleh keselarasan bintang atau akumulasi energi gelembung dunia.
Lio ternyata adalah seorang ahli teori formasi yang brilian, meski kekuatannya tidak setinggi yang Kaelen duga—dia berada di puncak Foundation Establishment, terhambat oleh cedera lama dan kurangnya sumber daya. Hubungan mereka berkembang menjadi hubungan guru-murid yang aneh, meski tidak diakui. Lio mengajar Kaelen tentang prinsip-prinsip formasi dunia ini, dan sebagai balasannya, wawasan Kaelen tentang "hukum dasar" sering kali memberikan sudut pandang baru yang membingungkan namun menginspirasi bagi pria tua itu.
Sementara itu, Kaelen perlahan-lahan bekerja pada Batu Langit. Dia mulai dengan membuat formasi penyegel sederhana di sekelilingnya untuk mengisolasi energi parasit, menggunakan mineral yang diberikan Lio. Dia tidak berani menyentuh fragmen itu secara langsung lagi; dia harus membersihkannya terlebih dahulu. Dengan pemahaman barunya tentang formasi dan pengetahuannya sendiri tentang Hukum Pemurnian, dia merancang sebuah ritme energi yang secara bertahap akan mengusir entitas parasit asing itu, seperti gelombang suara yang menggetarkan karat hingga lepas.
Kemajuan itu lambat. Sangat lambat. Butuh waktu berminggu-minggu hanya untuk membersihkan satu inci retakan hitam. Tapi Kaelen bisa merasakan fragmen itu menjadi sedikit lebih cerah, tarikannya sedikit lebih kuat.
Kehidupan ganda ini tidak luput dari perhatian. Suatu sore, saat Kaelen sedang mengangkut hasil panen, dia dihadang oleh Arlan dan dua temannya di lorong sempit antara gudang dan kandang.
"Kaelen," kata Arlan, melipat tangannya. Dia tampak lebih tegang dari biasanya, matanya gelap. "Kamu terlihat... lebih baik. Tidak seperti seseorang yang hampir mati di hutan."
"Mungkin udara perkebunan cocok untukku, sepupu," jawab Kaelen dengan tenang, meletakkan keranjangnya.
"Jangan bermain-main denganku," geram Arlan, melangkah mendekat. "Aku telah mengawasimu. Kamu tidak lagi terengah-engah saat bekerja. Matamu tidak lagi kosong. Dan beberapa kali, aku melihatmu berjalan ke arah perpustakaan di malam hari. Untuk apa? Kamu bahkan tidak bisa membaca dengan baik!"
Teman-teman Arlan mencegat jalan mundurnya. Situasi ini mulai berbahaya.
"Aku mengumpulkan jamur malam untuk Tua Lio," kata Kaelen, berbohong dengan lancar. "Dia membayarku dengan sisa makanannya." Itu adalah cerita sampul yang dia dan Lio sepakati.
"Tua gila itu?" Arlan meremehkan. "Dia tidak lebih baik darimu. Mungkin kalian berdua cocok." Tapi keraguannya terlihat. Dia mendekatkan wajahnya ke Kaelen. "Aku tidak percaya padamu. Ada sesuatu yang terjadi. Dan aku akan mengetahuinya. Jika aku menemukan kamu menyembunyikan sesuatu—teknik, pil curian, apa pun—aku akan menghancurkannya. Dan kali ini, tidak ada Nightcrawler yang akan menyelamatkanmu."
Dia menepuk bahu Kaelen dengan keras, hampir menjatuhkannya, lalu pergi bersama para pengikutnya.
Kaelen berdiri diam, menatap punggung Arlan. Ancaman itu nyata. Arlan, dengan ego dan rasa bersalahnya, akan terus mendesak. Dan dia bukan satu-satunya masalah. Kaelen juga merasakan pengawasan lain yang lebih halus—mungkin dari Tetua Goran, atau bahkan dari tetua lain. Keberadaannya yang tiba-tiba "lebih sehat" menarik perhatian.
Dia membutuhkan kedok yang lebih baik, alasan yang lebih meyakinkan untuk pertumbuhannya. Dan dia membutuhkannya segera.
Malam itu, di perpustakaan, dia membahas masalahnya dengan Lio.
"Arlan adalah anak yang penuh emosi dan terobsesi dengan status," kata Lio sambil mengutak-atik sebuah diagram formasi. "Dia melihatmu sebagai noda pada catatannya yang sempurna. Dia tidak akan berhenti." Pria tua itu mengangkat matanya. "Kamu butuh pencapaian yang terlihat, sesuatu yang dapat diterima oleh mereka. Sesuatu yang tidak terlalu mencolok, tapi cukup untuk menjelaskan peningkatanmu."
