NovelToon NovelToon
Infected Without Knowing

Infected Without Knowing

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie
Popularitas:754
Nilai: 5
Nama Author: Ryn Aru

Sebuah keluarga sederhana yang penuh tawa dan kebahagiaan… hingga suatu hari, semuanya berubah.

Sebuah gigitan dari anjing liar seharusnya bukan hal besar, tapi tanpa mereka sadari, gigitan itu adalah awal dari mimpi buruk yang tak terbayangkan.

Selama enam bulan, semuanya tampak biasa saja sampai sifat sang anak mulai berubah dan menjadi sangat agresif

Apa yang sebenarnya terjadi pada sang anak? Dan penyebab sebenarnya dari perubahan sang anak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Aru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Hari semakin gelap, pukul 10 malam di rumah sakit kota Purwodara. Salah satu kamar terdengar tangisan yang sangat menyayat hati dari keluarga pasien, terlihat para perawat berlari terburu-buru menuju ke ruangan tersebut untuk melihat keadaan pasien. Ibu yang tengah duduk di samping ranjang Tari dengan tangan yang mengusap lengan Tari, terlihat khawatir saat mendengar tangisan dari ruang sebelah.

"Tari akan baik-baik saja kan yah?" Tanya Ibu menatap ayah dengan tatapan khawatir. Ayah yang sedang duduk di sofa dan bermain ponsel pun menatap ibu sekilas dan menoleh ke arah Tari yang sedang tertidur pulas di atas ranjang.

"Gak apa-apa, Tari kan anak yang kuat Bu, kan nanti Tari juga mau jadi pilot." Ucap ayah tersenyum dan mendekat berjalan kearah ranjang Tari, dan mengelus kepala Tari yang sedang tertidur. "Iya kan nak? Kan mau ketemu abang juga." Ucap ayah, Ibu yang mendengarnya pun menghela nafas dan tersenyum sembari menatap kembali ke arah Tari.

Pukul 12 malam, malam semakin gelap, udara semakin dingin dan aktivitas di rumah sakit mulai mereda, hanya ada beberapa perawat yang masih tinggal untuk berjaga malam dan beberapa penjaga keamanan yang berada di luar rumah sakit.

Tari yang tertidur pulas tiba-tiba melebarkan matanya dan mencengkram kasur dengan kuat. Tiba-tiba Tari terduduk di atas kasur, melihat kearah ibu dan ayahnya, seakan sedang melihat situasi disekitarnya. Ibu yang tengah tertidur pun terbangun karena merasakan sesuatu gerakan di kasur, bersamaan dengan rasa sakit pada tangannya, ibu mulai terbangun dari tidurnya dan melihat Tari yang menggigit tangannya, disaat yang sama Tari melepaskan gigitannya dengan daging tangan sang ibu yang berada di mulut nya dengan darah yang memenuhi mulut Tari.

"Tari." Panggil ibu dengan nafas tak beraturan, menatap sang anak dengan terkejut. Ibu pun melihat tangannya yang hanya tersisa tulang, ibu mendorong dirinya yang membuat dirinya terjatuh bersama dengan kursi yang ia duduki.

"AARRGGHH!"

Ayah terbangun saat mendengar suara teriakan Ibu dan benda yang terjatuh, dengan segera ayah melihat kearah ibu yang tergeletak di lantai dengan tangan yang berlumuran darah. Melihat itu ayah dengan cepat mendekat kearah ibu dan menoleh kearah Tari, terlihat Tari tersenyum dengan mulut yang berlumuran darah dan daging segar di mulutnya, melihat anaknya yang sangat agresif, ayah pun sengan cepat menarik ibu menjauh. Tari hanya diam berada di ranjangnya sembari menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, dengan senyuman yang menyeramkan.

"Tari apa yang kamu lakukan pada ibu?" Ucap ayah, ia mengangkat tangannya setinggi dada bersiap menahan serangan dari Tari. Ayah menelan ludahnya dan menarik ibu perlahan. "Ikuti ayah pelan-pelan, kita panggil perawat buat kamu dan Tari." Ucap ayah tanpa melihat kearah ibu, ibu yang sedari tadi hanya diam dan menunduk pun tiba-tiba menggigit leher ayah hingga darah segar mengalir, merasakan itu ayah segera memberontak dan terlepas dari gigitan ibu. "Bu?" Nafas ayah menggebu dan ia menatap ibu dengan perasaan tak percaya.

Pukul 12.23 malam terlihat seorang perawat yang baru saja selesai memeriksa pasien di kamarnya. Saat ia sedang berjalan, ia melihat siluet seseorang di tengah lorong dengan gerak-gerik yang mencurigakan

"Permisi pak." Ucap perawat yang masih berdiri di tempat, karena tak mendapatkan respon, dengan hati-hati perawat mendekat kearah pria itu, saat semakin deket terlihat bahwa tubuh sang pria bergetar dan terdengar suara nafas yang berat.

"Pak permisi? Ada yang bisa di bantu?" Tanya perawat, ia semakin mendekat dan menyadari bahwa itu adalah orng tua dari salah satu pasien.

"Pak surya bukan." Batin sang perawat, ia pun semakin mendekat dan beberapa kali memanggil nama pak Surya. Saat perawat itu semakin mendekat tiba-tiba pak Surya menyerang perawat itu, ia menggigitnya hingga baju baju perawat itu berubah menjadi merah darah.

Rumah sakit yang tadinya rumah sakit yang tadinya sunyi seketika terdengar teriakan dari para pasien, perawat, dan penjaga rumah sakit. Tak butuh waktu lama, untuk virus itu menyebar dan membuat rumah sakit itu menjadi mimpi buruk.

