Rhaella Delyth adalah seorang gadis cantik dengan kepribadian dingin dan ekspresi wajah yang selalu datar. Meskipun berasal dari keluarga terpandang, kehidupan yang ia jalani jauh dari kata bahagia. Kehadirannya di dunia tidak pernah diharapkan, membuatnya tumbuh dengan hati yang keras dan kesulitan untuk mempercayai orang lain.
Sementara itu, Gabriel adalah seorang pemuda tampan dan berkarisma yang lahir di lingkungan keluarga kaya dan berpengaruh. Di balik pesonanya, ia memiliki sifat dingin, tak mudah didekati, serta sisi kejam yang tidak banyak diketahui orang.
Bagaimana kisah pertemuan mereka bermula? Ikuti perjalanan mereka dalam cerita ini, yang penuh dengan intrik dan adegan penuh ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Hari ini Rhaella bangun kesiangan karena dia tidur saat akan menjelang subuh, dia kemudian bangun langsung pergi ke kamar mandi tidak butuh waktu lama kurang lebih 10 menit dia sudah menyelesaikan aktivitas mandinya. Rencananya dia akan pergi ke sekolahnya yang baru di daftarkan ayahnya, tapi entah kenapa dia sangat malas untuk pergi, dia bahkan masa bodo jika akan mendapatkan kembali pukulan dari ayahnya.
Setelah keluar dari kamar dengan pakaian andalannya sebuah Hoodie abu-abu dan celana jeans hitam dengan masker untuk menutupi wajahnya. Dia berencana pergi ke rumah seseorang yang berada sedikit jauh dari kota. Kini Rhaella telah sampai di sebuah rumah yang sangat sederhana dia melihat ada seorang nenek yang sedang merapikan tanah dan rumput-rumput yang baru saja dia bersihkan untuk menanam.
"Nek"
"Eh nak Rhaella? Kamu baru
datang lagi nak" ucap nenek Yara pada Rhaella.
" Iya Rhaella sedikit sibuk, apa nenek baik-baik saja?"
"Nenek baik nak, nenek masih kuat lihat ini, nenek habis menanam sayuran " ucap nenek itu tersenyum, dan Rhaella pun tersenyum.
"Apa kamu sudah makan nak "
"Belum, tapi Rhaella belum mau makan, Rhaella ingin berbaring di dalam nek "
" Masuklah nak, nenek akan keluar sebentar memetik sayuran "
"Iya nek"
Rhaella kemudian membaringkan
Tubuhnya dan kembali tertidur di sebuah tempat yang terbuat dari bambu dia tidur dengan sangat nyenyak sampai sore menjelang dan sang nenek pun tidak berani membangunkannya. Dia baru bangun saat mendengar suara dering handphonenya berbunyi.
"Drrttt "
"Drrttt"
"Drrttt"
Ayah is calling...
" Hallo " ucapnya datar.
"PULANG" teriak sang ayah.
"Hmm" ucapnya dingin.
"Sekarang Rhaella. Pulang sekarang juga anak kurang ajar" bentak sang ayah lagi.
"Iya Rhaella pulang sekarang" ucapnya dengan santai kemudian memutuskan sambungan telepon.
"Sudah bangun nak?" Tanya nenek tersebut pada Rhaella
"Iya nek, Rhaella pulang dulu ayah Rhaella barusan telepon "
" Ayo makan dulu sama nenek" ajak nenek itu pada Rhaella, dan Rhaella pun mengangguk mereka makan sambil sesekali nenek itu bercerita dan Rhaella hanya mendengarkan saja tidak ikut berbicara.
Nenek Yara adalah seseorang yang saat itu Rhaella bantu saat nenek itu jatuh tertabrak sepeda motor yang melaju kencang di sampingnya. Setelah saat itulah Rhaella selalu datang untuk mengunjungi nenek Yara sesekali menengokinya, dia bahkan sering membawa sembako untuk nenek Yara yang tinggal sih dari kota.
Setelah menyelesaikan makanannya Rhaella pun berpamitan pada nenek Yara.
"Nek, Rhaella pulang yah"
" Iya nak hati-hati "
"Assalamualaikum "
"Waalaikum salam "
Satu jam perjalanan dari tempat tadi ke rumah ayahnya, Rhaella kini sudah sampai di rumah pada pukul 8 malam, baru saja menginjakkan kaki dan masuk ke dalam rumah
Plakk
"Dari mana saja kamu jam segini baru sampai rumah, dasar perempuan liar, anak sialan. " murka tuan Blaze. Sedangkan Rhaella hanya diam saja, bahkan wajahnya yang belum benar-benar sembuh akibat tamparan keras kemarin kini kembali dia dapatkan kembali dan membekas.
