Dari kecil Perlita Cascata selalu di perlakukan tidak baik oleh keluarganya, dan sekarang dia juga harus merasakan sakitnya penghianatan dari kedua orang terdekatnya tepat di hari pernikahannya. Perlita harus merelakan calon suaminya menikahi kakak perempuannya yang bernama Ariana karena saat dirinya akan melaksanakan akad nikah, sang Kakak ketahuan hamil anak dari calon suaminya Perlita. Berharap mendapat simpati dari keluarganya tapi apa yang Perlita dapatkan, mereka semua malah mendukung pernikahan tersebut dan meminta Perlita untuk mengalah.
Bagaimana kehidupan Perlita selanjutnya? Apakah dia bisa melupakan pria yang sudah menyakitinya?
Ikuti terus kisahnya di sini ya!!😊
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartiniKeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi
"Makasih yah, Ma. Ariana juga senang loh punya mertua seperti mama. Dokter yang sangat hebat di masanya," puji Ariana dengan senyum lebarnya.
"Kamu berlebihan sayang, Mama biasa aja kok."
"Mama suka sekali merendah, di kalangan kami Mama masih saja sering dibahas loh."
"Oh iya? Mama jadi senang mendengarnya."
Setelah mengucapkan selamat kepada anak dan menantunya, Silvi pun turun dari pelaminan. Sementara Rangga memilih langsung meninggalkan tempat acara begitu mempelai wanitanya ditukar. Rangga sangat tidak setuju dengan keputusan Ariana yang menggantikan posisi Perlita untuk menikah dengan putranya.
Setelah semua acara selesai, termasuk resepsi yang memang digelar di rumah orang tua Ariana. Bahkan biaya resepsi pun memakai uang Perlita. Vito tidak menyumbang untuk acara pernikahan itu sama sekali dan sekarang acara itu malah menjadi acara pernikahan kakaknya Perlita dan calon suami Perlita.
"Sebaiknya sekarang kalian pergi istirahat. Pasti capek kan? Ini juga udah malam dan tamu undangannya juga sudah pulang semua. Riana, ajak Vito ke kamar kamu." Ujar Diana.
"Baik, Ma."
"Ayo Vit, kita ke kamar aku."
Ariana dan Vito lalu menuju lantai dua di mana kamar Ariana berada.
"Makasih ya sayang, karena lebih memilih aku dibanding Perlita. Aku bahagia banget loh bisa menjadi istri kamu."
"Aku memilihmu karena anak kita. Ditambah lagi mama yang tidak setuju aku menikah dengan Perlita," terang Vito menjelaskan sambil mengusap perut Ariana yang masih rata.
Ariana memeluk Vito yang saat ini berbaring di sampingnya. Mereka sudah siap untuk tidur setelah mandi dan mengganti pakaian.
"Berarti dia yang menyatukan kita, dan aku akan menjaganya dengan baik. I love you sayang."
"I love you to."
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Besoknya...
"Maaf Ma, Pa, kami terlambat bangunnya."
"Oh, tidak apa-apa sayang. Mama dan Papa bisa memakluminya kok. Namanya juga pengantin baru, iya kan Pa?"
"Iya, Ma."
"Perlita mana Ma? Apa dia nggak ikut sarapan?"tanya Ariana yang tidak melihat Perlita di meja makan pagi itu.
"Masih di kamarnya mungkin. Pasti dia masih menangisi nasibnya yang malang." Jawab Diana yang tidak punya simpati sedikitpun.
"Oh." Sahut Ariana dengan malas.
Mereka berempat sarapan dengan diselingi obrolan-obrolan kecil.
Selesai sarapan, mereka duduk di ruang keluarga.
"Jadi gimana honeymoon kalian? Bukankah kamu sama Perlita sudah pesan paket honeymoon nya? Kan sayang kalau dibatalkan. Sayang uangnya juga, sebagai gantinya kamu bawa aja Ariana honeymoon di sana. Lumayan kan nginep di hotel bintang lima selama tiga hari, mana viewnya laut lagi. Ya walaupun masih di kota ini juga sih." Tanya Diana pada Vito.
"Tapi bukti bookingan dan pembayarannya ada di tangan Perlita Ma. Jadi kami nggak mungkin bisa pakai paket itu," terang Vito menjelaskan.
"Kamu mintalah sama Perlitanya."
"Kalau begitu mama aja yang minta sama Perlita. Aku mana rela kalau suami aku ngobrol sama Perlita."
"Ya udah, kalau begitu mama ke kamar Perlita dulu."
Diana beranjak dari duduknya dan menuju ke kamar Perlita.
Tok
Tok
Tok
"Perlita bangun! Perlita, cepat buka pintunya!" Teriak Diana di depan pintu kamar Perlita.
