Kisah tentang cinta yang tak memandang usia, tentang keberanian menerima masa lalu seseorang, dan tentang dua hati yang memilih bersama meski dunia sempat meragukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Dira diam.
Bukan karena tidak punya jawaban.
Tapi karena terlalu banyak yang berputar di kepalanya.
Andreas menunggu.
Biasanya ia akan langsung membela diri. Atau menjelaskan panjang lebar.
Tapi kali ini ia hanya berdiri di hadapan istrinya… menunggu reaksi.
Dira berjalan pelan kembali ke sofa.
Duduk.
Menatap meja di depannya tanpa benar-benar melihat apa pun.
“Apa kamu masih sering komunikasi sama dia?” tanyanya akhirnya, pelan.
Andreas menjawab tanpa ragu.
“Tidak. Hanya kalau soal urusan hukum.”
“Terakhir sebelum hari ini?”
“Dua bulan lalu. Soal pajak properti.”
Dira mengangguk kecil.
Diam lagi.
Keheningan itu membuat Andreas gelisah.
“Dir, kamu mau bilang apa?”
Dira menatapnya.
Matanya tidak marah.
Tapi juga tidak sepenuhnya tenang.
“Aku cuma nggak mau jadi orang terakhir yang tahu.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi jelas.
Andreas mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
“Kalau memang ada urusan yang belum selesai, bilang dari awal. Jangan sampai mantan istrimu yang datang dan menjelaskan ke aku.”
Andreas menelan ludah.
“Itu bukan sengaja aku sembunyikan.”
“Tapi kamu juga nggak pernah cerita.”
Sunyi.
Andreas duduk di kursi seberang.
“Aku pikir itu nggak penting lagi.”
“Buat kamu mungkin nggak,” jawab Dira pelan. “Buat aku penting. Karena itu menyangkut rumah yang sekarang aku tinggali.”
Kalimat itu tepat.
Andreas memandang sekeliling ruang tamu.
Rumah ini dulunya milik kenangan lama.
Sekarang seharusnya milik awal yang baru.
“Aku akan jelaskan semuanya,” katanya pelan. “Detailnya.”
Dira mengangguk.
Tapi ia masih diam.
Bukan karena tidak percaya.
Tapi karena sedang belajar percaya.
Beberapa detik berlalu.
“Apa kamu takut?” tanya Andreas pelan.
Dira tersenyum tipis.
“Takutnya bukan dia minta aset lagi.”
“Lalu?”
“Aku takut kamu belum benar-benar selesai.”
Kalimat itu membuat udara terasa lebih berat daripada tadi.
Andreas tidak langsung menjawab.
Ia tahu… pertanyaan itu bukan soal hukum.
Bukan soal dokumen.
Tapi soal hati.
“Aku sudah selesai,” katanya akhirnya. “Aku marah, iya. Tapi bukan karena masih ingin kembali.”
Dira menatapnya dalam.
“Aku nggak mau jadi pelarian dari rasa sakitmu.”
Andreas terdiam.
Ia baru menyadari—
Mungkin tanpa sadar, ia memang terburu-buru menikah.
Bukan karena cinta yang matang.
Tapi karena ingin menutup bab lama.
“Aku menikah kamu bukan untuk melupakan dia,” katanya lebih pelan sekarang. “Aku menikah karena aku mau hidupku jalan lagi.”
Dira tidak langsung tersenyum.
“Tapi pastikan kamu menikah bukan cuma supaya hidupmu nggak terasa kosong.”
Sunyi panjang.
Andreas bangkit perlahan.
Mendekat.
Tidak memegangnya.
Hanya berdiri di depannya.
“Aku nggak sempurna,” katanya. “Aku masih belajar. Tapi aku nggak mau setengah-setengah lagi.”
Dira menghela napas.
“Aku juga.”
Beberapa detik hening.
Dira diam cukup lama.
Andreas mulai gelisah dengan keheningan itu.
“Apa kamu takut?” tanyanya pelan.
Dira menatapnya.
Matanya tidak basah. Tapi jelas menyimpan sesuatu yang lama ditahan.
“Aku takut kamu belum benar-benar selesai,” katanya jujur.
Andreas menghela napas.
“Aku sudah selesai, Dir.”
Dira tersenyum tipis.
“Walaupun kita menikah bukan karena cinta yang panjang.”
Andreas terdiam.
Dira melanjutkan pelan,
“Kita menikah karena kamu menyelamatkan aku,” lanjut Dira.
Suasana berubah.
“Kamu tahu aku hampir menikah,” katanya pelan. “Semua sudah siap. Undangan tersebar dan orang sudah datang untuk menghadiri akad nikah”
Ia tersenyum tipis—senyum yang getir.
“Lalu aku tahu dia menghamili perempuan lain.”
Ruang tamu terasa lebih sunyi.
“Ironisnya…” Dira menelan ludah, “…aku tahu sebelum semuanya dimulai.”
Andreas mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
“Aku tahu sebelum akad itu terjadi. Sebelum aku benar-benar menjadi istrinya.”
