Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Girls Night Out
Setelah hari-hari berat yang dilaluinya selama datang bulan, Sena mulai merasa bersemangat dan siap bersenang-senang lagi. Daripada hanya berdiam diri terus di dalam kamar, dia ingin mencari suasana baru. Untuk itu, ia pun setuju bertemu dengan Joana dan Mia. Oh, Mia adalah kekasih Dohyun. Seorang gadis Atlanta yang pindah ke US untuk kuliah pada awalnya. Tapi di sinilah dia sekarang, pindah ke Korea demi Dohyun sang kekasih hati.
Demi menjalani malam yang menyenangkan tanpa gangguan, Sena terlebih dahulu membereskan tugas-tugas kuliah. Sekadar berjaga, siapa tahu malam ini mereka akan minum terlalu banyak. Kalaupun harus menanggung sakit kepala karena mabuk, setidaknya Sena bisa melewatinya dengan rebahan di kasur, tanpa harus pusing memikirkan tugas kuliahnya yang menumpuk.
Beberapa jam dihabiskannya untuk mengerjakan tugas, beberapa jam lainnya dipergunakan untuk belajar. Ditemani lilin aromaterapi yang membantunya menenangkan pikiran, Sena sibuk menyorot, merangkum, dan mempelajari berbagai bab dari beberapa buku sebagai persiapan menghadapi ujian yang akan datang.
Saat merasa sudah cukup berkutat dengan tugas dan materi ujian, Sena menutup buku-bukunya dan meniup lilin aromaterapi yang hampir terbakar habis. Ia lalu pergi ke kamar Hana, mengetuk pintunya pelan, dan masuk setelah dipersilakan. Didapatinya Hana juga sedang sibuk di meja belajar, menulis poin-poin penting dari bab yang dibaca. Sena menyadari bahwa mereka ternyata sedang mempelajari buku yang sama.
"Aku mau keluar dengan Joana dan Mia," katanya. Mereka memang terbiasa saling memberitahu rencana masing-masing. Tujuannya adalah untuk memantau satu sama lain, agar saling tahu bahwa mereka aman.
"Oke," jawab Hana sambil menaikkan padangan dari bukunya. "Have fun! Aku juga akan pulang ke rumah orang tuaku nanti, jadi mungkin aku tidak akan ada saat kau pulang nanti."
Sena mengangguk lalu mendekat untuk memeluk Hana. "Titip salam untuk mereka, ya."
"Pasti."
"Oke, sampai nanti!"
"Sampai nanti!"
Sena menutup pintu kamar Hana, membiarkan sahabatnya menyelesaikan pekerjaan. Dia kembali ke kamar dan membuka lemari, mencari pakaian yang cocok untuk dikenakan malam ini. Karena ini bukan benar-benar party, Sena memilih sesuatu yang kasual tapi tetap terkesan rapi. Pilihannya lalu jatuh pada sepotong celana bahan warna hitam dan kaus pendek warna hijau. Rambutnya digerai, dihias dengan jepitan klip. Wajahnya tidak dipulas make up, hanya menggunakan skincare basic dan memulas lipstik warna coral. Setelah beres, dia meraih tas kecil dari meja belajar, kemudian berpamitan kepada Nan dan Mala, lalu pergi meninggalkan apartemen.
**************
Tujuan mereka adalah sebuah restoran barbeque. Begitu masuk, Sena langsung menyadari tatapan orang-orang yang mengarah pada Mia, dan membuatnya mengernyit. Beberapa orang tampak menatap dari atas ke bawah, sementara yang lain terlihat terkejut. Ada sepasang lansia di meja pojok yang berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arah mereka. Seorang ibu muda bahkan menarik anaknya mendekat, seolah melindunginya dari sesuatu yang tidak berbahaya sama sekali. Di meja sebelah pintu masuk, sekelompok pria paruh baya menghentikan percakapan mereka sejenak, mata mereka mengikuti langkah Mia dengan tatapan yang sulit dibaca.
Namun, Mia terlihat tidak peduli. Dengan anggunnya gadis itu berjalan melewati mereka, punggungnya tegak dan kepalanya sedikit terangkat. Kulitnya yang gelap kontras dengan lampu hangat restoran, rambutnya yang keriting dikuncir tinggi, memperlihatkan anting-anting emas yang berkilau di telinganya. Dia mengenakan dress selutut berwarna mustard yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan jaket denim dan sepatu boots hitam yang membuat penampilannya terlihat sangat percaya diri. Mia memang cantik dengan caranya sendiri—cara yang mungkin tidak semua orang di ruangan ini terbiasa melihatnya, tapi tetap tak bisa disangkal.
