NovelToon NovelToon
Aluna : Bayang - Bayang Luka

Aluna : Bayang - Bayang Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Pelakor / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Naik ranjang/turun ranjang / Cintapertama
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Tanda Bahaya

​Dua hari berlalu sejak kepulanganku. Suasana rumah cukup tenang, meskipun ketegangan antara aku dan Arvino masih terasa. Dia seolah membangun tembok tinggi setiap kali aku mencoba bicara serius soal kesehatan Sarah. Bagi Arvino, kehamilan Sarah adalah hal yang sakral dan sempurna, dia menolak mendengar adanya cacat atau bahaya.

​Pagi ini, aku sedang membuat kopi di dapur ketika Ardo, adik Arvino, masuk.

​"Kopi hitam tanpa gula, seperti biasa?" sapa Ardo sambil mengambil apel dari keranjang buah.

​"Kau masih ingat kebiasaanku," gumamku.

​"Tentu saja. Calon kakak ipar yang gagal," candanya, lalu buru-buru meralat saat melihat tatapanku. "Maaf, bercanda. Oh ya, Mama masih berharap kau dan aku..."

​"Hentikan, Do. Kau tahu aku menganggapmu saudara," potongku cepat.

​"Ya, ya. Karena hatimu sudah penuh dengan orang lain, kan?" Ardo menatap lurus ke mataku. Dia tahu. Tentu saja dia tahu. Dia yang paling dekat denganku setelah Nenek.

​"Jangan bahas itu."

​Tiba-tiba, terdengar suara pecahan gelas dari lantai atas. Diikuti teriakan kesakitan.

​"Arvino!! Sakit!!"

​Itu suara Sarah.

​Jantungku berhenti berdetak sesaat. Aku menjatuhkan sendok kopi dan berlari menaiki tangga secepat kilat, mendahului Ardo.

​Pintu kamar utama terbuka. Aku melihat pemandangan yang membuat darahku berdesir ngeri.

​Sarah terduduk di lantai, memegangi perutnya. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membanjiri pelipisnya. Dan di lantai, merembes di antara kakinya, cairan merah segar menggenang.

​Pendarahan.

​"Mbak!" teriakku, langsung bersimpuh di sampingnya.

​Arvino baru saja keluar dari kamar mandi, wajahnya pias melihat istrinya. "Sarah! Kenapa?! Apa yang terjadi?!" Dia panik, tangannya gemetar hebat saat mencoba menyentuh Sarah.

​"Jangan disentuh sembarangan!" bentakku, mengambil alih komando. Insting dokterku mengambil alih emosiku. "Ardo! Siapkan mobil sekarang! Kita ke rumah sakit Papa! Cepat!"

​Ardo berlari turun.

​"Aluna... sakit sekali..." rintih Sarah, mencengkeram lenganku kuat hingga kukunya menancap. "Bayiku... selamatkan bayiku..."

​"Tenang Mbak, tarik napas," aku memeriksa nadinya. Cepat dan lemah. Solusio Plasenta? Atau Eklamsia? Apapun itu, ini darurat.

​"Arvino, angkat Mbak Sarah. Hati-hati. Jaga kepalanya," perintahku pada Arvino yang masih mematung shock. "KAK ARVINO! LAKUKAN SEKARANG!"

​Teriakanku menyadarkannya. Dengan wajah pucat, dia mengangkat tubuh istrinya. Darah menetes mengotori karpet mahal mereka, tapi tidak ada yang peduli.

​Di dalam mobil, aku terus memantau kesadaran Sarah yang mulai menurun.

"Mbak, tetap buka mata. Lihat aku. Jangan tidur," aku menepuk pipinya pelan.

​"Aluna..." bisik Sarah lemah, matanya mulai sayu. "Jaga Arvino... kalau aku..."

​"Diam! Jangan bicara yang tidak-tidak!" potong Arvino dari kursi depan, suaranya parau menahan tangis. "Kamu akan baik-baik saja, Sarah. Kita sebentar lagi sampai."

​Aku memegang pergelangan tangan Sarah. Denyut nadinya semakin kacau. Tensi darahnya anjlok.

​Sesampainya di IGD Rumah Sakit Hardinata, tim medis langsung menyambut. Papa juga sudah ada di sana, wajahnya tegang.

