Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.
Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.
Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat Jalan, Nak!
“Kamu tega, Mas,” ucapnya dengan suara bergetar.
“Kamu biarkan aku berusaha mencintaimu sendirian, sementara hatimu tetap milik perempuan lain.”
Rayyan bangkit dari duduknya, menatap Ayra dari atas ke bawah.
“Justru kamu yang terlalu berharap. Aku tidak pernah berjanji mencintaimu.”
Ucapan itu langsung menancap dalam ke jantung Ayra dan memberi rasa sakit yang luar biasa. Tapi Ayra masih bisa tersenyum, meski getir.
“Kalau begitu,” katanya tegas, menatap lurus ke mata Rayyan sambil menahan rasa sakit di perutnya yang menegang.
“Mulai malam ini, aku juga tidak akan lagi mempertahankan pernikahan yang dibangun dari kebohongan.”
Rayyan terdiam sesaat. Untuk kali ini, ekspresi santainya sedikit goyah.
“Apa maksudmu?” tanyanya tajam.
Ayra mengangkat dagunya, matanya merah tapi sorotnya kuat.
“Aku tidak akan jadi istri bodoh yang menutup mata. Kalau kamu memilih dia, maka aku juga akan memilih diriku sendiri.”
Keheningan menggantung di antara mereka. Udara terasa berat.
Dan kini Rayyan menyadari, perempuan yang selama ini ia anggap lemah, ternyata berani melangkah diluar perkiraannya.
"Tapi kamu sedang hamil Ayra. Hamil anakku dan aku tak ingin terjadi apa-apa sama dia kelak."
Ayra menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tak percaya dengan pendengarannya.
"Apa Mas? Apa aku tidak salah dengar? Bukankah selama ini kamu tidak perduli dengan kehamilanku? Bahkan kamu membiarkan aku menjalaninya sendirian dan memeriksakan kandunganku pun sendirian. Sudahlah, tidak usah sok ingin menjadi ayah yang baik. Itu sangat menggelikan bagiku... argh..." Ucapan lantang Ayra diakhiri ringisan yang ditahan. Tangannya refleks menekan perutnya yang semakin terasa sakit. Seperti ada sesuatu yang memaksa ingin keluar.
Mendengar ucapan Ayra, Rayyan hanya mengedikkan bahunya sambil mencibir.
"Ya sudah, kalau begitu urus saja dirimu." Lelaki itu berdiri dari duduknya. Ia melangkah melewati Ayra yang mulai terengah. Keringat dingin membanjir di sekujur tubuhnya. Semakin ditahan, rasa sakit itu semakin menjadi dan tiba-tiba, serrr...
Seperti ada sesuatu yang pecah di dalam rahimnya, lalu ada cairan yang merembes ke sela-sela kaki mulusnya.
"Argh..." Ayra memekik, tak kuasa lagi menahan rasa sakit yang luar biasa.
Membuat Rayyan menghentikan langkahnya.
Ia berbalik dan seketika wajahnya menegang. Matanya membelalak saat melihat darah menggenang di lantai, mengalir dari kaki Ayra yang gemetar hebat.
“Ayra…?” suaranya tercekat.
Tubuh Ayra limbung. Tangan kirinya refleks mencengkeram perutnya yang terasa seperti diremat dari dalam. Rasa nyeri itu jauh lebih hebat dari sebelumnya, membuat napasnya terengah dan pandangannya mengabur.
“Argh… sakit, Mas…” suaranya lirih, nyaris tak terdengar sebelum tubuhnya ambruk.
Refleks, Rayyan menangkapnya sebelum jatuh sepenuhnya ke lantai. Tangannya berlumur darah, Rayyan benar-benar panik.
“Ayra! Ayra, sadar Ayra.. lihat aku!” Ia menepuk pipi istrinya pelan, tapi mata Ayra sudah terpejam rapat, wajahnya pucat pasi.
Jantung Rayyan berdegup kencang. Tangannya gemetar saat meraih ponsel.
“Sial… sial!” gumamnya sambil menekan nomor darurat.
Tak ada lagi nada dingin atau sikap acuh. Yang tersisa hanya ketakutan yang menyesakkan dada.
Beberapa menit kemudian, suara sirene ambulans memecah keheningan malam. Ayra segera dilarikan ke rumah sakit. Rayyan duduk di samping brankar, menatap wajah pucat itu dengan perasaan yang sulit diartikan.
Tiba di rumah sakit, Ayra langsung dibawa ke ruang IGD.
Sementara Rayyan terduduk lemas. Baju putihnya sudah berubah warna, berlumur darah Ayra. Matanya kosong menatap lantai. Suara ponselnya yang dari tadi berdering tak dihiraukannya. Dia tahu, itu pasti telepon dari Liztha. Tapi dia tak bisa meninggalkan Ayra dalam keadaan seperti ini. Setidaknya ini untuk menebus rasa bersalahnya. Karena sikap bajingannya membuat Ayra pendarahan.
Di tengah kecemasannya, Rayyan teringat ibunya. Diapun segera menelepon wanita yang sudah melahirkannya itu
***
Matahari pagi telah memancarkan sinarnya, memberi kehangatan di bumi. Senyum cerah seharusnya mengawali semangat pagi untuk menyambut harapan agar hari ini bisa lebih baik lagi dari hari kemarin.
