NovelToon NovelToon
"Mentari Kecil Di Kutub Utara"

"Mentari Kecil Di Kutub Utara"

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Tamat
Popularitas:516
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Dermaga Kepulangan

Langkah di Tanah Kelahiran

Sebelas tahun gurun kuseberangi,

Kini langkahku kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Membawa gelar yang berat di pundak,

Namun membawa cinta yang jauh lebih mendesak.

Kairo kutinggalkan dengan sejuta kenangan,

Jawa kusapa dengan debar penuh harapan.

Bukan lagi sekadar pulang untuk bertamu,

Tapi untuk menggenapi janji yang telah bertemu.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta nampak begitu riuh, namun bagi Mas Azam, segalanya terasa seperti mimpi yang bergerak lambat. Udara lembap khas Indonesia menerpa wajahnya saat ia melangkah keluar dari pintu kedatangan. Di sampingnya, Khadijah berjalan dengan anggun, didampingi oleh seorang mahasiswi senior yang dititipkan oleh keluarganya untuk menemani selama perjalanan.

Sebelas tahun. Waktu yang cukup lama untuk membuat Mas Azam merasa asing dengan tanah airnya sendiri. Namun, saat matanya menangkap sosok Ayah dan Bundanya yang berdiri di balik

pagar pembatas, air matanya tak terbendung lagi.

"Ayah... Bunda..." bisik Azam parau. Ia segera berlari kecil dan bersimpuh di kaki kedua orang tuanya. Tangisnya pecah, menumpahkan segala lelah dan rindu yang ia simpan selama menuntut ilmu di negeri orang sejak ia masih muda.

"Sudah, Nduk... sudah. Kamu sudah pulang, sudah jadi Doktor, sudah jadi kebanggaan Ayah," ucap Ayah sambil mengusap kepala putranya dengan tangan yang mulai gemetar dimakan usia.

Bunda memeluk pundak Azam dengan erat, air matanya membasahi pundak jas putranya. "Anak Bunda sudah pulang... terima kasih sudah bertahan sejauh ini di negeri orang, Azam."

Di belakang mereka, perhatian Bunda segera beralih pada sosok gadis yang berdiri malu-malu di belakang Azam. Gadis dengan gamis hijau zamrud yang tetap nampak bersahaja meski kelelahan menempuh perjalanan jauh.

"Ini... Khadijah?" tanya Bunda dengan mata berbinar.

Khadijah maju perlahan, lalu mencium tangan Bunda dan Ayah dengan sangat takzim. "Nggih, Bunda. Saya Khadijah."

Bunda langsung memeluk Khadijah erat. "Cantik sekali... pantas saja Azam sampai rela pulang mendadak begini. Terima kasih ya sudah mau menemani putra Bunda pulang."

Perjalanan dilanjutkan menuju desa mereka di pesisir Jawa Timur. Sepanjang jalan, Mas Azam menatap keluar jendela, melihat hamparan sawah hijau yang sangat kontras dengan pemandangan gurun di Kairo. Namun, di dalam hatinya, ada rasa haru yang mendalam.

"Adek Bungah tidak ikut pulang, Mas?" tanya Bunda pelan saat mereka di dalam mobil.

Mas Azam menggeleng sedih. "Adek harus tetap di sana, Bun. Dia sedang masa ujian penting. Tapi Adek titip salam rindu yang banyak buat Bunda dan Ayah. Dia bilang, dia akan menyusul dengan ijazah Mumtaz-nya."

"Bunda khawatir dia sendirian di sana, Zam," gumam Bunda cemas.

"Adek sudah dewasa, Bun. Dia sudah jadi pejuang ilmu yang tangguh. Mas sudah titipkan dia pada teman-teman Mas yang masih menetap di sana," hibur Azam, meski ia sendiri juga merasa berat meninggalkan adiknya.

Sesampainya di rumah, suasana sudah ramai. Tetangga berdatangan ingin melihat "Doktor Azam" yang baru pulang dari Mesir. Namun, di tengah keramaian itu, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan rumah. Sosok pria dengan sarung sutra dan peci hitam turun dengan langkah yang sangat tenang.

"Assalamu’alaikum," sapa pria itu.

Mas Azam tertegun. "Gus Zidan?"

Zidan tersenyum lebar, ia memeluk Azam dengan erat. "Selamat datang kembali, Mas Doktor. Selamat juga atas kabar bahagianya. Saya datang mewakili Abi dan Umi untuk menyambut kepulanganmu."

Mata Zidan kemudian mencari-cari di belakang Azam, sebuah gerakan refleks yang tidak bisa ia sembunyikan. Azam yang menyadari hal itu langsung menepuk pundak Zidan.

"Adek tidak ikut, Gus. Dia masih di Kairo, berjuang sendirian demi janjinya pada 'Kutub Utara'-nya," bisik Azam dengan nada menggoda.

Zidan tertunduk sejenak, senyumnya sedikit memudar namun digantikan oleh pancaran kekaguman. "Saya tahu. Dia memang mentari yang kuat. Terima kasih sudah menjaganya selama ini, Mas."

Malam itu, di rumah milik Ayah dan Bunda, sebuah perundingan besar dilakukan. Keluarga Mas Azam akan berangkat ke Jawa Tengah dalam tiga hari ke depan untuk prosesi akad nikah yang diminta oleh Abah Khadijah. Zidan menawarkan diri untuk ikut serta dalam rombongan, mewakili keluarga Pesantren sekaligus menjadi saksi atas perjalanan cinta sahabat sekaligus calon kakak iparnya itu.

Di kamarnya yang dulu, Mas Azam menatap langit-langit. Sebelas tahun lalu ia pergi hanya membawa doa, kini ia pulang membawa masa depan.

Namun di sudut hatinya yang lain, ia membayangkan Bungah di Kairo sana, yang mungkin sekarang sedang duduk sendirian di perpustakaan, merapikan catatan sambil menahan rindu yang tak kalah besarnya pada Bunda, Ayah, dan tentu saja... Gus Zidan.

1
Feni sang penulis novel
halo kak aku izin komen ya aku sudah membaca semua novel kakak semuanya aku suka dan kakak juga termasuk novel yang terbaik dan yang pertama aku lihat yang bagus cerita novelnya aku pun suka banget sama cerita novel kakak semuanya dan semua alurnya aku suka banget kak💪💪 dan aku punya novel buatan aku sendiri yang berjudul seorang wanita mafia cantik tolong mampir ya kak siapa tahu kakak suka dengan alur ceritanya itu udah ada bab 13 bab kak kalau kakak suka mampir aja ke novel aku ya kak tetap semangat untuk kakak aku cinta banget sama kakak tetap semangat dan tetap jangan putus asa demi masa depan kita💪💪💪
Feni sang penulis novel
halo kakak aku sudah membaca novelnya semua yang yang aku suka sama alur jidan terdiam seribu bahasa tapi semua novel kakak semuanya bagus kok yang aku suka cuman bidan terdiam 1000 bahasa ceritanya bagus kok dan 100% aku suka sama novel kakak dan kakak semangat terus untuk membuat karya terbaik jangan putus asa ya kak aku pun sama kok pengikut aku masih sedikit tapi aku punya 11 novel yang salah satunya seorang mafia wanita cantik kalau kakak suka mampir dulu ke novel aku dan novel itu sudah ada 13 bab tolong baca kalau nggak pun nggak apa-apa kok kakak tetap semangat untuk membuat karyanya sendiri ya kak jangan putus asa semangat kakak aku cinta kakak banget😍😍😍😍💪💪
Rina Casper: trimakasih sudha mampir kkk😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!