NovelToon NovelToon
Dia Lagi Dia Lagi

Dia Lagi Dia Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Pelakor jahat / Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Khodijah Lubis

Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa Adaptasi

Pagi pertama setelah pernikahan datang tanpa pengumuman apa pun. Tidak ada musik lembut, tidak ada sinar matahari dramatis yang menembus tirai seperti di film-film. Yang ada hanya suara jam dinding di lorong dan dengung pendingin ruangan yang bekerja terlalu rajin.

Tafana bangun lebih dulu karena kebiasaan. Tubuhnya sudah terlatih untuk terjaga sebelum pukul enam, bahkan di rumah orang lain, dengan status baru yang masih terasa seperti baju kebesaran. Ia duduk di tepi ranjang beberapa detik, memastikan tidak ada alarm yang terlewat, lalu mengingat—oh. Aku sudah menikah.

Ia turun ke dapur dengan langkah pelan, lebih karena tidak ingin mengganggu ketenangan rumah itu. Dapur Ravindra bersih, rapi, dan minim jejak manusia. Semua tertata seperti katalog: cangkir putih berjajar, pisau mengilap, tidak ada remah roti di meja. Dapur orang yang jarang benar-benar memasak.

Tafana membuka kulkas. Isinya rasional. Telur, susu, mentega, sosis, roti gandum. Tidak ada sambal atau kecap manis, apalagi potongan tomat atau jeruk nipis yang terabaikan. Ia tersenyum kecil, lalu mulai bekerja tanpa rencana besar. Roti dipanggang, telur digoreng sebentar, sosis dipanaskan. Gerakannya tenang, tanpa niat mengesankan siapa pun.

Ravindra turun ketika Tafana sedang mengoles mentega pada roti kedua.

Ia berhenti di ambang pintu dapur, menatap pemandangan yang tidak ada di jadwal mentalnya pagi itu.

“Kamu nggak perlu siapkan sarapanku,” katanya akhirnya.

Tafana menoleh, sebentar saja. “Aku tahu.”

“Itu bukan tugas kamu.”

“Aku juga tahu.” Tafana mengangkat bahu. “Cuma kebiasaan.”

Ravindra mendekat, berdiri canggung di sisi meja. “Kamu bisa sarapan sendiri.”

Tafana menggeser piring satunya ke sisi seberang. “Nggak sopan tinggal serumah tapi makan sendiri. Anggap aja itu prinsipku.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Tidak menuntut. Tidak mengikat. Ravindra menatap piring itu beberapa detik, lalu duduk. Mereka makan dalam diam, tapi bukan hening yang kaku. Diamnya netral. Seperti dua orang yang sama-sama menghargai ruang pribadi.

Itu pagi pertama.

Pagi kedua, Tafana turun lebih dulu lagi.

Ravindra tidak kaget, tapi tetap berhenti ketika melihat dua cangkir kopi di meja. Tanpa gula, sama persis.

“Kamu bangun subuh untuk menyamakan kebiasaan orang lain?” tanyanya sambil duduk.

“Aku alergi ketimpangan,” jawab Tafana.

Pria itu mengernyit. “Kita bicara sarapan, bukan sistem keadilan.”

Mereka makan. Sunyi, kecuali Tafana yang tiba-tiba bersuara, “Aku mimpi.”

Ravindra mengangguk sekali. “Biasa begitu kalau tidur.”

“Di lift yang naik terus. Nggak pernah sampai.”

“Stres transisi,” kata Ravindra tanpa berpikir. “Simbol ketidakpastian.”

“Atau aku kejebak bareng kamu.”

Ravindra berhenti minum. “Aku selalu sampai tujuan.”

“Lift di mimpiku enggak.”

Ia berdiri, mengambil tas. “Mimpi itu ilusi.”

Tafana menatap dua cangkir kosong di meja. “Iya. Tapi pagi ini nyata.”

Ravindra keluar. Tafana tersenyum—aneh, kecil, dan puas.

Pagi ketiga, Ravindra sendiri yang mengambil piring.

