Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.
Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wedding Day
"Kau kira kau bisa memeras ku, jalang?" umpatan kasar itu Luciano lemparkan kepada Jenny. Sehingga membuat Jenny mengeraskan rahangnya karena marah.
"Satu milyar atau tidak sama sekali. Anggap saja ini kompensasi dari jerih payah kalian mengadopsi Alana. Oh salah, lebih tepatnya hadiah untuk para pencuri aset milik Alana."
Kata-kata yang Luciano ucapkan begitu menusuk di telinga Maria dan Jenny. Mereka berdua memang menampung Alana, namun bukan karena ikhlas, melainkan karena ingin menguasai kekayaan mendiang orang tua Alana.
"Cukup Luciano, mereka adalah Bibi dan kakak sepupu ku. Kau tidak pantas berkata seperti itu kepada mereka."
Alana sangat ingin menampar Luciano saat itu. Namun sayangnya ia tidak bisa, karena kedua tangannya di genggam erat oleh Luciano.
"Aku tidak mengizinkan kamu berbicara, sayang!" kata Luciano memperingatkan Alana. "Bawa Alana ke mobil, biar mereka menjadi urusanku!" Luciano mendorong lembut Alana kepada anak buahnya. Setelah itu ia bangun dan mendekat kepada Oliver.
"Mau apa lagi, kau bajingan?" Oliver menatap nyalang kedua bola mata coklat milik Luciano.
"Hahahaa, apa yang aku inginkan? Kau serius menanyakan hal itu padaku, bajingan?"
Bug!
Luciano mendaratkan sebuah pukulan tinju di perut Oliver. Sehingga membuat pria itu meringis menahan sakit.
"Kau berhenti ikut campur urusanku, dan jangan terlalu sibuk mencuri tempatku, Oliver."
Oliver mendecih. "Jangan pernah bermimpi untuk menjadi nomor satu di negara ini, jika aku masih hidup!"
Luciano tersenyum smirk mendengar ancaman Oliver tersebut.
"Kalau begitu, aku akan pastikan jika hari ini, adalah hari terakhir kau untuk bernapas. Ucapkan salam perpisan dengan tuan Robert, dan dua wanita jalang itu!"
Luciano menarik pelatuk senjata itu dan mengarahkannya kepada Oliver, sehingga membuat Oliver menelan ludahnya dengan susah payah saat itu.
"Aku mohon, jangan habisi Oliver." tuan Robert memohon, namun sayangnya Luciano tidak mengindahkan permintaan lelaki tua tersebut.
Dor!
Tembakan itu berhasil mengenai perut Oliver.
Luciano tersenyum puas saat melihat darah segar mengalir dari perut musuhnya itu.
Oliver terjatuh di lantai dan mulai tidak sadarkan diri saat itu. Melihat itu membuat darah Robert mendidih. Ia pun merampas senjata milik anak buah Luciano dan kemudian menarik pelatuk untuk menembak Luciano.
Namun sayangnya gagal, karena salah satu anak buah Luciano langsung bergerak cepat, ia langsung menembak dada kanan Robert dan lelaki tua itu akhirnya menjemput ajalnya di sebelah sang putra, Oliver.
"Aaaaghhhhh." Jenny dan Maria berteriak histeris saat melihat darah berlumuran di lantai, mayat Robert yang begitu disayangkan oleh Maria, dan Oliver yang begitu di inginkan oleh Jenny.
"Alana, kau harus membalas semua ini," teriak Jenny, ia histeris dan berusaha melepaskan diri, ingin memeluk tubuh Oliver saat itu.
"Polisi sedang on the way. cepat bereskan tempat ini." Luciano membernarkan pakaiannya, lalu mengusap lembut rambutnya yang panjang tergerai bebas dan keluar dari rumah tersebut.
Luciano masuk kedalam mobil dan kemudian duduk di sebelah Alana dengan tenang.
"Apa mau mu, Luciano? Aku bahkan menyesal pernah menyelamatkan kamu waktu itu," tangis Alana pecah saat melihat wajah Luciano yang begitu tenang saat itu. seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Langsung ke gereja!" ucap Luciano kepada supirnya. Luciano bahkan tidak berniat untuk menjawab ucapan Alana sama sekali.
"Luciano, kamu bajingan, biadap. Kau tidak bisa menghargai nyawa manusia, kau kejam Luciano." Alana memekik tepat di telinga Luciano. Namun lelaki itu tetap bergeming seolah ia tidak mendengarkan suara apa pun saat itu.
