NovelToon NovelToon
Penghianatan Tak Termaafkan

Penghianatan Tak Termaafkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Selingkuh / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."

​Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.

​Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.

​Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.

Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.

By: Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 3

Sudah tiga hari sejak makan malam di Senopati yang penuh ketegangan itu, dan ponsel Kirana tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan dari Arka Mahendra. Tidak ada mawar merah yang datang memenuhi kantornya, tidak ada pesan singkat yang mengganggu jam kerjanya, bahkan tidak ada telepon sekadar untuk menanyakan progres draf proyek Bali yang malam itu diklaim Arka sebagai hal yang 'sangat mendesak'.

Kirana duduk di meja kantornya, menatap layar monitor yang menampilkan grafik desain perhiasan dengan detail 3D yang rumit. Namun, fokusnya terpecah. Ia benci mengakui ini, tapi ada bagian kecil dari dirinya - sebuah ego yang selama ini ia jaga dengan ketat -merasa terusik oleh keheningan ini.

Bukan karena ia merindukan kehadiran Arka, tentu saja tidak. Kirana terlalu logis untuk itu. Namun, ia terbiasa dengan ritme kerja yang pasti, dan Arka Mahendra adalah sebuah variabel ketidakpastian yang sangat menjengkelkan.

"Maya," panggil Kirana melalui interkom, suaranya sedikit lebih tajam dari biasanya.

"Iya, Bu?" suara Maya terdengar segera.

"Apa ada kabar dari pihak Mahendra Group mengenai draf yang kita kirim Senin kemarin? Saya tidak suka membiarkan draf menganggur lebih dari empat puluh delapan jam tanpa umpan balik."

"Belum ada, Bu. Saya sudah mencoba menghubungi sekretaris Pak Arka dua kali sejak pagi tadi, tapi jawabannya selalu sama. Katanya Pak Arka sedang sangat sibuk dengan proyek internal dewan komisaris. Beliau... sangat sulit diganggu, Bu."

Kirana menyandarkan punggungnya ke kursi kerja ergonomisnya. Matanya menatap langit-langit kantor yang putih bersih. Sibuk? batinnya skeptis. Pria yang malam itu terlihat begitu santai, yang memiliki waktu untuk memesankan anggur terbaik dan mencoba merayunya dengan kata-kata manis, tiba-tiba menghilang ditelan bumi tepat saat urusan bisnis dimulai?

"Baiklah, abaikan saja. Jangan hubungi mereka lagi. Kita fokus pada klien lain. Saya tidak ingin Kencana Jewelry terlihat seperti peminta-minta," ucap Kirana tegas, mencoba mengusir bayangan Arka dari kepalanya.

Namun, itulah masalahnya dengan strategi Arka. Di dunia psikologi manipulasi yang gelap, ini disebut Ghosting Strategy. Beri perhatian penuh hingga subjek merasa menjadi pusat semesta, buat mereka merasa penting dan diinginkan, lalu tarik semua perhatian itu secara tiba-tiba tanpa penjelasan.

Tujuannya hanya satu - menciptakan kekosongan, rasa kehilangan, dan rasa ingin tahu yang obsesif. Dan Kirana, meski memiliki kecerdasan di atas rata-rata, tetaplah manusia yang memiliki naluri dasar untuk mencari jawaban atas ketidakpastian.

Di tempat lain, di sebuah pusat kebugaran eksklusif yang hanya dihuni oleh para elit kota, Arka sedang melakukan bench press dengan beban yang cukup untuk membuat otot-otot lengannya menegang keras hingga urat-uratnya menonjol. Keringat membanjiri kaos dry-fit hitam yang ia kenakan, mencetak bentuk tubuhnya yang atletis.

Dion duduk di bangku sebelah sambil memainkan ponselnya, tampak bosan dengan rutinitas Arka. "Sudah hari ketiga, Arka. Kau benar-benar tidak menghubunginya? Kau tidak takut dia malah melupakanmu dan kembali fokus pada dunianya yang membosankan itu? Wanita seperti dia punya seribu kesibukan untuk mengalihkan pikiran."

