NovelToon NovelToon
Pak Polisi Penyembuh Luka

Pak Polisi Penyembuh Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Trauma masa lalu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu

Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.

“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PPPL 3

“Gimana, Ci keadaannya?” tanya Zaidan pelan pada adik sepupunya, Arsyi—anak ketiga pasangan Silvia dan Randi.

“Masih tidur, Bang,” jawab Arsyi lirih. “Kelihatannya syok berat.”

“Hm…” Zaidan menatap gadis yang terbaring di ranjang IGD itu cukup lama. Wajahnya pucat, alisnya sedikit berkerut meski tertidur. Ada sesuatu di dadanya yang terasa mengganjal. Sebuah perasaan yang sulit ia definisikan.

“Abang titip ya, Ci,” ucapnya akhirnya. “Kalau dia bangun, bilang tunggu Abang datang dulu.”

“Iya, Bang,” sahut Arsyi patuh.

“Abang pergi dulu. Harus balik ke lapangan. Kegiatan belum selesai.”

Zaidan berbalik, melangkah cepat meninggalkan IGD rumah sakit milik keluarganya. Waktu tak memberinya ruang untuk berlama-lama. Tanggung jawab masih menunggu.

Tujuannya kini kantor gubernur yang merupakan lokasi pengumpulan akhir operasi gabungan.

Begitu tiba di halaman kantor gubernur, Zaidan mendapati hampir seluruh unsur tim sudah berkumpul. Kendaraan taktis telah terparkir rapi. Lima belas orang tersangka telah diamankan, duduk berjajar dengan tangan diborgol. Di hadapan mereka, barang bukti ditata di atas terpal besar. Ada bong, pirex, korek api, uang tunai, serta pil ekstasi yang jumlahnya diperkirakan lebih dari seribu butir.

Matahari mulai meninggi, memanaskan lapangan dan suasana.

Zaidan melangkah mendekat. Sekilas pandangannya menangkap satu wajah yang sangat ia kenali. Pria yang menjadi tersangka yang nyaris memicu tragedi tadi. Tatapannya mengeras sesaat, lalu ia alihkan kembali pada rekan-rekannya.

“Gimana?” tanyanya singkat.

“Aman semua, Ndan,” jawab salah satu perwira.

Zaidan mengangguk kecil.

Saat menoleh ke sisi lain lapangan, matanya menangkap seorang pria dengan kamera tergantung di leher. Ia seorang jurnalis. Zaidan mengenalinya sebab orang itu berada tidak jauh darinya saat insiden.

Ia berjalan menghampiri.

Tep.

Zaidan menepuk pelan pundak pria itu.

“Kamu meliput kejadian gadis yang tadi?” tanyanya langsung, nada suaranya datar tapi tegas.

“Iya, Pak,” jawab si wartawan jujur.

“Hapus,” kata Zaidan tanpa basa-basi. “Yang itu jangan kamu naikkan.”

Wartawan itu tampak ragu sejenak, lalu mengangguk.

“Ba—baik, Pak.”

Zaidan memastikan sekali lagi, lalu pergi tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut.

Ia kemudian melangkah ke arah atasannya, Direktur Ditresnarkoba Polda, Kombes Pol Hendrawan, yang tengah berdiskusi dengan beberapa pejabat.

“Dari mana kamu?” tanya Hendrawan begitu melihat Zaidan. “Ini sudah mau penutupan.”

“Siap, dari rumah sakit, Ndan,” jawab Zaidan lugas.

Hendrawan menatapnya. “Gadis itu?”

“Siap. Sudah ditangani. Sekarang masih istirahat di IGD. Ada adik sepupu saya yang jaga.”

Kening Hendrawan langsung berkerut.

“Sebentar… IGD yang mana?”

Ia menyipitkan mata. “Rumah Sakit Polisi? Memang ada adik kamu disana? Kok saya baru tahu.”

“Ehm…” Zaidan menggaruk tengkuknya sebentar. “Bukan, Ndan. Rumah sakit keluarga saya.”

Hendrawan terdiam satu detik. Lalu mendecak.

“Kamu ini ya…”

Ia menghela napas panjang. “Kenapa nggak langsung ke Rumah Sakit Polisi?”

Zaidan terdiam. Kali ini benar-benar tak punya alasan logis selain kepanikan dan refleks.

“Maaf, Ndan. Saya refleks.”

