Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kesabaran ,dan rencana
Kirana bergegas ke dapur, menyeduh kopi hitam pekat untuk Bu Widya,tepat seperti yang selalu diminta: tanpa gula, pahit seperti sikapnya.
Tangannya masih gemetar, tapi ia menahan napas, memaksa diri untuk tidak menangis lagi. Air mata tak akan mengembalikan uang itu. Air mata tak akan membuat Aris berhenti berbohong. Air mata hanya membuatnya terlihat lemah,dan lemah adalah satu-satunya hal yang tak boleh ia tunjukkan di rumah ini.
Saat ia menyerahkan cangkir itu, Bu Widya bahkan tak menoleh. Matanya sibuk menatap layar ponsel, jari-jarinya menggesek-gesek dengan cepat. Namun, begitu Kirana hendak pergi, suara itu datang,tajam, menghakimi, dan penuh sandiwara.
“Eh, jangan kabur dulu! Kamu pikir ibu ini cuma hiasan? Duduk!”
Kirana menuruti. Ia duduk di ujung kursi, punggung tegak, napas tertahan.
"Kamu itu sebagai istri jangan terlalu banyak menuntut ,kamu sebagai istri harus bisa mengatur keuangan ,jangan boros ,suami kerja itu capek ,jadi kamu jangan seenaknya saja ." ucap ibu mertuanya dengan nada sinis , seolah - olah sedang menasehati ,padahal itu hanya untuk menjatuhkannya .Kirana hanya diam ,didalam hatinya sudah penuh ,dia masih berusaha sabar ,sampai nanti batas kesabarannya habis ,dia saat ini masih akan berusaha menjadi istri yang baik demi putra semata wayangnya .
“Tahu nggak, Aris itu baik banget sama kamu,” kata Bu Widya sambil menatapnya dengan pandangan seolah sedang memberi amal. “Lima ratus ribu sebulan! Itu uang banyak, lho! Di kampung sana, cukup buat hidup mewah. Tapi kamu? Masih aja kelihatan,dekil , kurus, rumah berantakan,dan anak kayak nggak makan. Emang beneran nggak bisa ngatur atau pura-pura doang?”
Kirana menunduk. Ia tahu ini bukan pertanyaan. Ini hukuman.di salam hatinya ia berkata : (" Bagaimana mau merawat diri ,untuk makan sehari hari saja kurang ,dan untuk menghemat ,aku sering puasa .")
“Uang itu buat makan sebulan, Bu…” jawabnya pelan,dengan rasa penuh didalam dada
“Ya iyalah buat makan! Tapi kamu boros! Aku tahu, perempuan kampung kaya kamu itu suka belanja receh,baju murah, jajanan, pulsa,nggak mikir ke depan. Kalau aku yang pegang, semua rapi. Tapi Aris ngotot kasih ke kamu. Padahal, dia sudah kasih lebih dari cukup!”
Kalimat terakhir itu diucapkan seolah Aris adalah pahlawan dermawan, bukan suami yang diam-diam mengirim transferan jutaan rupiah ke wanita lain.
Belum selesai di situ, Aris muncul dari kamar mandi, handuk melingkar di lehernya. Ia duduk di samping ibunya, mata masih setengah terpejam karena baru bangun.
“Ngomongin apa, Bu?” tanyanya sambil mengambil koran.
“Ngomongin istrimu yang nggak bisa hargai nafkah. Lima ratus ribu, yang kamu beri ! Itu uang banyak. Tapi lihat dia,masih kelihatan kayak orang susah.”
Aris mendengus. “Ya iyalah. Aku aja nggak ngerti, dulu kenapa sampe nikah sama dia. Sekarang harus tanggung terus.”
Kirana menahan napas. Tubuhnya kaku. Kalimat itu bukan baru,ia sudah mendengarnya berkali-kali, tapi kali ini terasa lebih menusuk karena ia tahu Aris berbohong. Ia tahu ia bukan beban. Ia tahu justru dialah yang menanggung,dengan diam, dengan kerja keras, dengan air mata yang disembunyikan.
“Kalau kamu nggak suka, tinggal cerai aja,” kata Bu Widya sambil tertawa kecil, seolah itu lelucon biasa. “Tapi jangan lupa, anaknya tetap di sini. Anak nggak boleh ikut ibu yang nggak bisa jaga diri.”