Dia duduk di salah satu meja di barisan depan. Joana dan Sena mengikutinya. Sena sempat melirik sekeliling, menangkap sisa-sisa pandangan yang masih tertuju pada mereka, terutama pada Mia.
"Mereka selalu seperti itu, ya?" bisik Sena sambil mencondongkan badan, menatap Mia.
Mia mengangkat alis, kemudian mengedik. "Oh, itu sudah biasa. Tidak perlu ambil pusing."
"Tapi itu menyebalkan," desah Sena. Dia menjauhkan diri, balik menatap orang-orang di sana dengan mata menyipit. "Mereka seperti tidak pernah melihat manusia."
"Selama mereka hanya menatap, aku tidak masalah. Tapi kalau sampai buka mulut dan mulai menghina, aku tidak akan tinggal diam," kata Mia santai, tapi tegas.
Sena tersenyum bangga melihat kepercayaan diri gadis itu. Itu adalah senjata paling ampuh untuk menghadapi rasisme—terutama yang berhubungan dengan warna kulit—yang masih kental terasa di sini. Sena sendiri belum pernah mengalami hal tidak mengenakkan perihal rasisme begitu, karena ia adalah pure Korea, tapi setiap kali melihat kejadian seperti itu berlangsung di depan matanya, kepala Sena selalu berhasil dibuat mendidih. Sekarang, melihat Mia bisa menghadapi situasi ini dengan tenang dan berani, Sena jadi dibuat kagum berkali-kali.
Setelah sebelumnya menyajikan minuman sebagai pembuka, seorang pelayan datang dan menanyakan pesanan. Ketiganya memesan bergiliran, dan Mia mengejutkan si pelayan dengan menyebutkan pesanannya dalam bahasa Korea yang fasih dan nyaris tanpa cela. Pelayan tadi terdiam sesaat, sebelum akhirnya mengangguk dan mencatat pesanan. Ia membungkuk sopan dan pamit undur diri.
Joana terkekeh sebelum menyesap minumannya. "Reaksi mereka selalu begitu, ya?" tanyanya pada Mia, yang langsung disambut anggukan kepala.
Gelas-gelas mereka beradu, menimbulkan suara denting pelan untuk merayakan malam mereka yang menyenangkan. Kemudian, setelah menyesap minumannya lagi, Joana beralih pada Sena. "Kau tahu? Mia hanya butuh waktu satu tahun untuk bisa berbicara sefasih ini," katanya.
Informasi itu membuat Sena ternganga dan menatap Mia dengan mata membelalak. Ia tahu seberapa sulit mempelajari bahasa Korea, dengan alfabet dan sistem honorifiknya yang memusingkan kepala. Bahasa Korea bukan tipe bahasa yang biasanya bisa dikuasai hanya dalam satu atau dua tahun.
"Serius?! Bagaimana caranya?!" tanyanya heboh.
Mia tertawa sambil mengangkat bahu. "Entahlah. Aku suka belajar, jadi prosesnya selalu terasa menyenangkan," jelasnya santai. "Oh, punya pacar yang tinggal di Korea juga jadi salah satu motivasi terbesarku untuk cepat beradaptasi."
"Keren sekali." Sena terkagum, matanya berbinar-binar. "Selain bahasa Korea, kau bisa bahasa apa lagi?"
"Hmm.." Mia tampak menimbang. "Aku bisa Prancis, sedikit Portugis, dan sedikit Italia. Oh, aku juga bisa bahasa Somalia," katanya enteng.
Sena menggeleng tak percaya. "Astaga..." gumamnya. Mulutnya hampir tertinggal terus menganga. "Kalau begitu, kau bisa jadi penerjamah untuk kami, ya?"
Mia mengangguk dan menyesap minumannya. "Google Traslate juga tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan aku," kelakarnya.
Joana dan Sena tertawa sambil mengangkat gelas mereka. “Mari bersulang,” kata Joana, dan mereka kembali beradu gelas.
Tak lama kemudian, makanan mereka datang dan ketiganya menggosok-gosok tangan dengan antusias melihat hidangan lezat di hadapan mereka. Mereka menikmati beragam masakan Korea yang mereka bagi bersama, sambil tentu saja minum cukup banyak soju. Malam itu mereka merekah bebas, tidak memikirkan apa pun selain kesenangan yang sudah tersaji di depan mata.
Bersambung....