“Refleks mahal,” sahut Hendrawan datar. “Tagihannya kamu yang tanggung. Nggak bisa direimburse. Itu rumah sakit swasta, dan—”

Ia melirik ke arah bangunan megah rumah sakit keluarga Zaidan yang terlihat dari kejauhan.

“—yang paling mahal pula.”

Zaidan nyaris tersenyum kecil.

“Siap, Ndan. Nggak masalah.”

Hendrawan meliriknya sekilas.

“Enak ya punya rumah sakit sendiri.”

“Bukan punya saya, Ndan,” jawab Zaidan cepat. “Punya Keluarga Mama.”

“Lebih bahaya itu,” balas Hendrawan singkat, membuat Zaidan akhirnya tersenyum tipis.

“Kalau sudah sadar,” lanjut Hendrawan kembali serius, “langsung bawa dia ke kantor. Kita perlu keterangan resminya.”

“Siap, Ndan.”

Hendrawan mengangguk, lalu melangkah pergi menemui Kepala BNNP selaku pimpinan operasi gabungan hari itu.

Zaidan berdiri sejenak, mengamati lapangan yang mulai lengang. Operasi besar telah selesai.

Namun bagi Zaidan, satu urusan belum benar-benar berakhir.

Gadis itu.

Ia harus kembali ke rumah sakit kembali, menjemput gadis itu dan membawanya ke kantor untuk dimintai keterangan. Bagaimanapun, hukuman pasti sedang menanti gadis itu kedepannya akibat tindakannya tadi.

*

*

*

Gadis itu terbangun dengan aroma alkohol dan obat-obatan yang menusuk hidungnya. Kelopak matanya terasa berat. Pandangannya menyapu sekeliling dengan lambat. Dinding putih, lampu neon yang terlalu terang, serta tirai-tirai pembatas yang bergoyang pelan. Dari balik tirai, terdengar suara langkah kaki, percakapan lirih, dan bunyi alat medis.

Rumah sakit.

Kesadaran itu datang bersamaan dengan denyut nyeri di kepalanya.

“Sudah sadar, Mbak?”

Sebuah suara perempuan menyapanya. Seorang wanita berseragam scrub biru dongker, berlapis jas dokter putih, berdiri di samping ranjangnya. Senyumnya tipis, namun tetap tampak profesional.

“Iya…” jawab gadis itu pelan. Ia mencoba bangkit, namun kepalanya langsung terasa berputar.

“Jangan dulu,” ujar perempuan itu cepat. “Kalau masih pusing, baring saja. Mbaknya juga masih harus nunggu Bang Zaidan, ‘kan.”

Gadis itu mengernyit bingung.

“Bang… Zaidan?”

“Iya. Polisi yang membawa Mbak ke sini tadi,” jelas perempuan itu. “Dia abang sepupu saya. Nama saya Arsyi.”

Polisi.

Potongan-potongan ingatan mulai berdatangan, datang tanpa izin, seperti gelombang yang menghantam tiba-tiba.

Ia ingat pagi itu. Pulang dari shift malam. Jalanan ramai. Orang-orang berkerumun.

“Lagi ada razia narkoba di kampung dalam situ, Mbak,” kata seseorang saat itu.

Dan lalu—

Pria itu.

Wajah yang terlalu ia kenal. Wajah yang menghancurkan hidupnya.

Dadanya mendadak sesak.

Ia ingat memarkir motor sembarangan. Ingat bagaimana langkahnya terasa ringan namun penuh amarah. Ingat suara teriakan, laras senjata, dan bagaimana tangannya yang entah dari mana keberanian itu datang, merebut senapan dari tangan seorang polisi.

Ia juga ingat satu suara. Suara seorang polisi yang terus berbicara padanya. Suaranya tenang dan memohon.

Lalu gelap.

Tubuhnya menggigil halus.

“Kepala Mbak sakit?” tanya Arsyi ketika melihat wajah gadis itu mengeras dan tangannya terangkat memegangi pelipis.

Wanita itu mengangguk pelan. Denyut di kepalanya terasa kuat hingga membuat mual.

“Jangan dipaksakan,” ucap Arsyi lembut. “Baring saja dulu.”

Ia menurut. Menutup mata sejenak, dan menarik napas panjang.

“Nama Mbak Zahra, ya?” lanjut Arsyi. “Maaf tadi saya buka dompet Mbak buat pendaftaran.”

