NovelToon NovelToon
The Abandoned Wife'S Revenge

The Abandoned Wife'S Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Transmigrasi / Single Mom / Mata-mata/Agen / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Mengubah Takdir
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Bagi kebanyakan orang, aku adalah penjahatnya. Tapi bagi seseorang, aku adalah pelindungnya.

Clara Agatha, agen pembunuh bayaran kelas kakap di organisasi Blade. Hidupnya yang monoton membuat dia tak memiliki teman di organisasi, sampai pada akhirnya penghianatan dari organisasinya membawa dia ke dalam kematian.

Clara pikir semua sudah selesai, namun dia terbangun di raga orang lain dan menjadi ibu dua anak yang di buang suaminya. Clara tak tahu cara mengurus anak kecil, dia berpikir jika mereka merepotkan.

Namun, pemikiran itu berubah saat kedua anaknya menunjukan kebencian yang begitu besar padanya. Clara merasa aneh, bagaimana bisa anak polos seperti mereka membenci ibunya sendiri? Clara bertekad untuk mencari tahu alasannya, dan menuntut balas pada suami dan juga organisasinya yang telah membuat dia mengalami kejadian menyedihkan seperti itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Angin malam menghantam tubuh Clara tanpa ampun.

Suara kendaraan melintas di belakangnya terdengar samar, seolah datang dari dunia lain. Lampu-lampu kota di kejauhan berpendar buram, terdistorsi oleh mata yang belum sepenuhnya sadar. Beton jembatan terasa dingin menembus telapak kakinya, membuat tubuh Clara menggigil hebat.

Clara tersentak.

Dadanya naik turun tidak beraturan, napasnya tersendat seperti baru saja ditarik dari dasar air yang dalam. Kepalanya berdenyut, seakan ada sesuatu yang dipaksa masuk tanpa izin.

"Apa… ini…?"

Suaranya serak. Asing.

Clara menunduk. Tangannya mencengkeram pagar jembatan dengan kuat, terlalu kuat untuk ukuran refleks biasa. Jemarinya ramping, pucat, dengan bekas luka lama yang tidak dia kenali.

"Kenapa aku masih hidup?"

Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibirnya, Clara masih ingat dengan jelas bahwa dia sudah mati setelah di tuduh sebagai penghianat oleh Lucien.

Tapi kenapa sekarang dia masih hidup? Clara mencubit pipinya sendiri dan rasanya sakit. Dia yakin tidak sedang bermimpi, tapi kejadian ini sulit di pahami olehnya.

Ketika pikirannya belum selesai menyusun kebingungan itu, dia menyadari jika ada dua sosok kecil berdiri tepat di sebelahnya.

Dua anak laki-laki.

Usia mereka sekitar lima tahun. Tubuh kecil itu berdiri kaku di bawah cahaya lampu jalan, wajah mereka pucat, mata mereka merah namun bukan karena menangis.

Mereka menatapnya. Bukan dengan ketakutan.Bukan dengan harapan. Melainkan… dengan kebencian.

Clara membeku.

Tatapan itu terlalu tajam untuk anak seusia mereka. Tidak ada isak, tidak ada jeritan. Hanya dua pasang mata gelap yang memandangnya seolah sedang menatap sesuatu yang paling mereka benci di dunia ini.

Clara mundur setengah langkah tanpa sadar.

"Kalian…" Clara menelan ludah. "Siapa… kalian?"

Salah satu anak mengepalkan tangannya.

"Apa Mommy mau lompat lagi?" suaranya kecil, namun dingin.

Clara tersentak. "Mommy? Siapa yang kalian maksud?"

Anak satunya menyeringai tipis. Senyum yang salah tempat, terlalu pahit untuk wajah sekecil itu.

"Tenang saja," katanya datar. "Kalau Mommy jatuh, kami sudah terbiasa. Tidak perlu pura-pura bingung."

Kalimat itu menghantam Clara lebih keras daripada tamparan. Panggilan Mommy saja sudah aneh, apalagi tuduhan tak berdasar seperti itu. Clara benar-benar di buat bingung dengan situasinya saat ini.

"Apa… maksudmu?"

Kedua anak itu saling berpandangan sejenak, lalu kembali menatapnya dengan ekspresi yang membuat jantung Clara terasa diremas.