Ceklek
"Mana bukti bookingan paket honeymoon kamu dan Vito? Sini kasih ke mama. Sayang kalau terbuang percuma begitu saja."
"Kata siapa terbuang percuma Ma? Paket honeymoon nya sudah aku kasih ke teman aku yang udah nikah."
"Apa?" teriak Diana dengan kedua mata terbelalak lebar. "Kenapa kamu kasih ke teman kamu? Kamu mikir nggak sih, uangnya itu tidak sedikit loh, tapi kok kamu kasih ke orang lain sih?"
"Terserah aku lah Ma. Itu kan pakai uang aku juga."
"Apa kata kamu? Pokoknya mama nggak mau tahu, kamu harus kembali mengganti paket honeymoon nya. Karena Ariana dan Vito harus pergi honeymoon."
"Kalau mau pergi honeymoon ya pergilah. Modal dong Ma, katanya dokter. Pasti banyak duit lah. Mana dua-duanya dokter lagi. Kan harusnya banyak banget duitnya. Ngapain malah ngemis ke aku."
"Mana ada mereka ngemis ke kamu. Hanya saja kamu harus bertanggung jawab karena sudah memberikan paket honeymoon itu untuk orang lain. Sekarang kamu Mama suruh untuk mengganti paket honeymoon nya bukan Ariana dan Vito yang mengemis ke kamu. Kamu itu tidak ada apa-apanya dibanding mereka."
"Ya udah kalau begitu, silahkan modal sendiri kalau mau honeymoon. Itu aja kok repot sih. Aku nggak mau mengeluarkan uang aku lagi buat mereka. Malahan sekarang aku mau minta uang aku di kembalikan. Pesta pernikahan kemarin itu semuanya kan pakai uang aku Ma. Jadi kalian harus mengganti uang aku. Jangan sampai aku rugi dua kali."
"Enak aja kamu minta ganti rugi. Nggak ada cerita ganti rugi segala. Lagian Ariana itu kakak kandung kamu. Masa sama kakak kandung sendiri perhitungan sih."
"Kakak kandung mana Ma yang tega merebut calon suami adiknya tepat di hari pernikahannya. Mana biaya pernikahannya itu dari uang adiknya lagi. Benar-benar nggak tahu malu dan beradab. Ngakunya dokter tapi sifat dan sikapnya tidak mencerminkan seorang dokter sama sekali. Lebih terhormat pelacur di pinggir jalan dibanding anak kesayangan Mama itu." Perlita sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
Plak
"Kurang ajar mulut kamu itu yah."
Diana langsung mendaratkan tangannya di pipi mulus Perlita, dan Perlita langsung memegang pipinya yang di tampar mamanya.
"Sekali lagi kamu menghina Ariana, maka mama tidak akan segan-segan mengusir kamu dari rumah ini.
"Tanpa diusir pun aku akan pergi kok dari rumah ini. Buat apa hidup satu atap sama orang yang tak beradab."
Perlita masuk ke dalam kamarnya dan mengambil koper yang memang sudah dipersiapkan dari tadi malam. Dia rasanya tidak sudi tinggal bersama kedua orang tua, kakak dan juga mantan calon suaminya itu.
"Selangkah kamu pergi dari sini, maka jangan harap kamu bisa kembali ke rumah ini lagi," ancam Diana sembari menatap tajam Perlita.
Perlita tidak peduli dengan ucapan mamanya dan memilih melanjutkan langkah kakinya keluar dari rumah kedua orang tuanya. Dia mengendarai sepeda motornya meninggalkan rumah yang sudah seperti neraka bagi dirinya.
"Loh Ma, Perlita kok bawa-bawa koper?" tanya Ariana karena tadi melihat Perlita melewati ruang keluarga.
"Dia memutuskan untuk pergi dari rumah ini."
"Terus kalau Perlita pergi bagaimana dengan semua biaya kebutuhan rumah ini Ma?"tanya Roby
Selama ini semua kebutuhan rumah dan keluarga itu memang ditanggung oleh Perlita sepenuhnya termasuk gajih asisten rumah tangga dan juga tanggungan Ariana.
"Iya loh Ma, Terus siapa yang akan membayar gajih ART?"
"Ya ampun Mama lupa lagi. Gimana dong sekarang?"
"Mau gimana lagi Ma, kalau Perlita nggak tinggal di sini lagi yah Mama tinggal minta aja nanti uang bulanan untuk kita." Kata Ariana dengan entengnya.
Terima kasih untuk yg sudah mampir🙏Semoga kalian sehat dan rejeki kalian selalu lancar. Jgn lupa tinggalkan like n komentarnya ya🙏😊
Thor jangan di bikin apes mulu peran utama pls aku baru selesai baca yg peran utama dari awal Ampe ending apes mulu