Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Tanda Bahaya
Dua hari berlalu sejak kepulanganku. Suasana rumah cukup tenang, meskipun ketegangan antara aku dan Arvino masih terasa. Dia seolah membangun tembok tinggi setiap kali aku mencoba bicara serius soal kesehatan Sarah. Bagi Arvino, kehamilan Sarah adalah hal yang sakral dan sempurna, dia menolak mendengar adanya cacat atau bahaya.
Pagi ini, aku sedang membuat kopi di dapur ketika Ardo, adik Arvino, masuk.
"Kopi hitam tanpa gula, seperti biasa?" sapa Ardo sambil mengambil apel dari keranjang buah.
"Kau masih ingat kebiasaanku," gumamku.
"Tentu saja. Calon kakak ipar yang gagal," candanya, lalu buru-buru meralat saat melihat tatapanku. "Maaf, bercanda. Oh ya, Mama masih berharap kau dan aku..."
"Hentikan, Do. Kau tahu aku menganggapmu saudara," potongku cepat.
"Ya, ya. Karena hatimu sudah penuh dengan orang lain, kan?" Ardo menatap lurus ke mataku. Dia tahu. Tentu saja dia tahu. Dia yang paling dekat denganku setelah Nenek.
"Jangan bahas itu."
Tiba-tiba, terdengar suara pecahan gelas dari lantai atas. Diikuti teriakan kesakitan.
"Arvino!! Sakit!!"
Itu suara Sarah.
Jantungku berhenti berdetak sesaat. Aku menjatuhkan sendok kopi dan berlari menaiki tangga secepat kilat, mendahului Ardo.
Pintu kamar utama terbuka. Aku melihat pemandangan yang membuat darahku berdesir ngeri.
Sarah terduduk di lantai, memegangi perutnya. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membanjiri pelipisnya. Dan di lantai, merembes di antara kakinya, cairan merah segar menggenang.
Pendarahan.
"Mbak!" teriakku, langsung bersimpuh di sampingnya.
Arvino baru saja keluar dari kamar mandi, wajahnya pias melihat istrinya. "Sarah! Kenapa?! Apa yang terjadi?!" Dia panik, tangannya gemetar hebat saat mencoba menyentuh Sarah.
"Jangan disentuh sembarangan!" bentakku, mengambil alih komando. Insting dokterku mengambil alih emosiku. "Ardo! Siapkan mobil sekarang! Kita ke rumah sakit Papa! Cepat!"
Ardo berlari turun.
"Aluna... sakit sekali..." rintih Sarah, mencengkeram lenganku kuat hingga kukunya menancap. "Bayiku... selamatkan bayiku..."
"Tenang Mbak, tarik napas," aku memeriksa nadinya. Cepat dan lemah. Solusio Plasenta? Atau Eklamsia? Apapun itu, ini darurat.
"Arvino, angkat Mbak Sarah. Hati-hati. Jaga kepalanya," perintahku pada Arvino yang masih mematung shock. "KAK ARVINO! LAKUKAN SEKARANG!"
Teriakanku menyadarkannya. Dengan wajah pucat, dia mengangkat tubuh istrinya. Darah menetes mengotori karpet mahal mereka, tapi tidak ada yang peduli.
Di dalam mobil, aku terus memantau kesadaran Sarah yang mulai menurun.
"Mbak, tetap buka mata. Lihat aku. Jangan tidur," aku menepuk pipinya pelan.
"Aluna..." bisik Sarah lemah, matanya mulai sayu. "Jaga Arvino... kalau aku..."
"Diam! Jangan bicara yang tidak-tidak!" potong Arvino dari kursi depan, suaranya parau menahan tangis. "Kamu akan baik-baik saja, Sarah. Kita sebentar lagi sampai."
Aku memegang pergelangan tangan Sarah. Denyut nadinya semakin kacau. Tensi darahnya anjlok.
Sesampainya di IGD Rumah Sakit Hardinata, tim medis langsung menyambut. Papa juga sudah ada di sana, wajahnya tegang.
"Siapkan ruang operasi! Segera!" teriak Papa.
Aku ikut mendorong brankar Sarah menuju ruang operasi. Tapi di depan pintu steril, perawat menahanku.
"Dokter Aluna, anda keluarga. Sebaiknya tunggu di luar," ujar perawat itu.
"Aku dokter bedah! Aku bisa membantu!" bantahku.
"Aluna," suara Papa tegas menahanku. "Emosimu tidak stabil. Biar Papa dan tim yang menangani. Tunggu di sini bersama Arvino."
Pintu ruang operasi tertutup. Lampu indikator menyala merah.
Aku berdiri mematung, menatap pintu itu dengan napas memburu. Baju tidurku berlumuran darah kakakku sendiri.
Di kursi tunggu, Arvino duduk dengan kepala tertunduk, menjambak rambutnya sendiri. Tiba-tiba dia mendongak, menatapku dengan mata merah menyala penuh amarah.
"Kau..." desisnya.
Aku menoleh.
Arvino berdiri, melangkah mendekatiku dan mencengkeram bahuku kasar. "Kau bilang dia preeklamsia semalam. Kenapa kau tidak memaksanya ke rumah sakit?! Kenapa kau biarkan ini terjadi?!"
"Aku sudah bilang, tapi Kakak yang menuduhku menakut-nakuti!" balasku, air mata mulai menggenang.
"Harusnya kau memaksa! Kau dokternya!" Arvino mengguncang tubuhku. "Kalau terjadi sesuatu pada Sarah dan anakku... aku tidak akan pernah memaafkanmu, Aluna. Tidak akan pernah!"
Tatapan itu. Bukan lagi tatapan kakak atau sahabat. Itu adalah tatapan kebencian.
Dan saat itu aku sadar, neraka bagiku baru saja dimulai.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️