Aku Nadia istri dari Mas Afif dan ibu dari Bintang. aku istri yang setia, yang selalu berusaha melayani suamiku dengan baik, menemaninya dari nol. aku juga ibu yang baik untuk anakku Bintang. singkatnya aku berusaha menjadi yang terbaik untuk suami dan anakku.
Namun di saat pernikahanku yang ke tujuh, Mas Afif memberikanku kejutan besar, dia membawa seorang wanita lain ke dalam rumah tangga kami, namanya Laras dan anak tirinya bernama Salsa, yang Bintang selalu bilang kalau anak itu adalah anak tercantik di kelasnya.
cerita perhianatan dan kebangkitan Nadia dari penghianatan suaminya.
happy reading All❤️ bantu support cerita pertama saya ya, trims🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
“Kamu apa-apaan sih Nad, pake hancurin kamar kita segala??.“Tanyanya dengan membentak dan menatap nyalang padaku, kedua tanganku terkepal erat di bawah sana pun dengan kekesalan yang terasa begitu memuncak yang ku rasakan.
Sialan, dia masih tanya kenapa setelah penghianatan yang di lakukannya padaku di sekolah Bintang!
Astaga, apa Mas Afif ini tidak merasa melakukan sebuah dosa padaku? Atau dia tak merasa melakukannya?
“Mas, wanita itu. Siapa dia?.“Tanyaku yang masih berusaha untuk tidak meledak marah di hadapannya dan tidak melampiaskan kekesalanku karena dia dengan teganya membentak Bintang dan juga hampir membuat Bintang terjatuh tadi.
“Dia Laras, istriku Nad.“Jawabnya yang membuat dadaku terasa sesak dan membuatku sulit untuk bernafas.
Dia bilang istrinya. Tapi kapan Mas Afif meminta izinku atau kapan Mas Afif membicarakan tentang poligami? Rasanya tidak pernah!
“Mas Afif tidak pernah meminta izinku, mas juga gak pernah bicara apapun__.“
“Ya dan lagian tidak perlu, aku bisa menikahi wanita manapun yang aku mau, tanpa izin kamu sekalipun. Dan lagian keluargaku juga sudah merestui kok.“
Apalagi ini? Keluarganya sudah merestui? Dan tidak ada satu pun dari mereka yang memberitahuku tentang kenyataan pahit, di mana suamiku menikah lagi.
Ya Alloh, hati hamba nyeri, sesak sekali dada ini, hancur sudah semuanya ya Alloh.
Aku tidak punya tempat mengadu, hanya Alloh yang ku punya. Kedua orang tuaku sudah meninggal dan satu-satunya orang yang ku percaya tinggal Mas Afif seorang dan keluarganya, tetapi dia dan keluarganya malah menghianatiku, menusukku dengan pedang panjang dan sukses membuat hatiku nyeri tak tertahan.
“Udahlah Nad, lagian aku bisa adil kok sama kalian berdua..“Celetuknya yang membuatku menatapnya denga kebencian.
Aku tahu poligami di dalam agama yang ku anut bukanlah sesuatu hal yang asing bahkan di bolehkan, tapi tentunya dengan syarat dan ketentuan yang harus di penuhi. Tapi Mas Afif, bahkan aku tak percaya dia bisa adil, mengingat di sekolah pun dia tidak mau mengakui Bintang dan bahkan bersikap kasar padanya.
Dan lagi pula, Poligami zaman rasulullah sangat berbeda jauh dengan poligami di zaman ini. Di mana di zaman rasul pun poligami ada karena keadaan tertentu. Misal: karena rasul ingin menolong para janda yang sudah tua dan tidak memiliki suami, maka rasul menikahinya dan menanggung nafkah untuk para janda itu, beda halnya dengan poligami zaman sekarang yang mengedapankan nafsu semata.
Aku masih kuat, masih muda masih punya kemampuan untuk mengandung dan melahirkan anaknya. Dan merasa tidak punya kekurangan, kecuali ibadah kepada Alloh yang aku pun tidak tahu ibadan mana yang di terima dan di tolak. Untuk tugas dan kewajiban terhadap suami, aku merasa sudah melakukan yang terbaik. Tapi dia masih tega menduakanku dengan istri barunya itu, oh Ya Alloh hamba tidak kuat.