Pada akhir minggu pertama, meja makan menjadi titik temu yang tidak pernah direncanakan. Tidak ada kesepakatan tertulis. Tidak ada obrolan “mulai besok kita begini ya.” Mereka hanya… hadir.

Obrolan pun mulai muncul, awalnya ringan, nyaris tidak penting. Tafana suatu pagi menunjuk cicak yang merayap di dinding dapur.

“Kamu sadar nggak,” katanya sambil mengoles selai, “kalau cicak itu sebenarnya mencurigakan?”

Ravindra melirik. “Maksudnya?”

“Ekornya putus bisa tumbuh lagi. Itu bukan kemampuan makhluk bumi normal.”

Ravindra mengunyah, berpikir sungguhan. “Atau mekanisme pertahanan biologis.”

“Atau alien.”

“Kecil kemungkinan.”

“Tapi tidak nol.”

Ravindra mendengus pelan, hampir bisa disebut tawa.

Topik lain menyusul tanpa aba-aba. Seperti ketika mereka sarapan sandwich dengan selipan tomat.

“Kenapa tomat dibilang sayur?” Tafana membuka sambil melirik isi rotinya. “Padahal jelas-jelas buah.”

“Karena manusia butuh ilusi kontrol,” kata Ravindra. “Kalau tomat disebut buah, salad jadi pencuci mulut.”

“Itu masalah psikologis, bukan botani.”

“Botani tidak bayar pajak.”

Atau ketika Tafana bangun kesiangan, dan Ravindra menyindirnya pemalas.

Tafana mendengus. “Kenapa bangun pagi dianggap moral tinggi?”

“Karena orang yang bangun siang tidak punya humas,” jawab Ravindra tenang. “Sejarah ditulis oleh orang yang sudah mandi jam enam.”

“Jadi kalau aku bangun siang tapi baik hati?”

“Kamu tetap dianggap malas.”

Ia mengangguk, menerima.

Ravindra kemudian ingat. "Nanti kemungkinan aku pulang terlambat, ada rapat."

“Semua rapat itu perlu nggak, sih?” cetus Tafana, tanpa maksud benar-benar bertanya.

“Tidak.”

“Bahkan yang kamu pimpin?”

“Terutama yang kupimpin,” kata Ravindra. “Delapan puluh persen bisa jadi email. Sisanya voting online.”

“Kenapa nggak langsung voting aja?”

“Karena orang suka merasa didengar,” kata pria rasional itu. “Meski sebenarnya tidak.”

Tafana tersenyum miring. “Sinis sekali.”

“Efisien,” Ravindra membetulkan.

Anehnya, pembicaraan mereka selalu terkoneksi. Tidak selalu sepakat, tapi seimbang.

Beberapa minggu kemudian, pola itu terasa teratur. Ravindra bahkan menyesuaikan jadwalnya sedikit agar bisa duduk di meja makan sebelum berangkat.

Perubahan kecil lain terjadi tanpa seremoni.

Suatu pagi, Ravindra keluar dari kamar dengan kemeja biru muda di tangan. Tafana yang sedang menuang kopi menoleh.

“Yang itu nggak cocok sama dasinya,” katanya refleks.

Ravindra berhenti. “Kamu yakin?”

Tafana menuju rak dekat tempat menyeterika, mengeluarkan kemeja abu-abu gelap. “Coba ini.”

Ravindra menerima tanpa komentar. Ia memakainya. Pas. Warna selaras. Ia bercermin sebentar, lalu mengambil tas kerja.

“Terima kasih,” katanya, sederhana.

Keesokan harinya, Tafana mengambilkan setelan tanpa diminta. Ravindra sempat ingin menolak, lalu memilih diam. Tidak ada komplain. Tidak ada koreksi. Ia menghargainya dengan cara paling sederhana: dipakai.

