NovelToon NovelToon
Qalbu Yang Terlupa

Qalbu Yang Terlupa

Status: tamat
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Jejak yang Menghilang

#

Pagi itu rumah sakit terasa lebih dingin dari biasanya. Atau mungkin itu hanya perasaan Mahira yang masih terbayang kejadian semalam. Dia duduk di kursi samping tempat tidur Khaerul, menatap kosong ke jendela. Matanya sembab, jelas tidak tidur semalaman.

Zarvan masuk dengan wajah lelah, membawa dua gelas kopi dan laptop di bawah ketiak. Lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan dia juga tidak tidur.

"Kamu harus minum sesuatu," katanya sambil menyerahkan satu gelas pada Mahira.

"Aku tidak bisa minum apapun sekarang." Mahira menggeleng pelan. "Perutku... rasanya mual terus sejak tadi."

"Mahira, kamu harus jaga kesehatan. Besok ritual, kamu butuh tenaga penuh." Zarvan meletakkan gelas kopi di meja samping tempat tidur. "Kumohon. Untuk aku."

Mahira menatapnya. Lalu mengambil gelas itu dengan tangan gemetar. Menyesap sedikit. Rasanya pahit di lidah, tapi setidaknya hangat.

Zarvan membuka laptopnya, duduk di kursi sebelah dengan jarak yang cukup dekat sampai bahu mereka hampir bersentuhan.

"Aku sudah kontak tim keamanan kantor," katanya sambil mengetik cepat. "Minta mereka investigasi semua data pegawai bernama Budi. Dan juga minta akses ke rekaman CCTV rumah sakit untuk cari jejak Arman."

"Kamu pikir akan ada sesuatu?" tanya Mahira dengan suara serak.

"Harus ada." Zarvan tidak mengalihkan pandangan dari layar. "Khalil tidak mungkin muncul begitu saja tanpa jejak. Pasti ada celah. Pasti ada..."

Ponselnya berdering. Zarvan mengangkat dengan cepat.

"Ya, Pak Hendra? Sudah dapat hasilnya?"

Mahira memperhatikan ekspresi Zarvan yang berubah dari penuh harap jadi bingung, lalu jadi gelisah.

"Bagaimana bisa tidak ada data sebelum lima tahun lalu? Semua orang pasti punya jejak. KTP, SIM, ijazah, apapun." Zarvan berdiri, mulai mondar-mandir. "Coba cek lagi. Pakai database yang lebih dalam. Mungkin dia ganti nama atau..."

Dia terdiam. Mendengarkan penjelasan di seberang dengan wajah makin pucat.

"Baik. Kirim semua file yang ada ke email saya. Sekarang."

Sambungan terputus.

Zarvan menatap Mahira dengan mata yang sulit dibaca.

"Mas Budi, nama lengkapnya Budi Santoso, mulai bekerja di Qalendra Group lima tahun lalu. Sebelum itu, tidak ada jejak apapun. Seperti dia baru lahir lima tahun lalu sebagai orang dewasa berusia tiga puluh tahun."

Mahira meneguk ludah. "Bagaimana itu bisa terjadi?"

"Entah dia pakai identitas palsu yang sangat rapi, atau..." Zarvan tidak melanjutkan. Tapi Mahira tahu apa yang dia pikirkan.

Atau Khalil punya cara supernatural untuk menciptakan identitas dari nol.

Laptop Zarvan berbunyi, notifikasi email masuk. Dia langsung membuka. File PDF terbuka menampilkan foto Mas Budi dalam pakaian formal, tersenyum ramah di depan kamera.

Wajah yang biasa. Tidak mencolok. Tipe wajah yang mudah dilupakan orang.

"Cerdik," gumam Zarvan. "Dia pilih wajah yang generik supaya tidak menarik perhatian. Supaya orang tidak terlalu mengingat dia."

Mahira menatap foto itu dengan perasaan aneh. Pria yang tersenyum di foto itu adalah pria yang kemarin membunuh Aisyara tiga ratus tahun lalu. Pria yang membunuh Azka. Pria yang menghancurkan segalanya.

Dan selama lima tahun dia bekerja di kantornya, mungkin mereka pernah berpapasan di lorong, pernah saling menyapa, pernah...

Tuhan, kenapa dia tidak menyadari ada yang aneh?

"Jangan salahkan dirimu." Zarvan menutup laptop, menatap Mahira dengan lembut. "Dia sudah tiga ratus tahun merencanakan ini. Dia tahu cara menyembunyikan diri. Kita tidak mungkin menyadarinya tanpa petunjuk yang jelas."

"Tapi tetap saja..." Mahira menutup wajahnya dengan tangan. "Lima tahun, Zarvan. Lima tahun dia ada di sana, mengawasi, menunggu. Apa lagi yang sudah dia lakukan yang kita tidak tahu?"