Arka meletakkan beban dengan bunyi dentuman besi yang berat dan keras, menggema di ruangan yang sepi itu. Ia mengambil handuk putih dan menyeka wajahnya yang basah. Napasnya teratur, menunjukkan stamina yang luar biasa.

"Justru itu poinnya, Dion. Wanita seperti Kirana terbiasa dikejar secara agresif. Pria-pria di sekitarnya pasti menjilat kakinya setiap hari hanya untuk mendapatkan senyuman tipis. Jika aku melakukan hal yang sama - mengirim bunga setiap pagi atau meneleponnya setiap malam - aku hanya akan menjadi salah satu dari seribu lalat yang ia tepuk dengan bosan."

"Jadi kau memilih menghilang?"

"Aku harus menjadi anomali," Arka menyeringai, matanya berkilat penuh rencana. "Aku memberinya makan malam yang sempurna, menunjukkan sisi intelektualku, lalu aku menghilang tanpa jejak. Sekarang, di tengah rapat-rapatnya yang membosankan, dia pasti sedang menatap ponselnya. Dia bertanya-tanya apakah dia melakukan kesalahan, atau apakah aku benar-benar sesibuk itu. Aku sedang membangun sebuah ruang di kepalanya, Dion. Aku ingin dia memikirkanku tanpa aku harus berada di sana."

Dion bersiul panjang, merasa ngeri sekaligus kagum. "Kau benar-benar iblis dalam urusan ini. Tapi ingat, proyek Bali itu bukan hanya soal taruhan mobil sport-mu. Ayahmu benar-benar ingin data vendor rahasia Kencana Jewelry untuk menghancurkan monopoli mereka. Jika kau terlalu lama bermain kucing-kucingan dan proyek ini lepas, Ayahmu bisa murka."

Arka mengambil botol air mineralnya, meminumnya hingga separuh. "Tenang saja. Besok adalah hari di mana aku akan memunculkan diri. Tapi bukan aku yang akan mencarinya. Dia yang akan mencariku. Aku akan membuat situasi di mana dia merasa bahwa dialah yang membutuhkan dukunganku."

Hari Kamis tiba dengan cuaca Jakarta yang panas menyengat. Kirana sedang berada di lobi gedung kantornya, hendak berangkat menuju sebuah pertemuan penting di kawasan Mega Kuningan. Saat ia menunggu mobil jemputannya tiba, ia melihat kerumunan kecil di depan pintu masuk gedung utama.

Beberapa wartawan bisnis dan fotografer tampak sedang mengerubungi seseorang. Di tengah kerumunan itu, berdirilah Arka Mahendra. Ia tampil sangat karismatik dengan setelan jas abu-abu tanpa dasi, kancing kerah atasnya terbuka, memberikan kesan casual-professional yang sangat memikat.

"Pak Arka, bagaimana kelanjutan kerja sama Mahendra Group dengan industri perhiasan lokal untuk proyek hotel Bali Anda?" tanya salah satu wartawan sambil menyodorkan mikrofon.

Arka tersenyum ramah, tipe senyum yang tampak sangat tulus dan hangat di depan kamera, namun Kirana tahu itu hanyalah topeng.

"Kami sedang mencari mitra yang tidak hanya kompeten secara teknis, tapi juga memiliki integritas dan visi yang sama dengan Mahendra Group. Saat ini kami masih dalam tahap seleksi yang sangat ketat. Kami tidak ingin terburu-buru menjatuhkan pilihan."

Kirana terpaku di tempatnya berdiri, tangannya mencengkeram tas kulitnya lebih erat. Tahap seleksi ketat? Bukankah malam itu di Senopati, Arka mengatakan dengan sangat jelas bahwa Kirana adalah satu-satunya pilihan yang ia inginkan?

