NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Transmigrasi / Action / Fantasi / Romansa Fantasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.

Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Han Feng perlahan melepaskan ikatan tali kulit di dadanya. Pedang Meteor Hitam itu jatuh dari punggungnya, Han Feng menangkap gagangnya dengan tangan kanan tepat sebelum menyentuh tanah.

Lengan Han Feng menegang, urat-uratnya menonjol saat menahan beban pedang itu dengan satu tangan. Ujung pedang itu menyeret tanah, menciptakan parit kecil saat Han Feng mulai berjalan perlahan mendekati beruang itu.

Beruang Tanah Lapis Baja itu meraung marah melihat manusia kecil yang berani menantang wilayahnya. Beruang itu berdiri dengan dua kaki belakangnya—tingginya kini mencapai empat meter, seperti menara daging yang mengerikan.

ROAAARR!

Beruang itu menghantamkan kedua cakar depannya ke tanah.

BOOM!

Gelombang kejut elemen tanah merambat melalui permukaan tanah, menerbangkan batu-batu kerikil ke arah Han Feng seperti peluru.

Han Feng tidak menghindar. Han Feng memutar Pedang Meteor Hitam di depannya seperti baling-baling raksasa.

Trang! Trang! Trang!

Batu-batu yang terbang itu hancur menjadi debu saat menghantam permukaan lebar pedang Han Feng.

"Hanya itu?" teriak Han Feng memprovokasi.

Beruang itu semakin marah. Ia berlari menerjang ke arah Han Feng dengan kecepatan yang mengejutkan untuk ukuran tubuhnya yang besar. Tanah berguncang di setiap langkahnya.

Ini adalah adu banteng. Tabrakan antara dua monster kekuatan fisik.

Saat jarak mereka tinggal lima meter, beruang itu mengayunkan cakar kanannya yang sebesar nampan. Cakar itu bersinar dengan cahaya kuning redup—penguatan Qi elemen tanah. Serangan itu bisa meruntuhkan tembok benteng kota.

Han Feng tidak mundur satu inci pun. Mata Han Feng terkunci pada gerakan bahu beruang itu.

"Mati!"

Han Feng meraung. Han Feng menghentakkan kaki kanannya ke tanah hingga retak, menggunakan gaya tolak itu untuk memutar tubuhnya dan mengayunkan Pedang Meteor Hitam secara horizontal dengan sekuat tenaga.

Teknik Pedang Tanpa Nama: Tebasan Pemecah Gunung!

Pedang hitam raksasa itu beradu langsung dengan cakar beruang yang bersinar.

DUUUAAARRR!

Suara benturan itu begitu keras hingga membuat telinga berdenging. Gelombang angin menyapu ke segala arah, meratakan rumput di sekitar mereka.

Kaki Han Feng terbenam ke dalam tanah sedalam mata kaki karena menahan tekanan benturan. Wajah Han Feng memerah, pembuluh darah di lehernya menegang maksimal.

Di sisi lain, Beruang Tanah itu melolong kesakitan.

Cakar kanannya patah! Tulang beruang yang diperkuat Qi elemen tanah ternyata kalah keras dibandingkan Besi Meteor Inti Bintang yang diayunkan dengan Kekuatan Sepuluh Banteng.

Beruang itu terhuyung mundur, matanya memancarkan rasa takut dan sakit.

Han Feng tidak memberi ampun. Han Feng memanfaatkan momentum pantulan pedangnya, memutar tubuhnya 360 derajat untuk menambah gaya sentrifugal, dan melancarkan serangan kedua.

Kali ini, tebasan vertikal.

"Hancur!"

Pedang Meteor Hitam itu jatuh dari langit seperti vonis hukuman mati.

Beruang itu mencoba menangkis dengan tangan kirinya yang tersisa, sekaligus mengaktifkan Armor Batu di kulitnya. Lapisan batu tebal muncul menutupi kepalanya.

Namun, di hadapan berat mutlak 150 kg yang diayunkan dengan kecepatan tinggi, pertahanan itu sia-sia.

KRAK! SPLAT!

Pedang Han Feng menghancurkan lengan kiri beruang itu, terus melaju ke bawah, menghantam bahu dan dada beruang itu.

Armor batu hancur berkeping-keping. Tulang selangka dan tulang rusuk beruang itu remuk total.

Beruang raksasa itu terhempas ke tanah, menciptakan kawah dangkal. Darah segar menyembur dari mulutnya, bercampur dengan pecahan organ dalam.

Napas Han Feng memburu. Tangan kanannya gemetar hebat karena dampak benturan tadi. Kulit telapak tangannya robek, darah menetes membasahi gagang pedang. Meskipun menang, tubuh Han Feng juga menerima beban balik yang sangat besar dari benturan tersebut.

"Pertahanan yang keras..." Han Feng meludahkan darah yang sempat naik ke kerongkongannya. "Jika bukan karena Pedang Meteor ini, tinjuku pasti sudah patah memukul armor batunya."

Han Feng berjalan mendekati beruang yang sekarat itu. Mata binatang itu menatap Han Feng dengan putus asa.

"Kau berjuang dengan baik," kata Han Feng dingin. Dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, lalu menusukkannya ke jantung beruang itu untuk mengakhiri penderitaannya.

Jleb.

Beruang itu berhenti bergerak.