Ponsel Zarvan berdering lagi. Kali ini dari bagian personalia rumah sakit.

"Halo? Ya, saya Zarvan Mikhael. Saya ingin informasi tentang perawat bernama Arman yang bekerja di... bagaimana? Sejak kapan?" Wajahnya berubah. "Tidak mungkin. Coba cek lagi."

Mahira berdiri, mendekat. "Ada apa?"

Zarvan menutup telepon dengan ekspresi tidak percaya.

"Arman resign tadi pagi. Dua jam lalu. Lewat email. Dia bilang ada urusan keluarga mendesak dan tidak bisa kerja lagi mulai hari ini."

"Dia kabur," bisik Mahira. Dadanya sesak. "Dia tahu kita sudah mengenalinya jadi dia kabur."

"Atau dia sedang mempersiapkan sesuatu." Zarvan menggenggam tangannya. "Mahira, kita harus waspada. Khalil tidak akan menyerah begitu saja. Dia bilang sendiri dia akan datang saat ritual. Dan aku yakin dia akan buat masalah."

Raesha masuk dengan wajah panik, membawa tablet.

"Kalian harus lihat ini," katanya sambil menyerahkan tablet pada Zarvan.

Di layar, rekaman CCTV rumah sakit. Tanggal dan waktu tertera jelas: dua bulan lalu, pukul tiga pagi.

Seorang pria berseragam perawat berdiri di koridor lantai tiga, tepat di depan papan informasi yang menempel di dinding. Dia menatap sesuatu dengan tatapan intens.

Zarvan memperbesar gambar.

Di papan informasi itu ada poster seminar kesehatan. Dan di pojok poster, ada foto Mahira yang hadir sebagai salah satu pembicara tamu mewakili Qalendra Group.

Pria itu, Arman, mengangkat tangannya. Menyentuh foto Mahira di poster dengan gerakan yang sangat lembut. Hampir seperti... membelai.

Mahira merasa mau muntah.

"Ada lagi," kata Raesha sambil menggeser ke rekaman berikutnya.

Rekaman berbeda. Seminggu setelahnya. Arman berdiri di parkiran rumah sakit, bersembunyi di balik pilar, menatap ke arah mobil yang baru parkir.

Mahira mengenali mobilnya sendiri.

Dalam rekaman itu, dia terlihat turun dari mobil, menuju pintu masuk rumah sakit untuk jenguk nenek yang waktu itu sedang dirawat.

Arman mengikuti dari kejauhan. Tidak terlalu dekat, tapi cukup dekat untuk mengawasi setiap gerakan.

"Dia menguntitku," bisik Mahira. Tubuhnya gemetar. "Sejak dua bulan lalu dia sudah... Tuhan, berapa kali dia melakukan ini?"

Raesha menggeser lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Puluhan rekaman. Berbagai tanggal. Berbagai waktu.

Semua menunjukkan Arman mengikuti Mahira. Kadang di parkiran. Kadang di koridor. Kadang di kafetaria rumah sakit saat Mahira sedang makan siang menunggu hasil pemeriksaan nenek.

Selalu dari kejauhan. Selalu sembunyi. Selalu dengan tatapan yang sama.

Tatapan lapar. Tatapan obsesif.

Tatapan cinta yang sudah berubah jadi sesuatu yang mengerikan.

Mahira tidak tahan lagi. Dia berlari ke kamar mandi, membuka pintu toilet, dan muntah. Semua isi perutnya keluar sampai tidak ada yang tersisa kecuali rasa pahit di mulut.

Zarvan mengikuti, berdiri di belakangnya, mengelus punggungnya dengan lembut.

"Maafkan aku," bisiknya. "Maafkan aku karena tidak bisa melindungimu dari ini."

Mahira menangis sambil masih membungkuk di atas toilet. Tubuhnya bergetar hebat.

"Aku merasa kotor," isaknya. "Aku merasa... aku merasa dia sudah menyentuhku meskipun secara fisik dia tidak pernah. Tatapannya itu, Zarvan. Seperti dia... seperti dia punya hak atas tubuhku, atas hidupku, atas segalanya."

"Dia tidak punya hak apapun." Zarvan memeluknya dari belakang, membiarkan Mahira menangis di pelukannya. "Kamu milikmu sendiri. Bukan milik dia. Tidak pernah. Dan besok, kita akan pastikan dia mengerti itu."

Mereka diam dalam pelukan itu cukup lama. Sampai isak tangis Mahira perlahan mereda jadi cegukan kecil.

"Aku takut," bisik Mahira akhirnya. "Aku sangat takut besok kita gagal. Takut dia... takut dia akan..."

"Tidak akan." Zarvan membalikkan tubuh Mahira, memaksanya menatap matanya. "Aku tidak akan biarkan dia menyakitimu lagi. Tidak di kehidupan ini. Aku sudah gagal melindungimu tiga ratus tahun lalu. Aku tidak akan gagal lagi."