“Iya, Dok. Nggak apa-apa,” jawab Zahra lirih.

Arsyi mengambil piring berisi makanan dari meja kecil dan meletakkannya di meja lipat di depan ranjang.

“Makan dulu ya. Ini sudah jam satu siang.”

Zahra langsung membuka mata lebar-lebar.

“Jam satu?” suaranya meninggi tanpa sadar.

“Iya,” jawab Arsyi santai. “Mbak tidur cukup lama.”

Jantung Zahra seakan terjun bebas.

Ibunya.

Tangannya gemetar. Ia langsung berusaha turun dari ranjang.

“Saya harus pulang, Dok.”

“Nggak bisa,” Arsyi menahannya dengan lembut tapi tegas. “Kata Bang Zaidan, Mbak belum boleh pulang. Nanti Mbak akan dibawa ke kantor buat dimintai keterangan.”

Zahra terdiam.

Baru sekarang ia benar-benar menyadari jika apa yang ia lakukan pagi tadi bukan hal sepele. Ada konsekuensi yang menantinya. Besar dan menakutkan.

Dan ibunya… ibunya tidak tahu apa-apa.

“Dok… tas saya mana?” tanyanya dengan suara nyaris berbisik.

“Saya simpan,” jawab Arsyi. “Takut hilang waktu Mbak masih tidur. Sebentar ya.”

Arsyi keluar sebentar dan kembali membawa tas kecil berwarna hitam.

“Ini, Mbak.”

“Terima kasih, Dok.”

Dengan tangan sedikit gemetar, Zahra mengambil ponselnya. Layarnya menyala, menampilkan deretan panggilan tak terjawab dan pesan dari ibunya.

Zahra di mana?

Kok belum pulang?

Ibu khawatir.

Dadanya terasa semakin sesak.

Ia mengetik cepat, memilih kebohongan paling sederhana yang bisa ia susun saat itu.

Maaf baru ngabarin, Bu. Zahra disuruh gantikan teman Zahra yang nggak masuk hari ini. Tadi HP Zahra mati.

Pesan terkirim.

Zahra menatap layar ponselnya lama. Tangannya perlahan turun ke pangkuan.

Itu hanya alasan sementara.

Untuk hari ini.

Tentang besok… tentang kemungkinan dirinya harus berhadapan dengan hukum yang bahkan mungkin akan dipenjara, Zahra sama sekali belum tahu bagaimana harus menjelaskannya pada satu-satunya orang yang ia miliki.

1
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
siaaaaaappp aku lempar....
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
🤣🤣🤣🤣🤣 ini ceritanya si naira cibta pertama nya bukan rian tapi zaidan... kayak anak aku yg cowok lebih milih bu lek nya ketimbang aku ibu nya... kalo aku aku jambak rambut adekku,,, anakku jambak rambutku...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: ogah ogahan sama orangtuanya ya 🤭🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ya allah setiap anakku ada lagu itu langsung tak skip,,, muak kali aku dengernya....🤣🤣🤣🤣😒😒😒😒
mumu: mama udahlah 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ngobrak ngabrik acara orang...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 aku baca itu trus lhooooo,,,, lucu banget...🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: author ngebayanginnya itu waktu nulisnya ngakak 🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
bukan solusi yg didapat tapi malah informasi bocor kemana mana+ leedekan tiap hari...🤣🤣🤣
a.i.cahaya
apaan tu?
a.i.cahaya
padahal nembak aja belum tp udh dikira ditolak aja. mental zaidan cemen ih 🤭🤣🤣
istri lee dong wook
apaan yg ditolak? ditembak aja belum
😇😇
apa itu kira2??
istri lee dong wook
nggak kok zaidan nggak agresif. lanjutkan
😇😇
belum apa apa udh patah semangat. diketawain si Rian itu 😂😂
😇😇
ayo zidaaaan 😂😂
istri lee dong wook
hayo hayo bunga 🤣🤣
istri lee dong wook
bisa pasan gitu ya 😅😅🤣🤣
istri lee dong wook
kuatkan iman deh 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
tidur zaidan tidur 😅😅😅
mumu: nggak bisa 🤣🤣
total 1 replies
istri lee dong wook
peluk jauh buat zahra 🤗🤗
istri lee dong wook
ikut deh degan..
istri lee dong wook
woy elran 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
eh dah jadi pak bupati 😍😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!