Tapi tidak dengan Ayra. Perasaannya sudah hancur berkeping-keping. Harapannya sudah punah oleh pengkhianatan suami dan kehilangan... Jabang bayinya.
"Selamat jalan, Nak, tunggu Mama di sana..." Bisiknya pilu, sambil menahan isak dan mengusap lembut perutnya yang sudah rata.
Tadi, saat ia tersadar, dokter mengatakan kalau janin di dalam rahimnya tak bisa diselamatkan akibat guncangan batin yang hebat dan kontraksi dini yang memicu pendarahan hebat. Ayra memalingkan wajah ke arah jendela, menatap langit pagi yang biru namun terlihat abu-abu di matanya. Air matanya mengalir tanpa suara, membasahi bantal rumah sakit yang dingin.
Pintu kamar rawat terbuka pelan. Langkah kaki yang sangat ia kenali terdengar mendekat. Itu Rayyan. Ayra tidak bergerak, bahkan tidak ingin melirik sedikit pun pada pria yang kini berdiri di samping ranjangnya.
"Ayra," panggil Rayyan lirih. Suaranya tidak lagi tajam seperti semalam. Ada nada parau dan sisa kelelahan di sana.
"Pergi, Mas," sahut Ayra datar. Suaranya hampir habis, kering oleh rasa sakit dan tangis yang tertahan.
Rayyan menghela napas berat, mencoba meraih tangan Ayra, namun Ayra segera menariknya menjauh. Penolakan itu membuat Rayyan tertegun. Ia melihat tangan Ayra yang masih terpasang jarum infus, tampak sangat rapuh.
"Aku tahu aku salah. Aku tidak menyangka akan jadi seperti ini," gumam Rayyan. Ia menunduk, menatap lantai yang seolah jauh lebih menarik daripada harus menghadapi tatapan terluka istrinya.
Ayra tertawa kecil, sebuah tawa getir yang terdengar menyakitkan.
"Tidak menyangka? Kamu yang mendorongku ke jurang ini, Mas. Kamu yang membunuh harapan kecil yang sempat aku punya untuk pernikahan ini." Ayra akhirnya menoleh, menatap Rayyan dengan mata yang bengkak namun penuh dengan kilatan kebencian.
"Sekarang setelah anak itu tidak ada, bukankah jalanmu untuk bersama wanita itu sudah terbuka lebar? Tidak ada lagi penghalang dan tidak ada lagi pengikat diantara kita."
"Bukan begitu, Ayra. Aku tetap merasa kehilangan. Dia juga anakku," potong Rayyan cepat.
"Anakmu?" Ayra mengulang kata itu dengan nada mengejek.
"Anak yang tidak pernah kamu sapa? Anak yang keberadaannya kamu anggap tidak ada? Jangan munafik! Kamu hanya ingin orang tahu kalau kamu adalah lelaki sempurna. Tapi lihat bajumu yang berlumuran darahnya, itu harga yang harus dia bayar akibat kelakuan bajingan Ayahnya!"
Rayyan bungkam. Kalimat Ayra tepat sasaran, menusuk langsung ke titik terlemah dalam nuraninya yang baru saja terbangun.
Tiba-tiba, ponsel di saku Rayyan kembali bergetar. Nama Liztha muncul di layar untuk kesekian kalinya. Rayyan menatap layar itu, lalu menatap Ayra. Ada keraguan yang nyata di matanya.
"Angkatlah," ujar Ayra dingin sambil kembali membuang muka.
"Setelah itu pergilah. Urusan kita sudah selesai sejak kepergian dia. Setelah aku keluar dari sini, sebaiknya Mas cepat urus perpisahan kita."
Rayyan masih terpaku di tempatnya. Getaran ponsel itu seolah menjadi pengingat akan dunia yang ia pilih, sementara di hadapannya, dunianya yang lain baru saja hancur berantakan karenanya.
Rayyan akhirnya melangkah keluar dengan bahu yang merosot. Awalnya dia bimbang. Tapi jika ia tak memenuhi panggilan Liztha, ia yakin wanitanya itu akan ngambek dan sulit untuk membujuknya. Rayyan tidak mau lagi kehilangan wanita itu.
Dan tanpa memperdulikan bagaimana perasaan istrinya yang baru saja mengalami guncangan, Rayyan lebih memilih menemui kekasihnya.
lanjut min ceritanya
Tak terasa buku ini sudah hampir mencapai 20 bab. Terimakasih othor haturkan untuk para readers, semoga kedepannya novel ini akan lebih seru dan lebih diterima oleh penyuka cerita drama rumah tangga. Dan juga lebih banyak komen serta like 🙏
Yuk follow akun othor untuk bisa mengikuti cerita-cerita berikutnya yang akan launching dan tentu dengan cerita yang lebih seru lagi.
Hanya karena alasan dijodohkan, Rayyan berhak berlaku semena-mena pada istrinya dan terang-terangan lebih memilih cinta lamanya?
Disakiti, diinjak-injak harga dirinya dan dibuang seolah Ayra adalah barang yang tidak berharga, membuat batin Ayra terguncang dan harus kehilangan bayinya.
Lalu apakah Ayra akan tahan dalam kubangan ketidak adilan yang dia terima?
Tentu saja tidak!
Tak akan ada yang tahan dalam satu hubungan toxic. Di balik kelembutannya, bagaimana Ayra bangkit dan melawan ketidak adilan yang ia terima?
Temukan jawabannya hanya di, "Aku Menyerah!"