NovelToon NovelToon
The Replacement Bride

The Replacement Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Pengantin Pengganti / Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rafa Fitriaa

Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.

Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.

Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan Tanpa Suara

Pagi itu, langit Jakarta seolah turut berduka. Mendung menggantung rendah, menyelimuti kota dengan warna abu-abu yang suram, seirama dengan suasana hati Shabiya yang mati rasa. Di dalam kamarnya yang kini terasa seperti sel transit, sebuah kotak kayu besar bertatahkan beludru hitam telah menunggu. Di dalamnya terdapat gaun pengantin yang dikirimkan oleh Arsen atas perintah Galen.

Shabiya menyentuh kain sutra putih itu dengan ujung jari yang gemetar. Gaun itu indah, namun desainnya terasa... kuno. Model vintage dengan kerah tinggi berenda dan lengan panjang yang ketat, mengingatkan pada gaya dekade silam. Saat Shabiya memakainya, ia merasa sedang memakai kulit orang lain. Gaun itu tidak mencerminkan seleranya yang modern dan simpel. Gaun itu terlalu besar di bagian pinggang namun sangat pas di bagian dada, seolah-olah dibuat untuk tubuh wanita lain yang ukurannya hampir serupa, namun tidak identik dengannya.

"Nona, mobil sudah siap," suara dingin Arsen terdengar dari balik pintu.

Shabiya menatap cermin. Wajahnya pucat, matanya yang biasa berbinar kini tampak seperti sumur tua yang kering. Misha dan Chana, sahabatnya, tidak diperbolehkan masuk. Galen telah memutus semua akses komunikasinya. Hari ini, ia akan berjalan menuju altar bukan sebagai pengantin yang bahagia, melainkan sebagai tumbal bagi sebuah obsesi yang ia sendiri belum pahami sepenuhnya.

Pernikahan itu tidak dilangsungkan di gedung mewah dengan ribuan undangan. Galen memilih sebuah kapel tua pribadi di pinggiran kota yang dikelilingi oleh tembok tinggi dan penjagaan bersenjata. Tidak ada bunga warna-warni, yang ada hanyalah mawar putih yang kelopak-kelopaknya mulai layu dan lilin-lilin tinggi yang aromanya mengingatkan Shabiya pada upacara pemakaman.

Hanya ada segelintir orang. Bramasta Cantara duduk di barisan depan dengan bahu merosot, tidak berani menatap mata putrinya. Di sisi lain, berdiri Elfahreza yang menatap prosesi itu dengan senyum miring yang menghina, dan Rigel, kerabat dari pihak pria yang tampak gelisah, sesekali menghela napas panjang.

Saat pintu kapel terbuka, Shabiya berjalan perlahan. Di ujung sana, Galen berdiri tegap. Pria itu mengenakan setelan tuksedo hitam yang sangat formal. Saat mata mereka bertemu, Galen tidak tersenyum. Ia menatap Shabiya dengan intensitas yang mengerikan, seolah-olah sedang memeriksa apakah "barang" yang ia beli sudah sesuai dengan pesanan.

Prosesi berlangsung cepat dan dingin. Suara pendeta terdengar seperti dengung lalat di telinga Shabiya. Ketika tiba saatnya bagi Galen untuk mengucapkan janji, suaranya terdengar berat, mantap, dan tanpa keraguan. Namun, Shabiya menyadari sesuatu yang menyakitkan, Galen tidak menatap matanya saat mengucap janji, melainkan menatap kerah gaunnya yang tinggi.

"Saya menerima kamu..."

Kalimat itu dijatuhkan seperti palu hakim. Shabiya merasa ada sesuatu yang patah di dalam dadanya. Saat tiba gilirannya, suaranya nyaris tidak terdengar, hanya bisikan parau yang dipaksakan keluar demi keselamatan ayahnya.

Setelah cincin disematkan, pria itu mendekat untuk mencium keningnya. Bibir Galen terasa dingin seperti es. Dan di saat yang sama, Galen membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Shabiya.

"Kau terlihat sempurna hari ini, Thana."

Darah Shabiya berdesir hebat. Ia tersentak, mencoba menarik diri, namun tangan Galen mencengkeram pinggangnya dengan kuat, memaksanya untuk tetap berdiri tegak demi kepentingan foto formal yang sedang diambil oleh fotografer pribadi mereka.

"Namaku Shabiya," desis Shabiya dengan bibir yang gemetar.

Galen hanya menatapnya sekilas, lalu melepaskan pegangannya dengan acuh tak acuh. "Namamu adalah apa pun yang aku katakan, Sayang."

Mansion Gemilar.

Resepsi hanya berlangsung satu jam lalu dilanjut sebuah makan malam privat yang lebih mirip dengan rapat bisnis yang tegang. Setelah itu, Shabiya langsung dibawa menuju kediaman utama Galen, sebuah mansion modern yang terletak di puncak bukit terpencil.

Kendaraan mewah itu melewati gerbang besi raksasa yang terbuka secara otomatis, lalu menyusuri jalan setapak yang diapit oleh pohon-pohon pinus yang gelap. Mansion itu seperti mahakarya arsitektur beton dan kaca, namun tidak memiliki jiwa. Lampu-lampu kuning temaram menyinari dinding-dinding abu-abu, menciptakan bayangan yang panjang dan menakutkan.

"Selamat datang di rumahmu, Shabiya," ucap Galen saat mereka memasuki aula utama.

Lantai marmer hitam itu mengkilap hingga Shabiya bisa melihat pantulan wajahnya yang ketakutan di sana. Di tengah aula, tergantung sebuah lukisan raksasa yang tertutup kain hitam. Shabiya merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan kain itu, namun ia terlalu lelah untuk bertanya.