Saat Arka hendak masuk ke mobil Bentley-nya, matanya secara tidak sengaja atau mungkin sengaja, bertemu dengan mata Kirana yang berdiri hanya beberapa meter darinya. Arka tidak mendekat. Ia tidak tersenyum menggoda.

Ia hanya memberikan anggukan sopan, sangat singkat dan formal, seolah-olah Kirana hanyalah kenalan bisnis biasa yang tidak terlalu penting untuk disapa secara khusus. Kemudian, ia masuk ke mobilnya dan melesat pergi meninggalkan kepulan asap tipis.

Dada Kirana bergejolak. Ada rasa tersinggung yang luar biasa bercampur dengan amarah yang tertahan. Ia merasa dipermainkan secara publik. Malam itu di restoran, Arka memperlakukannya seolah-olah ia adalah pusat dunianya, tapi hari ini, pria itu bahkan tidak menyapa namanya di depan publik.

Malam harinya, ketenangan apartemen Kirana tidak mampu menenangkan pikirannya. Ia tidak bisa tidur. Ia duduk di balkon, membiarkan angin malam menerpa wajahnya. Ia merasa marah pada dirinya sendiri karena merasa begitu terganggu oleh sikap seorang pria seperti Arka.

"Kenapa aku peduli?" tanyanya pada kegelapan. "Dia hanya klien potensial. Jika dia memilih perusahaan lain, itu hak bisnisnya."

Tapi ego Kirana sebagai manajer papan atas yang tidak pernah gagal telah terluka. Ia merasa seolah-olah kompetensinya sedang diragukan. Ia merasa Arka sengaja menggantung nasib kontrak perusahaannya. Tanpa sadar, ia mengambil ponselnya. Nama 'Arka Mahendra' terpampang di sana. Jari-jarinya ragu, bergetar di atas layar.

*Jangan, Kirana. Jangan jatuh dalam permainannya*, bisik akal sehatnya yang dingin.

Namun, egonya berteriak lebih keras. Ia butuh kepastian. Ia benci perasaan tidak menentu ini. Akhirnya, dengan napas tertahan, ia mengetik sebuah pesan singkat.

"*Pak Arka, mengenai draf proyek Bali, apakah ada bagian spesifik yang perlu direvisi? Mengingat pernyataan Anda di media tadi siang tentang seleksi ketat, saya ingin memastikan posisi Kencana Jewelry dalam rencana Anda agar kami tidak membuang waktu satu sama lain*."

Pesan terkirim. Satu menit berlalu. Lima menit. Sepuluh menit. Centang biru muncul, tanda pesan telah dibaca, tapi tidak ada balasan.

Kirana melempar ponselnya ke tempat tidur dengan kasar. "Brengsek," umpatnya lirih. Ia merasa seperti pecundang yang baru saja memberikan apa yang diinginkan oleh lawannya - perhatian.

Satu jam kemudian, saat Kirana sudah nyaris terlelap dalam kegelisahan, ponselnya bergetar di atas nakas. Sebuah panggilan masuk. Dari Arka.

Kirana menarik napas sedalam mungkin, mengatur suaranya agar terdengar sedatar mungkin sebelum mengangkatnya. "Halo?"

"*Maaf baru menghubungi, Kirana. Saya baru saja keluar dari rapat dewan komisaris yang sangat melelahkan," suara Arka terdengar berat dan sedikit serak, memberikan kesan bahwa ia benar-benar baru saja bekerja keras untuk perusahaan. "Soal draf itu... jujur saja, ada beberapa poin krusial yang tidak bisa saya bahas lewat telepon atau email. Terlalu sensitif*."

"Kapan Anda ada waktu untuk membahasnya di kantor saya? Saya bisa mengosongkan jadwal besok pagi," tanya Kirana, kembali ke mode formal.