Di kampus ternama di kota Samayara terlihat dua mahasiswa yang sedang berbincang mengenai lomba.

"Btw, lo serius mau balik?" Tanya seseorang pria sembari membenarkan kacamata yang ia gunakan.

"Iya lah, toh udah lama juga gue gak balik" jawab seorang wanita yang menjadi lawan bicara pria berkacamata.

"Iya sih. Tapi kan bentar lagi lo ada lomba Andini, tinggal sekali ini kan biar lo bisa jadi atlet beneran?" Tanya sang pria.

"Santai aja sih, toh gue juga butuh restu mereka kan." Jawab Andini santai, ia pun berdiri dan menatap teman prianya itu. "Fokus aja sama lomba lo, kalau bisa bulan depan gue usahain dateng dah." Lanjutnya, ia pun akhirnya berjalan menjauh dan melambaikan tangan.

Andini memulai perjalanannya menuju kota Purwadara seorang diri dengan mobilnya, dengan di temani oleh lagu favoritnya. Dalam perjalanan menuju kota tempat orang tuanya tinggal, Andini menyadari bahwa tak ada 1 pun kendaraan yang melewati jalan tersebut.

'Biasanya satu atau dua kendaraan lewat deh, apa gak pada ambil libur ya orang-orang.' Batinnya, Andini melihat ke sekeliling dan tak terlihat satupun orang yang melintas, saat Andini tidak fokus pada jalan di depannya, tanpa sengaja ia menabrak seekor rusa yang membuat Andini terkejut dan turun dari mobil menuju ke bagian belakang mobilnya, ia melihat keadaan rusa yang terlihat kejang dan darah segar yang mengalir, Andini merasa sangat aneh saat melihat rusa yang di tabrak nya terlihat tumbuh kristal di tubuhnya.

"Eh? Paan nih? Kok kayak gini."Andini dengan ragu mengulurkan tangannya ingin melihat keadaan rusa itu.

"Kiiiiiaaakkkhhhrrrkkkk!!"

Tiba-tiba rusa itu mengeluarkan suara seperti decitan pintu tua yang berkarat, yang dipaksa terbuka, dan pada saat bersamaan terdengar jeritan seakan rusa tersebut merasakan rasa sakit yang amat sakit.

Andini yang terkejut pun terjatuh dan menutup kedua telinganya saat mendengar suara tersebut, dengan cepat ia bangkit dan masuk mobilnya, ia pun melaju pergi menjauh dari daerah tersebut dengan kecepatan tinggi. "Gila, apa-apa tadi? Parasit? Atau virus?" Tanya Andini pada diri sendiri, nafasnya terlihat tak beraturan dan tangannya gemetar di atas setir karena melihat hal tersebut.

Tak lama Andini memasuki jalan perumahan yang menuju rumahnya, terlihat keadaan jalan di perumahan itu yang sangat sunyi, dengan dedaunan yang berserakan, di ikuti dengan suara gesekan dedaunan dan ranting pohon yang berada di sepanjang jalan.

"Sepi banget, biasanya rame deh." Batin Andini, ia pun mengecilkan suara dari musik yang di putarnya, dan benar saja tak ada satu pun suara tawa dari anak².

Andini pun mempercepat laju mobilnya hingga memasuki pekarangan rumahnya. Terlihat rumah itu seperti telah di tinggalkan, membuat Andini khawatir dengan keadaan orang tuanya

'Tok, tok'

Tak ada yang merespon ketukan itu yang membuat Andini semakin khawatir, dengan perasaan khawatir ia mengintip dari jendel. Terlihat bahwa di dalam rumah sangat berantakan dan ada banyak bercak darah di lantai.

"Darah?! Darah siapa?!" Ucap andini terkejut dan melebarkan mata saat melihat kedalam rumah, ia segera mengambil batu dan memukul lever handle dengan kuat, hingga batu itu terpental jatuh. Andini pun mengambil batu tadi dan memukul kembali hingga lever handle itu rusak, Andini yang melihat hal itu pun mencoba untuk mendorong pintu, tetapi pintu tak terbuka, Andini yang mulai frustasi pun memutar-mutar tubuhnya, menutup mata dan memegang kepalanya.

Ia pun melihat kearah kaca dan mengambil batu yang lebih besar untuk memecahkan kaca. Saat kata itu pecah Andini dengan segera ia memasuki rumah, Andini dengan berhati-hati berjalan menuju kearah darah yang terlihat terdapat jejak darah yang terseret. Ia pun mengikuti jejak darah itu yang menuju ke kamar orang tua nya.

"Ma? Mama, Andini pulang." Panggil Andini, ia perlahan mendekati kamar orang tuanya yang tertutup separuh, ia perlahan membuka pintu itu, saat pintu terbuka lebar tak ada apapun di dalam sana, yang ad hanyalah kesunyian dan udara yang mencekam.

Saat Andini keluar dari kamar, tiba-tiba ada seseorang yang melompat dan menyerangnya dari sebelah kanan, dengan cepat Andini menahan serangan itu menggunakan balok kayu yang ia peroleh dari kamar orang tuanya

Bersambung,,,,,,

1
Alucard
Keren banget, semoga ceritanya terus berkualitas author!
Ryn Aru: makasih ya,,/Smirk/
total 1 replies
Gourry Gabriev
Bikin syantik baca terus, ga sabar nunggu update selanjutnya!
Agnes
Romantis banget!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!