"Setiap kali Mommy bilang mau mati," ucap anak pertama, "Mommy selalu membawa kami ke sini, dan menyalahkan kami."

"Supaya kami lihat," sambung yang lain. "Supaya kami tahu kalo kami adalah kesalahan."

Clara menggeleng cepat. "Tidak… aku tidak paham dengan maksud kali–"

Kata-katanya terhenti. Kepalanya mendadak terasa seperti disayat dari dalam. Kilasan-kilasan memori asing menghantam tanpa ampun.

Aurora berdiri di depan cermin dengan mata kosong.

Tangisan anak-anak yang diabaikan.

Teriakan frustrasi "Kalian ini beban!"

Suara pintu dibanting.

Ancaman dari dirinya yang mengatakan bahwa anak kecil di depannya adalah kesalahan terbesar yang pernah di buatnya

Clara terhuyung. "Aah…! Sakit."

Dia menutup kepalanya dengan kedua tangan. Napasnya memburu, matanya memanas.

Tidak… Ini bukan aku. Ini tubuh Aurora.

Tubuh ini… milik wanita yang sudah terlalu lama tenggelam dalam keputusasaan hingga melukai dua anak yang seharusnya dia lindungi.

Clara menatap kedua bocah itu lagi, setelah merasa kepalanya sedikit membaik dan rasa sakitnya berkurang. Kini dia melihat sesuatu yang lebih menyakitkan daripada kebencian pada tubuh anak kecil itu. Kelelahan.

Kelelahan anak-anak yang sudah terlalu sering ditinggalkan, terlalu sering dipaksa dewasa sebelum waktunya, terlalu sering belajar bahwa sosok yang seharusnya melindungi mereka justru adalah sumber ketakutan terbesar.

"Kenapa kalian menatapku seperti itu…?" suara Clara pecah. "Aku tidak tahu kenapa aku ada di sini… aku tidak ingat apa-apa…"

Anak pertama tertawa kecil. Tawanya kering.

"Kalau Mommy lupa, itu lebih baik," katanya. "Setidaknya Mommy tidak akan marah lagi."

Clara tersentak. Marah?

"Setiap Mommy marah," lanjut anak kedua, menunduk sedikit, "Mommy jadi menakutkan."

Kalimat itu membuat lutut Clara melemah. Dia berjongkok perlahan, menatap mereka sejajar.

"Aku…" dia menarik napas panjang. "Aku benar-benar tidak ingat apa yang telah kulakukan pada kalian."

Kedua anak itu menegang. Tatapan kebencian itu bercampur dengan kewaspadaan.

"Apa itu trik baru?" tanya salah satu dengan sinis.

Clara menggeleng cepat. "Bukan. Aku sungguh-sungguh tidak ingat apa pun, apa aku menyakiti kalian selama ini?"

Air mata jatuh tanpa bisa dia cegah. "Jika benar, maka aku minta maaf."

Kedua anak itu terdiam. Angin malam berdesir di antara mereka. Clara berdiri perlahan, menjauh satu langkah dari pagar jembatan.

"Mommy benar-benar minta maaf, meski kata itu tidak mungkin bisa menghapus kemarahan kalian. Setidaknya, Mommy tulus mengatakannya."

"Kenapa?" Tanya anak pertamanya.

Clara menunduk menatap lekat anak itu, dari ingatan yang di dapatkannya. Anak itu bernama Arjuna Alverez.

"Apanya?" Tanya balik Clara.

Arjuna menatap dingin Clara. "Baru sekarang Mommy minta maaf? Apa Mommy pikir aku bisa menerima maaf itu?"

Pertanyaan itu menghantam Clara layaknya palu, anak sekecil itu sudah berani menjawab dengan lantang dan tenang tanpa menunjukan rasa takut sedikit pun.

Clara yakin mereka sudah tumbuh dewasa terlalu dini, sampai mereka tidak lagi tahu bagaimana caranya berharap.

Clara menelan ludah. Dadanya terasa sesak, tapi kali ini dia memaksa dirinya tetap tenang. Tidak berteriak. Tidak membantah. Tidak membela diri.