"*Kantor bukan tempat yang tepat untuk pembicaraan ini, Kirana. Besok malam, Mahendra Group mengadakan acara lelang amal tertutup di sebuah galeri seni di Menteng. Hanya untuk kalangan terbatas. Saya ingin Anda datang sebagai tamu pribadi saya. Saya akan memperkenalkan Anda secara langsung pada Ayah saya, Surya Mahendra. Jika beliau setuju dengan visi Anda, kontrak itu akan ditandatangani malam itu juga tanpa seleksi lagi*."

Kirana terdiam. Bertemu dengan Surya Mahendra - sang legenda bisnis yang dikenal kejam - adalah langkah besar. Ini bukan lagi soal rayuan di meja makan, ini soal masa depan karier dan stabilitas perusahaannya.

"Jam berapa?" tanya Kirana akhirnya, mengalah pada keadaan.

"Jam tujuh. Saya akan mengirimkan mobil untuk menjemput Anda. Dan Kirana..." Arka menjeda kalimatnya, suaranya merendah menjadi lebih intim dan penuh penekanan. "Pakai gaun yang paling membuatmu merasa berkuasa. Karena besok, kau tidak akan masuk ke ruang rapat. Kau akan masuk ke sarang singa."

Keesokan malamnya, sebuah sedan mewah berwarna hitam legam menjemput Kirana tepat waktu. Ia telah bersiap dengan segalanya. Ia mengenakan gaun emerald green berbahan sutra berat yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna.

Potongan lehernya rendah namun elegan, dengan belahan setinggi paha yang memperlihatkan kakinya yang jenjang saat melangkah. Ia membiarkan rambut hitamnya tergerai dengan gelombang besar yang jatuh sempurna di bahunya. Ia tampak seperti seorang ratu yang siap berperang.

Sesampainya di galeri seni tersebut, suasana terasa sangat berbeda dengan pesta gala sebelumnya. Ini lebih sunyi, lebih eksklusif, dan penuh dengan aura kekuasaan yang pekat. Orang-orang di sini adalah mereka yang wajahnya sering menghiasi tajuk utama majalah ekonomi dunia.

Arka sudah menunggu di depan pintu masuk galeri yang megah. Saat melihat Kirana turun dari mobil, mata Arka tidak bisa menyembunyikan keterpukauan yang mendalam. Kali ini, ia tidak menggunakan taktik ghosting. Ia berjalan cepat mendekati Kirana, matanya menyapu penampilan wanita itu dari atas ke bawah.

"Kau terlihat... sangat berbahaya malam ini," bisik Arka saat ia berdiri tepat di hadapan Kirana.

"Saya di sini untuk bisnis, Pak Arka. Bukan untuk menjadi bahaya bagi siapa pun," balas Kirana dingin, meski dalam hati ia merasakan debaran gugup yang asing saat melihat tatapan Arka yang begitu intens.

Arka menawarkan lengannya untuk digandeng. Kirana ragu sejenak, namun demi formalitas dalam acara sekelas ini, ia meletakkan tangannya di lengan Arka. Mereka berjalan masuk bersama, menjadi pusat perhatian seketika. Pasangan yang sempurna secara visual, namun penuh dengan niat terselubung.

"Itu Ayahku," Arka memberi isyarat dengan matanya ke arah seorang pria tua berambut perak yang berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh beberapa ajudan berpakaian safari. "Surya Mahendra. Dia tidak suka basa-basi, dia benci kelemahan dalam bentuk apa pun, dan dia sangat menghargai data yang akurat."

Arka membawa Kirana mendekat ke lingkaran kekuasaan itu. "Ayah, perkenalkan, ini Kirana. Manajer Pemasaran dari Kencana Jewelry yang aku ceritakan beberapa hari lalu."

Surya Mahendra menghentikan pembicaraannya dengan seorang kolega. Ia menatap Kirana dengan tatapan yang sangat menghakimi, seolah-olah ia sedang memindai keaslian sebuah berlian. "Jadi, ini wanita yang membuat putraku bersikeras untuk mempertimbangkan ulang vendor perhiasan kami?"

