Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kucing Balerina
Gavin mematung. Paket di pelukannya terasa seberat dosa besar. Untuk pertama kalinya, sang auditor garis keras kehilangan kemampuan untuk menyusun kalimat yang logis.
"Itu... itu bukan untuk saya," dalih Gavin, suaranya naik satu oktaf. "Itu untuk keponakan saya."
Aruna menyandarkan tubuhnya di pagar, melipat tangan di dada dengan senyum kemenangan yang paling menyebalkan. "Oh ya? Keponakan yang mana? Setahu saya Mas Gavin.pernah bilang di grup warga kalo Mas adalah anak tunggal yang memuja kesendirian."
Gavin berdehem kencang, mencoba mengembalikan wibawanya yang sudah tercecer di lantai teras. "Anak sepupu jauh, sangat jauh."
"Mas di kardusnya ada tulisan 'Limited Edition': Neko - Balerina series 04. Dan setahu saya, orang yang rela bayar ongkir ekspres jam segini buat paket begituan biasanya adalah kolektor kelas berat." Aruna mendekat, berbisik seolah membocorkan rahasia negara. "Atau... Seorang penggemar rahasia sesuatu yang lucu?"
"Masuk ke rumah saya," desis Gavin tiba-tiba.
Aruna terbelalak. "Wah, Mas. Baru juga ketahuan koleksi kucing balerina, sudah mau ajak saya masuk? cepat sekali progresnya."
"Mbak Aruna, tolong," Gavi memijat pangkal hidungnya. "Di luar ada bu Tejo yang sedang pura-pura menyiram tanaman padahal jam segini air sudah mati. Saya tidak mau hobi... maksud saya, paket titipan ini jadi konsumsi publik."
Aruna melirik ke rumah sebelah. Benar saja bu Tejo sedang memegang selang yang tidak mengeluarkan air sambil telinganya miring ke arah mereka. Dengan perasaan menang telak, Aruna melangkah masuk ke rumah Gavin.
Ini adalah pertama kalinya Aruna menginjakkan kaki di dalam "Benteng kaku" milik Gavin. Seperti dugaan semuanya sangat bersih. Bau ruangan itu seperti campuran aroma toko buku baru dan rumah sakit kelas VIP. Sofa diletakkan dengan sudut presisi 90⁰ terhadap televisi. Tak ada satu pun debu yang berani hinggap.
Gavin meletakkan paket itu di meja makan lalu menghela napas panjang.
"Jangan menyentuh apapun," peringat Gavin. "Tangan Anda tadi habis pegang pagar hang belum saya disinfektan."
"Iya, Iya Mas higienis." Aruna justru berjalan menuju rak buku raksasa yang menutupi satu sisi dinding.
Matanya menyisir deretan buku bertema akuntansi, manajemen resiko, dan hukum perpajakan. Namun, di barisan paling bawah, di balik deretan ensiklopedia tebal, Aruna melihat sesuatu yang mengintip. Ia berlutut dan menggeser satu buku besar.
"YA ampun, Mas Gavin!"
Gavin hampir menjatuhkan gelas air yang sedang ia ambil. "Apa lagi?"
Di sana, tersembunyi dengan rapi, adalah sebuah diorama mini. Bukan sekedar koleksi, tapi sebuah dunia kecil yang berisi kucing-kucing plastik dalam berbagai pose. Ada yang sedang minum teh, ada yang sedang balet (seperti isi paket tadi), bahkan ada yang memakai seragam polisi.
"Jadi... ini alasan Mas Gavin nggak mau ada kucing beneran di kompleks? Karena Mas takut kucing asli bakal merusak kucing plastik Mas?" Aruna tertawa sampai matanya berair.
Gavin berdiri kaku di samping meja. Wajahnya merah padam. "Kucing asli tidak bisa di atur. Mereka buang air sembarangan dan bulunya mengacaukan filter udara. Tapi mereka... secara estetika... menggemaskan."
Aruna berhenti tertawa. Ia menatap Gavin dengan tatapan yang sedikit berbeda. Ternyata, di balik tembok kaku yang dibangun pria ini, ada sisi manusiawi yang sangat rapuh (dan sedikit aneh).
"Kenapa harus disembunyikan? Ini kan keren," ujar Aruna tulus.
Gavin menatap dioramanya, lalu menatap Aruna. "Seorang auditor senior seharusnya tidak memiliki hobi yang... 'imut'. Itu merusak otoritas saya saat presentasi di depan klien."
Aruna bangkit berdiri membersihkan debu imajiner di lututnya. "Oke, saya akan tutup mulut. Tapi ada syaratnya."
Gavin menyipitkan matanya. "Saya tidak menerima pemerasan dalam bentuk uang."
"Bukan uang," Aruna menyeringai licik.."Mas Gavin harus membantu saya merapikan toko aksesoris saya buat bazar minggu depan. Saya butuh orang dengan kemampuan penataan presisi kayak Mas. Gimana? Setuju? Atau saya postingan foto Neko-Balerina ini ke Grup WA warga?"