​"Siapkan ruang operasi! Segera!" teriak Papa.

​Aku ikut mendorong brankar Sarah menuju ruang operasi. Tapi di depan pintu steril, perawat menahanku.

​"Dokter Aluna, anda keluarga. Sebaiknya tunggu di luar," ujar perawat itu.

​"Aku dokter bedah! Aku bisa membantu!" bantahku.

​"Aluna," suara Papa tegas menahanku. "Emosimu tidak stabil. Biar Papa dan tim yang menangani. Tunggu di sini bersama Arvino."

​Pintu ruang operasi tertutup. Lampu indikator menyala merah.

​Aku berdiri mematung, menatap pintu itu dengan napas memburu. Baju tidurku berlumuran darah kakakku sendiri.

​Di kursi tunggu, Arvino duduk dengan kepala tertunduk, menjambak rambutnya sendiri. Tiba-tiba dia mendongak, menatapku dengan mata merah menyala penuh amarah.

​"Kau..." desisnya.

​Aku menoleh.

​Arvino berdiri, melangkah mendekatiku dan mencengkeram bahuku kasar. "Kau bilang dia preeklamsia semalam. Kenapa kau tidak memaksanya ke rumah sakit?! Kenapa kau biarkan ini terjadi?!"

​"Aku sudah bilang, tapi Kakak yang menuduhku menakut-nakuti!" balasku, air mata mulai menggenang.

​"Harusnya kau memaksa! Kau dokternya!" Arvino mengguncang tubuhku. "Kalau terjadi sesuatu pada Sarah dan anakku... aku tidak akan pernah memaafkanmu, Aluna. Tidak akan pernah!"

​Tatapan itu. Bukan lagi tatapan kakak atau sahabat. Itu adalah tatapan kebencian.

Dan saat itu aku sadar, neraka bagiku baru saja dimulai.

...****************...

Bersambung....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
leahlaurance
kabur aja menjau sana aluna.hatinya tetap untuk sarah istrinya
leahlaurance
tungu aja istri mu mati ,mungkin rasa bersalamu sampai masuk kubur
leahlaurance
kenapa si kamu bodoh amat wajai perempuan tingalin aja dia
اختی وحی
trllu bertele² ceritanya, sampe bab ini msih bgitu² aja,kejadian berulang
leahlaurance
kan ada pengasuh
leahlaurance
makanya jangan bodoh,masa enga ada kamar lain
اختی وحی
ada bab yg seolah² mrk ini tinggal bareng sma mertua,tp ad bab yg menjelaskan klw mrk tdk serumah dngn orang tuanya, bingung jg
leahlaurance
perempuan bodoh,kau pantas dapat perlekuan seperti itu.
leahlaurance
bagus bangat ceritanya,jiwa ku ikut terseksa tambah beben fikiran😂🤭
leahlaurance
menurut ku aluna juga punya hak menolok.tapi demi cinta butanya kali ya.
leahlaurance
bertepuk sebelah tangan ya aluna
shabiru Al
sebaiknya jika ingin memulai lagi,, carilah rumah baru agar suasana nya pun baru tanpa ada kenangan menyakitkan dan bayangan sarah
leahlaurance: enga dapak ku bayangkan kalau aku menikah dgn ipar ,walau itu wasiatnya
total 1 replies
shabiru Al
entah dengan cara apa arvino bisa meluluhkan hati aluna
shabiru Al
hukuman yang terberat adalah pengabaian dan rasa yang sudah hilang sepenuhnya
shabiru Al
benar maaf saja tdk cukup untuk satu tahun penyiksaan yang kejam dan tdk berdasar.. enak aja
shabiru Al
aluna yang malang tpi hebat mau bangkit dan ttp maju kedepan💪
shabiru Al
bodoh kalau aluna ttp bertahan demi lili
shabiru Al
ya kirain bakalan berubah fikiran aluna nya,, good aluna setidaknya tdk terlalu tercekik berada dlm atap yang sama
shabiru Al
aku kira aluna tdk akan berani memperjuangkan kebahagiaan nya sendiri kebebasan nya sendiri,, good job aluna... 👍
Yulianti Yulianti
ini udah tamat sampai sini bukan kak
tanty rahayu: belum ka 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!