“Mas yakin bisa adil dengan aku dan dia? Sedang sholat aja__.“
“Apa sih, kamu bawa-bawa ibadah?.“Potongnya sambil terdengar marah dan membuat melongo karena kaget. Lho benerkan?. Gimana mau poligami, sedang sholatnya saja susah, aku bicara berdasar fakta lho, bukan dengar dari orang lain. Aku sudah tujuh tahun menjadi istrinya dan aku tahu dia bagaimana, terutama dalam sholatnya.
“Bukan begitu mas, tapi yang namanya poligami itu berat. Terlebih kamu gak pernah minta izin dulu sama aku, sebenarnya kamu nganggep aku istri kamu bukan, sih? Hal sepenting ini aja, kamu gak izin sama aku..“Tukasku masih berusaha tenang, walau rasanya sudah sangat ingin memukul wajahnya, andai tak ingat dosa. Mungkin aku sudah memberinya tamparan sebanyak dua atau tiga kali.
“Bukan begitu Nad, tapi mendiang papa Laras memaksaku untuk menikahi anaknya.“
“Kamu kan bisa nolak, Mas!.“
Mas Afif menggeleng”Enggak Nad, mendiang papa Laras adalah orang yang cukup berjasa pada bisnis yang saat ini sudah ku jalankan, lagian kamu juga ikut menikmati hasilnya lho.“
Jadi bawa-bawa nafkah sih, ya wajarlah. Aku istrinya, mengurusinya, mengurus anaknya dan memberikan layanan padanya, wajar aku mendapat nafkah darinya.
“Emang Laras gak punya pacar atau apa gitu?.“
“Enggak, Laras janda anak satu dan karena mendiang papanya khawatir waktu itu, makanya beliau berwasiat supaya aku bisa menjaga anak dan cucunya.“
Selamat mas, kamu sukses menolehkan luka di hatiku, rasanya nyeri sekali. Aku istri yang tidak di anggap dan tidak di hargai keberadaannya olehnya. Ya Alloh, bahkan hal sepenting ini pun, dia tak mau membaginya denganku. Dia lebih memilih untuk memberitahu daripada minta izin denganku.
“Yasudah karena sudah terjadi, aku bisa apa..“Sahutku datar dengan tatapan mata kosong, seperti hatiku yang terasa kosong dan hampa. Aku tidak ikhlas sebetulnya, tapi rasanya percuma berontak, sebab semuanya sudah terlanjur juga dan andai aku meminta cerai dengannya, dia pasti akan mengabulkan lalu aku dan Bintang jadi gelandangan? BIG NO. bukannya aku munafik atau memilih tenggelam dalam luka, tetapi hidup dalam kemiskinan lebih tidak enak lagi, setidaknya aku harus mengambil hak-hakku sebagai istrinya dan menguras kekayaannya seperti ucapanku saat di sekolah Bintang.
“Kamu menerimanya?.“Tanya Mas Afif yang terlihat senang dan ku jawab dengan anggukan kepala.
Mas Afif lalu memelukku erat”Makasih ya, Nad. Kamu memang istri sholeha.“Pujinya lalu mengecup pucuk kepalaku beberapa kali.
“Aku akan menjelaskannya pelan-pelan dengan Laras, aku yakin dia akan terima kok. Sama seperti kamu.“
**************
Sudah tiga minggu berlalu dan terakhir setelah pembicaraan kami, Mas Afif katanya akan menjelaskan semuanya pada Laras katanya begitu, tapi sampai detik ini pun. Mas Afif dan wanita itu tidak pernah datang ke rumah atau juga menyuruhku untuk bertemu dengan Laras dan mengenalkan kami berdua.
Yang ada, Mas Afif setiap harinya, kecuali sabtu dan minggu dengan senang hati menemani Laras ke sekolah dengan anak tirinya yang bernama Salsa.
