NovelToon NovelToon
Kepentok Deadline Atasan

Kepentok Deadline Atasan

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Enemy to Lovers / Nikah Kontrak / Berondong / Kehidupan di Kantor / CEO
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.

Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.

Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.

Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.

Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.

Cover Ilustrasi by ig rida_graphic

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Pagi hari seperti biasa Magenta menjemput Cyan di apartemen, berpisah di ujung lorong, dan menjalankan rutinitas masing-masing seolah kemarin nggak terjadi apa-apa. Lift meluncur naik dengan dengung halus. Suara yang biasanya selalu berhasil menenangkan siapa pun yang berdiri di dalamnya.

Biasanya sih gitu.

Karena hari ini, nggak.

Magenta masih berdiri sendirian di sudut lift. Kedua lengannya terlipat longgar di depan tubuh, rahangnya mengeras sedikit, dan tatapannya terpaku pada angka digital di atas pintu lift yang menyala redup. Angka itu bergerak naik satu per satu dengan lambat, seolah sengaja mengulur waktu. Seolah punya andil dalam suasana hati Magenta yang mendadak kusut.

“Haduh,” gumamnya pelan.

Ia menghela napas panjang, lalu mendecak kesal. Entah pada situasi, atau pada dirinya sendiri.

“Lo kemaren ngapain sih nyium Cyan kayak gitu?” bisiknya lirih, seperti sedang memarahi pantulan wajahnya di dinding lift yang mengilat. “Bodoh banget, Magenta.”

Tapi lift terus meluncur, tanpa memedulikan drama kecil di dalamnya.

“Coba Magenta, jelasin sama gue kenapa harus diruangan OB yang penuh sapu dan kain pel itu?!”

Magenta menyandarkan kepalanya ke dinding sebentar, menutup mata, mencoba meredam rasa malu yang masih menyelimutinya. Beberapa detik berlalu, ia akhirnya membuka mata, menatap lurus ke depan.

“Gimana kalau kemarin Cyan enggak suka?” lanjutnya, kali ini suaranya lebih rendah. “Ini udah masuk HTS belom sih?” Alisnya berkerut.

“Cyan juga salah sih, ngobrolin apaan sama klien itu sampai ketawa-ketawa. Gak bisa ngobrol selayaknya klien aja, apa?”

Kalimat terakhir keluar sedikit lebih keras dari yang ia sadari.

Dan tepat saat itu—

Ding.

Pintu lift terbuka.

Magenta belum sempat menarik kembali ekspresi kesalnya ketika ia mendapati seseorang berdiri tepat di depan lift. Dengan ekspresi yang jelas-jelas tidak seharusnya ada di sana pada momen seperti ini.

Raka.

Lengkap dengan senyuman yang gagal disembunyikan. Senyuman setengah menahan tawa, setengah puas, seperti orang yang baru saja menemukan bahan gosip premium tanpa di sengaja.

“HAHA—”

Raka refleks menutup mulutnya, tapi sudah terlambat. Karena suara tawa itu terlanjur meluncur tanpa bisa ditahan.

Magenta terlonjak.

Matanya membesar sepersekian detik sebelum wajahnya langsung kembali datar.

“Lo beneran masih ngambek karena cemburu, Mas? Demi apa? Udah seminggu mas, yaampun,” tanya Raka santai, tapi sorot matanya penuh godaan yang menyebalkan.

Magenta melangkah keluar dari lift tanpa menoleh, melewati Raka begitu saja. Bahunya naik sedikit, lalu turun lagi, seperti orang yang berusaha tampak tenang.

“Cemburu? Enggak lah,” katanya ringan.

Raka berbalik, mengikuti langkah Magenta, lalu berjalan berdampingan. “Oh, iya?”

“Iya,” jawab Magenta cepat. “Ngapain gue cemburu. Emang gue siapanya?”

Raka mengangguk-angguk pelan, pura-pura paham. “Nah itu. Ngapain kan, Mas?”

“Padahal lo sering ngomel-ngomel soal Bu Cyan ngobrol sampe ketawa-ketawa sama klien cowok. Aneh kan? Lo emang aneh mas beberapa bulan ini.”

Magenta berhenti mendadak. Raka ikut berhenti, lalu nyengir tanpa dosa.

“Itu—” Magenta berdehem. “Itu refleks, Rak.”

“Refleks apaan?”

“Sebagai bawahan yang baik,” jawab Magenta cepat, “gue gak mau Bu Cyan terlalu deket sama klien cowok. Nanti apa kata orang? Tugas gue tuh Cuma ngingetin.”

Raka tertawa kecil lagi. Kali ini tidak ditahan. “Anjir. Mengingatkan dari mana? Lo ngomel di dalam lift sendirian, Mas. Lo kebanyakan alesan.”

Magenta melirik tajam. “Lo bisa diem gak?”

“Sayangnya,” Raka mengangkat bahu sambil menggeleng pelan, “Enggak bisa.”