"Kenapa kamu tidak pergi ke sekolah baru mu ha? Mau jadi apa kamu dasar anak tidak berguna. Kenapa kamu hidup kalau untuk menyusahkan ku dan menjadi sampah seperti ini" maki sang ayah, tapi sungguh tidak menyakitkan sama sekali perkataan sang ayah bagi Rhaella dia sudah biasa mendengar makian seperti itu.
" Kamu seperti perempuan tidak punya didikan, seperti anak jalanan saja" makinya lagi.
Jelaskan kenapa kamu tidak pergi ke sekolah baru mu tadi?" Tegasnya. " Kenapa kamu diam anak sialan, cepat jelaskan Rhaella " murka sang ayah.
Rhaella tadi bangun kesiangan "
Plakk
Plakk
Sekali lagi dua tamparan sekaligus dia dapatkan
" aku tidak mau tahu kau besok harus masuk ke sekolah baru mu dengan Daena, biar kamu punya sedikit didikan, bukan seperti di sekolah lama mu yang isinya hanya anak berandalan semua" ucapnya kemudian pergi meninggalkan Rhaella dan di ikuti oleh sang istri.
"Awas aja ya lo ngaku jadi saudara gue" ancam Daena di balas tatapan tajam dan dingin oleh Rhaella.
"Kita emang bukan saudara, dan gue bahkan ngga pernah nganggep Lo saudara" ucap datar Rhaella dengan santai meninggalkan Daena dan berlalu pergi ke kamarnya.
"Sialan. Awas aja Lo Rhaella " kesal Daena akan ucapan Rhaella.
Yah, Rhaella hanya akan diam pada sang ayah tapi tidak dengan Daena dan ibu tirinya. Dia akan melawan meskipun nantinya akan mendapatkan pukulan dari sang ayah karena aduan dari Daena dan ibu tirinya. Rhaella bukanlah gadis lemah yang manja dan pasrah begitu saja, dia bahkan sangat jago dalam segala jenis bela diri, memanah, menembak dan balapan. Dia tidak semudah itu untuk di tindas dia tidak akan mengusik tapi sekali di usik maka hidup orang tersebut tidak akan baik-baik saja.
Jika terdapat bekas pukulan di wajah atau tubuhnya itu semata-mata dia dapatkan dari sang ayah, bahkan di sekolah lamanya pun mereka semua segan mulai dari perempuan ataupun laki-laki, bahkan kakak kelasnya pun segan padanya karena sifat dingin dan datarnya. Itulah perbedaan Rhaella dengan orang lain dia bisa jadi seorang iblis pada orang lain, tapi jika berhadapan dengan sang ayah dia seperti bayi yang tidak bisa apa-apa hanya diam dan pasrah.
Sampai di kamarnya Rhaella langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya lalu menuju kasurnya untuk tidur. Tidak ada istilah untuk susah tidur, bahkan sedih, atau mengingat kenangan bersama sang ayah atau bunda kandungnya karena memang dia tidak memiliki kenangan apapun bersama mereka, karena sang bunda telah meninggal di hari di mana dia di lahirkan, sedangkan sang ayah sebelum dia lahir pun dia sudah di benci dan tidak di inginkan. Dia bahkan tidak tahu seperti apa wajah dari bundanya, makamnya ada di mana, bahkan namanya pun dia tidak tahu, mungkin terdengar seperti anak durhaka atau tidak ingin tahu, tapi dia tidak pernah berbicara dengan sang ayah.
...
Sedangkan di sisi lain masih dilokasi yang sama tepatnya di kamar sang ayah dia bahkan tidak merasa bersalah sedikit pun akan apa yang dia lakukan. Setelah mencaci maki dan memberikan kekerasan fisik pada Rhaella. Dia bahkan masih terus menyalahkan akan kelahiran Rhaella di dunia ini. Sungguh ayah yang begitu bodoh. Mungkin jika di bandingkan dengan orang bodoh di dunia ini Leif lah orang yang paling bodoh di dunia ini.
Bagaimana bisa dia menyalahkan seorang bayi yang tidak berdosa yang tidak tahu apa-apa tapi memberikan kekerasan fisik dan mentalnya hingga tumbuh dewasa seperti ini.
Sedangkan di sisi lain Daena dan Alane hanya menertawakan kehidupan Rhaella yang di siksa oleh ayah kandungnya sendiri.
"Mah ko Rhaella kalau setiap di pukul sama ayah ngga pernah nangis sih? " tanya Daena karena penasaran setiap kali melihat Rhaella di hajar oleh ayahnya tidak pernah meringis apalagi menangis.
" Hallaaahh paling juga dia nangis kalau udah di kamarnya, Dianya aja yang sok kuat padahal sekarang mungkin lagi nangis karena kesakitan abis di tampar bolak balik sama ayah" ucap Lane seolah tahu bahwa Rhaella sekarang sedang menangis akibat tamparan tadi.
Tidak tahu saja mereka bahwa Rhaella sekarang sedang tidur pulas menyelami alam mimpi.