[Target Tereliminasi: Beruang Tanah Lapis Baja] [Mendeteksi Esensi Darah Kualitas Tinggi dan Inti Binatang (Beast Core) Elemen Tanah.] [Peringatan: Energi sangat besar. Persiapkan tubuh untuk dampak penyerapan.]

Han Feng tidak ragu. Han Feng meletakkan tangannya di atas bangkai besar itu.

"Sutra Hati Naga Purba, telan semuanya!"

Kali ini, pusaran energi yang muncul jauh lebih besar dan ganas. Gumpalan energi berwarna kuning kecokelatan (elemen tanah) dan merah (darah) tersedot keluar dari bangkai itu, masuk ke dalam tubuh Han Feng seperti banjir bandang.

"Ugh!"

Han Feng mengerang. Rasanya seperti menelan batu-batu panas yang menggelinding di dalam pembuluh darahnya. Energi elemen tanah yang berat itu memperkuat struktur tulang dan kulit Han Feng dengan paksa.

Kulit Han Feng yang berwarna tembaga perlahan menjadi lebih gelap, kini memiliki kilau metalik yang lebih nyata. Otot-ototnya semakin padat.

Waktu berlalu tanpa terasa. Matahari mulai terbenam saat Han Feng akhirnya selesai menyerap energi dari binatang Tingkat 2 itu.

Han Feng membuka mata. Sinar keemasan memancar keluar, menerangi kegelapan senja sesaat.

Han Feng berdiri dan mengepalkan tangannya. Udara meletup di dalam genggamannya.

[Kultivasi Meningkat!] [Tingkat Saat Ini: Pembentukan Tubuh Tingkat 4 (Awal)] [Kekuatan Fisik: Kekuatan 18 Banteng.] [Atribut Tambahan: Resistensi Fisik meningkat. Kulit sekeras Tembaga Tua.]

"Tingkat 4..." Han Feng tersenyum puas. "Hanya dalam lima hari, aku melompati satu tingkatan penuh. Di Keluarga Han, murid jenius butuh waktu enam bulan untuk naik dari Tingkat 3 ke Tingkat 4."

Han Feng kemudian membedah kepala beruang itu dan mengambil sebuah kristal kuning seukuran telur ayam. Itu adalah Inti Binatang (Beast Core). Benda ini bernilai setidaknya 100 koin emas di pasar, atau bisa digunakan untuk menempa senjata elemen tanah.

"Panen besar," Han Feng menyimpan inti itu.

Baru saja Han Feng hendak mencari tempat untuk beristirahat dan menstabilkan kultivasinya, telinganya menangkap suara percakapan manusia yang terbawa angin malam.

Suara itu datang dari balik bukit di sebelah timur.

"...yakin arahnya ke sini?" suara seorang pria terdengar samar.

"Peta kuno itu tidak mungkin salah, Kakak Seperguruan. Gua Warisan itu pasti ada di sekitar lembah ini. Sinyal kompas roh menunjuk ke arah tempat beruang tadi mengaum," jawab suara wanita yang merdu namun terdengar angkuh.

Mata Han Feng menyipit. Manusia lain? Di kedalaman hutan ini? Dan mereka menyebut tentang "Gua Warisan"?

Han Feng segera menghapus jejak darah di tubuhnya dengan air dari kantong kulit, lalu bergerak tanpa suara menuju semak-semak di atas bukit, mengintip ke arah sumber suara.

Di bawah sana, di jalur setapak yang menuju ke lembah tempat Han Feng baru saja bertarung, berjalanlah sekelompok orang.

Mereka terdiri dari empat orang muda—tiga pria dan satu wanita. Mereka mengenakan jubah putih bersih dengan bordiran pedang biru di dada kiri.

Jantung Han Feng berdegup sedikit lebih kencang saat mengenali lambang itu.

"Sekte Pedang Langit..."

Itu adalah sekte penguasa di wilayah ini, tempat di mana para jenius dari berbagai kota berkumpul. Dan yang lebih penting, itu adalah tempat di mana kakak kandung Han Lie—Han Ling—berada.

"Menarik," gumam Han Feng. Tatapannya tertuju pada benda berkilauan yang dipegang oleh si wanita—sebuah kompas emas yang jarumnya berputar liar, menunjuk tepat ke arah gua tempat Beruang Tanah Lapis Baja tadi keluar.

Apakah beruang itu bukan hanya penghuni gua, melainkan penjaga sesuatu?

Insting keserakahan Han Feng bangkit. Jika orang-orang dari Sekte Pedang Langit jauh-jauh datang ke sini, pasti ada harta karun yang nilainya jauh melebihi Inti Binatang Tingkat 2.

"Harta karun alam tidak bertuan," batin Han Feng, tangannya perlahan meraba gagang Pedang Meteor Hitam di punggungnya. "Siapa yang kuat, dia yang dapat. Jika kalian ingin mengambil apa yang sudah kutandai... langkahi dulu mayatku."

Han Feng menyatu dengan bayangan, mengawasi mereka seperti serigala yang mengincar domba yang tersesat.

1
Roy Kkk
bagus/CoolGuy//CoolGuy/
King Salman
bagus
King Salman
go
ikyar
Terima kasih atas dukungannya
Sarndi Kurma
bagua tor ceritanya
Turki Salman
lanjutkan ceritanya tor
jamanku
lanjutkan tor
Raikuu 1
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!