"Seperti apa?" tanya Kaelen.
"Ujian Seleksi Sekte Azure Cloud akan diadakan dalam dua bulan," kata Lio. "Setiap marga di wilayah ini dapat mengirimkan wakilnya yang berusia di bawah dua puluh tahun. Para peserta akan diuji bakat, ketahanan, dan kemauan bertarung mereka. Sekte akan memilih yang terbaik untuk menjadi murid luar. Biasanya, Marga Surya mengirimkan lima peserta terbaiknya. Tahun ini, Arlan pasti akan menjadi salah satunya."
"Dan kamu menyarankan aku ikut?" Kaelen mengangkat alis. Itu adalah cara untuk menarik perhatian, kebalikan dari tetap tidak mencolok.
"Bukan untuk menang," kata Lio. "Tapi untuk menunjukkan 'kemajuan' yang luar biasa. Jika kamu, si sampah marga, tiba-tiba dapat mencapai Lapis Kedua Qi Gathering dan menunjukkan sedikit keterampilan dalam ujian, itu akan mengejutkan semua orang, tapi juga dapat diterima—kamu mungkin akan dianggap sebagai 'pekerja keras yang terlambat berbunga'. Itu akan memberimu status baru: bukan lagi sampah, tetapi underdog yang patut dikasihani dan mungkin diinvestasikan sedikit. Itu akan melindungimu dari gangguan kecil seperti Arlan, karena menyerang seorang calon peserta Sekte akan dilihat sebagai merugikan kepentingan marga."
Itu masuk akal. Dan ujian sekte adalah cara yang sempurna untuk keluar dari marga dan memasuki dunia yang lebih luas, mendekati Portal Celestial dan fragmen-fragmen lainnya.
"Tapi untuk mencapai Lapis Kedua Qi Gathering dalam dua bulan dari level nol, bahkan dengan bakat 'pekerja keras', itu akan mencurigakan," kata Kaelen.
Lio tersenyum licik. "Siapa bilang kamu akan menggunakan Qi Gathering konvensional?" Dia menunjuk ke batu yang masih tergeletak di meja, dengan retakan hitamnya yang sedikit memudar. "Formasi pembersih yang kamu buat... aku telah mempelajarinya. Ia bekerja dengan menarik energi kotor dan memusatkannya di satu titik. Titik konsentrasi itu adalah energi murni yang terkontaminasi. Jika seseorang dengan tubuh yang cukup kuat dan pemahaman yang cukup... menelan titik konsentrasi itu, mereka akan menerima semburan energi yang besar, meskipun berisiko. Energi itu bisa mendorongmu ke Lapis Kedua, bahkan Ketiga. Dan karena energi itu berasal dari Batu Langit, para tetua akan berpikir kamu 'secara tidak sengaja' tersentuh oleh sisa-sisa kekuatan artefak dan mendapat berkah. Sebuah kebetulan yang beruntung."
Rencananya berisiko. Sangat berisiko. Menelan energi parasit yang terkonsentrasi? Tapi Kaelen memahami hukum di balik energi itu. Dia bisa memurnikannya sebagian di dalam tubuhnya. Dan dia memang membutuhkan lonjakan kekuatan yang cepat dan dapat dijelaskan.
Dia memandang batu itu, lalu ke Lio. "Kapan kita bisa melakukannya?"
"Satu bulan sebelum ujian," kata Lio. "Itu akan memberi waktumu untuk stabil dan mempelajari beberapa teknik dasar untuk ditampilkan."
Kaelen mengangguk, tekadnya mengeras. Jalan itu ditetapkan. Dia akan menggunakan rencana Lio, tetapi dengan modifikasinya sendiri. Dia tidak hanya akan menelan energi terkonsentrasi; dia akan menggunakan kesempatan itu untuk membentuk kembali tubuhnya sekali lagi, dan mungkin, hanya mungkin, menyentuh fragmen itu sendiri dan mengambil sebagian kecil esensinya.
Dia melihat keluar jendela, ke arah bulan yang tergantung di langit malam. Dalam dua bulan, hidupnya akan berubah lagi. Dari sampah marga menjadi calon murid sekte. Itu adalah langkah kecil dalam perjalanan yang tak terbatas, tapi sebuah langkah yang diperlukan.
Bayangan di perpustakaan tua itu telah membuka pintu, dan sekarang Kaelen siap melangkah melaluinya, menuju panggung yang lebih besar dan bahaya yang lebih dalam. Perburuan fragmennya baru saja benar-benar dimulai.