Ia menatap kosong beberapa detik.
“Bayangkan kalau aku tahu setelahnya.”
Kalimat itu menggantung berat.
“Semua orang bilang aku malang,” lanjutnya pelan. “Tapi sebenarnya aku masih beruntung. Aku hancur, iya. Dipermalukan, iya. Tapi setidaknya aku tidak terikat secara sah dengan laki-laki yang sudah mengkhianatiku bahkan sebelum kami mulai.”
Andreas mendengarkan tanpa menyela.
“Dan kamu datang,” katanya. “Kamu berdiri di sampingku waktu semua orang berbisik. Waktu keluargaku menahan malu.”
Ia menatap Andreas.
“Jadi jangan pernah pikir aku menikah kamu cuma karena panik atau karena ingin cepat menutup luka.”
Sunyi.
“Kita sama-sama disakiti,” lanjut Dira. “Bedanya, aku tahu sebelum pernikahan itu dimulai. Kamu tahu
Setelah empat tahun.”
Kalimat itu tidak membandingkan.
Tapi menunjukkan betapa berbeda waktu bisa mengubah segalanya.
“Aku nggak mau kita jadi dua orang yang menikah cuma karena takut sendirian,” katanya pelan. “Atau karena ingin membuktikan ke dunia bahwa kita baik-baik saja.”
Andreas menghela napas panjang.
“Aku nggak menikahimu untuk membuktikan apa pun,” katanya akhirnya. “Aku menikahimu karena di saat kamu hancur… kamu tetap jujur. Kamu tidak pura-pura kuat.”
Dira tersenyum kecil.
“Karena aku sudah cukup belajar dari pengkhianatan itu.”
Ia menatapnya lebih dalam.
“Kalau ada yang retak, kita perbaiki sebelum jadi jurang. Jangan tunggu sampai salah satu dari kita mencari pelarian.”
Andreas mengangguk perlahan.
“Aku nggak mau mengulang kegagalan.”
“Dan aku nggak mau jadi pengganti,” jawab Dira.
Beberapa detik hening.
Setelah pembahasan itu selesai, tidak ada lagi yang perlu dikatakan malam itu.
Bukan karena semuanya sudah tuntas.
Tapi karena keduanya sama-sama lelah.
Dira berdiri lebih dulu.
“Aku ke kamar dulu,” katanya pelan.
Andreas mengangguk.
Tidak menahannya.
Tidak juga mengikuti.
Dira berjalan menyusuri lorong rumah yang kini terasa berbeda. Tadi siang lorong itu terasa asing karena masa lalu. Sekarang terasa sunyi karena pikiran sendiri.
Ia masuk ke kamar tidur dan menutup pintu tanpa menguncinya.
Lampu dinyalakan.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka pelan.
Andreas masuk tanpa suara.
Ia tidak langsung berbicara.
Hanya berdiri sebentar di dekat pintu.
“Dir,” panggilnya pelan.
“Iya.”
“Aku nggak mau hari ini berakhir dengan jarak lagi.”
Dira memiringkan wajahnya sedikit.
“Aku juga nggak mau.”
Andreas mendekat dan duduk di sisi lain kasur.
Tidak menyentuhnya.
Hanya duduk.
Keheningan kali ini berbeda.
Bukan tegang.
Bukan canggung.
Hanya dua orang yang sedang belajar menerima bahwa membangun sesuatu yang baru butuh lebih dari sekadar niat baik.
Hanya dua orang yang sedang belajar menerima bahwa membangun sesuatu yang baru butuh lebih dari sekadar niat baik.
“Aku akan urus semua berkas itu besok,” kata Andreas pelan. “Dan aku akan ceritakan semuanya ke kamu.”
Dira mengangguk kecil.
“Aku nggak butuh cerita yang sempurna,” jawabnya. “Aku cuma butuh cerita yang jujur.”
Andreas menoleh padanya.
“Aku akan belajar.”
Dira menatapnya beberapa detik.
Tidak ada senyum lebar.
Tidak juga air mata.
Hanya tatapan yang lebih tenang dibandingkan sore tadi.
Ia menggeser sedikit posisinya di kasur. Bukan untuk menjauh. Bukan juga untuk menempel sepenuhnya. Hanya cukup dekat untuk menunjukkan bahwa ia tidak sedang membangun tembok.
Beberapa menit berlalu dalam hening.
Napas mereka perlahan menjadi lebih teratur.
Dira memejamkan mata lebih dulu.
Kali ini tanpa beban berat di dadanya. Tanpa bayangan pengkhianatan lama. Tanpa suara mantan istri yang mengetuk pintu.
Hanya rasa lelah yang wajar… dan sedikit keyakinan bahwa besok bisa diperbaiki.
Tak lama kemudian, Andreas menyusul.
Di antara gelap kamar dan suara malam yang tenang, mereka tertidur.
Bukan karena semua sudah sempurna.
Tapi karena untuk pertama kalinya, mereka memilih percaya bahwa apa pun yang datang… akan dihadapi bersama.