NovelToon NovelToon
Dinikahi Duda Perjaka

Dinikahi Duda Perjaka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Cinta setelah menikah / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Amalia

Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamar Pengantin

“Gimana?”

“Belum, Pah.”

Terdengar decakan halus dari seberang sana. “Papa ngasih kamu waktu empat bulan untuk mengusut semuanya. Papa harap, sebelum waktu itu tiba, kamu sudah mengantongi nama-nama orangnya,” ucapnya.

“Iya, Pah.”

“Jangan lupa dengan perjodohan itu. Minggu ini, keluarga kita diundang untuk menghadiri acara ulang tahun pernikahan orang tuanya Keysa. Papa harap, kamu pulang dulu satu atau dua hari,” ucapnya.

“Rey gak bisa, Pah. Kalo Rey pulang, gimana dengan di sini?”

“Pulang satu atau dua hari gak jadi masalah,” ujarnya.

“Tetap gak bisa, Pah. Bukannya Papa ingin selesai dalam waktu kurang dari empat bulan?” tanyanya.

“I-iya … tapi …”

“Katakan saja, jika Rey sedang ke luar negeri jenguk Salsa.”

Helaan napas kembali terdengar dari sana. “Ya sudah kalo begitu. Nanti Papa akan kasih alasan itu.”

“Iya. Ya sudah, Rey tutup dulu teleponnya.”

***

Tepat pukul tujuh malam, Rey kembali datang ke rumah Zara.

Di sana sudah cukup sepi, keluarga Budi sudah pulang. Hanya tersisa Ibu Sofa, yakni Nenek-nya Zara.

“Kenapa baru datang?” tanya Sofa pada Reynan dengan ketus dan sinis.

“Iya, Maaf, Nek. Tadi ada urusan sedikit dan ketiduran juga,” jawab Reynan.

“So sibuk. Saya tahu kamu duda, saya juga tau kamu pengangguran. Itu tidak masalah bagi keluarga kami. Tapi tolong, jaga martabat dan harga diri keluarga ini,” ucapnya.

Reynan sedikit terkejut dengan ucapan Nenek dari istrinya itu. Tapi dengan sabar dan lembut, Reynan menganggukan kepalanya seraya berkata: “pasti, Nek.”

“Sana masuk. Zara ada di kamarnya,” kata Sofa.

“Maaf, Nek. Saya kurang tahu di mana letak kamarnya, takutnya saya malah salah masuk kamar,” ucap Reynan.

Sofa memanggil pelayan, ia menyuruhnya untuk mengantarkan Reynan ke kamar Zara.

Sesampainya di depan kamar Zara, Reynan mengetuk pintu yang sedikit terbuka.

“Masuk aja.” Begitu sahutan dari dalam yang Reynan dengar.

Tanpa mengetuk pintu, apalagi bicara, Reynan pun langsung masuk ke kamar itu dan—

“Aaaa … keluar! Keluar! Keluar, duda sialan.” Zara berteriak seraya melemparkan bantal, guling, selimut, dan boneka ke arah Reynan. Tidak lupa, tangan satunya menyilang di depan dada.

Sedangkan Reynan, dengan santai ia menangkap semua benda yang dilemparkan ke arahnya.

“Keluar!” teriak Zara lagi. Beruntung, kamar itu kedap suara, sehingga orang yang di luar kamar itu tidak akan mendengar apapun.

Reynan tidak marah. Justru dia ingin sekali menjahili wanita yang saat ini sudah sah menjadi istrinya.

Reynan tersenyum kecil, langkahnya perlahan mendekat pada Zara.

“Bagaimana? Malam ini mau mulai dari mana dulu?” tanya Reynan dengan wajah jahilnya.

“Diam. Siapa yang suruh anda masuk ke kamar saya?” tanyanya, dengan mata menatap tajam pada Reynan. Tangannya memegang erat tali bathrobe, supaya tidak terlepas.

“Kamu,” jawab Reynan santai, seraya menaruh semua benda yang ada di tangannya ke atas kasur.

“Jangan mengada-ngada. Kapan saya bicara seperti itu?” tanya Zara, kali ini kedua tangannya menyilang di depan dadanya.

“Tadi … saya ‘kan mengetuk pintu, kata kamu, masuk. Jadi … ya sudah, saya masuk,” ucapnya. Kali ini ia bicara seraya berjalan menuju sofa, tidak lupa ia mengambil satu bantal.

“Saya tahu kamu belum siap. Jadi … untuk malam ini, saya mengalah,” lanjutnya, seraya merebahkan tubuhnya di atas sofa.

Sofa itu tidak cukup untuk menampung tub uh-nya yang tinggi. Sebagian kakinya ia selonjorkan ke atas meja.

“Maaf jika saya tidak sopan. Sofa ini gak muat untuk saya,” sambungnya.

Zara masih dengan diamnya. Namun matanya cukup tajam menatap pada Reynan.