"Arsen akan menunjukkan kamarmu," kata Galen tanpa menoleh padanya. Ia melepaskan jasnya dan menyerahkannya pada pelayan yang menunggu. "Aku punya pekerjaan di ruang bawah tanah. Jangan keluar dari kamarmu sebelum aku memanggilmu."

Arsen membimbing Shabiya menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Sepanjang koridor, Shabiya tidak melihat satu pun foto keluarga atau hiasan yang menunjukkan kehangatan. Semua tampak minimalis, dingin, dan steril.

Saat pintu kamar dibuka, Shabiya terpaku. Kamar itu sangat luas, dengan jendela setinggi langit-langit yang menghadap ke arah hutan. Namun, dekorasinya sangat spesifik. Semuanya berwarna pastel lembut dengan sentuhan klasik, kontras sekali dengan gaya modern rumah tersebut. Di meja rias, telah tertata rapi berbagai macam botol parfum dengan merek yang sama, alat rias, dan sisir perak.

"Tuan Galen meminta semua barang ini disiapkan khusus untuk Anda," ujar Arsen datar.

Shabiya berjalan menuju meja rias dan mengambil salah satu botol parfum. Ia menyemprotkannya sedikit ke udara. Aroma melati yang sangat kuat dan tajam menusuk hidungnya. Ia membencinya. Ia lebih suka aroma vanila atau citrus yang segar.

"Ini bukan parfumku," gumam Shabiya.

"Itu adalah parfum yang disukai Tuan, Nona. Dan di rumah ini, selera Tuan adalah hukum," balas Arsen sebelum membungkuk pamit dan menutup pintu, menguncinya dari luar.

Shabiya terduduk di pinggir tempat tidur yang luas. Sprei sutranya terasa licin di kulitnya. Keheningan di rumah itu begitu pekat hingga ia bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri. Tidak ada suara televisi, tidak ada suara tawa, bahkan suara angin di luar pun seolah tidak berani masuk.

Ia mencoba membuka jendela, namun jendela itu terkunci dan kacanya adalah kaca anti peluru. Ia benar-benar terperangkap. Ia menatap gaun pengantinnya yang masih melekat di tubuhnya, gaun milik seseorang, parfum milik seseorang, dan kini ia berada di rumah yang didedikasikan untuk seseorang yang tidak ia kenal sama sekali.

Pikiran Shabiya di penuhi dengan berbagai kemungkinan, bahkan ketika ia sudah mengganti gaun pengantinnya dan bersiap tidur, pikirannya masih tidak bisa berhenti memikirkan seseorang itu.

Pada tengah malam, pintu kamar terbuka. Galen masuk dengan langkah yang sedikit tidak stabil. Aroma alkohol menyeruak dari pakaiannya yang kini berantakan. Ia tidak menyalakan lampu utama, hanya lampu tidur kecil di sudut ruangan yang membiarkan sebagian besar kamar tetap dalam kegelapan.

Shabiya langsung terbangun ketika mendengar suara pintu terbuka, wanita itu bangkit dengan waspada, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Galen?"

Pria itu berdiri di depan tempat tidur, menatap Shabiya dalam remang. Matanya tampak merah dan penuh penderitaan, namun juga penuh dengan gairah yang salah arah. Galen merangkak naik ke tempat tidur, mendekati Shabiya yang terus mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang.

Galen meraih helai rambut Shabiya, mengendusnya dalam-dalam. "Melati..." bisiknya dengan suara serak. "Aku merindukan aroma ini."

"Galen, hentikan. Aku bukan siapa pun yang kau pikirkan," Shabiya mencoba mendorong dada Galen, namun pria itu sekuat dinding batu.

"Diam," perintah Galen, suaranya tiba-tiba menjadi sangat dingin. "Jangan bicara. Jika kau diam, kau terlihat persis seperti dia. Jika kau bicara, kau merusak segalanya."

Tangan Galen mulai menelusuri leher Shabiya, membelai garis rahangnya dengan ibu jari. Shabiya memejamkan mata, air mata mengalir di pipinya. Ia merasa seperti sebuah objek, sebuah manekin yang sedang didandani oleh seorang kolektor gila.

Malam itu, tidak ada percakapan. Tidak ada kelembutan yang tulus. Di dalam kegelapan mansion yang membeku, Shabiya menyadari satu kenyataan pahit, Galen tidak menikahinya untuk menjadikannya seorang istri. Galen menikahinya untuk membangun sebuah monumen hidup bagi seseorang di masa lalu nya, mungkin.

Di bawah kendali sang pemilik megelapan, Shabiya Sena Cantara telah resmi menghilang. Yang tersisa hanyalah sebuah bayang-bayang yang dipaksa hidup di dalam sangkar emas yang sunyi, di mana setiap napasnya harus sesuai dengan ritme masa lalu suaminya.

Pernikahan itu memang tanpa suara, karena di mata Galen, suara Shabiya adalah gangguan bagi kesunyian ruang yang ia bangun di dalam hatinya.

1
Kustri
lha kan bener...itu penyakit
💪ya thor, karyamu bagus, smoga byk yg mampir
Kustri
poor shabiya😭
Kustri
qu koq benci yo ama galen, obsesi sm egois selangit
👊nggo galen🤭
Kustri
penasaran gmn cara sabyan melawan galen💪
Kustri
punya penyakit apa itu si galen, aneh☹️😤
Kustri
eh, apa ada di dunia nyata ya sifat egois ky galen
Kustri
nama'a susah diingat, ingat nama panggilan aja
baru mulai... ky'a seru
Silfanti Ike puspita
:
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!