Hari-hari berjalan. Mereka menjadi tim kecil dengan ritme sendiri. Tafana tidak merasa sedang menjalankan peran istri. Ravindra tidak merasa sedang dilayani. Semuanya terasa seperti kerja sama yang efisien, dan entah bagaimana, menyenangkan.

Tafana menyadari sesuatu pada minggu ketiga, saat Ravindra suatu pagi terlambat turun. Ia menunggu di meja makan lebih lama dari biasanya. Bukan karena khawatir. Lebih karena… kehilangan pola. Ketika Ravindra akhirnya muncul, ia berkata ringan, “Aku pikir kamu hari ini nggak kerja.”

Ravindra mengangkat alis. “Aku jarang bolos kerja.”

“Kamu menyia-nyiakan wewenang kamu sebagai bos.”

Itu bukan kalimat yang niat, hanya selip. Tapi Ravindra menangkapnya.

Ia duduk, makan, dan untuk pertama kalinya berpikir bahwa kebiasaan ini mungkin sudah lebih dari sekadar efisiensi. Namun tidak ada yang mengatakannya.

Bagi Tafana, hidup terasa ringan. Tidak ada tuntutan menjadi apa-apa. Tidak ada drama mengenai kepatuhan atau dominasi. Ia tidak perlu membuktikan nilai dirinya. Ia duduk manis, berkarya di ruangnya sendiri, dan menikmati fakta bahwa kebutuhannya—secara praktis—terpenuhi.

Ravindra, di sisi lain, mulai mengandalkan hal-hal kecil yang tidak pernah ia rencanakan. Sarapan. Setelan kerja yang padu. Obrolan absurd sebelum hari yang penuh angka. Ia tidak menyebutnya kebutuhan. Ia menyebutnya sistem yang bekerja dengan baik.

Keduanya sama-sama merasa ini keputusan yang tepat.

Dan seperti semua hal yang terasa terlalu nyaman, tidak satu pun dari mereka menyadari bahwa mereka sedang membangun sesuatu—tanpa memberi nama, tanpa memasang pagar, dan tanpa menyiapkan diri untuk hari ketika kerja sama itu berhenti terasa netral.

-oOo-

Selama Ravindra bekerja, Tafana menemukan cara sendiri untuk mengisi hari-harinya. Bukan dengan berbelanja, bukan dengan tidur siang berlebihan, melainkan dengan rasa ingin tahu yang lama tertunda.

Kartu yang Ravindra berikan awalnya hanya ia simpan di dompet, seperti benda pinjaman yang belum tentu akan dipakai. Sampai suatu pagi, setelah sarapan, Tafana membuka ponsel dan mendaftar sebuah workshop melukis. Impulsif, tapi masuk akal. Ia selalu merasa punya ketertarikan di sana, meski selama ini bakat itu lebih sering berhenti di level “lumayan”.

Minggu lalu ia pulang dengan kanvas kecil di tangan. Catnya masih basah di beberapa sudut. Gambarnya belum sempurna, garisnya ragu-ragu, warnanya belum sepenuhnya patuh. Tapi itu lukisan pertama yang ia selesaikan sendiri, dari awal sampai akhir, dengan teknik yang baru ia pelajari. Tafana menaruh kanvas itu di sudut ruang kerjanya, menatapnya lama, lalu tersenyum puas. Baru kali itu ia benar-benar mengerti: bakat saja tidak cukup. Ada teknik. Ada latihan. Dan itu bisa dipelajari.

Minggu ini, ia mendaftar kelas pastry. Dapur workshop dipenuhi aroma mentega dan gula. Tangannya belepotan tepung, rambutnya diikat seadanya. Ia tertawa saat adonannya terlalu lembek, lalu serius saat instrukturnya menjelaskan suhu dan waktu. Hasil akhirnya tidak sempurna, tapi bisa dimakan. Dan rasanya enak. Itu poin penting.