“Oh, ya … satu lagi. Kata kamu, saya itu duda. Jadi … jangan lupa berpakaian yang baik dan benar, supaya saya tidak khilaf. Apalagi saya … sudah lama tidak i—”

“Stop jangan dilanjutkan!” Zara memotong ucapan Reynan, ia pun segera mengambil pakaiannya dari lemari, lalu pergi ke kamar mandi untuk memakai baju.

Reynan terkekeh kecil seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah Zara.

“Maaf,” ucap Reynan lirih, wajahnya berubah sendu.

Sedikit banyaknya, Reynan merasa bersalah pada Zara.

***

“Dia udah tidur apa belum, ya?”

“Ish … kok jadi dinikahi Duda.”

“Argh … pokoknya harus tanya Ayah.”

Zara terus bergumam di kamar mandi, seraya berjalan bolak balik dengan gelisah.

“Ish … masa gue di sini terus,” lanjutnya lagi.

Dengan perlahan, Zara membuka pintu kamar mandi. Matanya menyipit melihat ke arah dimana Reynan berada.

“Dia tidur, atau pura-pura tidur?” gumamnya.

Melihat tidak ada pergerakan disana, Zara pun memutuskan untuk keluar dari kamar mandi.

Langkahnya pelan, tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

“Tidur beneran dia,” ucapnya. “Dasar duda pelor. Nempel molor,” lanjutnya dengan lirih.

“Selain kamu bilang saya duda, sekarang kamu bilang saya pelor?” Reynan berucap dengan mata terpejam.

Meski Zara bicara lirih, tapi Reynan mendengarnya.

“Eh.” Zara mengusap lehernya sampingnya, wajahnya pun memerah. Ia merasa malu. 

Namun sedetik kemudian, Zara berhem kecil, wajahnya berubah menjadi datar kembali.

“Kirain udah tidur,” ucapnya.

“Kalo saya tidur, entah ucapan apalagi yang akan keluar dari mulutmu tentang saya.” Reynan bicara masih dengan mata terpejamnya.

Zara membulatkan mata sebentar. Setelah itu, ia keluar dari kamar tanpa memperdulikan suaminya.

“Ayah …” Zara memanggil Budi. Di mana keluarganya itu berada di ruang keluarga.

“Suamimu mana?” tanya Budi.

“T-tidur, Yah.” Zara bicara sedikit terbata.

“Apa dia udah makan?” Kali ini Lia yang bertanya.

Zara nyengir kuda. “Gak tau, Bu.” Zara bicara seraya menggaruk kepalanya.

“Ckk. Kamu ini,” kata Budi.

“Em- Yah, Zara kesini mau tanya soal…”

“Soal Reynan?” Potong Budi.

“I-iya, itu.”

“Nanti akan Ayah ceritain. Sekarang, panggil suamimu untuk makan malam dulu,” ujarnya.

Helaan napas kecil keluar dari mulut Zara. “Kalo dia lapar, nanti juga makan, Yah.” Zara masih malu untuk bertemu suaminya itu.

“Ckk. Dia pasti malu, Zara. Ini bukan rumah dia,” kata Lia.

“Ish … Ibu aja sana yang bangunin,” kata Zara.

“Qistina Zara …” Budi memanggil sang anak dengan nama panjangnya, dimana jika seperti itu, menandakan jika perintahnya harus segera dilaksanakan.

“Iya, Ayah …” Dengan bibir manyun, Zara kembali melangkahkan kakinya menuju kamar.

Saat membuka pintu, Zara tidak langsung masuk. Tapi ia kembali mengintip pergerakan Reynan di dalam sana.

“Dia tidur, atau pura-pura tidur lagi,” gumam Zara.

Tidak banyak berpikir, Zara pun masuk. “Bangun, makan malam dulu.” Zara mencolek lengan Reynan.

“Ckk. Kebo juga,” gumamnya. “Bangun.” Kali ini Zara mencolek pinggang Reynan, hingga Reynan terkejut dan reflek memegang tangan Zara, dan itu membuat tubuh Zara terhuyung ke depan.

“Duda, pelor, lalu kebo. Nanti apa lagi?” Reynan kembali bicara dengan mata terpejam. Namun tangannya masih memegang pergelangan tangan Zara.

“Alamak, wangi kali,” batin Zara. “Haish … apa sih gue.” Zara kembali membatin.

“Ckk. Lepas. Kata Ayah makan malam dulu,” ucap Zara, seraya melepaskan tangannya dari genggaman Reynan. 

Tetapi susah sekali.

Reynan membuka matanya, ia juga melepaskan tangan Zara dari genggamannya. “Ayo, saya udah lapar dari tadi. Makanya saya gak bisa tidur,” ujarnya seraya beranjak dari tidurnya.

Zara dibuat melongo dengan tingkah duda didepannya itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!