Perjuangan seorang Nayra Kalista yang menghadapi begitu kerasnya dunia ini, dunia yang tak adil untuk dirinya hidup. Dari kecil menjadi seorang yatim-piatu, hidup di panti asuhan, rela putus sekolah demi menjadi tulang punggung bagi saudaranya di panti asuhan. Sampai akhirnya harta satu-satunya yang dijaga selama ini direnggut oleh pria asing yang Nayra sama sekali tak kenal.
Hidupnya hancur bertubi-tubi. Apakah ia bisa menjalani hidup nya kembali setelah apa yang ia alami selama ini? Apakah Nayra bisa bahagia dengan cobaan yang begitu berat ini?
yuk mampir biar tau perjalanan hidup Nayra!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cacil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 3
🍁🍁🍁
"Apa tidak ada pekerjaan lain di sini yang bisa untuk lulusan SMA? Saya begitu butuh pekerjaan ini Pak," mata Nayra begitu berkaca-kaca berharap ada lowongan baginya bekerja di sini.
"Ada! Tapi sebagai OB, dan OB pun sudah penuh di sini, jadi saya tak bisa memasukan kamu lagi di OB."
"Baiklah kalau gitu Pak, terima kasih atas kesempatan waktunya untuk saya, saya permisi dulu." Nayra mengehela nafasnya dengan berat. Dia bangun dari duduknya sambil menenteng berkas-berkasnya.
Entah sekarang dia harus mencari pekerjaan ke mana lagi agar bisa mendapatkan penghasilan. Sudah berhari-hari Nayra melamar pekerjaan ke sana ke mari, tapi satu pun tak ada yang mau menerimanya.
"Tunggu dulu Nona!" seru HRD itu mencegah Nayra pergi.
"Ada apa Bapak memanggil saya?" tanya Nayra menoleh ke arah HRD itu.
"Saya ingat bahwa pemilik perusahaannya ini mencari asisten untuk mengurus keperluannya di kantor, tak perlu S1 untuk bisa keterima menjadi asisten pemilik perusahaan ini, mungkin Nona tertarik dengan pekerja ini?" tanya HRD itu memberikan Nayra harapan.
"Saya mau Pak, apapun pekerjaan saya bisa bekerja."
"Baiklah kalau gitu, mari ikut bersama saya ke ruang Tuan Andrian."
Nayra pun mengikuti langkah HRD itu menuju ruangan tuan Andrian. Semoga saja ia bisa diterima kerja di sini dan bisa menghasilkan uang lagi.
"Ayok Nona Anda di suruh masuk oleh Tuan Andrian ke ruangannya."
Nayra masuk ke dalam ruangan Tuan Andrian, terlihat di dalam ruangan itu begitu besar dan mewah. Semua isi dalam ruangan itu begitu elegan, bahkan terlihat seseorang yang pastinya Tuan Andrian begitu berwibawa duduk di kursi kebesarannya.
"Permisi Pak," seru Nayra dengan nada hormatnya.
"Silahkan duduk! seru tuan Andrian tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop yang sedang ia pegang.
Lama menunggu tuan Andrian selesai dari pekerjaannya. Taun Andrian pun menutup laptopnya dan membuka kaca mata yang ia pakai tadi.
Seketika Nayra langsung kaget dengan siapa yang ada di hadapannya saat ini. Setelah kejadian semalam itu sampai membuatnya menderita seperti ini, kenapa takdir kembali mempertemukannya dengan cara seperti ini.
Nayra masih begitu jelas mengingat wajah siapa yang memperkosanya malam itu, dan sekarang ini ia ada di hadapannya saat ini dengan tanpa bersalah dan terlihat begitu angkuhnya. Air mata Nayra ingin terjatuh, tapi ditahannya agar tak mencurigai.
"Kenapa? Kenapa kamu kaget setelah melihatku hm?"
Deg!
Suaranya itu membuat Nayra merasa benci dengan laki-laki dihadapan saat ini. Ingin sekali Nayra menjambak rambut pria ini dan meninju pipi mulusnya itu, tapi ia tahan karena saat ini pekerjaannya lebih penting dibandingkan balas dendamnya.
"Tidak pa-pa Pak," kata Nayra sambil menggelengkan kepalanya.
"Di mana berkas-berkas mu? Saya mau lihat."
Segera Nayra menyodorkan berkas-berkasnya, lalu Andrian membolak-balikkan berkas itu untuk melihat semua biodata Nayra.
"Jadi kamu sebelum ini menjadi pelayan di restoran?" tanya Andrian tanpa melirik Nayra.
"Iya Pak,"
"Kenapa kamu berhenti menjadi pelayan?"
