NovelToon NovelToon
Suster Kesayangan CEO Lumpuh

Suster Kesayangan CEO Lumpuh

Status: tamat
Genre:Ketos / CEO / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Pengasuh / Tamat
Popularitas:3.5M
Nilai: 4.7
Nama Author: Ra za

Sebuah peristiwa nahas menghancurkan hidup Leon dalam sekejap. Bukan hanya tubuhnya yang kehilangan fungsi, tapi juga harga diri, masa depan, dan perempuan yang pernah ia cintai sepenuh hati. Sosok yang dulu dikenal sebagai CEO muda paling gemilang di kota itu kini terkurung di balik dinding kamar, duduk di kursi roda, ditemani amarah dan rasa hampa yang tak pernah pergi.
Kepribadiannya berubah menjadi dingin dan kasar. Setiap perawat yang ditugaskan akhirnya menyerah, tak satu pun sanggup bertahan menghadapi kata-kata sinis dan ledakan emosinya. Hingga suatu hari, hadir seorang suster baru. Gadis muda dengan sikap lembut, namun menyimpan keteguhan yang tak mudah runtuh.
Ia merawat Leon bukan sekadar menjalankan kewajiban, melainkan menghadirkan kesabaran, kehangatan, dan secercah cahaya di tengah hidupnya yang gelap. Namun, akankah ketulusannya cukup untuk meruntuhkan benteng hati Leon yang telah membeku? Ataukah ia akan bernasib sama. Pergi, meninggalkan Leon. dalam keterpurukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3 Sebuah harapan

Pagi ini kediaman keluarga Mahesa diselimuti keheningan yang menekan. Tak ada tawa, tak ada percakapan ringan, hanya derap langkah Gaby yang pelan namun pasti saat ia keluar dari kamarnya. Kemeja yang dikenakannya tampak rapi, seolah menjadi tameng untuk menyembunyikan kelelahan dan duka yang telah lama bersarang di matanya.

Sejak kecelakaan yang menimpa Leon, hidup Gaby berubah drastis. Dalam satu waktu, ia harus berdiri sebagai ibu yang kuat sekaligus pemimpin perusahaan yang tak boleh goyah. Tak ada ruang untuk runtuh, meski hatinya nyaris remuk.

Ia berhenti sejenak, tepat di depan kamar Leon. Pintu itu tertutup rapat, sunyi terlalu sunyi. Seakan waktu di baliknya berhenti bergerak.

“Bertahanlah, Nak…” bisiknya lirih, suara itu nyaris tenggelam dalam keheningan rumah.

Sunyi hanya itu yang Gaby rasakan, ia lalu memaksakan kakinya melangkah pergi, meninggalkan rasa bersalah yang kembali mengendap di dadanya.

Gedung Mahesa Group telah dipenuhi hiruk-pikuk aktivitas ketika Gaby tiba. Begitu ia turun dari mobil, Rafa sudah menunggunya dengan map tebal di tangan.

“Selamat pagi, Nyonya Gaby,” sapa Rafa sopan, menyesuaikan langkah dengan wanita itu.

“Pagi, Rafa. Semua sudah siap?” tanya Gaby tanpa menoleh, langkahnya tetap mantap.

“Para manajer sudah berkumpul di ruang rapat,” jawab Rafa sigap.

Mereka memasuki lift. Begitu pintu tertutup, suasana mendadak terasa canggung. Rafa tampak gelisah, matanya beberapa kali melirik ke arah Gaby, seolah ragu untuk berbicara.

“Nyonya… ada sesuatu yang ingin saya sampaikan,” ucapnya akhirnya.

Gaby menoleh. “Tentang Leon?”

Rafa mengangguk pelan. “Saya sempat berniat menghubunginya, tapi… saya khawatir justru akan memperburuk keadaannya. Apalagi setelah kejadian terakhir dengan perawat. Katanya, perawat itu kembali mengundurkan diri.”

Gaby menutup matanya sesaat. “Leon semakin sulit mengendalikan emosinya. Perawat itu pergi dalam keadaan ketakutan,” ujarnya dengan nada berat. Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Dan Clarissa… pergi begitu saja. Tanpa penjelasan.”

Rafa menarik napas, jelas terlihat menimbang kata-katanya. “Ada satu hal lagi, Nyonya. Saya rasa Anda perlu mengetahuinya.”

Tatapan Gaby langsung mengeras. “Apa itu?”

“Beberapa hari lalu, saya melihat Nona Clarissa bersama Tuan Davin.”

Jantung Gaby seolah berhenti berdetak. “Davin?” ulangnya lirih, nyaris tak percaya.