Sore itu, Tafana membawa pulang kotak pastry buatannya. Ia menyicip satu sambil berpikir betapa anehnya hidup bisa berubah. Dengan uang, ternyata bukan hanya barang yang terbeli, tapi juga kesempatan. Waktu untuk belajar. Ruang untuk gagal tanpa panik. Ia membayangkan kemungkinan lain, kelas kerajinan keramik, kursus bahasa asing, bahkan sekolah pilot. Kenapa tidak? Langit pun terasa sedikit lebih dekat jika seseorang tahu pintu masuknya.

Di kantor, Ravindra menerima notifikasi transaksi baru. Transaksi pendaftaran kursus. Lagi.

Ia membaca rinciannya sekilas, lalu tersenyum tanpa sadar. Ada rasa heran yang cepat berubah menjadi kagum. Pengalamannya berkata, kebanyakan perempuan akan memilih belanja atau perawatan diri ketika akses finansial terbuka lebar. Tafana justru memilih memperkaya dirinya—menambah kemampuan, bukan isi lemari.

Ravindra menutup ponselnya, kembali ke layar komputer. Ada kepuasan kecil yang tidak ia analisis lebih jauh. Perempuan ini, pikirnya, tahu apa yang ia lakukan. Dan itu… mengesankan.

1
Arin
Ternyata kenalan Tafana gak kaleng-kaleng, direktur tempat Yunika bekerja. Jika nanti perselingkuhan terkuak, habislah dia. Semoga di pecat dari tempat kerjanya
amilia amel
yessss...
ini baru permulaan, pembalasan untuk pelakor harus lebih sadis😀😀
kalea rizuky
lama ketauan cpet donk
kalea rizuky
moga cpet cerai males uda selingkuh tidur bareng jalang ogah klo. balik
nuraeinieni
bagus tuh tafana,kasi pelajaran sama pelakor biar merasa bersalah dan ketakutan.
Ni nyoman Sukarti
lanjut thor.... penasaran nih...😄🤭
nuraeinieni
bagus tuh tafana,bila perlu hampiri mereka dan ucapkan selamat atas selingkuhan mereka.
amilia amel
Alhamdulillah.... Tafana sudah tau dengan mata kepala sendiri
amilia amel
dahlah lepaskan Tafana saja
daripada menambah sakit hati dalam diri tafana meskipun tertutupi
hukum tabur tuai menunggumu, yang lebih bersenang-senang dengan kendaraan plat kuning
Arin
Kalau memang gak bisa tumbuhin rasa cinta sama Tafana..... udah ceraikan saja. Bersatulah situ sama selingkuhan mu. Biar tau kelakuan cintamu yang suka celap celup sama orang lain juga. Gedeg lihat laki model gini. Bikin naik darah....
nuraeinieni
ayo sierra bantu tafana selidiki hubungan yunika dgn ravind buar mereka terciduk sama tafana.
amilia amel
lepaskan salah satunya, jangan serakah
kalo serakah malah nggak dapat dua-duanya 😅😅
nuraeinieni
dasar buaya buntung,obral janji,pembohong,bodoh,mau saja di kadalin sama pelakor.
Arin
Suami model gini boleh di getok pake palu gak sih kepalanya. Pura-pura lupa apa memang lupa ada istri dirumah. Kalau memang pilih Yunika, ya harus lepas salah satunya. Jangan main di belakang kayak gini. Perhatian dan semua tindakan sayang dibesarin buat selingkuhan....
amilia amel
jangan sampai Darren jatuh cinta sama yunika.... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Arin
Wanita manipulatif gini di perjuangin hadeuh🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️Ya udahlah namanya juga cinta keblinger. Udah punya istri, masih saja jalan dengan cinta pertama belum kelar
nuraeinieni
semoga saja nih yunika mencerita kan kebohonganya pada darren.
nuraeinieni
bodoh sekali ravindra,terlalu cepat percaya tanpa menyelidikinya,yunika berhasil membodohi ravindra,tp ingat yunika,sepandai pandainya kamu menyimpan rahasia,suatu saay akan terbongkar.
amilia amel
hemmmmm
nuraeinieni
modus ya darren,,,😃menyuruh yunika nginap di tempatmu,,,😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!