Mahira menatap mata Zarvan yang penuh determinasi. Dan entah kenapa, meskipun ketakutan masih mencengkeram dadanya, ada rasa aman yang mulai tumbuh.

Mereka kembali ke ruang Khaerul. Ustadz Hariz sudah datang, duduk di samping tempat tidur sambil membacakan ayat-ayat penyembuh untuk Khaerul yang masih tertidur.

"Ustadz," panggil Zarvan. "Kita sudah dapat konfirmasi. Khalil kabur. Dia resign dari rumah sakit tadi pagi."

Ustadz Hariz mengangguk pelan, tidak terlihat terkejut.

"Dia sedang mempersiapkan diri," katanya. "Ritual besok adalah pertarungan terakhir. Bukan hanya pertarungan fisik, tapi pertarungan spiritual. Khalil tahu itu. Jadi dia akan datang dengan persiapan penuh."

"Lalu bagaimana kita bisa menang?" tanya Mahira.

Ustadz Hariz menatapnya dengan tatapan yang penuh kebijaksanaan.

"Dengan ikhlas, nak. Pengampunan yang kamu berikan besok harus benar-benar tulus. Bukan karena terpaksa, bukan karena takut, tapi karena kamu benar-benar melepaskan kebencian. Hanya dengan itu, kutukan bisa putus."

"Bagaimana aku bisa ikhlas mengampuni orang yang membunuhku? Yang membunuh orang-orang yang aku cintai?" Suara Mahira bergetar. "Ustadz, aku... aku tidak tahu apakah aku cukup kuat untuk itu."

"Maka kita berdoa." Ustadz Hariz menggenggam tangannya. "Kita minta pada Allah untuk melembutkan hati kita. Untuk memberi kita kekuatan yang tidak kita miliki sendiri. Karena hanya dengan pertolongan-Nya, hal yang mustahil bisa jadi mungkin."

Khaerul tiba-tiba bergerak. Matanya perlahan terbuka, menatap sekeliling dengan bingung.

"Mahira?" suaranya serak. "Zarvan? Ada apa? Kenapa aku di rumah sakit?"

Mahira langsung menghampiri, menggenggam tangannya dengan erat.

"Kamu pingsan, Khaerul. Tapi kamu sudah aman sekarang."

"Aku bermimpi..." Khaerul menutup matanya, mencoba mengingat. "Aku bermimpi jadi anak kecil. Ada seorang kakak yang mengajariku naik kuda. Dia baik. Dia selalu melindungiku dari anak-anak lain yang nakal. Dan aku... aku sangat mencintainya."

Air mata jatuh dari sudut matanya.

"Lalu ada pria jahat. Pria dengan mata dingin. Dia menusuk kakakku. Dan aku mencoba menyelamatkan tapi aku terlalu kecil, terlalu lemah. Aku mati sambil melihat kakakku mati. Dan rasanya... rasanya seperti dunia berakhir."

Zarvan duduk di sisi lain tempat tidur, menggenggam tangan Khaerul yang lain.

"Itu bukan mimpi," katanya dengan suara bergetar. "Itu ingatan. Ingatanmu sebagai Azka. Adikku."

Khaerul membuka matanya, menatap Zarvan dengan tatapan yang tidak percaya.

"Adikmu?"

"Ya." Zarvan tersenyum meskipun air mata mengalir di pipinya. "Kamu Azka. Pangeran Azka yang mati menyelamatkanku. Dan aku... aku sangat menyesal tidak bisa melindungimu waktu itu."

Khaerul menatapnya lama. Lalu tiba-tiba dia menangis. Tangisan keras yang keluar dari lubuk hati paling dalam.

"Aku ingat sekarang," isaknya. "Aku ingat semuanya. Aku ingat wajahmu waktu itu. Aku ingat kamu mencoba merangkak ke arahku tapi tubuhmu terlalu terluka. Aku ingat aku ingin bilang tidak apa-apa, kakak tidak perlu khawatir, tapi suaraku tidak keluar."

Zarvan memeluknya, membiarkan adiknya menangis di pelukannya.

"Maafkan aku," bisiknya. "Maafkan kakak yang tidak berguna ini."

"Tidak ada yang perlu dimaafkan." Khaerul memeluknya balik, erat sekali. "Kamu sudah jadi kakak terbaik. Dulu dan sekarang."

Mahira, Raesha, dan Ustadz Hariz menonton adegan itu dengan air mata di mata mereka sendiri. Momen penyatuan dua saudara yang terpisah tiga ratus tahun oleh kematian tragis.

Di tengah semua ketakutan dan ketidakpastian tentang besok, setidaknya ada satu hal yang indah.

Keluarga yang akhirnya bertemu kembali.

Dan cinta yang tidak pernah hilang meskipun waktu dan kematian memisahkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!