"S-saya di pecat."
"Kenapa kamu di pecat?"
"Saya di tuduh mencuri uang oleh teman kerja saya, alhasil saya dipecat tanpa mendapatkan apa-apa dari sana."
"Apakah perkataan mu benar? Atau kamu sendiri yang memang mencuri uangnya?" tanya Andrian dengan menatap mata Nayra. Bukan ingin menuduh, tapi Andrian ingin tau seberapa jujur wanita ini.
"Demi Tuhan saya tak mencuri uangnya, memang saya orang miskin tapi saya tau mana yang tak boleh dan mana yang boleh," ujar Nayra dengan mata berkaca-kaca. Bukan masalah Nayra lemah ingin menangis di tuduh seperti itu, tapi ia begitu sakit hati setiap melihat wajah orang yang telah menghancurkan hidupnya bahkan sekarang ada di hadapannya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Andrian kembali menanyakan tentang pengalaman Nayra bekerja, sampai akhirnya Andrian tertarik dengan Nayra yang terlihat sangat jujur. Akhirnya Nayra di terima kerja oleh Andrian sebagai asisten di kantornya.
"Besok kamu bisa mulai kerja di sini, dan tentang pekerjaanmu. Kamu akan dijelaskan oleh sekretaris saya."
"Terima kasih Pak atas kepercayaan yang Anda kasih ke saya."
"Jangan senang dulu, dalam satu bulan ke depan bila pekerjaan mu tak sesuai dengan apa yang saya mau maka jangan harap kamu bisa lagi kerja di sini."
"B-baik Pak."
"Sekarang kamu tanda tangani kontrak kerja ini!" tanpa berpikir panjang Nayra langsung menandatangani kontrak kerjanya. Dan cepat-cepat keluar dari ruangan itu, rasanya sesak bila lama-lama ada di dalam sana.
"Sabar Nayra! Kamu harus bisa menghadapi laki-laki itu, sekarang ini kamu harus bekerja dan bekerja agar bisa membiayai kehidupan Alden kedepannya," gumam Nayra ketika keluar dari sana.
Setelah interview tadi Nayra langsung pergi menuju ke sekolah anaknya untuk menjemput Alden. Tak lama menunggu Alden pun keluar dari sekolah lalu menuju mamanya.
***
Malam hari...
Tok... tok... tok...
Suara pintu kontrakan Nayra terdengar menggema membuat Nayra pergi melihat siapa bertamu malam-malam seperti ini.
"Siapa malam-malam seperti ini bertamu," gumam Nayra sambil menuju untuk membukakan pintu.
"Selamat malam Nayra cantik..." seru seseorang laki-laki dengan begitu sumringahnya sambil menenteng sesuatu di tangannya.
"Astaga aku kira siapa ternyata kamu."
"Memangnya kamu berharap siapa yang akan datang?"
"Nggak ada sih, aku kira tadi maling soalnya kamu datang malam-malam."
"Hehehe maaf, nih aku bawain kamu sama Alden martabak," Baim memberikan martabatnya ke Nayra.
"Nggak usah ngerepotin segala Baim."
"Aku nggak ngerasa direpotkan, kalau kamu nggak mau biar Alden saja yang makan martabaknya."
Baim mengambil lagi martabaknya lalu menyelonong saja masuk melewati Nayra si pemilik kontrakan. Baim memang sudah akrab dengan Nayra jadi Baim tak perlu lagi izin masuk ke dalam kontrakan Nayra, kecuali hanya ada Nayra saja di situ baru Baim tidak berani masuk, takut timbul fitnah.
"Alden... Om Baim bawain martabak kesukaan kamu nih," seru Baim sambil mencari Alden ke dalam. Alden pun berlari menuju ruang tamu ketika mendengar Baim memanggilnya.
"Nih Om bawain Alden martabak kesukaan kamu," sambil memberikan martabaknya.
"Makasih Om baim."
Terlihat Alden begitu senang ketika dibawakan martabak kesukaannya. Melihat anaknya senang membuat Nayra juga ikutan senang. Hanya Baim yang dekat dengan anaknya dan hanya Baim yang bisa membuat Alden senang, tapi sayangnya Nayra tak bisa mencintai Baim seperti Baim mencintainya. Karena Nayra sudah anggap Baim seperti saudaranya sendiri.
"Nay, kamu nggak mau martabak juga?" tanya Baim yang melihat Nayra cuma berdiri saja melihat mereka berdua menikmati martabaknya. Tapi Nayra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja.
"Beneran? Enak loh martabaknya."
"Enggak! Kamu makan aja sama Alden."
See you again...
LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^
typoo yaaaa