Magenta menghela napas panjang. “Lain kali gue bakal bisu kalau naik lift.”

“Jangan,” sahut Raka cepat. “Gue butuh hiburan gratis pas puasa.”

Mereka tiba di area lobi. Beberapa karyawan mulai berdatangan, tapi suasananya masih cukup lengang.

Magenta melangkah ke sofa dekat jendela, duduk, lalu menyandarkan punggungnya. Raka ikut duduk di seberangnya, dengan satu kaki naik ke sofa. Seperti seseorang yang memang niatnya Cuma mau mengompori.

“Jadi,” kata Raka sambil mencondongkan tubuhnya, “Bu Cyan kelihatan deket banget sama klien cowok yang mana lagi?”

Magenta menoleh ke arah jendela. “Ah, enggak juga.”

“Terus, kenapa lo masih kesel?”

“Gue udah enggak kesel.”

“Oh, iya?” Raka menaikkan alis. “Berarti kemarin sempet kesel dong?”

Magenta terdiam beberapa detik. Ngeliat muka Raka yang cengengesan bikin dia pengen bakar rambutnya secara bar-bar. Kurang asem emang ni kawan!

“Gue Cuma,” katanya akhirnya, suaranya lebih rendah, “enggak terlalu suka aja.”

Raka menyeringai. “Nah.”

Magenta meliriknya. “Nah apaan?”

“Nah, itu dia.”

Magenta mendecak. “Lu diem aja deh, Rak. Gak jelas banget.”

“Itu tandanya, lo bener-bener cemburu, mas.”

Magenta tersentak. “Cemburu dari mana?”

Raka terkekeh. “Dari nada lo ngomong udah keliatan banget, mas.”

Magenta mengusap wajahnya frustasi. “Itu bukan cemburu.”

“Terus apa?” tanya Raka.

“Boundary.” Jawab magenta santai.

Raka tertawa. “Boundary ye bahasa lo sekarang.”

“Tapi serius,” lanjut Magenta. “Cyan itu pinter, ramah, gampang nyambung kalo ngomong sama siapa pun. Sampai kadang, orang lain jadi kelewat nyaman.”

“Termasuk lo?” potong Raka.

Magenta terdiam lagi.

Raka menyandarkan punggungnya, melipat tangan di dada. “Mas, lo tau gak, apa bedanya cemburu sama peduli?”

Magenta melirik malas. “Apa?”

“Cemburu itu,” jelas Raka pelan, “momen ketika  dada lo tiba-tiba panas, pas ngeliat orang yang lo suka terlalu dekat sama cowok lain.”

Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada lebih santai.

“Kalau peduli, itu beda cerita. Lo peduli sama atasan lo, dan lo gak mau dia jadi bahan omongan orang lain. Dan itu wajar.”

Magenta mengernyit. “Terus?”

“Kalo liat posisi lo sekarang,” Raka menunjuk Magenta, “lo jelas cemburu. Lo panik liat Bu Cyan deket sama cowok lain.”

Magenta terkekeh singkat. “Ngaco. Teori dari mana itu?”

“Hasil penelitian,” jawab Raka enteng. “Sumbernya observasi beberapa hari ini.”

Magenta menghela napas. “Gue gak mau keliatan posesif.”

“Waduh. Sayangnya,” Raka mencondongkan tubuhnya lagi, “lo keliatan banget, sumpah.”

Tatapan Magenta menajam sinis. Bersiap ngajak Raka one by one di ring tinju acara Densu.

Raka cepat mengangkat kedua tangannya. “Tenang dulu, mas. Keliatan sama gue doang, kok.”

Dari kejauhan, Magenta melihat Cyan baru keluar dari lift. Ia berjalan berdampingan dengan seseorang. Bukan klien pria tadi, karena ini perempuan. Tapi entah kenapa, dada Magenta tetap terasa sedikit sesak.

Raka mengikuti arah pandangnya, kemudian berdecak. “Ckk, posesif. Lo cemburu juga liat dia jalan sama cewek?”

Magenta cepat memalingkan wajah. “Enggak.”

Ia terdiam, lalu menambahkan pelan, “Gue Cuma kepikiran… takut salah ngomong.”

“Kenapa?”

“Takutnya dia mikir gue terlalu ngatur urusan dia.”

Raka mengangguk pelan. “Kalau gue di posisi Bu Cyan, terus lihat posisi lo di hidup dia Cuma sekadar bawahan, itu valid sih.”

Magenta menoleh, sedikit terkejut. “Seriusan?”

“Serius,” jawab Raka. “Apalagi menurut gue, Bu Cyan itu tipe orang yang sensitif soal kebebasan. Tapi…”

“Tapi?” ucap Magenta, menyela.

“Kalau lo ngomongnya jujur,” lanjut Raka, “tanpa nyalahin, tanpa nyudutin, kemungkinan besar dia bakal ngerti kok.”

Magenta menghela napas. “Gue juga gak tahu gue kenapa. Kayak… hilang kendali gitu aja.”