Gavin menatap paketnya, lalu menatap Aruna yang terlihat sangat puas. Ia tahu ia telah masuk ke dalam jebakan Batman berpiyama wortel.
"Satu minggu saja," jawab Gavin pasrah. "Dan tolong jangan pakai baju yang warnanya tabrakan saat kerja dengan saya. Itu merusak konsentrasi saya."
Gavin menghela napas pasrah, sebuah suara yang terdengar seperti ban kempes. Ia baru saja menandatangani kontrak kerja sama paling tidak logis dalam sejarah kariernya sebagai auditor.
"Baik, satu minggu. Tapi dengan syarat tambahan." Gavin mengangkat jari telunjuknya, kembali ke mode negosiasi.
"Selama saya disana, Anda dilarang makan camilan yang menghasilkan remah-remah di dekat saya. Dan tidak ada musik dangdut koplo volume maksimal."
Aruna memberi hormat ala pramuka. "Siap, Bos kucing Balerina."
"Jangan panggil saya begitu," desis Gavin. wajahnya kembali memerah.
Gavin kemudian mulai membuka paketnya dengan silet pemotong yang - tentu saja- disimpan di kotak perkakas khusus. Aruna memperhatikan dengan seksama saat Gavin mengeluarkan figur kucing mungil dengan tutu merah muda dan sepatu balet sekecil butiran nasi.
"Lucu banget..." gumam Aruna tanpa sadar. "Mas, sini saya bantu susun di raknya."
"Jangan! Tangan Anda..."
Terlambat! Aruna sudah menjangkau rak buku tersebut. Namun, karena lantai kayu rumah Gavin terlalu licin (akibat di pel dengan cairan pembersih dosis tinggi), kaki Aruna selip.
"Aaa.."
Aruna terhubung ke depan. Gavin yang refleksnya ternyata cukup cepat berkat rutinitas tenis setiap minggu pagi, langsung menangkap pinggang Aruna agar tidak menabrak rak buku mahal tersebut.
Kejadian itu hanya berlangsung beberapa detik, tapi rasanya seperti satu siklus laporan keuangan tahunan bagi Gavin. Wajahnya Aruna berakhir hanya beberapa sentimeter dari dada Gavin. Aroma citrus dan wangi detergen mahal kembali menyerbu indra penciuman Aruna.
Gavin mematung, tangannya yang kaku melingkar di pinggang Aruna. Ia bisa merasakan detak jantung Aruna yang tidak beraturan- atau mungkin itu detak jantungnya sendiri?
"Mbak Aruna," suara Gavin terdengar lebih rendah dan sedikit serak.
"Y..Ya?"
"Lantai ini punya koefisien gesek yang rendah setelah dipel. Saya sudah bilang jangan bergerak sembarangan."
Aruna mendongak. Menatap mata tajam di balik kacamata Gavin. "Mas, dalam situasi kayak gini, harusnya Mas tanya, 'kamu nggak apa-apa?' bukan malah bahas koefisien gesek!"
Gavin berdehem lalu perlahan melepaskan pegangannya dan membantu Aruna berdiri tegak. Ia merapikan kaca mata dan kemejanya yang sama sekali tidak berantakan.
"Anda tidak apa-apa?" tanya Gavin akhirnya, terdengar sangat kaku.
"Nggak apa-apa, cuma jantung saya aja yang sedikit 'salah urat' gara-gara kaget," jawab Aruna asal, sambil berusaha menutupi kegugupannya dengan tertawa kecil.
Aruna segera melangkah menuju pintu keluar sebelum suasana makin aneh. "Ya sudah! Besok jam sepuluh pagi, Mas Gavin sudah harus ada di toko saya. Blok C nomor lima. Jangan telat, atau foto si Balerina ini bakal jadi wallpaper HP Pak RT!"
Setelah pintu depan tertutup, Aruna bersandar di pagar rumahnya sendiri, memegangi dadanya yang masih berdegub kencang. "Gila, kenapa si kulkas itu kalo di lihat dari dekat gantengnya nggak masuk akal sih?"
Sementara itu, di dalam rumahnya, Gavin berdiri menatap rak bukunya yang baru saja hampir di tabrak. Ia melihat satu buku ensiklopedia yang letaknya bergeser satu milimeter. Biasanya ia akan segera merapikannya. Namun kali ini, ia hanya diam, menyentuh pinggangnya sendiri dimana telapak tangannya baru saja bersentuhan dengan daster Aruna.
Gavin mengambil HP-nya, lalu mengetik sesuatu di aplikasi catatan pribadinya: Agenda besok: Audit Toko Aruna. Persiapan: sabar tingkat dewa dan master ekstra.
Ia berhenti sejenak lalu menambahkan satu baris lagi: Cek apakah piyama wortel tadi benar-benar sudah dibuang?"
Bersambung.....