Dia berdiri perlahan, merapikan napasnya, lalu menatap kedua anak itu dengan sorot mata yang berbeda. Bukan sorot Aurora yang rapuh dan penuh amarah. Melainkan tatapan seseorang yang sudah terlalu sering mati, dan tahu betapa mahalnya satu kesempatan untuk hidup dengan benar.

"Kau benar," ujar Clara akhirnya, suaranya rendah namun stabil. "Aku tidak punya hak untuk meminta kalian memaafkanku. Dan aku tidak berharap kalian langsung percaya."

Arjuna menyipitkan mata, seolah menunggu ledakan emosi yang biasanya muncul setelah kalimat seperti itu.

Namun Clara hanya melanjutkan dengan tenang.

"Aku juga tidak akan memaksa kalian memanggilku Mommy jika kalian tidak mau."

Kedua anak itu tersentak kecil. Yang lebih kecil refleks mengeratkan jaket tipis yang dikenakannya. Namanya Riven Alverez.

"Malam semakin dingin," lanjut Clara sambil melirik langit yang mulai menggelap. "Dan tempat ini tidak aman untuk anak-anak."

Arjuna mendengus. "Biasanya Mommy akan bilang ini salah kami."

Clara menggeleng pelan. "Tidak kali ini."

Dia melangkah menjauh dari pagar jembatan, benar-benar meninggalkannya, lalu berbalik menghadap mereka lagi.

"Aku tidak tahu bagaimana ceritanya aku bisa berada di tubuh ini. Aku juga tidak tahu bagaimana Aurora yang dulu memperlakukan kalian." Suaranya sedikit lirih agar anak itu tidak terlalu mendengarnya. "Aku tidak akan meninggalkan kalian di sini malam ini."

Anak kedua mengangkat wajahnya perlahan. "Lalu… mau ke mana?"

Clara menghela napas pendek, lalu menjawab dengan nada datar namun tegas. "Kita cari hotel. Tempat yang hangat. Kalian bisa makan, mandi, dan tidur dengan aman."

Arjuna tertawa kecil, pahit. "Mommy selalu bilang mau mati, tapi akhirnya menyeret kami ke sini."

Clara menatap lurus ke arah matanya. Tidak menghindar.

"Kalau aku bilang mau mati," katanya pelan, "aku akan mengatakannya tanpa membawa kalian. Karena hidup atau matiku bukan tanggung jawab kalian."

1
shabiru Al
pendek amat thor,, nungguin nya lama... baru scroll sekali langsung abis aja
shabiru Al
aurora sendiri masih belum bisa menebak siapa mereka,,, apa mungkin pamanya..
Heni Mulyani
lanjut💪
Heni Mulyani
lanjut
shabiru Al
siapa yang menyerang aurora,, apa black spider ?
Warni: Kayaknya suruhan si mantan
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
bintang⭐⭐⭐⭐⭐ biar lebih semangat up bab nya karena penasaran 🫶
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
idih selain pengen muntah 🤮
shabiru Al
memang benar laki2 spt delvin tdk layak untuk d kenang tpi d buang ke tempat sampah
shabiru Al
akhirnya sidelvin muncul juga,, tpi kok udah mulai muncul lagi pria lain hhhmmm makin menarik...
mustika ikha
uh, siapakah dia, laki2 arogan, dingin, jgn benci2 amatlah mas arogan nnt kamu kepincut ma aurora, buci loh 🤣🤣semangaaaat 💪💪💪
shabiru Al
tdk mudah membuktikan diri bahwa aurora sudah berubah terutama pada riven
Zee✨: udh kepalang sakit hati makanya susah🤭
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
kenapa ya anak-anak aurora g sekolah
Zee✨: hooh sampe lupa tanggung jawab
total 3 replies
shabiru Al
seru x ya kalo aldric ketemj sama aurora...
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
semangat rora
shabiru Al
ternyata bukan hanya calix tpi aldric pun sama misterius malah berbahaya....
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
lanjut thor
Heni Mulyani
lanjut
shabiru Al
jadi makin penasaran siapa calix sebenarnya ?
Zee✨: ya kan, masih abu2 pokoknya
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
aurora suka karakter nya
shabiru Al
apa aurora mengenal siapa calix... ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!