Oh hebat sekali suamiku itu, dia lebih memilih mengurusi anak tirinya ketimbang anak kandungnya. Malah ketika anak kandungnya Bintang memanggil namanya di bentak, sedang anak tiri di sayang-sayang. Cuihhh.
Kalian pasti bertanya-tanya kenapa Mas Afif bisa semulus itu mengantar jemput Laras ke sekolah tanpa di gunjing oleh ibu-ibu lainnya. Jawabannya jelas, karena selama menjadi suamiku atau papa dari anakku, Mas Afif tidak pernah menjemput atau mengantar dan mengenalkan dirinya sebagai papa Bintang, miris kan? Tentu, aku pun sangat miris dan kasihan dengan Bintang.
Ku pikir, Mas Afif betulan sibuk dengan pekerjaannya sampai tak ada waktu untuk kami, tapi ternyata bukan seperti itu__kami bukan prioritasnya dan jelas prioritasnya sekarang adalah istri barunya dan anaknya.
“Eh bu Nad, apa kabar?.“Sapa bu Safa, salah satu ibu dari teman sekelas Bintang, kalau tidak salah namanya Gian. Dia penyukai salah satu karakter di film kartun doraemon yang bernama Gian, makanya namanya sama persis, itulah yang bu Safa ceritakan padaku. Alih-alih tinggi besar seperti Gian di film doraemon, Gian anaknya bu Safa justru memiliki tubuh yang cenderung kurus dan kecil, meski begitu ada satu kesamaan mereka yang akan selalu ku ingat. Mereka itu suka konser dan suka memaksakan kehendaknya..hehe
“Baik bu, ibu sendiri bagaimana? Sudah mendingan?.“Tanyaku dan memilih menepi lalu ngobrol dengannya, setelah hampir seminggu bu Safa izin karena katanya sakit.
“Alhamdulillah udah bu, makasih ya kiriman buahnya.“
“Sama-sama Bu Safa.“Jawabku sambil tersenyum tipis.
“Eh bu, tahu gak ada siswi baru di kelas anak kita, namanya kalau tidak salah Salsa.“Ujarnya yang seketika membuatku tersenyum kecut, adik dari anakku Bintang.
“Cantik dan kelihatannya pintar sekali ya anaknya, terus-terus mamanya juga cantik plus kayaa raya lho bu, suaminya juga cakep lho bu, definisi keluarga cemara sih menurut saya mah..“Aku hanya bisa terkekeuh hambar mendengarnya, keluarga cemara ya? Apakah masih bisa di sebut sebagai keluarga cemara kalau dia merebut suamiku? Ayah dari anakku? Oh astaga, cerita kehidupan macam apa ini? Aku kira, aku takan mengalami hal seperti ini, mengingat aku dan Mas Afif, kami menjalin hubungan sudah cukup lama sekali dan aku tahu kalau dia mencintaiku, dan aku pun sangat mencintainya.
Benar kata orang, jalan hidup itu tidak bisa di tebak, selalu saja menjadi misteri.
“Ehh Bu Nad, jangan ngelamun ah..“Ucapan Bu Safa membuat atensiku teralih sepenuhnya kepada dia, aku hanya tersenyum hambar tanpa berniat sama sekali menimpali apapun.
“Eh enggak kok bu Safa..hehe, yaudah kalau begitu saya duluan ya, bu? Saya mau nunggu Bintang di dalam, saya juga udah janji mau nunggu di sana..“Tunjukku tepat ke arah kelas di mana anakku Bintang masih berada di dalamnya, sebentar lagi kelas usai dan aku ingin di sana, ketimbang bersama Bu Safa yang kini tengah asik membahas Mas Afif dan istri barunya.
Andai bu Safa tahu kalau suami wanita itu adalah suamiku, bagaimana responnya, ya? Apa dia masih akan tetap menyebut sebagai keluarga cemara ataukah sebaliknya, membenci Laras dan Suamiku? Entahlah, aku sama sekali belum ada niatan untuk menceritakannya pada siapapun untuk saat ini.