Bug.
Bug.
Alana memukul dada bidang Luciano berkali-kali, namun Luciano hanya membiarkan nya saja. Sengaja agar emosi Alana terlupakan kepadanya.
"Kenapa berhenti?" tanya Luciano, saat melihat Alana yang mulai kewalahan karena ulahnya sendiri.
"Lepaskan aku, aku mau pulang." Alana menunduk pilu, air matanya tumpah begitu saja.
"Tidak setelah kau menjadi istriku, Alana!" jawab Luciano, dan itu berhasil membuat Alana terpaku saat itu.
"M-menikah? Aku? Kamu? No, no way. Aku nggak mau menikah dengan seorang pembunuh seperti kamu, Luciano. Itu tidak akan pernah terjadi." Alana kembali menangis. Namun Luciano sama sekali tidak berbuat apa-apa. Ia hanya menatap lurus ke depan.
"Kau pembunuh, tidak pantas menikah denganku, Luciano. Kau pantas berada di penjara atau bahkan lebih bagus lagi kau berada di neraka."
Cup!
Luciano langsung membungkam bibir Alana dengan bibirnya. Alana masih terum memberontak, namun sayangnya Luciano tidak membiarkan Alana terlepas dengan mudah.
"Kita sudah sampai, tuan!" ujar supirnya itu. Dan saat itu juga Luciano melepaskan tautan bibir mereka.
"Manis!" puji Luciano sambil tersenyum.
"Gereja?" Mata Alana berkaca-kaca saat melihat bangunan Gereja, gereja yang sama pada saat itu menolong Luciano saat itu.
"Tenang Alana, kamu tidak udah takut. Kamu aman jika bersama ku," kata Luciano, menenangkan Alana yang saat itu terlihat cukup syok dan mata yang memerah.
Alana bungkam, ia merasa percuma jika dirinya harus menolak atau mencoba untuk kabur dari tempat itu saat itu. Ada banyak anak buah Luciano yang berjaga di setiap sudut gereja.
"Oke, tapi aku mohon, lepaskan Bibi dan Kakak ku," pinta Alana, kali ini lebih memohon.
Luciano tersenyum, ia tidak menjawab permintaan Alana. Ia pun menggenggam erat tangan Alana lalu menuntun gadis itu untuk masuk kedalam gereja.
Alana memejamkan kedua matanya, jantungnya berdebar kencang saat itu. Antara takut dan pasrah semua menjadi satu.
"Pendeta sudah menunggu sejak tadi, tidak baik menunda waktu, Alana." Luciano ikut berhenti saat langkah Alana terhenti di depan pintu masuk gereja itu.
"Apa yang akan kau lakukan, Luciano? Kau memaksa ku untuk menikahi mu? Ini tidak adil dan pernikahan ini tidak sah," cicit Alana, ia mengusap kedua pipinya dan ingin berbalik badan ke belakang.
"Nyawa bibi dan kakak mu ada di tanganmu saat ini, Alana. Menurut atau kau yang akan tanggung semua resiko itu."
Alana mendongak, ia menatap tajam wajah Luciano yang terlihat begitu gampang dalam mengucapkan sesuatu, tanpa perduli dengan perasaan dirinya saat itu.
"Jangan kira aku tidak tahu jika kau sedang berusaha mengelabuihi ku, Alana. Aku bisa menjadi bringas jika kau terlalu banyak bicara. Sekarang atau semua akan berakhir."
Sial, Luciano berhasil membuat Alana bungkam tanpa bisa berkutik sedikitpun. Mau tidak mau akhirnya Alana ikut masuk ke dalam gereja tersebut.
pendeta sudah berdiri diatas altar, beberapa orang juga sudah hadir di dalam gereja tersebut.
"Mulai pernikahan ini, pendeta!" ucap Luciano memberi perintah.
Pendeta itu tahu jika pernikahan ini didasari oleh pemaksaan, namun naluri manusianya juga masih ingin hidup.
Mau tidak mau, pendeta tersebut harus menikahkan mereka meskipun harus terpaksa.
"Bersiaplah Alana, kehidupan yang sebenarnya akan segera di mulai!" bisik Luciano di telinga Alana, sehingga membuat gadis itu nyaris terjatuh ke lantai.
***