Nama itu bukan nama asing. Davin sosok ambisius yang selama ini diam-diam ingin menggeser posisi Leon di dunia bisnis.

Belum sempat Gaby bertanya lebih jauh, lift berhenti. Pintu terbuka memperlihatkan lorong menuju ruang rapat.

“Kita bicarakan ini nanti,” katanya cepat, wajahnya kembali datar dan profesional. Seolah sedang tidak terjadi apa-apa.

Ruang rapat seketika sunyi saat Gaby melangkah masuk. Para manajer berdiri hormat sebelum kembali duduk. Ia menempati kursi utama dan langsung memulai rapat tanpa basa-basi.

Laporan demi laporan disampaikan Mulai dari penurunan saham, klien yang mulai kehilangan kepercayaan, proyek besar yang tertunda akibat absennya Leon. Namun Gaby menghadapi semuanya dengan ketegasan yang tak tergoyahkan. Ia mengoreksi keputusan, menyusun ulang strategi, dan menutup celah yang berpotensi menjadi bencana.

“Mahesa Group tidak akan runtuh hanya karena satu badai,” ucapnya tegas. “Dan saya tidak akan membiarkannya terjadi.”

Rapat berakhir dengan hasil yang lebih baik dari dugaan. Setidaknya, masih ada harapan bahwa perusahaan ini bisa bertahan.

Namun ketika ruangan kembali lengang, Gaby menyandarkan tubuhnya di kursi. Wajah Clarissa dan bayangan Davin kembali menghantui pikirannya.

Ia tahu satu hal dengan pasti.

Jika Leon mengetahui kenyataan ini, luka di hatinya akan semakin dalam.

Dan kali ini, dampaknya bisa jauh lebih berbahaya—bukan hanya bagi Leon, tetapi juga bagi semua yang telah mereka bangun bersama.

Gaby menatap keluar jendela besar ruang rapat. Kota di luar sana terus bergerak, seolah tak peduli pada badai yang tengah mengancam hidupnya.

Sementara di dalam hatinya, badai lain perlahan bersiap untuk menghantam.

 

Usai rapat panjang yang menguras tenaga dan emosi, Gaby langsung keluar perusahaan tapi tidak juga kembali ke rumah. Tangannya memutar setir tanpa tujuan pasti, hingga akhirnya mobilnya berhenti di sebuah taman kota yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota

Ia mematikan mesin, namun tak segera turun. Pandangannya lurus ke depan, tatapan nya kosong. Kepalanya terasa berat, bukan hanya oleh laporan dan angka-angka, tetapi oleh pikiran tentang putra yang kini dalam keadaan yang jauh dari kata baik.

Akhirnya Gaby keluar dari mobil dan melangkah menyusuri jalan setapak taman. Angin sepoi menyentuh wajahnya, membawa aroma rumput dan dedaunan kering. Suasana ini kontras dengan kekacauan di dalam dadanya.

Sudah berapa lama aku tidak memberi waktu untuk diriku sendiri?

Atau mungkin… aku memang tak pernah diizinkan untuk lelah?

Ia duduk di salah satu bangku taman, menyandarkan punggung, membiarkan pikirannya mengembara. Leon, perusahaan, Clarissa, Davin. Semuanya berputar tak henti di kepalanya. Rasa bersalah sebagai ibu kembali menyeruak, menyesakkan.

Di tengah lamunannya, suara pelan terdengar tak jauh darinya.

“Pelan-pelan ya, Pak. Kita duduk sebentar.”

Gaby menoleh. Beberapa meter dari tempatnya duduk, seorang gadis muda mengenakan seragam perawat tampak sedang mendampingi seorang pria lansia di kursi roda. Langkah pria itu goyah, wajahnya terlihat keras dan enggan.

“Aku tidak capek!” gerutu pria itu, mencoba berdiri sendiri.

Gadis itu sigap menahan lengannya, namun tidak memaksa. Senyumnya tetap terukir, hangat dan menenangkan.

“Iya, Bapak memang kuat,” katanya lembut. “Tapi orang kuat juga boleh istirahat, kan?”

Pria itu mendengus, namun akhirnya menuruti dan kembali duduk. Tangannya gemetar saat hendak mengambil botol minum, dan tanpa sengaja botol itu terjatuh ke tanah.

Gaby refleks hendak berdiri, namun gadis itu lebih dulu berjongkok. Ia memungut botol tersebut, membersihkannya dengan tisu, lalu menyerahkannya kembali tanpa sedikit pun raut kesal.

“Tenang, Pak. Botolnya cuma kaget,” ujarnya bercanda ringan.

Pria itu melirik sekilas, lalu mendengus kecil. Namun kali ini, tak ada penolakan.