Kirana tidak menunduk. Ia justru menjabat tangan Surya dengan mantap, genggaman yang kuat dan penuh percaya diri. "Saya bukan hanya wanita, Pak Surya. Saya adalah solusi bagi efisiensi distribusi perhiasan di hotel baru Anda di Bali. Saya sudah menyiapkan data perbandingan yang menunjukkan bagaimana perusahaan kami bisa menghemat biaya operasional Anda hingga lima belas persen tanpa mengurangi satu karat pun kualitas produk."

Surya tampak sedikit terkejut dengan keberanian dan kelancaran bicara Kirana. Biasanya, orang akan sedikit gemetar saat berhadapan dengannya. Ia melirik Arka dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu kembali menatap Kirana. "Lima belas persen? Itu angka yang sangat berani di industri ini. Mari kita lihat apakah isi otakmu secantik wajahmu. Ikut saya ke ruang VIP, kita bicara angka yang sebenarnya."

Arka memberikan kedipan kecil yang hampir tidak terlihat pada Kirana saat mereka mulai mengikuti langkah tegas Surya Mahendra. Namun, di balik senyum ramahnya kepada para tamu, Arka sedang mengetik pesan singkat di bawah meja dengan tangan lainnya kepada Dion.

"Ikan sudah masuk ke jaring dengan sempurna. Dia baru saja bertemu Sang Raja. Sekarang, dia akan merasa sangat membutuhkan dukunganku untuk memenangkan hati Ayahku. Permainan sudah memasuki tahap eksekusi."

Kirana berjalan dengan kepala tegak, punggungnya lurus, tidak menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil di lantai galeri yang dingin itu sebenarnya sudah diatur dalam sebuah skenario besar. Ia merasa sedang memperjuangkan masa depan kariernya, tanpa tahu bahwa ia sedang berjalan menuju panggung pengkhianatan yang dirancang untuk menghancurkan segalanya.

Malam itu, di antara lukisan-lukisan abstrak bernilai miliaran rupiah dan patung-patung marmer yang bisu, Kirana mulai merasa bahwa mungkin Arka adalah satu-satunya sekutu yang bisa ia percaya di dunia yang keras ini. Dan itulah kesalahan terbesar yang pernah ia buat dalam hidupnya.

...----------------...

Next Episode....

1
anju hernawati
bagus jalan ceritanya author lanjut y .....
Miss Ra: siaaappp
total 1 replies
zhelfa_alfira
makin seru
Renjana Senja
nah bener. harus waspada sama barang asing gitu
Renjana Senja
eh. kiriman apa itu kalau boleh tau kawan?
zhelfa_alfira
wah keren²
zhelfa_alfira
lanjut²...
Sunaryati
Okey ku kira walau di penjara Bram tidak tinggal, orang yang serakah hal dunia biasanya sulit menerima kekalahan walau terbukti bersalah
Sunaryati
Menegangkan melebihi cerita mafia
Sunaryati
Semoga Arka selamat
zhelfa_alfira
semangat²
zhelfa_alfira
lanjut sama2 masih punya perasaan tapi ego masih sama² tinggi
zhelfa_alfira
dah selesai yang menegangkan kita tunggu yang manis2 nya lagi.😁🤭
zhelfa_alfira
wow seru nya cerita ini...
zhelfa_alfira
akhirnya keangkuhan arka selesai juga
zhelfa_alfira
bagus akhirnya ketahuan juga padahal reza sudah tau semua kebusukan arka...semangat²
zhelfa_alfira
entah lah bisa² nya masuk lobang yang sama...
zhelfa_alfira
keren² aku suka hancur kan dan hempaskan yang sudah menyakiti
zhelfa_alfira
keren
Miss Ra: /Kiss//Heart/
total 1 replies
zhelfa_alfira
wow keren aku suka karakter kinara tegas...semangat up kk author
zhelfa_alfira: sama² semangat
total 2 replies
zhelfa_alfira
lanjut²
Miss Ra: siaaap...

lanjut besok pagi ya kak..
good night...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!