Raka menoleh, ekspresinya lebih serius. “Udah jelas lo cemburu, Mas. Jujur sama gue sekarang. Lo punya perasaan kan sama Bu Cyan?”

Magenta tidak menjawab. Pandangannya lurus ke depan, terdiam cukup lama.

“Gue juga gak tau, Rak,” katanya akhirnya. “Gue bingung sama perasaan gue sendiri. Kalaupun iya… kenapa perasaannya jatuh ke Cyan? Kayak enggak ada orang lain aja.”

Raka tersenyum kecil. “Kenapa gak mungkin? Perasaan tuh bisa datang sendiri, ke siapa pun.”

Magenta kembali terdiam.

Saat itu, Cyan mulai berjalan ke arah mereka. Langkahnya santai, tapi matanya sempat melirik Magenta.

Magenta langsung duduk lebih tegak.

Raka menyikut lengannya pelan. “Tuh.”

“Diem lo,” bisik Magenta.

“Target mendekat.”

“Berisik.”

Cyan akhirnya berhenti tepat di depan mereka. “Kalian kok masih di sini?”

“Lagi bahas drama hidup Mas Maag, Bu,” jawab Raka cepat.

Magenta menoleh tajam, tanpa berkata apa-apa.

Cyan mengangkat alis, menahan senyum. “Drama apa?”

“Drama orang yang lagi nahan cemburu,” sahut Raka santai.

Magenta memijat pelipisnya. “Ya Tuhan mulutnya. Gue mau pindah divisi aja.”

Cyan tertawa kecil. “Apadeh? Cemburu? Ya udah, kalian lanjut dulu becandanya. Abis itu, kembali kerja ya. Semangat Genta, Raka.”

Cyan lalu melanjutkan langkahnya, meninggalkan Magenta dan Raka di tempat itu, dengan senyum tipis yang masih tertinggal di wajahnya.

“Bisa diem nggak lo! Gila, lo ngapain, Rak?!” tanya Magenta kesal.

“Bantu lo jujur sama perasaan lo,” jawab Raka ringan. “Biar kepala lo itu sedikit relaks.”

“Anjir… yang ada gue makin malu dong.”

“Seengaknya Bu Cyan itu lebih baik kan daripada mantan lo si Vira itu? Yang suka plorotin uang lo sampek ke kolor-kolor,” Raka menepuk pundak Magenta, membiarkan temannya termenung.

Magenta mengacak rambutnya pelan. Sedikit frustrasi, gondok, juga bingung, dan semuanya nyampur jadi satu.

“Kedekatan gue sama Cyan, kan cuma pura-pura. Kenapa jadi ribet kayak gini sih?”

1
Icha sun
Seru sekali Magenta, lanjutkan!
Icha sun
Sebetulnya kalo ada co-worker kek Magenta gini suasananya gak bakal jadi boring sih. sabar ya Cyan
Aruna02
laki laki mah kagak kelihatan lah syudah pernah gituan kalo cewek ada bekas nya 😭😭kok nggak adil ya
Aruna02
gentaaaa OMG jangan nyosor mulu
Laila Sarifah
Cyan pegangan ke bahu Genta dh kayak tukang ojek aja, peluk di perut kek✌️🤣
Rivella
lucu bnget deh Cyan dan Magenta🤣🤣
Rivella
lucu bnget namanya😭😭🤭
Aleaa
masa yang begini ngga pakai perasaan sih wkwkwk
Wulandaey
Lha si arga mau jadiin cyan bini kedua👍 jelas2 genta aj deketin stgh matii... klo kaga dicium jg g bkal genta brhasil tu dket sma bosnya yg galak introvert ini
Aleaa
wkwk genta gentw, lift pun berpihak padamu
Aleaa
Astagaaa ini dua orang dewasa kek bocil jadinya ya
Laila Sarifah
Apa itu yg namanya Karma? Mana suami Vira ini suka jelalatan lagi pasti di atas pesawat dia melakukan hal-hal aneh dgn pramugarinya
Drezzlle
Magenta ini pria yang blak2 an ada plus minusnya. Minusnya nggak bisa bedain lagi serius dan nggak
ainnuriyati
yaah vira sgitu doang kekuatan lu, blm apa2 sh kena sikat cyan
Drezzlle
cubit ya Magenta ih, masih pura-pura bilang nggak suka setelah semua yang terjadi.
brilliani
musang /Angry/ tolongg ada musang birahiyy tlongg
brilliani
jurus ngeles dan denial nya sama kuat🤣
Sinchan Gabut
Astaga Vi ma Ar ini pasangan 🚩🚩

Masing2 ud ad pasangan masih aj ganggu Genta n Cyan hih 😤
Alessandro
astaga berbagi iler....
ada2 aja,, cyan.. blh jg ngga baper2 club. cm jwb,
"ngga biasa aja, ud prnh lbh dr itu" 🤭
Alessandro
bs pas.. ini mo puasa yakkk🤭
jd gk sabar war takjil 🔪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!