Gaby memperhatikan dengan saksama. Ada sesuatu dari gadis itu, kesabarannya, caranya berbicara, ketenangan yang memancar tanpa dibuat-buat. Ia tidak sekadar menjalankan tugas, tapi ia benar benar menekuni profesi nya

Ketika gadis itu mengajak pria lansia berjalan perlahan menyusuri taman, Gaby menyadari bahwa pria yang semula keras kepala kini menggenggam lengan sang perawat, seolah takut terjatuh.

“Ayo, Pak. Kita hitung langkahnya,” ucap gadis itu ceria. “Satu… dua… tiga…”

Pria itu tersenyum tipis senyum yang mungkin sudah lama tak muncul.

Tanpa sadar, mata Gaby terasa hangat.

Leon… batinnya bergetar.

Anakku juga keras kepala. Juga penuh amarah. Tapi mungkin… dia bukan butuh dikendalikan. Dia hanya butuh seseorang yang mau bertahan.

Saat gadis itu menoleh, pandangan mereka bertemu. Senyum lembut kembali terbit di wajahnya, senyum yang sama tulus, tanpa pamrih.

Entah mengapa, dada Gaby terasa lebih ringan.

Setelah memastikan pria lansia itu duduk nyaman, gadis tersebut merapikan jaketnya dan menyodorkan camilan kecil.

“Hadiah karena Bapak mau berjalan,” katanya sambil mengedipkan mata.

Pria itu tertawa pelan. Suara yang sederhana, namun cukup untuk membuat hati Gaby bergetar.

Ketika gadis itu bersiap pergi, Gaby berdiri.

“Kali ini aku tidak boleh membiarkan harapan lewat begitu saja,” gumamnya pelan.

1
ollyooliver🍌🥒🍆
oramg yg pernah jatuh cinta atau memiliki perasaan pd lawan jenis ebtah suka, kagum atau cinta..dan ketika seseorng pernah jatuh cinta pasti akan tau gimana rasanya bukan malah memberikan pernyataan dengan pertanyaaan yg mengherankan diri sendiri seolah" gak pernah jatuh cinta😌
Nur Syamsi
Yuni jgn jadi ulat bulu PDA keluarga orang, baik Tia maupun Nayla mrk ini adalah wanita tulus yg dinikahi oleh pria yg mapan ., makanya jgn macam macam Yuni mas dah" an kamu jga dpat pria yg tulus mencintaimu ..
Nur Syamsi
Siapa ya apcobu tiri Tia kali ya
Nur Syamsi
Betul Tia memaafkan seseorang itu mudah tp melupakannya yg sulit 🙏🙏🙏
Nur Syamsi
Wah kabar baik ni Tianya Rafa, mungkar n Hamidun dianya
Nur Syamsi
Woi wanita ambisius yg Tdk mau dengar nasehat kamu akan tunai apa yg kamu tabur
Erna setiani
cieee Rafa
hary as syifa
Bener2 sampai akhir ceritaku diplagiat ya kak. Novel aslinya ada di apk sebelah judulnya Pesona Perawat Tuan Abraham.
Bisa-bisanya diplagiat tanpa rasa bersalah 👎👎👎👎👎👎👎👎👎
Zani: maaf kak, kak bilang plagiat sampai akhir. apakah semuanya sama?apakah cerita dengan topik yang sama itu plagiat. Saya baca beberapa cerita novel juga banyak kesamaan. tapi bukan berarti itu plagiat.🙏
total 1 replies
Imelda Mell Lele
karya yg bagus author..aq suka..teruskan berkarya seperti ini ya..
Nur Syamsi
Bagus Tia, itu hanya wanita ular yg taunya hanya ingin ganggu kesenangan orang....
Nur Syamsi
Jgn gila Rafa dihalalin sja tu Tianya
Munawaroh Ag
ini Certa plagiat kah kok sama cerita nya sama di apk faizo
Sastri Dalila
👍👍👍
Nur Syamsi
Cepat Rafa kasian Tianya
Erna setiani
cieee cieeee Pengantin baru
Erna setiani
kamu yang mempermalukan diri sendiri Clarisa, dasar gak punya malu
Nur Syamsi
Bawa ke apartemenku Rafa nanti disana baru tunggu penjelasan setelah Redah tangisnya, kasian Tia Rafa menanggung beban...berat dr ibu dan saudara tirinya
Nur Syamsi
Dasar Davin pria serakah
Nur Syamsi
Syang Ada yg maha kuasa yg melihat kelakuan hambahnya Tdk ada kejahatan yg pernah menang tp biasanya akan berbalik PD yg oran merencanakan kejahatan itu .
Nur Syamsi
Dasar pebonor,,,,pengganggu ulatvjantan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!