Kirana menggigit bibir dalam-dalam. Gio. Anaknya yang baru saja mulai bisa mengucap “Mama” dengan suara lirih. Ia tak bisa kehilangan Gio.
“Nggak usah cerai,” kata Aris sambil mengunyah roti.“Dia masih berguna. Masak, bersih-bersih, urus anak. Yang penting nurut. Tapi kalau mulai rewel, baru kita pertimbangkan.”
Mereka berbicara seolah Kirana bukan manusia,hanya benda yang bisa dipakai, dikritik, lalu dibuang. Dan selalu, selalu, mereka kembali pada angka itu: (lima ratus ribu)
Seolah itu hadiah surgawi. Seolah itu cukup untuk hidup di kota besar. Seolah Kirana tidak tahu harga beras, susu, listrik, dan air bersih. Seolah ia tidak tahu betapa sulitnya mencari tambahan uang sambil berpura-pura tidak capek, tidak lapar, dan tidak sedih.
----
Beberapa hari kemudian, Aris membawa teman kantornya makan siang di rumah—entah untuk pamer atau sekadar cari tempat,gratis. Kirana dipaksa memasak nasi, ayam goreng, sambal, dan es jeruk,semua dengan uangnya sendiri, tentu saja.
Saat makan, salah satu temannya berkata, “Mas Aris memang dermawan ya. Sudah kasih nafkah lima ratus ribu per bulan, masih mau ajak makan bareng lagi.”
Aris tersenyum bangga. “Ya, aku emang nggak pelit,Asal istri nurut, aku kasih cukup.”
Kirana, yang sedang menggoreng tempe di dapur, hampir menjatuhkan wajan. *Cukup?* Ia baru saja menghabiskan tiga hari upahnya sebagai buruh pasar hanya untuk beli ayam itu. Dan sekarang, mereka bicara seolah ini kemurahan hati luar biasa.
Sore harinya, setelah tamu pergi, Aris marah-marah lagi.
“Kok piring nggak langsung dicuci? Kamu pikir tamuku datang buat lihat dapur kotor? Dan kenapa ayamnya kurang gurih? Aku bayar lima ratus ribu, bukan buat masakan ala warung kaki lima!”
Kirana hanya mengangguk, mencuci piring sambil menahan isak. Di benaknya, ia membayangkan wajah Gio yang sedang tertawa pagi tadi,itu satu-satunya alasan ia masih bertahan.
Namun, tekadnya semakin mengeras. Ia diam bukan karena takut. Ia diam karena sedang menabung,bukan hanya uang, tapi bukti, keberanian dan rencana.
Malam itu, saat semua tidur, Kirana kembali membuka buku catatannya. Di samping kolom pengeluaran, ia menambahkan satu baris baru:
#“Hari ke-5: Aris transfer Rp2.500.000 ke seseorang ,dan Aku lihat dari notifikasi. Sedangkan uangku buat susu Gio. Uangnya buat tas wanita lain.”#
Di bawahnya, ia tulis dengan tinta merah:
#" Aku akan kerja keras . Aku akan bawa Gio pergi dari sini. Dan suatu hari, aku akan berdiri di depan mereka,bukan sebagai pembantu, tapi sebagai perempuan yang mereka tak pernah layani.
Kirana melihat kearah Aris yang sedang tidur dengan lelapnya di atas ranjang ,sedangkan ia dan gio anaknya tidur dibawah ,dengan beralaskan tikar lantai yang tipis ,Karena Aris tidak mau seranjang dengannya ,kecuali saat Aris membutuhkan Kirana untuk melayaninya ,Terkadang Kirana merasa ia hanya sebagai alat pemuas nafsunya saja .
"Aku harus berjuang ,aku harus bekerja keras untuk bisa lepas dari ini semua ." Gumamnya ,
Kirana akan terus bekerja keras ,ia tidak mau mengandalkan uang lima ratus ribu pemberian Aris ,
Karena baginya lima ratus ribu bukan kemurahan hati. Itu penghinaan yang dibungkus kata “nafkah”. Dan Kirana,perempuan yang mereka anggap lemah,akan membuktikan bahwa harga dirinya tak diukur dari uang suami, tapi dari keberaniannya bangkit.
Dan kali ini, ia tak akan lagi menangis Ia akan menulis rencananya dengan tinta yang tak bisa dihapus.